Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Pulang kampung


__ADS_3

Sudah tiga hari Airin dirawat, pagi ini ia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Maka Erland harus izin untuk tugas siang saja. Karena pagi ia harus mengurus kepulangan istrinya.


"Sudah siap semuanya Sayang? nggak ada barang yang ketinggalan 'kan?" tanya Erland meminta supir membawakan tas pakaian ganti selama Airin di RS.


"Udah, Mas," jawab Airin sembari berjalan dengan pelan menuju kursi roda yang akan mengantarkannya menuju kendaraan yang telah menanti.


Erland segera mendorong kursi roda itu. Setelah mendudukkan istrinya dengan nyaman, ia duduk di samping Airin.


"Jalan Pak," titahnya pada sang supir.


"Baik, Pak." Supir menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


"Mas, Zherin belum pulang?" tanya Airin yang sudah merindukan gadis kecil itu.


"Belum Dek, mungkin nanti," jawab Erland santai.


Airin hanya mengangguk paham. Ia hanya bersandar di pundak suaminya. Erland mengusap rambutnya dengan lembut.


"Apakah kamu benar-benar sudah tak merasakan sakit?" tanya Erland masih mencemaskan.


"Tidak Mas, aku sudah tak merasakan apapun," jawabnya dengan jujur.


Tak berselang lama mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki halaman rumah polisi yang berpangkat dua melati itu. Erland tak membiarkan Airin untuk berjalan, maka ia menggendongnya.


"Kamu jangan banyak bergerak ya, nanti aku cari Art lagi," jelas Erland ingin menambah Art lagi, agar Bibik tak terlalu repot mengurusi semua pekerjaan rumah.


Airin hanya mengangguk patuh. Saat baru saja berbaring, terdengar suara panggilan dari Zherin.


"Mama!" panggil Zherin baru saja masuk kedalam kamar itu.


"Zherin!" Ucap Airin segera memeluk putrinya dengan penuh kerinduan. Ia begitu merindukannya. Kehadiran bocah itu dapat menjadi obat lelah dan membuatnya selalu tersenyum. Zhe memang anak yang baik dan sangat pengertian, maka dari itu Airin sudah benar-benar menganggapnya sebagai anak sendiri.


"Mama sudah sembuh? Maafin aku ya, Ma, aku tidak tahu kalau Mama sakit," ucapnya yang begitu sangat perhatian. Hati Airin begitu sejuk mendengarnya.


"Iya Sayang, Mama tidak apa-apa. Kamu kapan pulang?" tanya Airin pada bocah itu.


"Tadi di jemput Pak supir," jawabnya jujur.


Airin kembali memeluknya. "Mama kangen banget sama kamu," ucap Airin sembari mengecup kedua pipinya.


"Aku juga kangen sama Mama, sekarang Mommy sudah tidak ada. Aku hanya punya Mama dan Daddy. Mama jangan tinggalkan aku ya," Adunya dengan mata berkaca-kaca.


"Oh, Sayang... Kamu jangan sedih ya, mama akan selalu ada untuk kamu." Airin menenangkan anaknya sembari mendekap penuh kehangatan.


Zherin hanya mengangguk sembari menyembunyikan wajahnya di dada sang Mama. Terdengar isakan kecil di bibirnya. Gadis kecil itu masih berduka atas kepergian sang Mommy.

__ADS_1


Erland ikut duduk disampingnya. Ia membawa putrinya dalam pelukan. "Anak Daddy jangan sedih ya. Kita Do'ain Mommy berada di surga Allah."


"Aamiin..." Airin mengaminkan Do'a suaminya.


Erland masih memangku putrinya yang masih berduka. Airin dan Erland berusaha untuk menghibur sehingga bocah itu kembali tersenyum ceria.


Setelah cukup bercengkrama bersama anak dan istri, Erland bersiap untuk berangkat tugas siang ini.


Sementara itu Zherin masih betah berada di kamar orangtuanya. Airin dengan sabar menjawab segala pertanyaan darinya.


"Berangkat dulu ya, Dek, ingat pesan aku, jangan banyak gerak, cukup tenang diatas ranjang," pesan Erland pada istrinya.


"Iya, kamu hati-hati ya Mas." Airin menerima uluran tangan suaminya dan mengecup punggung tangannya dengan lembut, Erland membalas dengan kecupan di keningnya.


"Sayang, Daddy kerja dulu ya, kamu disini temani Mama ya," pesan Erland pada putrinya.


"Siap komandan!" jawab gadis kecil itu disertakan oleh gerakan tangan hormatnya.


Erland dan Airin terkekeh melihat tingkah putri sulung mereka. Bocah itu begitu menggemaskan.


"Pintar Banget kamu, tahu darimana kamu, hmm?" ucap Erland sembari menggendong dan mengecup pipinya yang cabi.


"Kan aku pernah lihat anggota Daddy saat apel pagi," jawabnya begitu polos.


"Haha.. Pintar kamu ya. Yasudah, sekarang Daddy berangkat, kamu jaga Mama ya." Erland kembali menurunkan Zherin dari gendongannya, dan segera beranjak meninggalkan mereka.


"Mas, ko baru pulang udah melamun?" tanya Airin sembari duduk disamping suaminya.


"Eh, Sayang. Kamu apa kabar hari ini? Apakah perut kamu masih sakit?" tanya Erland merentangkan tangannya untuk membawa wanita itu masuk kedalam dekapannya.


"Tidak Mas, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir ya." Airin membalas pelukan suaminya dengan penuh kehangatan.


"Syukurlah." Erland masih mendekap tubuh istrinya dengan sayang.


Pasangan itu duduk di Sofa yang ada di kamar mereka saling bermanja-manja.


"Dek, lusa aku ada tugas di luar kota selama satu bulan," ucap Erland memberitahu.


Airin segera melerai pelukannya. Ia menatap wajah suaminya dengan dalam. Rasanya berat sekali harus berpisah. Namun, ia harus mendukung dan memberi semangat kepada suaminya dalam menjalani tugas negara.


"Kamu jangan khawatir ya, satu bulan itu tidak akan lama. Sabar ya," ucap Erland membesarkan hati wanita itu.


"Mas, selama kamu tugas, aku pulkam dulu ya. Soalnya aku sudah kangen sama keluarga," pinta Airin, setidaknya ada keluarga yang menemani, jadi tak terlalu sepi.


"Tapi bagaimana Zherin, Dek?" tanya Erland tampak ragu.

__ADS_1


"Kan dia sudah libur, Mas."


"Oh iya, yaudah kalau begitu besok aku antar kamu dan Zherin pulkam ya," ucap Erland mengizinkan.


"Kamu serius ngizinin aku pulang, Mas?" tanya Airin tersenyum lega.


"Serius dong. Lagian kalau disana aku tidak perlu khawatir, karena ada ayah dan ibu yang ngejagain kamu," jelas Erland tak keberatan.


"Makasih ya Mas." Airin memeluk suaminya dengan erat.


"Sama-sama, Sayang, kamu disana jangan kemana-mana ya. Ingat, harus jaga kesehatan," pesan Erland pada istrinya.


"Baik, Mas... Aku janji tidak akan kemanapun. Aku akan dirumah saja."


"Baiklah, kalau begitu besok pagi-pagi sekali kita otw ya."


Airin hanya mengangguk dan tersenyum lembut. Erland yang melihat senyum istrinya tak tahan, ia segera melu mat bibir wanita itu dengan lembut.


"Kangen, Dek, Dokter bilang kita nggak boleh dulu. Ditambah puasa satu bulan lagi," ucap Pria itu berwajah muram.


"Sabar ya Mas, ditabung dulu rindunya. Besok kalau kamu pulang tugas sudah boleh melakukannya. Pokoknya besok aku kasih double," janji wanita itu membesarkan hati suaminya.


"Baiklah, yang penting sekarang adalah kesehatan kamu dan anak kita. Anak Daddy sehat-sehat ya Sayang, besok Daddy harus tugas, kamu tinggal sama Mama dan Kak Zhe dulu. Adek jangan rewel ya, Nak," ucap Erland membawa calon anaknya bicara.


Setelah cukup lama mereka berbincang, Erland segera mandi, karena waktu magrib sudah hampir tiba.


Pagi ini Airin dan Zherin sudah bersiap untuk pulang ke kampungnya. Erland yang mengantarkan istrinya. Kebetulan hari ini ia libur menjelang keberangkatannya besok. Jadi ia mempunyai waktu untuk mengantarkan anak dan istrinya.


"Ma, kita beneran pulang ke rumah kakek dan nenek lagi?" tanya Zhe masih belum percaya.


"Iya, Sayang, kamu seneng nggak?" tanya Airin membantu mengenakan pakaian anaknya.


"Horee... Aku seneng banget. Nanti aku dan kak Ami bisa main-main lagi. Kami bisa lihat orang panen ikan lagi di danau," celoteh bocah itu kegirangan saat ingin berlibur ke kampung halaman ibunya.


"Iya, tapi nggak boleh nakal disana ya, dan nggak boleh main jauh-jauh. Jangan bikin Mama khawatir," sambung Erland mengingatkan anaknya.


"Baik, Dadd. Emang Daddy nggak ikut liburan disana?" tanya Zhe belum tahu bahwa ayahnya akan bertugas keluar kota.


"Tidak Sayang, kali ini kamu dan Mama saja liburannya ya. Soalnya besok Daddy ada tugas diluar kota," jelas Erland pada putrinya.


"Yah, kurang seru nggak ada Daddy. Tapi nanti kalau Daddy sudah selesai tugas, Daddy susulin kami ya," pinta gadis kecil itu.


"Siap laksanakan komandan!" balas Erland membuat Airin dan Zherin terkekeh.


"Ayo kita jalan sekarang."

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2