
Pagi ini Airin bangun sedikit terlambat. Mungkin karena terlalu nyaman dalam pelukan sang suami, karena selama ini Erland jarang sekali memeluknya saat tidur.
Saat membuka mata Airin tak menemui sosok Pria itu. Ia segera duduk, namun terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Itu artinya suaminya ada di dalam sana.
Erland keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk sebatas pinggang. Sepertinya pria itu baru selesai mandi.
"Udah bangun? Ayo bersiap, kita berjamaah," ucapnya sembari berjalan menuju lemari pakaian.
"Kamu kok udah mandi, Mas? Bulannya kamu masih demam?" tanya Airin masih duduk ditempatnya.
"Udah nggak demam lagi, Dek, semalam nggak mandi jadi terasa gerah," jawabnya sembari mengenakan pakaiannya.
Airin segera beranjak masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil wudhu. Pasangan itu melaksanakan ibadah dua rakaat berjamaah. Biasanya Erland selalu jama'ah ke masjid, tapi pagi ini ia memutuskan untuk sholat dirumah saja, karena kondisi belum begitu pulih.
Selesai sholat Airin segera keluar untuk menyediakan sarapan pagi untuk suami dan anaknya.
Pagi ini Erland sudah merasa nyaman karena rasa mualnya tak terlalu berlebihan sehingga tak membuatnya muntah. Selesai makan Erland segera bersiap untuk berangkat tugas.
"Kamu yakin ingin tugas Mas?" tanya Airin sembari menyediakan pakaian dinas untuk lelaki itu.
"Iya Dek, tapi nanti kamu temani aku bekerja ya," ucap Erland membuat Airin semakin tak mengerti dengan keinginan suaminya.
"Tapi, Mas..."
"Nggak pa-pa, Dek, kan kamu nggak ngeganggu aku bekerja. Lagian hari ini aku cuma sampai siang," jelasnya.
"Kamu yakin ingin bawa aku? Apakah kamu tidak malu di lihat oleh rekan-rekan kamu?" tanya Airin sekali lagi.
"Nggak, udah, sana kamu siap-siap. Aku tunggu kamu di luar. Kasihan Zherin udah nunggu, takut nanti terlambat," ucapnya meyakinkan sang istri.
Airin hanya mengangguk, dan segera bersiap ikut suaminya dinas. Sebenarnya ia sangat malu bila nanti menjadi bahan perhatian para rekan-rekannya di kantor. Namun, tak ingin menolak juga keinginannya.
Setelah menunggu beberapa menit, kini Airin sudah selesai bersiap. Pria itu kembali terpana melihat penampilan istrinya. Entah kenapa setiap hari ia menatap Airin semakin tambah cantik.
"Mama mau kemana?" tanya Zhe pada sang Mama.
"Hmm.... Mama ikut Daddy ke kantor," jawab Airin jujur.
"Kok tumben Mama ikut Daddy kerja?" tanyanya kembali dengan heran.
"Sayang, kan Daddy kurang enak badan, jadi Mama yang temani Daddy kerja. Seandainya nanti Daddy tiba-tiba demam lagi, jadi ada Mama yang bawa Daddy ke RS," timpal Erland beralasan pada putrinya.
"Oh, begitu ya, Dadd." Bocah kecil itu tak lagi bicara. Kini mereka berangkat bersama, terlebih dahulu mengantarkan Zherin ke sekolah.
Setibanya di kantor Polda, Erland menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Dan tentu saja menjadi sorotan oleh rekan-rekannya. Sungguh Airin tak mengerti melihat sikap Erland yang berubah saat sedang sakit seperti ini.
"Ciee.. Pak Erland, mentang-mentang pengantin baru, pengen lengket terus kayak perangko," goda rekannya yang bersiap ingin apel pagi.
"Iya, istri saya sedang manja-manjannya karena bawaan bayi," jawab Erland ngarang.
__ADS_1
Seketika Airin menatap tak percaya, tetapi pria itu membalas dengan kedipan mata. Sungguh wanita itu tak mengerti, kenapa suaminya itu sekarang menjadi pembohong.
"Oh, jadi Bu Airin sedang hamil. Wah, selamat ya Pak," ucap mereka dengan bersamaan memberi selamat pada pasangan itu.
"Ya, terimakasih atas Do'anya, saya dan istri tentu saja mengaminkan," jawab Erland dengan senyum manisnya.
Erland segera menggiring istrinya masuk kedalam ruangannya. Seketika Airin melepaskan pegangan tangan pria itu.
"Mas, kamu ini kenapa harus berbohong pada mereka? Bagaimana jika nanti mereka mengetahui bahwa aku tidak hamil, kamu kan tahu sendiri aku sering ikut menghadiri acara di Bayangkari. Apaan sih kamu ngomong asalan begitu." Airin sedikit jengkel memberi protes pada suaminya.
"Udah, jangan marah-marah dulu. Karena aku merasa bahwa kamu beneran hamil," jawab Erland membuat Airin terkesiap. Apa maksud pria itu? Bagaimana mungkin dia bisa menyimpulkan.
"Apaan sih kamu sok tahu banget," timpal Airin tak percaya.
"Sayang, tadi pagi aku terbangun, dan saat itulah aku mengingat bahwa penyakit yang aku alami ini sudah pernah aku rasakan saat Nindi mengandung Zherin," jelas Erland pada istrinya.
"Ya mana bisa disamakan, Mas. Mana mungkin kamu menyamakan aku dan Nindi saat hamil," timpal Airin yang merasa tidak nyaman saat nama Nindi disebut, apalagi disamakan saat hamil.
"Bukan begitu, Dek, apa yang aku rasakan ini bukan berarti aku menyamakan kamu dan Nindi, semua yang berdampak padaku dikarenakan kekhawatiranku yang begitu berlebihan pada istri, maka akulah yang mendapatkan imbasnya," jelas Erland yang sudah berpengalaman.
"Masa sih? Emangnya kamu pernah khawatir sama aku?" tanya Airin tak percaya.
"Dek, kenapa kamu selalu saja salah menilaiku. Sudah berapa kali aku mengatakan, dan bahkan aku sudah menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini padamu. Aku merasakan bahwa ada yang hilang bila kamu tak bersamaku. Tapi jika kamu masih belum percaya. Yasudah, kamu pulang saja bila tak nyaman bersamaku disini," balasnya tampak pasrah menghadapi sikap istrinya yang masih belum mempercayai.
Airin terdiam mendengar ucapan suaminya. Sementara itu Erland segera menduduki bangkunya. Kembali rasa mualnya mendera bila sedang cekcok dengan istrinya. Erland kembali menumpahkan isi perutnya.
Airin membantu mengusap tengkuknya dengan lembut. Setelah merasa lebih tenang, Erland kembali ke kursi kerjanya. Ia memesan teh jahe hangat, dan jus lemon hangat untuk Airin.
"Mas?" panggil wanita itu pada suaminya.
"Ya, Sayang?" jawab Erland dengan mesra. Setelah cekcok tadi, ini baru mereka bertegur sapa.
"Kamu marah sama aku?" tanya Airin tampak sendu.
Erland tersenyum mendengar pernyataan wanita itu. "Mana bisa aku marah sama kamu, Dek. Aku yang salah. Karena sejatinya wanita itu tak pernah salah," jawab Erland dengan senyuman.
"Kok kamu ngomongnya begitu sih Mas? Kamu ngajak ribut lagi?" tanya Airin menatap malas. Jawaban pria itu memancing huru hara.
"Astaghfirullah, nggak banget Dek, aku benar-benar nggak ingin ribut lagi denganmu. Aku ingin hubungan kita tetap mesra dan saling mengasihi," jawab Erland dengan serius.
"Kalau begitu kenapa kamu jawabnya begitu?"
"Itu untuk menyadarkan diriku sendiri yang terkadang masih meninggikan ego. Seharusnya aku sebagai seorang lelaki harus peka apa yang kamu inginkan," jawab Erland yang membuat Airin tak ingin lagi menyahutnya.
Erland menghentikan pekerjaannya, ia menutup laptopnya, lalu membawa gelas minumannya membawa duduk disamping sang istri.
Dengan pelan pria itu menduduki kursi disamping Airin sehingga membuat kulit mereka bersinggungan.
"Ayo minum dulu, Sayang, jangan marah-marah, nanti bisa berdampak buruk dengan bayi kita," ucap Erland seakan sudah yakin bahwa istrinya sedang hamil.
__ADS_1
Airin menyesap minumannya. Ia menatap wajah suaminya yang duduk begitu merapat padanya. "Mas, kok kamu yakin sekali bahwa aku sedang hamil?" tanya Airin sembari mengamati wajah tampan lelakinya.
"Seperti yang aku jelaskan tadi," jawab Erland sembari merangkul bahu istrinya.
Saat mereka sedang ngobrol, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Erland mempersilahkan orang itu untuk masuk.
"Permisi Pak. Diluar ada pihak kejaksaan ingin bertemu dengan Bapak untuk melengkapi ada beberapa berkas yang belum mereka terima tanda tangan dari Pak Erland sebagai penyidik yang penanggung jawab atas kasus yang di limpahkan di pengadilan," jelas anggotanya memberitahu.
"Baiklah, suruh mereka masuk!" titah Erland.
"Siap komandan!" Polisi itu kembali keluar untuk menyampaikan perintah sang atasan.
Tak berselang lama dua orang pihak kejaksaan agung masuk kedalam ruangan AKBP Erland. Seketika mereka saling pandang saat mengenali salah seorang dari jaksa itu. Dan tak kalah terkejutnya ialah Airin.
"Ridho!" seru Airin.
"Ay!" sambut pria itu menatap tak percaya dengan kehadiran wanita itu di ruangan majikannya sendiri. Ternyata perihal pernikahan mereka tak sampai di telinga ridho sehingga ia menaruh curiga.
"Silahkan duduk. Ada keperluan apa?" tanya Erland menatap tidak suka pada Pria yang ia tahu teman SMA istrinya.
"Ah baiklah." Mereka segera menduduki kursi yang berhadapan dengan Erland. Ridho tampak fokus dengan tujuannya yang untuk melengkapi berkas perkara.
Setelah urusan Ridho selesai dengan Erland, kembali tatapannya berfokus pada Airin. Ridho masih tak percaya bahwa Airin bisa berada di ruangan Erland. Ada apa sebenarnya?
"Ay, bisa kita ngobrol sebentar?" sapa Ridho sebelum keluar dari ruangan itu.
"Ah maaf ya Dho, aku tidak bisa," tolak Airin demi menjaga perasaan suaminya yang sudah berwajah gusar.
"Oh, baiklah. Kalau begitu nanti aku chat kamu ya." Ridho segera beranjak meninggalkan ruangan penyidik itu.
Setelah Ridho pergi, kini tinggal mereka berdua di ruangan itu. Erland kembali duduk disamping istrinya. Kini wajah pria itu di tekuk dan sangat kusut seperti jeruk purut.
"Mana ponsel kamu?" tanyanya dengan wajah datar.
"Buat apa, Mas?" tanya Airin tam mudeng.
"Aku mau delete nomor jaksa itu," jawabnya dengan jujur.
"Kenapa dihapus Mas? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Dia itu teman SMA aku dulu. Kami memang hanya berteman," jelas Airin pada suaminya.
"Mungkin kamu memang menganggapnya teman, tetapi dari tatapan dia menyimpan perasaan padamu," balas Erland yang sudah menjadi ahli nujum.
"Mana Dek? Aku tidak ingin dia membuatmu menjadi nyaman. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang mendekati kamu. Aku harus belajar dari pengalaman. Bermula dari teman, terus menjadi nyaman. Dan setelah itu berakhir dengan perselingkuhan," jelasnya membuat Airin tak bisa bicara apapun.
Wanita itu memberikan ponselnya demi menjaga keutuhan rumah tangganya. Ia tak ingin membuat masalah disaat Erland sedang berjuang untuk memberikan hati padanya.
Erland mengambil kontak Ridho, lalu memblokir secara permanen. Ia tak ingin lagi membiarkan istrinya menyimpan kontak pria lain di ponselnya.
Setelah menghapus kontak Ridho, ia kembali ke meja kerja untuk menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai mereka segera pulang, dsn tak lupa menjemput Zherin.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰