Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Bertemu kembali


__ADS_3

Intan dan Reza menikmati makan siang di salah satu restoran yang tak begitu jauh dari RS tempat mereka dinas. Tak ada percakapan yang spesial, Intan tampak tak begitu berminat untuk menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh lelaki yang ada dihadapannya.


"Makan yang banyak biar semok," ujar Reza pada wanita itu.


"Nggak bisa makan banyak, lagian nggak suka gemuk," jawab Intan di sela makan mereka.


"Ya, kan beda gemuk dengan berisi," jawab Reza dengan senyum khasnya.


"Ish, apaan sih Bang, udah cepat abisin makanannya karena dua puluh menit lagi aku ada jadwal operasi," balas Intan tak ingin lagi membahas.


"Iya iya, cerewet banget kamu. Oya, banyak pasien kamu operasi hari ini?" tanya Reza sembari menyudahi makanannya.


"Ada dua orang, Abang sendiri? Nggak ada jadwal hari ini?" tanya Intan pada dokter spesialis jantung itu.


"Nggak ada, tapi kalau kamu butuh bantuan, Abang siap kok."


"Enggak terimakasih."


Tak ada lagi obrolan, selesai makan Reza kembali mengantarkan Intan ke RS. Karena ada jadwal operasi siang ini maka gadis itu harus menyelesaikan tugasnya.


Sebagai Dokter spesialis bedah, maka Intan harus bertanggung jawab penuh pada seluruh pasiennya. Tak terasa tiga jam di dalam ruangan, setelah memastikan usahanya berhasil dan kondisi pasiennya sudah membaik maka gadis itu baru bisa menghela nafas lega dan mengucap syukur.


Intan keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah, rasanya ingin segera istirahat maka dari itu ia segera beranjak untuk pulang. Namun langkahnya terhenti saat ada suster menghampirinya.


"Sore, Dok," sapa perawat pada Intan.


"Ya sore, Sus. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Intan dengan ramah.


"Maaf, Dok, kami mengganggu waktu dokter lagi. Di IGD ada pasien yang harus di ambil tindakan, karena pasien mengalami luka tembakan," jelas perawat pada intan.


"Ah, yasudah, ayo bawa ke ruang operasi sekarang." Intan yang baru saja sampai di lobby harus menuju ruang operasi kembali.


"Baik, Dok."


Perawat itu segera menuju IGD untuk membawa pasien ke ruang operasi. Intan kembali menggunakan pakaian tindakan.

__ADS_1


Sementara itu di ruang IGD seorang pasien yang sudah tak sadarkan diri sedang diproses untuk di pindahkan ke ruang operasi.


"Mohon di selesaikan pendaftaran pasien, Pak. Kami akan segera mengambil tindakan," ucap Dokter umum yang menjaga dia di ruangan itu.


"Baiklah, kami akan segera menyelesaikan, tapi tolong segera tangani komandan kami, Dok," jelas Pria yang juga masih menggunakan pakaian lengkap seorang polisi. Sementara itu di luar ruangan masih ada beberapa aparat yang sedang menjaga.


"Baiklah, kami akan segera mengambil tindakan." Petugas IGD segera membawa pasien menuju ruang operasi dan di ikuti oleh anggotanya yang lain. Sepertinya yang sedang kritis itu adalah seorang komandan polisi, karena terlihat dari ketatnya penjagaan dari pihak kepolisian dan jajarannya.


Intan sudah bersiap menunggu kedatangan pasien kritis yang harus segera ia tangani. Saat pintu ruangan terbuka Intan masih sibuk menyediakan segala alat medis yang akan ia gunakan. Namun seketika tatapannya terpaku saat melihat seorang lelaki yang tak asing lagi baginya.


"Bang Erland," serunya dengan suara tercekat.


"Ayo segera buka pakaiannya, Bang Hen," titah Intan pada perawat laki-laki yang bernama Hendra itu.


Intan tak dapat mengekspresikan perasaannya saat ini. Sungguh hatinya tak menentu saat melihat lelaki yang sampai saat ini masih memenuhi rongga hatinya.


Intan segera mengambil tindakan untuk mengeluarkan amunisi yang masih bersarang di rongga dadanya, luka tembak yang dialami Erland cukup serius karena mengenai orang vital dalam.


Intan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik agar Pria itu dapat melewati masa kritisnya. Meskipun hatinya masih saja bergetar saat menatap wajah lelaki yang kini tampak semakin matang dan sangat tampan.


Intan masih berusaha melakukan yang terbaik, namun tiba-tiba kondisi Erland kembali kritis, karena mengalami pendarahan.


"Let's fight!" seru gadis itu dengan suara bergetar.


"Dok, periksa kembali detak jantungnya," titah Intan pada Dokter jantung yang ikut menangani di ruangan itu.


"Jantungnya melemah, Dok," jawab Dokter jantung itu ikut was-was.


"Ayo berjuanglah, Bang!" Intan masih berusaha menyemangati lelaki yang tak sadarkan diri itu.


Bermacam cara telah dilakukan oleh Intan untuk membuat kondisi Pria itu stabil, namun tetap saja tak membuahkan hasil. Intan masih tak ingin menyerah ia tetap berusaha sekuat tenaga.


"Bang, ayo bangunlah, aku mohon jangan menyerah, Bang. Hiks..." Akhirnya wanita itu tak mampu menahan cairan bening yang sedari tadi ingin menetes.


Tanpa sadar Intan menangis terisak sembari membangunkan lelaki itu. Dan tanpa ia sadari pula para dokter yang ikut menangani menatap heran dan tak mengerti. Siapa sebenarnya lelaki itu?

__ADS_1


"Dok, detak jantungnya mulai stabil," ucap Dokter laki-laki itu.


Seketika Intan menatap alat pengukur detak jantung yang terpasang di tubuh Erland.


"Alhamdulillah ya Allah," serunya tersenyum lega sembari menyusut air matanya.


"Bagaimana dengan denyut nadinya, Dok?"


"Alhamdulillah sudah normal."


Intan kembali mengucap syukur yang tak terkira. Akhirnya ia sudah bisa bernafas lega. Tak tahu apa yang terjadi pada dirinya jika ia tak berhasil menyembuhkan lelaki itu.


Setelah mendapatkan penanganan dengan baik dan diyakini kondisinya telah melewati masa kritis, maka Erland segera dipindahkan keruangan observasi untuk di pantau selama dua jam, setelah itu baru akan dipindahkan ke ruang rawat inap.


Selama serangkaian medis itu berlaku maka selama itu pula Intan tetap mendampingi Erland, bahkan tak sedetikpun ia meninggalkannya. Entahlah ia tidak tahu apa yang membuat dirinya tak bisa meninggalkan raga itu walau hanya sekejap saja.


Setelah dipastikan semua baik-baik saja, maka pasien segera dipindahkan keruang rawat inap. Intan masih setia mendampinginya bahkan wanita itu tak lagi merasakan lelah yang tadi ia keluhkan dalam hati.


Intan hanya ingin melihat lelaki itu sadar. Demi menjaga sikap profesionalnya, maka Intan menggunakan masker dan berlaku sewajarnya bak seorang dokter yang tengah merawat pasiennya.


"Dok, apakah komandan kami baik-baik saja?" tanya salah seorang lelaki yang dipastikan adalah anggotanya.


"Alhamdulillah pasien telah melewati masa kritis, kita hanya menunggu beliau sadar," jelas Intan dengan tenang.


"Kalau begitu kami semua sudah di perbolehkan untuk membesuk kan, Dok?"


"Karena pasien belum sadar, maka kami minta agar Bapak dan rekan yang lainnya membesuk secara bergantian ya, Pak," jelas wanita itu dengan sopan.


"Ah baiklah, Dok, kami paham." Sesuai aturan yang diberikan Dokter bedah itu maka mereka membesuk secara bergantian.


Bersambung....


NB. Maaf ya masih slow update. Mulai besok diusahakan update setiap hari. Terimakasih masih mengikuti cerita ini🙏🤗


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2