Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Sikapnya tak bisa ditebak


__ADS_3

Reza terkapar disamping wanita kesayangannya, senyum merekah terukir di bibir mereka masing-masing.


"Apakah kamu menikmatinya, Sayang?" tanya Reza sembari menghadiahi kecupan hangat di bibir istrinya.


Intan tak menyahut, tetapi ia hanya tersenyum malu sembari menyembunyikan wajahnya di dada lelakinya dan memeluk dengan erat.


"Jangan malu, Sayang, jika enak bilang saja. Nanti malam kita mulai kembali," goda Pria itu.


"Ish, apaan sih ngomong begitu. Udah, ayo kita mandi sekarang, aku udah nggak nyaman banget nih," balas wanita itu.


"Baiklah, nanti kita bisa mencoba di kamar mandi," jawab Reza yang mendapat cubitan dari istrinya.


"Nggak usah, aneh-aneh ya, Bang. Sebentar lagi magrib. Kayak nggak ada waktu aja," ujarnya menatap garang.


"Hahaha... Iya iya, Sayang, Abang cuma bercanda kok. Mana mungkin Abang mau melakukannya kecuali suka sama suka," balasnya dengan kekehan.


Intan tak menyahut lagi ucapan suaminya yang tak beranjak dari hal itu. Ia ingin berdiri namun merasakan perih pada tubuh intinya. Dan ia sangat terkejut saat melihat ada bercak noda merah di alas kasur itu.


"Aawwh! Perih banget," rengeknya sembari mencengkeram alas kasur dengan kuat.


"Kenapa, Dek? Apakah sakit banget? Ayo Abang gendong." Reza segera menggendong tubuh istrinya yang masih polos.


Pasangan itu mandi berdua, tak ada kejadian apa-apa, Reza tak ingin membuat istrinya merasa tidak nyaman, maka mereka benar-benar mandi dan setelah itu menunaikan ibadah magrib tiga rakaat.


***


Bila pasangan dokter itu sedang menikmati masa bulan madu mereka, berbeda dengan pakpol yang sudah dua hari ini uring-uringan tak jelas setelah melihat Airin bersama dengan lelaki lain saat di mini market waktu itu.


Sore ini Airin kedatangan tamu seorang jasa penuntut umum. Ia segera menemui lelaki itu dengan senyum merekah. Ya, Ridho adalah teman lelakinya yang sedari dulu begitu baik dengannya hingga saat ini sikap Pria itu masih sama.


"Hai, Akhirnya kamu sampai juga di sini. Ayo duduklah," ucap Airin mempersilahkan.


"Datang dong, aku itu dari dulu selalu tepat janji," jawabnya sembari menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada di teras.


"Sebentar aku buat minuman dulu ya."

__ADS_1


"Baiklah, to usah repot-repot kalau ada yang lain keluarkan saja," canda Pria itu yang membuat Airin terkekeh.


"Kamu nih ya, selalu ada saja yang membuat aku tertawa," ucapnya sembari melenggang masuk kedalam untuk membuatkan minum buat temannya itu.


Tak perlu lama gadis itu sudah keluar dengan nampan di tangannya, dan tak lupa di ikuti oleh Zherin di belakangnya.


"Ayo minum dulu, Dho," ucapnya mempersilahkan.


"Terimakasih ya. Ini siapa?" tanya Ridho melihat bocah kecil yang bersembunyi di belakang Airin.


"Ini Zherin, dialah yang aku kasih setiap hari. Zhe, ayo salim dulu sama Om Ridho," ucap Airin memperkenalkan pada gadis kecil itu.


"Hai, Om, nama aku Zherin," ucapnya dengan senyum malu-malu.


"Hai, Nama kamu cantik sekali sama dengan orangnya," jawab Ridho sembari mengusak rambut lurus bocah itu.


"Ayo diminum, Dho. Maaf ya kamu hanya aku bawa duduk disini, soalnya didalam nggak ada laki-laki jadi aku tidak enak," ungkap Airin merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa kok. Niat aku kesini itu hanya ingin bertemu dengan kamu, itu tidak penting kamu mau bawa aku duduk dimana," balas Ridho dengan pengertian.


Erland turun dari mobil, lalu menghampiri mereka yang sedang duduk santai dengan di temani oleh Zherin.


"Daddy..." Panggil Zherin yang segera menyongsong sang Daddy. Erland segera membawa gadis kecil itu dalam gendongannya.


"Loh, kok ngobrol diluar? Kenapa tidak dibawa kedalam?" tanya Pria itu dengan senyum ramah.


"Ah, terimakasih, Pak, disini saja lebih enak santai," jawab Ridho dengan senyum ramah.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi kedalam dulu," ucap Erland yang membuat Airin tak habis pikir dengan sikap Pria itu tiba-tiba berubah. Padahal beberapa hari ini ia banyak di diamkan oleh penyidik itu.


Erland segera masuk kedalam kamarnya menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Sesaat ia berpikir apa yang harus ia lakukan. Kenapa perasaannya terasa entah saat menyaksikan gadis itu tersenyum senang bersama lelaki yang dia sebut sebagai teman.


Untuk apa lelaki itu datang menemui Airin jika tak ada alasan yang spesifik. "Aaahh! Kenapa aku bisa seperti ini. Ayolah Erland dia itu hanya Pengasuh putrimu." Pria itu bergumam sendiri.


Cukup lama mereka ngobrol, akhirnya Ridho pamit undur dari hadapan Airin, merasa tak enak bila bertamu terlalu lama, lagian Airin juga bekerja disana.

__ADS_1


"Ai, aku pamit pulang ya, soalnya bentar lagi mau magrib," ucap ridho berpamitan.


"Baiklah, kamu hati-hati ya."


Setelah Ridho pulang, Airin segera masuk dengan menggendong Zherin yang tak mau lepas darinya. Ia berpapasan dengan Erland yang sudah berpakaian rapi.


"Airin setelah sholat magrib temani saya mau bawa Zherin ke mall," titahnya yang mendapat anggukan dari Airin.


"Baik, Pak," jawabnya dengan patuh.


"Kita mau ke mall, Dadd?" tanya Zherin antusias mendengar ucapan sang Daddy.


"Iya, Sayang, kamu siap-siap dulu ya. Daddy mau ke masjid dulu," ucap Pria itu ingin melaksanakan ibadah berjamaah.


Zherin bersorak kegirangan saat mendengar jawaban Daddynya. Airin segera membawa gadis kecil itu masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaian berpergian, setelah itu ia segera mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat magrib terlebih dahulu sebelum mengganti pakaian.


Setelah menunaikan ibadah tiga rakaat, Erland juga sudah pulang dari masjid. Pria itu melihat anak dan pengasuhnya sudah rapi.


"Kalian sudah siap?" tanyanya, dan mendapat anggukan dari Airin.


Saat mereka hendak keluar rumah, Nindi sudah berdiri diambang pintu. Seketika Erland menatap tajam ia benar-benar sudah malas menatap wajah wanita yang telah menorehkan luka begitu dalam sehingga luka itu masih menganga sampai saat ini.


"Mau apa kamu?" tanyanya dingin.


"Kok kamu nanya gitu, Mas? Tentu saja aku ingin bertemu dengan putriku," jawab Nindi dengan senyuman.


"Lain kali saja, karena saat ini aku ada acara diluar," timpal Erland kembali.


"Oh, yaudah, kalau begitu barengan aja. Aku juga lagi free. Ayo kita jalan sekarang!" Ucapnya dengan santai.


"Tidak! Aku tidak akan membawamu pergi. Karena kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi!" tegas Erland.


"Mas, ayolah. Aku tahu kamu dan Pengasuh itu tak ada hubungan apa-apa 'kan? Aku tahu kamu hanya ingin membuatku cemburu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2