Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Menyuapi makan


__ADS_3

"Panggil Abang!" sahut Reza mengingatkan gadis itu.


"Ah, ya. Tumben pagi-pagi sekali Abang sudah di RS?" tanya Intan sedikit heran. Kedua insan itu ngobrol sembari berjalan.


"Iya, darahku berdesir saat mendengar kabar bahwa wanita yang aku cintai menangis terisak-isak saat menangani seorang pasien," jawab Reza yang mendapat kabar burung.


"Ish, apaan sih, Bang? Nggak usah lebay deh!" balas Intan yang sebenarnya juga sangat gugup.


"Hahaha... Nggak usah tegang begitu wajahnya, Dek," ucap Pria itu dengan kekehannya.


"Ih, Abang apaan sih? Udah ah, aku mau visit dulu!" Intan mendahului lelaki itu yang masih terkekeh.


"Eh eh, tunggu dulu!" Reza meraih lengan gadis cantik itu.


"Apalagi, Bang?"


"Selesai visit kita sarapan bareng ya," ajaknya dengan wajah penuh harap.


"Ya, baiklah." Entah kenapa Intan segera menerima tawaran lelaki itu. Apakah ia ingin segera menepi dari perasaannya saat ini?


"Yes! Oke, Abang tunggu ya."


Intan hanya mengangguk dan segera meneruskan tugasnya untuk membesuk para pasiennya yang rawat inap. Selesai visit, Intan segera ingin turun kelantai satu karena sudah ada janji dengan Reza untuk sarapan bersama.


Saat Intan melewati kamar Erland, hatinya masih penasaran ingin tahu sedang apakah lelaki itu. Intan membuka pintu ruangan itu sedikit dan menilik dari celah yang sedikit terbuka.


Intan melihat Erland tengah berusaha untuk duduk, namun tak ada yang membantu sehingga membuatnya kesulitan. Kembali lagi rasa tak tega menyelimuti hatinya. Intan yang tahu bahwa Erland tak mempunyai sanak saudara, karena dia adalah anak yatim-piatu yang diambil Ibunya sebagai anak angkat.


Intan kembali mengenakan maskernya dan segera masuk kedalam ruangan itu. Sesaat tatapan mereka kembali bertemu.


"Apakah Pak Erland butuh bantuan?" ucap Intan bersikap sewajarnya.


"Ah, tidak apa-apa, Dok. Saya hanya ingin berusaha untuk bisa duduk sendiri," jawab Erland yang masih berusaha. Melihat Erland tengah kesusahan maka dengan spontan wanita itu membantunya dengan melingkarkan tangannya di belakang untuk menopang tubuh itu agar duduk dengan tegap.

__ADS_1


Kembali jantungnya berdegup kencang, dua tahun berpisah ini kali pertama tubuh mereka begitu dekat. Kembali lagi hati gadis itu dipenuhi andai-andai. Namun ia segera sadar bahwa Pria itu telah menjadi milik orang lain.


Intan berusaha menekan perasaannya. Ia segera menyetel tempat tidur itu agar Erland duduk bersandar dengan nyaman. Setelah itu ia melihat meja dimana makanan itu masih saja utuh belum disentuh.


"Apakah Bapak belum sarapan?" tanya Intan sembari menatap wajah yang tampak tak bersemangat itu.


"Belum, Dok. Bisa minta tolong ambilkan makanan itu," ucap Erland sedikit mengangkat bahunya, namun ia meringis karena dadanya masih merasakan nyeri.


Intan mengambil makanan itu. Dengan pelan tangannya menyuapi Pria itu. Sesaat tatapan mereka kembali menyatu. Erland merasa sedikit canggung atas segala kebaikan Dokter itu.


"Maaf, apakah saya tidak merepotkan, Dokter?" tanyanya merasa tidak enak.


"Ayo makanlah. Bapak masih belum boleh menggerakkan tangan kanan, karena otot-otot dada masih terlalu kaku," jelas Intan sembari mengarahkan sendok yang berisi makanan ke mulut Pria itu.


"Terimakasih banyak, Dok," ucap Erland dengan tulus.


Intan hanya membalas dengan anggukan. Tak ada lagi percakapan diantara mereka, Intan hanya fokus menyuapi makanan pada lelaki yang sudah belasan tahun hidup bersama dengannya. Namun sebuah perasaan membuat mereka harus berpisah.


Ah, andai saja perasaan ini tak tumbuh dihatinya maka hubungan mereka tidak akan seperti ini, dan mereka tidak akan berpisah, Erland akan selalu menganggapnya sebagai adik kesayangannya. Namun apalah daya bagi Intan yang tak bisa memusnahkan perasaannya.


Sedih melihat kondisi Erland yang tak mendapat kasih sayang dari sang istri. Entah kenapa hatinya merasa sakit melihat keadaan Erland yang tak mempunyai sanak saudara seperti dirinya. Tak terasa cairan bening menetes disudut mata Intan saat ia tak kuasa menahan haru.


"Kenapa nasibmu miris, Bang, kamu yang seorang komandan polisi namun tak ada keluarga yang menjagamu disaat dirimu sedang lemah seperti ini? Kemana keluarga dari istrimu?" Batin wanita itu bertanya-tanya sendiri.


"Kenapa menangis, Dok?" tanya Erland yang baru menyadari.


"Ah, tidak. Saya tidak menangis, saya hanya lupa menggunakan kacamata karena mata saya sudah minus," jawab Intan beralasan.


"Oh, sepertinya Dokter masih cukup muda, tapi sudah minus saja," ujar Erland menatap wajah yang masih tertutup masker.


"Iya, karena saya terlalu banyak menatap layar ponsel dan laptop."


Kembali hening tak ada percakapan. Erland kembali menatap mata teduh yang ada dihadapannya, rasanya sudah tak asing lagi tatapan itu, namun hatinya masih ragu untuk berasumsi sendiri.

__ADS_1


"Dok, nanti sore putri saya akan datang, apakah tidak apa-apa dia menginap disini?" tanya Erland yang mengingat sang putri akan datang diantar oleh pengasuhnya.


"Usia berapa putri Bapak?"


"Baru empat tahun, Dok."


"Tidak apa-apa, nanti saya yang akan memberi jaminan," sahut Intan dengan tenang.


"Terimakasih banyak, Dok. Sungguh saya merasa sangat sungkan. Dokter begitu baik."


"Sudahlah, Bapak tidak perlu merasa sungkan. Sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter untuk memberi pelayanan yang baik bagi pasien-pasien saya," ucap Intan bersikap sewajarnya.


Tak terasa tiga puluh menit berada diruangan itu. Erland telah menghabiskan makanannya, dan sebentar lagi akan ada suster yang akan menyuntikkan obat melalui infus.


"Kalau begitu saya pamit keluar dulu, ya Pak. Jika nanti Bapak butuh bantuan lagi, Bapak bisa panggil saja perawat kami melalui tombol yang ada di samping tempat tidur itu," interupsinya sebelum meninggalkan ruangan Pria itu.


"Baiklah, sekali lagi saya ucapkan terimakasih."


Intan mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu, namun lagi-lagi langkanya terhenti saat sosok lelaki yang sudah ada janji dengannya tadi telah berdiri di depan ruangan itu.


"Eh, Bang Reza. Maaf ya agak telat, karena aku tadi..."


"Sedang menyuapi pasien kamu?" tanya Reza penuh selidik. "Baru tahu ada seorang Dokter menyuapi pasien makan. Apakah kamu melakukan hal yang sama dengan pasienmu yang lain?" tanya Reza yang membuat Intan tak dapat berkutik. Namun tentu saja dia mempunyai alasan tersendiri kenapa ia melakukan hal sedemikian.


"Iya, aku melakukan itu karena aku kasihan," jawab Intan jujur.


"Benarkah? Bukan karena ada sesuatukah?" tanya Reza masih curiga.


"Apa sih, Bang! Aku rasa Abang tidak perlu mengurusiku sampai segitunya!" ujar Intan mulai tak nyaman saat di interogasi oleh Dokter jantung itu.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2