
"Kamu salah Nindi, aku dan Airin memang menjalin hubungan, dan bahkan bulan depan kami akan menikah," ucap Erland yang membuat Airin maupun Nindi terjingkat mendengar pernyataan ngarang itu.
"Hng! Kamu pasti bohong kan, Mas? Aku tidak percaya!" sentak wanita itu."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas kamu bisa buktikan ucapanku dengan sendirinya," balas Erland tampak serius. Tentu saja Airin menjadi bingung tak habis pikir.
"Airin, ayo bawa Zherin masuk!" titahnya yang juga menduduki bangku kemudi.
"Dadah... Mommy," ucap Zherin pada sang Ibu kandungnya. Gadis itu memang merasa asing dengan wanita yang telah melahirkannya. Mungkin karena sedari kecil dirinya didalam pengasuhan orang lain sehingga ia tak merasa dekat dengan sang ibu.
Nindi menatap kesal pada Erland. Namun hati kecilnya masih belum percaya bahwa mantan suaminya itu ada hubungan dengan Pengasuh putrinya.
"Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil posisiku dihati kamu, Mas!" gumamnya dalam keseorangan.
Sementara itu Erland dan Airin hanya terlibat saling diam. Airin masih mengingat kalimat yang di lontarkan oleh Erland tadi. Kenapa dia masih saja melibatkan dirinya dalam masalahnya.
Setibanya di mall, Erland segera mengisi saldo untuk permainan putrinya. "Airin bawa Zherin di tempat mandi bola. Aku mau beli minum dulu, kamu mau minum apa?" tanya Erland sebelum beranjak.
"Apa sajalah, Pak," jawab Airin pasrah banget.
Erland segera meninggalkan mereka. Ia menuju konter minuman yang ada di mall untuk memesan minum.
"Ini buat kamu, dan ini buat Zhe," ucap Pria itu menyerahkan dua cup minuman untuk anak dan sang pengasuh.
"Terimakasih, Pak," jawab Airin sembari menerima pemberian dari pakpol.
Airin menyesap minuman yang berperasa coklat diberi bermacam toping. Rasanya segar sekali, ia menikmati sembari memperhatikan Zherin yang sedang asyik bermandikan bola.
"Airin," panggil Erland sembari duduk disamping gadis yang berumur dua puluh lima tahun itu.
"Ya, Pak?" jawab Airin menoleh kesamping menatap wajah pria itu sesaat.
"Lusa aku akan ke kampung halamanmu," ucap Erland yang membuat Airin mengerutkan keningnya dalam keheranan.
"Untuk apa Bapak ke kampung saya?" tanyanya penasaran.
"Untuk melamar kamu pada kedua orangtuamu," jawab Erland dengan santai.
"Hahaha... Bapak nggak usah bercanda deh," sahut Airin tak percaya.
__ADS_1
"Airin, aku serius! Aku ingin kamu menjadi ibu sambung untuk Zherin, karena dia sudah begitu dekat dengan kamu," jelasnya yang membuat Airin terpaku menatap raut wajah lelaki itu.
"Apakah kamu bersedia?" tanya Erland meminta jawaban.
"S-saya tidak bisa memberi jawabannya sekarang, Pak," jawab Airin yang membuat Erland terdiam sejenak.
"Aku beri kamu waktu berpikir sampai besok pagi," ucapnya seperti tak bisa dibantah. Airin semakin tidak mengerti dengan sikap lelaki itu benar-benar tak bisa di tebak.
Bagaimana ia bisa menikah dengan Pria yang alasannya hanya karena ingin menjadikan dirinya sebagai ibu sambung untuk putrinya.
"Tidak bisa seperti itu, Pak. Saya berhak untuk berpikir dan memutuskan, karena ini tentang masa depan saya," ucap Airin tegas
"Tidak ada bantahan Airin, aku ingin kita segera menikah!" ucap Erland lugas.
Airin tak bisa berkata hanya bibirnya sedikit ternganga. Ia tak tahu entah apa yang ada dalam pikiran duda beranak satu itu. Sungguh benar-benar meresahkan.
"Jika saya tidak mau, Bapak mau apa?" tanya Airin seperti menantang.
"Aku akan tetap melamarmu kepada kedua orangtuamu."
"Apakah Bapak ingin menjadikan saya sebagai tempat perlarian? Atau Bapak ingin balas dendam dengan mantan istri Bapak?" tanya Airin curiga.
"Jangan menuduhku seperti itu, karena aku tak seburuk yang kamu pikirkan."
Airin hanya diam, hatinya masih gamang dengan segala permintaan Pria itu. Apakah memang karena Zherin alasannya? Apa yang harus ia katakan, kenapa dia ngeyelan ingin jawaban secepatnya.
"Mbak, aku haus!" panggil Zherin di balik jaring permainan bola itu.
"Baiklah, ayo minum dulu." Airin membawakan minuman tadi dan membantu gadis kecil itu untuk minum sebentar, setelah itu ia kembali bermain.
Airin masih berdiri disana sesekali ia menatap Erland yang ternyata juga memperhatikan dirinya. Ia benar-benar gugup dibuatnya.
"Ayo sini duduk!" panggil Erland pada Airin yang enggan untuk duduk disampingnya. Entahlah, apakah gadis itu masih syok dengan pernyataannya?
Dengan langkah pelan Airin kembali melangkah menghampiri Erland dan duduk disampingnya. Sejenak mereka hening. Airin maupun Erland memperhatikan Zherin yang tengah asyik berseluncur di dalam kubangan bola. Gadis itu tampak tertawa ceria ia benar-benar menikmati permainan itu.
"Teman kamu yang bekerja di kejaksaan itu tinggal dimana?" tanya Erland kembali membuka percakapan.
"Saya tidak tahu, karena tidak nanya juga," jawab Airin jujur sekali, karena ia memang lupa menanyakan dimana temannya itu tinggal.
__ADS_1
"Lain kali jangan berhubungan dengan lelaki asing lagi!" tekannya menatap serius.
"Lelaki asing? Pak, dia itu teman SMA saya, dan kami satu kampung. Dan saya kenal baik dengan keluarganya," jelas Airin tak terima bila Ridho dikatakan orang asing.
"Walaupun dia satu kampung denganmu, tapi disini kamu tidak tahu alamat rumahnya dimana. Jika terjadi sesuatu padamu siapa yang akan repot? Kamu mau masuk tahanan lagi?" tanya Erland tampak sewot.
Airin mendengus kesal, kenapa Pria ini banyak sekali aturannya? Kenapa sekarang dia menjadi posesif. Airin memalingkan wajahnya sembari meremat buku-buku jarinya hingga memutih karena menahan kekesalannya.
"Kamu mau beli sesuatu?" tanya Erland seperti sedang membujuk gadis itu yang sedang dongkol.
"Tidak!" jawabnya singkat.
"Jangan kesal, karena apa yang aku lakukan demi kebaikan kamu, karena mulai sekarang kamu menjadi tanggung jawabku," ucap Erland yang membuat Airin menatap tajam..
"Daddy... Aku ingin keluar!" seru bocah kecil itu seperti sudah bosan.
"Ah, baiklah. Ayo keluar." Erland beranjak membantu putrinya untuk keluar dan kembali mengenakan sepatunya.
"Ayo kita cari makan malam," ajaknya pada Airin yang tampak masih duduk melamun.
"Mbak, ayo kita cari makan, aku udah lapar," ucap Zherin meraih tangan Airin.
"Ah, ayo." Airin segera bangkit dan berjalan beriringan dengan Zherin.
"Mau makan apa?" tanya Erland pada kedua wanita yang berjalan di depannya.
"Aku mau makan sup udang," sahut Zherin masih berjalan ceria dalam bimbingan calon ibu sambungnya.
"Baiklah, kalau begitu kita cari restoran seafood ya."
Pria itu membawa kedua wanita itu memasuki sebuah restoran seafood yang ada di mall. Erland memilih sebuah meja agak di pojokan agar sedikit lebih nyaman dan santai.
"Kamu mau pesan apa, Airin?" tanya Erland pada sang pengasuh, karena ia sudah tahu kekinian putrinya maka tak perlu lagi menanyakan.
"Apa sajalah, Pak," Airin yang masih saja pasrah dalam urusan selera.
"Kalau begitu sama dengan menu aku saja ya." Erland segera memesan menu yang mereka inginkan.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰