
"Iya, aku ambil makan bentar ya, Sayang," jawab Reza dengan mesra.
Intan hanya tersenyum tipis sembari menarik sebuah kursi menduduki bokongnya disana. Tatapannya tak terlepas dari kedua orang itu. Tampak wanita yang bernama Keysa masih membawa Reza ngobrol sembari mengambil makanan untuknya.
"Yang tadi itu siapa?" tanya wanita yang dulu pernah menjalin hubungan saat mereka masih menduduki bangku SMA.
"Dia istri aku," jawab Reza apa adanya. Ia ingin segera beranjak untuk duduk bersama Intan.
"Gimana, Dek, enak nggak?" tanya Reza sembari duduk disamping istrinya.
"Hmm, enak kok," jawab Intan datar.
"Mau cobain punya Abang?" tanya Reza mengarahkan sendok yang berisi makanannya ke mulut intan.
"Permisi, boleh duduk disini?" tanya Keysa dengan senyum rumah.
Intan yang semula tak minat di suapi oleh suaminya, namun setelah melihat kehadiran wanita itu maka ia segera menerima suapannya dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
"Ya silahkan!" jawab Intan berusaha untuk beramah-tamah.
"Terimakasih..." Sementara itu Reza hanya tersenyum tipis dihatinya ada rasa tak nyaman.
"Kamu istrinya Reza ya?" tanyanya, dan di tanggapi dengan anggukan kecil oleh Dokter bedah itu.
"Pasti kamu sangat bahagia mendapatkan lelaki seperti Reza, karena dia itu sangat pandai menghargai pasangan dan sangat penyayang," celotehnya yang membuat Intan sedikit penasaran dengan kata-katanya.
"Sepertinya kamu sudah hafal sekali kepribadian suami aku, apakah dulu kalian pernah dekat?" tanya Intan penasaran.
"Ya, kamu benar sekali. Aku dan Reza dulu pernah menjalin hubungan, benar kan, Za?" ucapnya meminta pembenaran pada lelaki tampan itu.
"Ah, ya, tapi itu dulu sudah lama sekali. Bisa dikatakan hanya cinta monyet kali ya," jawab Reza dengan senyum tipis. Ia melihat wajah Intan mulai berubah tegang.
"Aku rasa itu bukan cinta monyet lagi deh, karena kita pernah..."
"Ah, Dek, ayo kita pulang sekarang, aku baru ingat ada tugas penting yang belum aku selesaikan," ujar Reza ingin segera membawa istrinya pergi dari hadapan Keysa yang bicara sudah keluar dari koridor.
"Hmm, baiklah. Ayo kita pulang sekarang. Kami duluan ya, semoga harimu menyenangkan," ucap Intan pada wanita itu.
"Baiklah, jaga suamimu dengan baik, karena Pria sepertinya sangat banyak diminati oleh para wanita diluaran sana," balas Keysa membuat Intan tersenyum senjang.
"Yang pastinya bukan wanita seperti dirimu 'kan? Hehe... Kalau begitu kami permisi ya, bye."
__ADS_1
Reza merangkul bahu istrinya dengan mesra, batinnya mulai tak tenang, ah apes sekali hari ini. Kenapa ia harus ketemu mantan, dan lebih kesalnya kenapa wanita itu harus mengungkit masalalu.
Disepanjang perjalanan wanita itu tampak hanya diam. Ucapan Keysa masih menari-nari dalam otaknya.
"Sayang, kita nonton yuk," ajak Reza berniat ingin membuat mood istrinya agar kembali membaik.
"Nggak minat, Bang, kita langsung pulang saja," jawab intan datar.
"Dek, kamu marah sama aku? Kamu cemburu dengan Keysa?" tanya Reza ingin meluruskan semuanya.
"Tidak," jawab Intan singkat, namun wajahnya ia palingkan.
"Kalau tidak marah kenapa sikap kamu seperti ini? Dek, dia itu hanya mantan saat kami masih menduduki bangku SMA. Dan nggak ada yang spesial," terang Reza dengan jujur.
"Masa sih nggak ada yang spesial? Tapi tadi dia bilang ada yang lebih spesial," jawab Intan menatap curiga.
"Dek, aku jujur, yang namanya orang pacaran pasti ciuman bibir itu sudah lumrah terjadi, hanya itu. Sungguh tak ada yang spesial lagi. Ayolah... Itu hanya masalalu, dan kamu adalah masa depan aku," jelas Reza kembali dengan sejujurnya.
"Kenapa kamu tidak pernah jujur sama aku selama ini?" tanya Intan yang membuat Reza sakit kepala.
"Ya, aku kira itu adalah hal yang tidak penting."
"Tapi bagi aku sangat penting, Bang, agar aku tak merasa kaget saat bertemu dengan mantan kamu yang bar-bar seperti itu!" tekannya.
"Kenapa kamu sampai bawa-bawa Bang Erland? Karena jika kamu tanyapun aku dan Bang Erland memang tak pernah ada yang spesial," jawab Intan tak kalah kesal.
"Terserah kamu sajalah, Dek!" Reza tak lagi menanggapi ucapan istrinya. Sepertinya ia harus menggunakan kunci diam saat wanitanya tak bisa dikalahkan dengan kata-kata.
Kembali keheningan tercipta diantara mereka. Reza hanya fokus mengemudi hingga mobil itu menepi di garasi rumah mereka. Intan turun lebih dulu tanpa bicara apapun pada Reza. Hatinya masih sangat kesal karena lelaki itu sama sekali tak memahami keinginannya.
Apa salahnya mengucapkan maaf dan berjanji setelah ini tidak akan menutupi apapun darinya. Namun, sepertinya ego dokter jantung itu cukup tinggi.
Reza hanya menghela nafas dalam melihat mood istrinya yang masih berantakan. Ia masuk kedalam kamar melihat wanita itu sudah rebahan tanpa menukar pakaiannya.
"Sayang, udah dong marahnya. Kenapa hal seperti ini harus dibesarkan?" ucapnya sembari memeluk dari belakang.
Intan tak menyahut, ia masih memejamkan mata. Tak minat untuk membahas apapun selain tidur adalah solusi untuk membuang rasa kesal.
Reza masih memeluk dengan sayang sembari mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Dek, lihat Abang sini!" Reza meraih tubuh Intan untuk mengubah posisi agar berhadapan dengannya.
"Awas, Bang, aku ingin tidur jangan ganggu!" tolaknya menyingkirkan tangan pria itu.
__ADS_1
"Nggak mau!" Reza kembali memeluk dengan sayang.
"Ck, apaan sih, Bang?" rutunya sembari membalikkan badannya menghadap padanya.
Cup!
Reza mengecup bibir wanita itu dengan spontan. Tangannya mengusap wajahnya dengan lembut.
"Dek, udah ya marahnya, sungguh aku tidak bisa melakukan apapun bila kamu marah begini, seakan otakku hanya di penuhi olehmu," tuturnya pandai sekali mendrama.
"Nggak usah drama," ujar Intan menatap malas.
"Eh, ini serius Dek. Sungguh duniaku terasa dijungkirkan bila melihat kamu marah-marah begini," balasnya dengan serius.
"Kenapa kamu itu tak mengerti apa yang aku mau?" ucap Intan pada kekasih halalnya.
"Sayang, katakan apa yang kamu inginkan? Aku akan memenuhinya," ujar Reza merasa sedikit lega karena mendengar ucapan istrinya.
"Aku hanya ingin kamu itu minta maaf dan berjanji tidak akan menutupi apapun dariku. Apakah sulit sekali mengucapkan maaf?" tanya wanita itu.
"Tapi Abang merasa tidak salah, Dek. Karena Abang tidak berbuat apa-apa, itu hanya masalalu," ungkap Reza masih dengan pembenarannya.
"Dengan Abang tidak jujur tentang masalalu Abang, itulah yang membuat hubungan kita di terpa masalah. Coba saja Abang jujur sebelumnya maka aku tidak akan pernah mempermasalahkan bila ada kejadian seperti ini. Jujur, masalaluku hanya pernah ada perasaan pada Bang Erland, hanya itu saja, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun sebelum aku melabuhkan hatiku padamu, Bang, wajar bila aku cemburu dan takut kehilanganmu. Karena aku telah memberikan hatiku seutuhnya untukmu!"
Wanita itu mencurahkan perasaan galaunya yang sedari tadi ia pendam begitu saja demi tak terjadi pertengkaran hebat. Ia masih berusaha untuk menahan segala gejolak hati.
"Dek, Abang minta maaf, tolong maafkan suamimu yang tidak peka ini," lirih Pria itu sembari memeluk dengan erat.
Intan tak lantas menjawab, perasaan haru sudah menyelimuti hatinya. Rasa takut kehilangan adalah hal yang wajar, karena dirinya yang begitu berharap dengan cinta dan kasih sayang suaminya.
"Abang janji ya tidak akan pernah menyembunyikan apapun dariku tentang masalalu Abang?" ucapnya dengan isakan kecil.
"Abang janji, Dek, sudah ya, jangan marah lagi. Sungguh Abang tidak bisa melakukan apapun bila kamu marah begini," ujarnya sembari mengusap punggung istrinya dengan lembut untuk memberi ketenangan.
Intan hanya mengangguk sembari melerai pelukan, dan menatap wajah tampan suaminya. Masih terngiang ucapan wanita tadi. Tak akan pernah ia biarkan wanita manapun mengambil miliknya.
"Bang, seandainya ada wanita cantik dan jauh melebihi aku, dia menginginkan cinta darimu, apakah kamu akan meninggalkan aku?" tanya Intan yang membuat Reza menghujamkan kecupannya berulang kali di wajah wanita itu.
"Jangankan wanita cantik, bidadari saja yang meminta cintaku tak akan kuberikan, karena cinta dan kasih sayangku sudah terbungkus rapi untuk dirimu," jawabnya yang membuat Intan tersenyum gemas.
Akhirnya pasangan halal itu kembali berdamai setelah sempat di sandung oleh kerikil kecil, namun masih bisa mereka perbaiki. Sepertinya pasangan itu harus lebih hati-hati lagi dengan kerikil-kerikil kecil lainnya yang bisa membuat hubungan mereka retak.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰