Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Puisi untuk Mama


__ADS_3

Jika Reza dan Intan sedang berbahagia menanti kehadiran buah hati mereka, berbeda dengan Pak Pol dan Airin. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kini sudah dua bulan mereka menjalani biduk rumah tangga. Namun, ada sedikit yang berubah pada sikap Erland.


"Mas, nanti pulang jam berapa? Takutnya nanti aku sudah masak, tapi kamu tidak makan dirumah," ucap Airin sembari mengisi piring sarapan pria itu.


"Nanti aku kabari," jawab Erland datar. Memang beberapa hari ini sedang banyak kasus yang sedang ia tangani, mungkin itulah yang membuat sikapnya sedikit mengabaikan.


"Berangkat dulu ya." Erland segera beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, hati-hati." Airin menyalami tangan suaminya.


"Daddy, nanti datang ke sekolah aku ya, karena nanti ada acara lomba baca puisi. Aku ingin Daddy dan Mama dengerin puisi aku," pinta Zherin pada sang Daddy.


"Emang perlu banget ya? Kan ada Mama, Sayang. Hari ini Daddy banyak sekali tugas," jelas Erland meminta pengertian putrinya.


"Untuk kali ini saja, Dadd, ini acara penting aku," pintanya berharap sekali.


"Ah, baiklah. Nanti Daddy usahakan ya."


"Benaran? Daddy nggak bohong 'kan?" tanya Zherin masih belum percaya.


"Benar, Sayang. Yasudah, sekarang Daddy pergi dulu ya." Erland segera berangkat.


Siang ini Airin sudah sampai terlebih dahulu untuk menemani putrinya, memberikan semangat dan dukungan.


"Ma, Daddy mana? kok belum datang juga?" tanya Zherin tampak risau. Karena sebentar lagi dirinya yang akan tampil.


"Sabar ya, Sayang, mungkin sebentar lagi Daddy sampai. Sekarang kamu fokus dulu latihannya, biar nanti waktu tampil sudah hafal diluar kepala," ucap Airin memberi semangat.


"Baiklah." Bocah kecil yang hampir genap enam tahun itu kembali fokus menghafal puisi yang ingin ia bacakan.


Tak berselang lama saat Airin masih fokus mengajarkan Zherin, terdengar suara Erland menyapa putrinya. Airin menoleh untuk mencari asal suara itu. Seketika ia terpaku saat melihat Erland berjalan beriringan dengan Nindi.


"Daddy, Mommy!" panggil Zhe dengan senyum sumringah.


"Halo, Sayang, kamu sudah punya puisinya?" tanya Nindi sembari memeluk putrinya.


"Sudah, Momm," jawab Zhe masih dengan senyum bahagia, karena kedua orangtuanya hadir untuk memberi dukungan.


Erland menatap Airin yang hanya terdiam sepi. Tentu saja wanita itu tak mempunyai hak untuk melarang Nindi menemui putrinya, tapi seharusnya Erland memberinya kabar agar dirinya tak perlu hadir di acara itu, karena mereka sudah melengkapi.

__ADS_1


Nindi juga menatap Airin dengan senyum senjang. Tak tahu apa arti dari senyuman itu. Dan ia juga tak habis pikir, kenapa Erland bisa datang bersamaan dengan Nindi? Bukankah waktu itu dia mengatakan sudah tak ingin lagi bertemu dengan mantan istrinya?


Tak berselang lama terdengar seruan pembawa acara memanggil nama Zherin. Dan gadis kecil itu segera beranjak naik keatas panggung.


"Ayo semangat, Sayang!" ucap Erland dan Nindi berbarengan.


"Ma, Do'ain aku ya, biar dapat juara," ujar Zherin menghampiri Airin.


"Tentu, Sayang, Mama akan selalu mendo'akan yang terbaik. Kamu harus semangat ya, ingat yang tadi mama kasih tahu," bisik Airin dan dibalas dengan anggukan oleh bocah itu.


Zherin menerima mic yang diberikan oleh pembawa acara, lalu berbisik pada walasnya yang ikut mendampingi para muridnya diatas panggung. Sepertinya ada sesuatu yang diberikan oleh wanita itu pada Zherin.


"Terimakasih untuk Miss Ine, yang telah membimbingku dengan baik selama ini. Dan terimakasih juga untuk kehadiran Daddy dan Mommy, dan juga terimakasih tak terhingga kepada Mama Airin. Baiklah di kesempatan kali ini aku akan membacakan sebuah puisi untuk seseorang yang paling aku sayangi," ucap Zherin menyapa guru, dan kedua orangtuanya.


Zherin membuka lembaran kertas yang tadi ia terima dari Miss Ine, yaitu wali kelasnya.


*Mama...


Terimakasih atas perhatianmu..


Yang engkau curahkan dalam hidupku


Hangat menyelimuti sanubari...


*Mama...


Kasih sayangmu telah membuatku mengerti bahwa tak selalu Ibu tiri itu menyakiti...


Bahwa tak selalu Ibu tiri kan menyiksa...


Meski pada anak yang tak pernah dilahirkannya...


*Mama...


Izinkan aku untuk memelukmu...


Kan kulepaskan keluh kesahku mengadu tentang kisah hidup yang kualami...


Dalam kelembutan dan sentuhan belaianmu...

__ADS_1


*Terimakasih tak terhingga untuk mamaku, meskipun aku tidak terlahir dari rahimnya, namun, kasih sayangnya begitu tulus. I Love you Mama Airin...


PROK! PROK! PROK!


Semua orang bertepuk tangan memberi apresiasi atas puisi yang dibacakan oleh gadis kecil yang terbilang smart dan sangat bijak.


Airin tak bisa bicara apapun selain tetesan air mata di kedua pipinya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa putrinya akan membacakan puisi tentang dirinya. Sungguh ia begitu terharu. Ternyata Zherin juga sangat menyayangi dirinya.


Airin berdiri menghampiri gadis kecil itu, lalu memeluknya dengan erat. "Terimakasih, sayang, terimakasih atas puisinya. Mama sangat menyayangi kamu, Nak," lirihnya sembari mendekap tubuh bocah itu.


"Aku juga sangat menyayangi Mama, tetaplah menjadi mamaku yang selalu menyayangi aku. Maaf bila terkadang aku sering membuat Mama susah," ucapnya dengan isakan.


"Tidak, Sayang, kamu tidak pernah membuat Mama susah. Kamu adalah putri Mama yang sangat baik dan penurut," balasnya melerai pelukan.


"Thanks for your Mam, love you more..." Zherin kembali masuk kedalam pelukan ibu sambungnya.


Nindi yang sedari tadi merasa panas dan sangat kesal, ia berdiri menghampiri Airin dan Zherin yang masih berpelukan.


PROK! PROK!


Wanita itu bertepuk tangan memberi apresiasi dengan senyum sinis menatap Airin.


"Sekarang kamu puas, karena telah mengambil segalanya yang berharga dalam hidupku? Kamu mengambil Mas Erland, dan sekarang kamu juga mengambil Zherin, bahkan dia begitu mengagung-agungkan dirimu, seakan kamulah wanita yang berjasa dalam hidupnya! Apakah kamu tahu bagaimana aku berjuang dari mulai mengandung selama sembilan bulan hingga melahirkan! Kini lihatlah, bahkan dia tak menyelipkan aku di dalam puisinya. Sungguh kamu memang wanita yang hebat. Sungguh aku tak pernah terpikirkan sebelumnya saat menerima kamu menjadi pengasuh putriku. Tapi kini kamu sudah mengambil suami dan anakku, dan kamu..."


"Cukup! Cukup Nindi! Apa yang kamu bicarakan? Jangan menggiring opini agar semua orang berpikir buruk tentang Airin! Apa yang terjadi saat ini adalah keinginan kamu sendiri!" tekan Erland memberi pembelaan.


"Apakah kamu tidak melihat bahwa sekarang putriku sudah tak mengenali aku sebagai ibu kandungnya. Dia telah mengambil kamu dan Zherin dariku dan dia telah memberi pengaruh buruk pada Zherin!" wanita itu masih saja meneriakkan hal itu, seakan-akan Airinlah yang jahat di mata semua orang.


"No, Mama Airin tidak pernah memberiku pelajaran buruk. Mama selalu mengajarkan aku tentang hal yang baik, tapi kenapa aku lebih memilih Mama, itu karena Mama yang mempunyai waktu untukku. Sedangkan Mommy tidak pernah ada saat aku butuh. Mommy selalu bilang sibuk. Mommy hanya memikirkan diri Mommy sendiri," sambung Zherin yang juga tak terima saat sang Mama disalahkan.


Keluarga itu benar-benar menjadi bahan tontonan dari para orangtua murid lainnya dan juga para guru-guru pengajar yang ada di sekolah elit itu. Airin merasa sangat malu, maka ia memilih untuk pergi meninggalkan sekolahan putrinya.


"Ay, tunggu!" panggil Erland sembari meraih tangannya.


"Maaf, Mas, biarkan aku pulang." Airin segera meninggalkan mereka yang masih menatapnya dengan berbagai ekspresi di wajah mereka masing-masing.


Airin segera menghentikan taksi yang melintas, ia segera masuk kedalam dan meminta diantarkan pulang. Hatinya masih terasa ngilu saat mengingat segala tuduhan keji yang di lontarkan oleh Nindi.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2