Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Menerima


__ADS_3

"Ah, mau nyusul Ami, tadi dia bawa Zherin jalan-jalan di pinggir danau," jawabnya dengan jujur.


"Oh, yaudah aku ikut," sahut Erland juga bergegas mengikuti langkah Airin.


Ia segera merogoh kantong jaketnya yang tergantung di ruang tamu untuk mengambil kunci mobil.


"Pake motor saja, Pak, soalnya sore begini jalanan macet di pinggiran danau," ucap Airin.


"Oh, baiklah."


"Bentar aku minta kunci sama ayah dulu." Gadis itu kembali masuk untuk meminta kunci motor pada ayahnya yang sedang membersihkan kandang ayam di belakang rumah.


Setelah mendapatkan, ia segera memberikan kunci motor pada Erland, lalu pasangan itu mengendarai sepeda motor menyusuri jalanan yang ada di pinggir danau.


"Mau cari dimana, Ay?" tanya Erland di perjalanan.


Airin masih fokus mengamati orang-orang yang lalu lalang di sekitaran danau sehingga tak mendengar pertanyaan lelaki itu.


Erland yang memang suka sekali usil, ia meraih tangan Airin lalu meletakkan di pahanya. Sontak saja membuat gadis itu terkesiap dan berdecak kesal dengan keusilan lelaki itu.


"Pak, nggak usah bertingkah deh, nanti dilihat orang nggak enak!" ucapnya gedeg.


"Emang kenapa jika orang lihat, toh sebentar lagi kita akan menjadi pasangan suami istri," jawab Erland santai.


"Tapi orang-orang akan memandang buruk. Karena belum melihat menyaksikan kita menikah," jawab Airin membuat lelaki itu tersenyum.


"Jadi ceritanya kamu ingin kita segera menikah ya agar semua orang menyaksikan bahwa kita sudah menjadi pasangan halal," balasnya yang membuat Airin terdiam.


"Kok diam? Kamu sudah tak sabar ingin di halalin ya?" tanya Erland yang membuat mata Airin melotot kesal.


"Udah, nggak usah marah. Sini peluk Abang," ucapnya kembali menarik tangan Airin dan meletakkan di perutnya.


"Pak!" pekik gadis itu segera menarik tangannya dengan cepat. Kenapa perangainya menyebalkan sekali. Ia mengira tingkah Erland semakin ramah lingkungan saat berada di kediaman orangtuanya, namun semua tak sesuai ekspektasi, Pria itu semakin menjadi-jadi menggoda dirinya. Ah, rasanya pengen sekali memukul punggung tegap itu.


"Hahaha... Biasa aja dong, Ayank," kekehnya dengan gaya selengekan. Kenapa mendadak sikap tegas seorang polisinya hilang seketika.


"Udah deh, Pak. Nggak usah bikin aku kesal," rutu Airin menatap malas.


Erland kembali terkekeh mendengar celotehan gadis yang ada di belakangnya. Airin tak menghiraukan lagi, ia hanya fokus mencari keberadaan kedua gadis itu.


"Daddy!" panggil Zherin yang sedang bersantai di pinggir danau sembari melihat para nelayan menjala ikan ciri khas danau Singkarak, yaitu ikan Bilih.

__ADS_1


"Hai, Sayang! Kamu lagi ngapain? Kok belum pulang?" tanya Erland yang segera menepikan kendaraannya.


Pasangan itu turun dari motor segera menghampiri Ami dan Zherin yang sedang menikmati eskrim.


"Wah, banyak banget ikannya. Jadi begitu cara nangkap ikan Bilih? Disini dimana beli ikan yang sudah di goreng, Ay?" tanya Erland pada Airin.


"Ada dapur penggorengan tak jauh dari rumah," jawab Airin dengan jujur.


"Oh, besok sebelum pulang kita harus beli untuk oleh-oleh," ujarnya kembali.


Airin hanya mengangguk tipis, ia segera membawa Zherin dan Ami untuk pulang karena hari hampir magrib.


"Ayo kita pulang sekarang, Sayang," ajaknya dan segera duduk diboncengan sepeda motor Ami.


"Eh, kok duduk disana?" tanya Erland tak terima.


"Nggak pa-pa, saya sama Ami saja. Ayo pulang sekarang," ajak Airin tampak acuh. Sepertinya perasaannya lebih aman bila tak bersamanya.


Erland hanya menghela nafas dalam. Ia segera mengikuti mereka dari belakang. Setibanya dirumah hari sudah magrib. Erland segera berwudhu ikut Ayah ke masjid.


Sementara itu Airin dan Ibu juga melaksanakan ibadah tiga rakaat, ia menitipkan Zherin pada Ami, kebetulan gadis remaja itu sedang off beribadah.


Pagi ini Airin bangun kesiangan karena tadi malam sulit memejamkan mata karena memikirkan jawaban yang harus ia kemukakan pada Erland, sungguh hatinya begitu gamang sehingga ia memilih melaksanakan shalat istikharah, ia meminta petunjuk kepada Allah agar di tetapkan hati dalam mengambil keputusan.


Dengan mengucapkan bismillah ia memantapkan hati, dan telah mengambil keputusan. Maka pagi ini ia akan memberi jawaban pada Erland.


Airin segera beranjak sembari meraih handuk untuk mandi terlebih dahulu sebelum menghadap pada Erland dan kedua orangtuanya.


"Mama, ko baru bangun? Apakah Mama sakit?" tanya Zhe pada calon ibu sambungnya.


"Ah, nggak kok, maaf ya. Kamu sudah cantik, siapa yang memandikan?" tanya Airin sembari membawa gadis kecil itu dalam gendongannya.


"Dimandiin Kak Ami."


"Yaudah, sekarang Mbak mandi sebentar ya, kamu main sama kak Ami dulu." Airin kembali menurunkan bocah itu, lalu ia menuju kamar mandi. Terlihat Ibu sedang sibuk di dapur.


"Baru bangun kamu?" tanya Ibu.


"Iya, Bu. Maaf tadi malam susah tidur," jawabnya jujur.


"Kenapa, apakah kamu sudah mendapatkan jawabannya?" tanya ibu yang sudah tahu apa yang membuat putrinya sulit tidur.

__ADS_1


"Insya Allah sudah, Bu," jawabnya yakin.


"Alhamdulillah apapun itu, semoga yang terbaik."


"Aamiin ya Rabb." Airin segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi dan rapi, ia kembali kedapur untuk membantu sang ibu untuk menyediakan sarapan pagi. Sedikit penasaran kemana pergi lelaki itu, sedari tadi ia tak melihatnya.


"Pak Erland kemana, Bu?" tanya Airin penasaran.


"Tadi ikut ayah ke kebun di belakang untuk memanen buah coklat," jawab Ibu memberitahu.


Tumben sekali lelaki itu kerajinan mau ke kebun, apakah untuk mengambil hati calon ayah mertua? Airin tersenyum sendiri melihat kelakuan calon suaminya.


Tak berselang lama Ayah dan Erland sudah pulang dari kebun. Tampak pakpol menyandang sebuah karung goni yang berisi buah coklat. Mereka ngobrol tampak begitu akrab.


Airin mencuri-curi pandang dari jendela dapur. Erland masuk ingin mencuci tangan di kamar mandi, sesaat tatapan mereka bertemu.


"Morning calon Bini," ucapnya dengan senyuman.


Airin celingak-celinguk takut di dengar oleh Ibu dan Ayah. Pria yang satu ini benar-benar membuat hatinya gelisah karena perangainya yang selalu saja menggoda dirinya.


"Pak, bisa nggak jangan bicara asal, nggak malu apa, di dengar ayah dan ibu?" tegur gadis itu yang hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Erland.


"Udah pulang Nak Erland?" sapa Ibu yang sudah ikut bergabung di dapur setelah menata hidangan di ruang tengah.


"Ah, iya Bu," jawab Erland dengan full senyum.


Kini keluarga itu sarapan bersama, setelahnya mereka duduk di ruang tamu ingin mendengar jawaban Airin tentang lamaran Erland.


"Airin, bagaimana jawaban kamu atas lamaran Nak Erland?" tanya ayah pada putrinya.


Gadis itu menghela nafas dalam, dengan mengucapkan bismillah. Ia memberikan jawaban dengan hati yang sudah mantap.


"Aku bersedia menikah dengan Pak Erland, Yah," jawabnya dengan tenang.


"Alhamdulillah..." Mereka mengucapkan syukur secara bersamaan saat mendengar jawaban yang sangat diharapkan oleh Erland.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2