Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Kekecewaan Airin


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Erland segera menyambangi kamarnya, namun tak ada siapapun disana. Kemana perginya Airin. Ia segera menuju kamar putrinya, tetapi tak juga ada siapa-siapa.


"Bik! Bibik!" panggil Erland mencari keberadaan Art untuk menanyakan keberadaan istri dan anaknya.


"Ya, Pak!" jawab Bibik sembari berjalan sedikit cepat.


"Bik, Airin dan Zherin mana?"


"Non Zherin ada di taman belakang, Pak, tapi Bu Airin belum pulang," jawab Bibik dengan jujur.


"Belum pulang?" tanya Erland mengerutkan keningnya dengan heran.


"Iya, Pak, tadi Ibu pamit pergi sebentar, dan minta diantarkan supir," jelasnya kembali.


Erland segera merogoh ponselnya, lalu menghubungi supirnya. Dan sang supir segera memberitahukan dimana keberadaan istri barunya itu.


"Bik, titip Zherin ya, kalau Nindi datang, jangan bukakan pintu," pesan Erland masih tetap waspada pada mantan istrinya.


"Baik, Pak."


Erland segera menyambangi dimana istrinya berada. Setibanya di parkiran, Pria itu segera turun menemui sang supir yang sedang duduk santai menunggui Nyonya Erland.


"Pak, sekarang pulanglah, bawa mobil saya," titah Erland pada sang supir.


"Baik, Pak." Supir itu segera menerima kontak mobil dari majikannya.


Setelah supirnya pergi, Erland segera masuk kedalam mobilnya untuk menunggu. Namun, tatapan netranya masih mengarah ke pintu klinik kecantikan itu. Ia sangat penasaran ingin melihat penampilan baru istrinya.


Kenapa Airin ingin merubah penampilannya. Apakah dia ingin menjadi wanita modis seperti Nindi? Ah, entahlah. Erland sedikit heran dengan kelakuannya yang tiba-tiba saja berubah, seakan sosok Airin yang polos dan natural akan hilang darinya.


Hanya lima belas menit menunggu, akhirnya wanita itu keluar dengan penampilan yang berbeda, model rambut juga telah berbeda. Terlihat lebih fresh dan begitu cantik.


Sesaat Erland terpana menatap penampilan istrinya dari dalam mobil. Airin berjalan menghampiri mobil, lalu menduduki kursi bagiannya.


"Ayo jalan, Pak," titahnya masih tak memperhatikan siapa orang yang ada di depan.


Erland segera menjalankan mobilnya, Airin tampak fokus menatap ponselnya. Ia masih belum ngeh dengan kehadiran suaminya. Erland juga tak bicara apapun. Hatinya merasa entah saat melihat penampilan istrinya sekarang. Entah kenapa ia merasa ada yang hilang dari diri Airin.


"Pak, kita mampir di mini market sebentar ya," titahnya kembali.


Erland mengikuti perintah istrinya tanpa minat untuk menjawab. Sedikit membuat Airin merasa aneh, kenapa drivernya itu tidak ada sopan-sopannya untuk menjawab ucapannya.


Airin menatap dari kaca kecil yang mengarah padanya. Seketika wajahnya memerah saat mengetahui siapa orang yang sedang mengendarai. Sungguh ia tak bisa bicara apa-apa.

__ADS_1


"M-Mas Erland!" cicitnya tak percaya.


"Erland hanya tersenyum datar melihat ekspresi wajah istrinya yang sedang terkejut dengan kehadirannya.


"Jadi ke mini market?" tanyanya santai.


"K-kamu?" ucap Airin masih bingung. Kenapa bisa suaminya yang mengendara, kemana pergi si supir?


"Tidak usah bingung, Pak supir sudah aku suruh pulang," jelas Erland pada istrinya yang tampak bingung.


Erland menghentikan kendaraannya, dan meminta Airin untuk pindah kedepan. Wanita itu hanya menurut saja dengan raut wajah yang masih tampak malu. Ditambah lagi Erland tak memberikan komentar apapun tentang penampilannya yang kini telah berubah. Hatinya terasa ngilu saat suaminya tak melirik ataupun terpesona oleh penampilan barunya.


Apakah Erland masih tak tertarik dengannya? Harus bagaimana lagi menaklukkan hati lelaki itu. Sudah hampir tiga bulan menjalani biduk rumah tangga dengannya, namun, hatinya masih belum mampu ia sentuh.


"Jadi ke mini market?" tanya Erland mengulangi.


"Tidak, pulang saja. Oya, tadi aku ambil uang di ATM kamu, Mas." Airin memberitahu suaminya.


"Ya, tidak apa-apa," jawab Erland santai.


Kembali hening. Hati Airin merasa membuncah tak tenang. Ada rasa malu, kesal, merasa tak dihargai pengorbanannya yang rela mengubah penampilan demi menyenangkan hati lelaki itu, tetapi tetap saja tak ada tanggapan.


Setibanya dirumah, Airin segera berlalu masuk kedalam kamarnya sendiri. Tak berminat untuk menempati kamar lelaki itu yang sudah hampir tiga bulan mereka tidur bersama.


Airin menatap wajahnya di kaca rias, dan mengamati penampilannya yang sangat beautiful. Itulah yang dikatakan oleh semua orang yang ada di klinik itu. Tapi, kenapa bagi lelaki itu tampak biasa saja?


Seketika air matanya jatuh, rasanya sakit sekali diabaikan oleh lelaki yang ia cintai. Kenapa dia setega itu tanpa menghargai usahanya sedikitpun.


Airin mengambil makeup remover, lalu menyapukan kewajahnya yang telah didandani secantik rupa. Rasanya percuma saja bila tak di pandang oleh lelaki itu.


Dengan hati kesal Airin menghapus make-upnya hingga bersih. Hatinya terasa perih sekali. Tanpa terasa air matanya kembali menetes.


Cklekk!


"Aku benci sama kamu, Mas! Percuma aku mempercantik diri bila hatimu tak tergugah sedikitpun, bahkan kamu tak menghargai usahaku sedikit saja... Hiks Hiks..." Tangis wanita itu pecah sembari menyandarkan wajahnya diatas meja rias itu dengan isakan yang tak berhenti. Ia tak menyadari kehadiran lelaki itu disana.


Erland terdiam sepi mendengar segala keluh kesah istrinya dengan tangisan pilu. Sejahat itukah dirinya? Ternyata ia baru menyadari bahwa segala yang dilakukan oleh wanita itu hanya ingin dilihat olehnya.


Erland berjalan dengan pelan. Perlahan tangannya mengusap mahkota wanita itu dengan lembut. Seketika Airin menegakkan tubuhnya dan menatap siapa orang yang berada di belakangnya.


"Mas Erland," cicitnya. Kembali air matanya jatuh. Entah kenapa hatinya semakin haru saat menatap wajah tampan yang begitu ia cintai.


"Kenapa harus dihapus? Kamu terlihat sangat cantik sekali," ucap Erland memberi pujian yang menurut Airin telah basi.

__ADS_1


"Jangan terpaksa mengatakan itu, Mas. Aku tahu secantik dan seperti apapun diriku merubah penampilan, bila hatimu tak ada rasa. Maka tak akan pernah membuatmu tertarik," sanggah Airin dengan perasaan sakit.


"Ay, kamu tidak perlu merubah apapun pada dirimu. Karena menurut aku kamu itu sudah cukup menarik dan sangat cantik dengan wajah naturalmu," jawab Erland yang membuat Airin tersenyum hambar.


"Cantik, menarik. Hng! Semua hanya kata-kata membersarkan hatiku saja," balas Airin dengan senyum senjang.


"Ay, beri aku waktu untuk hal ini. Kamu tahu ini semua tidak semudah itu. Ini tentang perasaan!" tekan Erland meminta pengertian istrinya.


"Jika kamu belum bisa dan tidak siap dengan perasaanmu, maka seharusnya kamu tidak perlu memintaku untuk menjadi istrimu," timpal Airin dengan hati perih.


Erland menghela nafas berat, sadar sekali bahwa dirinya telah menyakiti perasaan sang istri. Benarkah hatinya belum siap menerima kehadiran wanita itu dalam hidupnya?


Airin berdiri dari duduknya, lalu menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti. Ia mengabaikan Erland yang masih berdiri menatap gerak geriknya. Hatinya begitu kecewa.


"Ay, aku minta maaf... Tolong jangan marah padaku," ucap Erland berusaha untuk membujuk istrinya.


"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Mulai hari ini kita pisah ranjang. Jangan datang bila hatimu masih belum bisa menerimaku," jawab Airin memberi ultimatum.


"Eh, mana bisa begitu," protes Erland tak terima.


"Terserah, yang jelas aku tidak ingin semakin berharap balasan cinta darimu. Bila kamu memang tak bisa mencintaiku, maka segera pulangkan aku pada ayah dan ibu!" tegas Airin membuat Erland sulit menelan salivanya. Ternyata kekesalan wanita itu tak main-main.


Airin segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu Erland masih berdiam diri disana.


Selesai mandi, Airin segera keluar dari kamarnya. Sementara Erland sudah tak nampak lagi disana. Mungkin saja pria itu kesenangan saat dirinya memberi peraturan baru.


Airin tak ambil pusing, sekarang ia hanya akan fokus pada Zherin, namun, tak juga melupakan kewajibannya sebagai seorang istri untuk mengurusi suaminya.


"Mama, tadi kemana? Kok aku ditinggal?" tanya Zhe saat menemui sang Mama baru saja keluar dari kamarnya.


"Maaf ya, Sayang, tadi Mama ada perlu sebentar. Sekarang ayo Mama mandiin," jawab Airin sembari menggiring anaknya masuk kedalam kamar untuk mandi.


Baiklah, tapi aku bisa mandi sendiri. Mama siapkan pakaian ganti aku saja. Kan, aku sudah gede," celoteh bocah kecil itu.


"Baiklah Sayang," Airin mengikuti mau bocah itu. Selesai mengurus mandi Zherin, ia segera menuju dapur membantu sang Bibik untuk menyediakan makan malam.


Setelah selesai ibadah magrib, pasangan itu makan malam bersama, Airin masih memasang wajah datar. Tak ingin lagi banyak berharap pada Erland. Sadar sekali bahwa terlalu cinta maka akan membuat kecewa.


"Tambah, Dek," pinta Erland mengarahkan piringnya pada Airin.


Wanita itu segera mengisi nasi dan lauknya. Tak ada yang terucap apapun dari bibirnya. Rasanya masih kesal dengan sikap Erland yang tak ada peka-pekanya. Sudah jelas tak bisa move on dari mantan istrinya, tapi kenapa dia berani sekali meminang anak gadis orang bila hanya untuk perlarian semata.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2