
"Makan yang banyak, Sayang, biar nanti tenaganya ekstra," ucap Reza membuat Intan mengerutkan keningnya.
"Maksud Abang?" tanyanya tak paham.
"Kamu gimana sih, Dek, kan nanti malam kita akan melakukan malam pertama," jelasnya membuat wajah Intan merah seketika.
"E-emang kalau malam pertama harus pake tenaga ya, Bang?" tanya wanita itu yang memang belum berpengalaman sama sekali.
Reza hanya tersenyum gemas melihat kepolosan sang istri. Sepertinya ia harus secepatnya memberi praktek agar wanita itu tahu bagaimana nikmatnya dalam kelelahan.
"Kenapa Abang senyum-senyum begitu?" tanya Intan menatap aneh.
"Abang hanya gemas mendengar pertanyaan kamu itu. Sepertinya kita harus secepatnya melakukan ujian praktek agar kamu tahu bagaimana nikmatnya malam pertama," ucap Pria itu dengan tawa cengengesan.
"Ish, Abang apaan sih." Intan membuang muka mendengar ucapan vulgar suaminya.
Tak berselang lama ponsel Pria itu berdering, ia segera menerimanya, ternyata panggilan dari pegawai hotel yang memberitahukan bahwa kamar pengantin mereka telah siap untuk menyambut malam pertama mereka berdua.
"Dek, ayo kita ke hotel sekarang," ucap Reza segera meraih tangan Intan setelah memutus sambungan.
"Kenapa buru-buru, Bang?" tanya Intan sembari mengikuti langkah lebar Pria itu yang sudah tak sabaran ingin mengeksekusi dirinya.
"Bentar lagi mau magrib, Dek, kita harus bersih-bersih dulu, setelah itu ibadah bersama," jawabnya entah itu alibi saja.
Intan hanya mengangguk patuh tak lagi banyak tanya, namun tak bisa ditampik bahwa hatinya sudah mulai ketar ketir saat kembali ke kamar hotel. Ini adalah pengalaman pertama baginya setelah menikah.
Setibanya di hotel, Reza segera diberikan cardlock oleh pegawainya yang telah menunggu di meja resepsionis.
Reza segera membawa Intan menuju kamar yang telah disulap menjadi begitu indah dan bertema romantis.
Reza segera membuka pintu dengan perlahan sembari membimbing sang istri. Intan tampak terpana dan tersenyum bahagia melihat pemandangan yang sangat indah.
"Apakah kamu suka, Sayang?" tanya Reza sembari merangkul bahunya.
__ADS_1
"Ya, cantik banget desainnya, Bang, bunga mawarnya wangi lagi," pujinya dengan senang.
"Aku sangat senang bila kamu menyukainya," sahut Reza merapatkan tubuh wanita itu padanya sehingga mengikis jarak.
Intan hanya tersenyum menatap wajah sang suami. Kini tatapan mereka bertemu. Reza mengecup bibirnya dengan lembut, Intan sudah tampak pasrah menerima segala sentuhan lembutnya.
Reza mengecup seluruh wajah dan turun hingga lehernya, sepertinya lelaki itu sudah mode on sehingga tak membiarkan istrinya untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
"Bang, kita mandi dulu ya, aku tidak nyaman dengan keringatku sendiri," ucap Intan menahan wajah suaminya yang sedang mengabsen di wajah dan lehernya.
"Nanti saja mandinya, Dek, aku sangat menikmati aroma tubuhmu," lirihnya dengan nafas mulai tak teratur. Tangannya mulai menjamah bagian tubuh sensitif istrinya.
Intan tak kuasa menahan gejolak yang sedang membuai tubuh dan angannya berasa melambung tinggi sehingga suara keramat keluar dari bibir mungilnya.
Reza yang mendengar desa han sang istri membuat hasratnya membara, ia segera membimbing keatas ranjang dan membaringkan perlahan dengan bibir masih bertaut.
Intan benar-benar dilanda gelora cinta yang sesungguhnya. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan hubungan percintaan. Masih terasa sangat malu bila menatap wajah kekasih halalnya yang sedang dilanda hasrat.
Intan hanya memejamkan mata saat lelaki itu bermain di setiap lekuk tubuhnya. Entah sejak kapan pakaiannya terlepas dari badan hingga kini tubuh mereka sudah sama-sama polos.
Reza menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menatap wajah cantik wanitanya yang tampak menikmati segala sentuhan darinya.
"Sakit nggak, Bang?" tanya Intan ngeri-ngeri sedap.
"Nggak kok, Sayang, sakitnya sedikit tapi nikmatnya yang banyak," ucapnya tersenyum menggoda.
"Bang, aku serius..." Wanita itu merengek gemas mendengar jawaban suaminya yang masih sempat-sempatnya menggoda disaat dirinya sedang dilanda cemas.
"Hehe... Abang serius, Sayang. Kamu jangan tegang, cukup punya Abang saja," godanya kembali yang membuat Intan tak tahan untuk tidak memukul bahunya.
Bugh!
"Kebiasaan banget, orang lagi serius juga!" kesalnya sembari memalingkan wajah.
"Haha... Abang bercanda Sayang, biar kamu sedikit rileks. Tenanglah, Abang akan melakukannya dengan sangat pelan dan penuh perasaan. Percayalah, kenyamananmu yang paling utama," ujar Pria itu sembari mengecup kening dan bibirnya.
__ADS_1
"Janji pelan-pelan ya, Bang, soalnya perdana ini," ucap Intan masih dengan rasa takut.
"Baiklah, Sayang, kalau begitu kita mulai sekarang ya."
Intan hanya mengangguk dan segera memejamkan matanya saat benda asing yang tadi membelai-belai sangat sopan, namun kini benda itu sudah memiliki izin untuk memasuki lembah madu miliknya.
Seketika ia merasakan sesuatu yang membuat tangannya mencengkram pundak Pria itu. Dan rasanya sungguh ingin rasanya ia menjerit bila tak ada iman di dada. Reza menghentikan gerakannya sehingga benda miliknya harus gagal memasuki lembah surgawi.
"Sakit, Dek?" tanyanya sembari mengecup bibirnya dan memberi luma tan lembut dibibir mungilnya.
"Sakit banget, kata Abang sakitnya dikit. Tapi ini baru salam perkenalan saja sudah membuat aku gamang," lirihnya sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Eh, benaran, Sayang, itu karena dia belum berhasil. Coba kamu tahan sedikit lagi ya. Dijamin kali ini tidak gagal memberimu kenikmatan," balasnya berusaha meyakinkan sang istri. Jangan sampai malam pertama ini gagal. Ia harus gercep agar segera mencapai surga dunia yang sesungguhnya.
"Lebih pelan lagi ya, Bang!" intrupsi wanita itu.
"Oke, Sayang." Reza kembali memberi sentuhan-sentuhan kecil untuk membuat istrinya rileks. Saat wanita itu sudah mulai hanyut kembali dalam permainannya, maka saat itulah ia pergunakan untuk menembus mahkota berharga.
Kali ini ia tak ingin gagal lagi, maka sekali hentakan benda itu bersarang sempurna didalam tubuh wanita kesayangannya.
"Aaaaakh!" Intan menjerit sembari menggigit bahu pria itu dengan gemas.
Reza kembali menghentikan gerakannya. Kali ini ia sudah merasa lega karena sudah berhasil menembus lembah surgawi itu. Ia menatap intan yang masih menahan nyeri dengan menggigit bibir bawahnya. Setitik cairan bening menetes disudut matanya.
"Maaf telah membuatmu sakit, Sayang. Apakah kamu ingin kita akhiri dulu?" tanyanya yang sebenarnya hanya basa-basi saja. Mana mungkin ia mampu menahan hasrat yang telah menggantung. Namun jika wanita itu mengiyakan maka dengan terpaksa akan ia turuti meskipun harus menahan rasa sakit kedua kepalanya.
"Tidak, Bang, teruskan saja. Aku ingin menjadi istri kamu seutuhnya. Its oke, aku baik-baik saja," ucap wanita itu pengertian sekali.
Reza tersenyum bahagia dan mengecup seluruh wajahnya, lalu menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Terimakasih, Sayang."
Reza kembali menggerakkan tubuhnya untuk menuntaskan hasrat yang telah berada di ujung tanduk. Intan juga sudah mulai terbiasa oleh benda asing yang mungkin akan selalu bertandang pada tubuhnya. Lama-lama ada sesuatu yang terasa aneh ia rasakan sehingga tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Apakah ini yang dinamakan kenikmatan yang sesungguhnya? Ah, entahlah. Yang jelas ia sangat menikmati. Ternyata yang dikatakan oleh suaminya memang benar, ini benar-benar nikmat.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰