
Kini pasangan halal itu kembali melakukannya disiang hari. Erland menjatuhkan tubuhnya disamping istrinya, lalu mengecup wajah wanita itu penuh kasih dan sayang.
"Jangan marah-marah lagi ya, aku tidak bisa berbuat apa-apa bila diabaikan olehmu," ucap Erland di telinga Airin dengan nafas yang belum beraturan.
Airin hanya mengangguk sembari memeluk dengan erat. "Mas," panggil Airin dalam dekapan Pria itu.
"Ya, Sayang?" jawab Erland melerai pelukan, dan menatap wajah istrinya. Ia tahu ada sesuatu yang ingin dikatakannya.
"Bila nanti usahamu tak membuahkan hasil, maka jangan memaksakan diri untuk bertahan hanya demi menjaga perasaanku. Jujur, aku memang mencintai kamu, Mas, tapi aku tidak ingin egois, karena cinta tak bisa dipaksakan," ucap Airin dengan lirih.
Entah kenapa hati wanita itu masih saja belum yakin. Ia takut bahwa Erland hanya terpaksa bersikap manis seperti ini demi menjaga perasaannya.
"Dek, kamu kenapa bicara seperti itu? Aku tidak pernah merasa terpaksa. Kemaren-kemaren mungkin aku memang belum bisa menyimpulkan perasaanku padamu, tapi kini aku sudah bisa merasakan bahwa cinta sudah mulai tumbuh dihatiku. Tolong jangan katakan bahwa aku terpaksa mencintaimu."
Erland masih dengan sabar meyakinkan hati istrinya yang kini memang sedang sensitif bawaannya. Ia harus lebih hati-hati lagi dalam bersikap dan bertindak
Airin hanya mengangguk dan tersenyum manis mendengar jawaban suaminya. Ia kembali masuk kedalam pelukannya.
Sejak mengetahui kehamilan Airin, kini sikap Erland berubah menjadi semakin perhatian dan sangat menyayanginya. Airin juga sangat bahagia dengan perubahan sikap suaminya.
Pasangan itu memberi kabar kepada ayah dan ibu. Dan tak lupa juga mengabari adik angkat satu-satunya, yaitu Intan.
Siang ini Airin dan Erland kedatangan pasangan Dokter itu. Terlihat perut Intan sudah membuncit.
"Malam ini kamu nginap disini 'kan?" tanya Airin pada Intan.
"Baiklah, untuk Kakak ipar apa yang tidak," selorohnya dan ditanggapi dengan senyuman oleh Airin.
"Kak, nanti malam kita nonton bareng yuk?" ajak Intan.
"Aku ikut saja, kamu tanya sama Mas Erland dulu," jawab Airin.
Erland dan Reza tampak sedang ngobrol di ruang tamu. Sementara itu kedua bumil sedang menikmati salad buah yang dibuat oleh Airin.
"Kamu kapan melahirkan Intan?" tanya Airin sembari menikmati makanannya.
"Dua bulan kedepan Kak."
"Oh, berarti kamu masih tugas di RS?"
"Masih Kak, rencananya bulan depan baru ajukan cuti melahirkan."
"Wah, sudah tak sabar menunggu ya. Semoga nanti bayinya lahir dengan sehat, dan tak kurang suatu apapun," ucap Airin mendo'akan yang terbaik.
"Aamiin ya Rabb... Terimakasih ya Kak do'anya."
Kedua perempuan itu ngobrol begitu asyik, dan begitu juga pakpol dan Tuan Dokter. Mereka juga tak kalah asyik dan tampak begitu akrab. Tentu saja obrolan mereka tak terlepas dari dunia bisnis, olahraga, medis, dan kriminal. Karena disana ada bagian profesi mereka.
__ADS_1
Tak terasa waktu berjalan, kini hari sudah beranjak petang. Karena hari libur mereka memang menghabiskan waktu untuk bercengkrama di rumah saja tanpa minat untuk keluar. Karena momen seperti ini sangat jarang mereka dapatkan, mengingat mereka mempunyai kesibukan masing-masing.
Sesuai kesepakatan yang mereka buat siang tadi. Kedua pasangan itu sudah membeli tiket untuk nonton. Malam ini Airin berdandan tipis saja. Ia mengikuti keinginan suaminya yang lebih tertarik dengan penampilan sederhananya.
Erland lebih terpesona saat Airin berdandan tipis, itu membuat daya tarik tersendiri oleh lelaki itu. Mereka menuju sebuah mall ternama di kota itu.
"Ma, nanti aku mau mandi bola lagi," celoteh Zherin di dalam bimbingan ibu sambungnya.
"Baiklah, nanti Tante temani ya. Soalnya Tante juga pengen mandi bola," sambung Intan.
"Mana boleh, kan Tante udah gede," jawab Zherin.
"Hahaha... Iya juga, tapi di perut Tante ada adek bayi, jadi Tante boleh dong," wanita itu masih saja mengguraui anak kecil itu.
Saat mereka ingin masuk kedalam Cineplex, suara ponsel Erland berdering. Ia melihat panggilan dari mantan mertuanya. Sedikit penasaran untuk apa mereka menghubunginya.
"Ya halo."
"Erland, ini Mami."
"Ada apa, Mi?"
"Erland, Mami minta tolong padamu. Tolong datang ke RS, karena sekarang Nindi sedang depresi. Dia selalu memanggil nama kamu dan Zhe. Tolong bawa Zhe kesini. Mungkin dia sangat merindukan putrinya," ucap wanita baya itu memohon pada mantan menantunya.
Lama Erland terdiam mendengar ucapan Maminya Nindi. Ia menatap wajah Airin dan yang lainnya. Tapi, jika dia tidak menemukan Zhe dengan Nindi, bagaimana jika terjadi sesuatu pada wanita itu?
"Ada apa Mas?" tanya Airin pada suaminya. Dari raut wajahnya terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Nindi di rawat. Dia ingin bertemu dengan Zherin. Bahkan dia sekarang sedang mengalami depresi," jelas Erland dengan jujur.
Airin hanya diam, ia juga tak boleh egois, biar bagaimanapun Zherin adalah anaknya. Maka ia tak dapat menahan.
"Yasudah, kamu bawa saja Zherin menemui Mommynya," ucap Airin mencoba memahami.
"Kamu tidak apa-apa aku kesana?" tanya Erland memastikan agar tak ada kesalahpahaman.
"Ya, aku tidak apa-apa. Pergilah, aku akan meneruskan nontonnya bareng Intan dan Reza," jawabnya berusaha tenang.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku janji tidak akan lama," ucapnya membuat Airin merasa lega.
"Za, Tan, titip Kakak iparmu ya, Abang usahakan tidak akan lama," ucap Erland pada kedua adiknya.
"Baiklah, Abang tidak perlu khawatir. Kami akan menjaga kakak ipar," jawab Reza menerima amanah dari Erland.
Erland segera membawa Zherin ke RS untuk menemui wanita itu. Sementara itu Airin meneruskan acara nonton bareng bersama kedua adik iparnya.
Setibanya di RS Erland segera mencari ruangan dimana Nindi dirawat. Setibanya ia disambut oleh keluarga mantan istrinya yang dulu juga pernah akrabnya dengannya.
__ADS_1
"Oma!"
"Zherin! Oh Sayang, Oma kangen banget sama kamu," sambut wanita baya itu membawa Zherin kedalam gendongannya.
"Bagaimana keadaan Nindi, Mi?" tanya Erland sembari menyalami tangan mantan Ibu mertuanya.
"Masih suka ngamuk dan menangis sendiri. Mami tidak tahu harus bagaimana sekarang," lirih wanita itu dengan suara parau.
"Mami sabar ya, semoga Nindi cepat pulih seperti sediakala," ucap Erland mendoakan yang terbaik.
"Aamiin, terimakasih ya Nak, kamu memang menantu Mami yang terbaik. Andai saja dulu Nindi tak berulah, Mami yakin kalian sudah bahagia," ucap wanita itu mengingat masalalu.
"Sudahlah, Mi. Semua sudah menjadi masalalu. Mungkin jodoh aku dan Nindi hanya sampai disitu," jelas Erland tak ingin mengingat akan hal itu. Karena sekarang prioritasnya adalah Airin dan Zherin.
Erland dan Zherin masuk kedalam ruang rawat Nindi. Ia melihat wanita yang dulu begitu cantik dan menarik, kini tampak lusuh dan kusut masai. Sungguh semua diluar dugaannya.
"Mommy!" panggil Zherin pada ibunya.
"Zherin! Kamu benar Zherin Anak Mommy?" tanyanya menatap dengan senyum ceria.
"Mommy kenapa disini? Mommy sakit apa?" tanya Zherin menatap sedih pada ibunya.
"Mommy itu tidak sakit, Sayang, Mommy hanya merindukan kamu. Kamu temani Mommy disini ya," lirihnya sembari mendekap tubuh putrinya.
Erland masih berdiri diambang pintu. Ia hanya mengamati ibu dan anak yang sedang saling menyayangi. Ada rasa iba melihat keadaan Nindi yang kini sudah tak seperti dulu lagi.
Erland hanya menghela nafas dalam. Semuanya telah terlambat. Semua telah berakhir. Kini hatinya sudah ia berikan pada Airin. Tak akan mungkin untuk mereka bisa bersama lagi seperti yang diinginkan oleh Nindi.
Nindi menatap Erland dengan lekat. Seketika air matanya jatuh mengalir. Ia masih tidak percaya bahwa lelaki itu kini bukan lagi miliknya. Andai waktu bisa ia ulang kembali, maka ia tak akan pernah mau melepaskannya.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Erland mendekat di tempat wanita itu duduk.
Nindi berdiri segera memeluk Erland dengan erat dengan tangisan pilu. "Mas, kenapa kamu tega tidak memberiku kesempatan. Aku sangat merindukan kamu dan Zherin. Rasanya aku ingin mati saja Hiks..." Tangis wanita itu pecah dalam dekapannya.
"Nindi, jangan bicara seperti itu. Kamu harus melanjutkan hidupmu. Karena aku percaya bahwa kamu akan mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari aku," ucap Erland memberi pengertian pada wanita itu.
"Tidak Mas! Aku tidak ingin lelaki manapun selain dirimu," lirihnya masih mendekap tubuh lelaki itu seakan tak ingin melepaskan.
"Tapi aku tidak bisa Nindi. Aku sudah mempunyai kehidupan baru."
"Mas, tolong terima aku untuk menjadi istrimu kembali. Sungguh aku sangat menyesal. Aku rela dijadikan yang kedua demi menebus kesalahanku," ucap Nindi penuh harap.
"Tidak, aku tidak akan mau menyakiti perasaan Airin."
"Mas, kamu kenapa selalu saja memikirkan perasaan Airin? Kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku sedikit saja? Aku sudah mengakui segala kesalahanku. Tapi kamu masih tak memberiku kesempatan."
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰