
"Nindi!" Intan segera berdiri memberi jarak.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Nindi sinis.
"Tentu saja aku membesuk Bang Erland. Apakah ada yang salah?" jawab Intan santai.
"Ow... Masih ingat kamu dengan Mas Erland," timpal wanita yang masih menggeluti dunia entertaint itu.
"Ingat dong. Mana mungkin aku melupakan Abangku sendiri."
"Abang angkat lebih pastinya," sambung Nindi dengan senyum sinis.
"Ah ya, terimakasih sudah mengingatkan. Kalau begitu aku permisi dulu. Bang Erland istirahat ya," ucap Intan tersenyum dengan Pria Tampan itu.
"Baiklah, terimakasih ya, Dek." Erland membalas dengan senyum tak kalah manis.
Intan segera keluar dari ruangan itu. Bingung mau kemana, karena ini hari weekend. Sesaat ingatannya tertuju pada Dokter jantung itu. Intan menghubungi Reza hanya ingin ngobrol dan ngopi paste.
Sementara itu Erland dan Nindi terlibat saling diam. Hatinya masih kesal karena Nindi benar-benar mengabaikan pesan maupun panggilan darinya.
"Kapan kamu di izinkan pulang, Mas?" tanya Nindi membuka percakapan.
"Belum tahu." Pria itu menjawab dengan datar.
"Zherin mana?"
"Dibawa Mbak ke hotel."
"Kenapa kamu bicara cuek seperti itu? Tadi kalau sama wanita itu manis banget senyumnya," protes Nindi dengan kesal.
"Jika kamu datang hanya untuk ribut lebih baik kamu pulang saja. Urus saja karirmu," balas Erland tak kalah sinis.
"Oh, begitu. Jadi sekarang kamu sudah tak menginginkan kehadiranku lagi!"
"Siapa yang mengatakan aku tak menginginkan kehadiranmu? Bahkan aku sangat ingin kamu selalu ada untukku dan Zherin. Tapi kamu terlalu mencintai karirmu hingga kamu lupa ada aku dan Zherin yang sangat membutuhkan. Ayolah, tolong berhenti dari pekerjaanmu itu. Aku masih sanggup untuk memenuhi segala kebutuhanmu," ujar Erland mencoba untuk berdamai dan meminta Nindi untuk meninggalkan pekerjaannya.
"Udahlah, Mas, kita jangan membahas hal itu lagi, karena aku rasa kamu sudah tahu jawaban dariku."
"Ya, kamu pasti lebih memilih karir daripada keluarga, bukan?"
__ADS_1
"Bu-bukan begitu, Mas..."
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Aku ingin istirahat." Erland memutar tubuhnya menghadap pada dinding kamar itu demi menghindari berdebatan.
Nindi berdecak kesal sembari menghubungi driver untuk minta dijemput. Sepertinya ia akan memilih istirahat di hotel daripada disana, karena mood suaminya sedang tidak baik.
"Mas, aku ke hotel dulu ya, mau ketemu Zherin," serunya berpamitan.
"Hmm..." Erland hanya menjawab dengan gumaman.
Sementara itu di sebuah Cafe yang tak jauh dari RS, Intan dan Reza baru saja menduduki kursi bagian mereka masing-masing.
"Mau minum apa, Dek?" tanya Reza.
"Biasa, Bang."
Reza segera memesan minuman dan makanan untuk menemani obrolan mereka. Sedikit heran dengan sikap gadis itu yang tampak berbeda dari yang bisanya.
"Tumben banget ngajakin Abang ngobrol?" tanya Reza menatap raut wajah gadis cantik itu dengan dalam.
"Bang, apakah Abang masih mencintai aku?" tanya Intan yang membuat Reza terkekeh.
"Hahaha..."
"Ya tertawalah. Lagian pertanyaan kamu itu aneh sekali. Bukankah Abang sudah katakan sampai kapanpun Abang akan tetap mencintai kamu. Ya, meskipun kamu menolak berulang kali, namun Abang tidak akan pernah menyerah. Abang berharap suatu saat nanti kamu bisa memberi kesempatan," jelas Erland dengan serius.
"Bagaimana jika kesempatan itu aku berikan mulai sekarang?" ucap Intan yang membuat Reza terperangah.
"Kamu serius? Kamu, kamu tidak sedang bercanda 'kan?" tanyanya ingin meyakinkan sekali lagi.
"Iya, aku serius, Bang. Aku akan mencoba membuka hati untuk Abang." Intan berucap dengan serius.
"Alhamdulillah, terimakasih ya, Dek. Abang akan berusaha untuk membuatmu nyaman." Reza begitu bahagia mendengar jawaban yang sudah lama sekali ia tunggu dalam waktu yang panjang.
"Ya, tapi maaf bila nanti sikapku masih membuat Abang kecewa, tapi biarkan aku belajar untuk mencintai Abang tanpa ada keterpaksaan."
"Baiklah, Abang tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu. Abang akan selalu setia menunggu hingga cinta itu benar-benar hadir dalam hatimu."
Pasangan itu ngobrol dengan senyum tak pernah terlepas dari bibir Reza. Hari ini adalah kebahagiaan yang telah lama ia nantikan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh gadis pujaan hatinya. Ia akan berusaha untuk membuat Intan agar selalu nyaman hingga terbiasa dengan kehadirannya.
__ADS_1
"Habis ini kamu mau kemana?" tanya Reza sembari menyesap minumannya yang tinggal setengah lagi.
"Hmm, nggak ada kemana-mana sih, mungkin cek kondisi Bang Erland sebentar habis itu pulang," jawab Intan jujur.
"Oke, nanti pulang biar Abang yang antar ya."
"Tapi aku bawa mobil, Bang."
"Ah, itu gampang. Biar mobil kamu di RS. Atau nanti aku suruh orang buat anterin kerumah," sahutnya.
"Baiklah, terserah Abang saja." Intan tak menolak. Ia berusaha memberi Pria itu kesempatan dan juga berusaha untuk meluangkan waktu lebih. Berharap suatu saat nanti cinta itu benar-benar tumbuh.
Selesai ngobrol pasangan itu kembali ke RS untuk membereskan urusan masing-masing. Intan segera menuju kamar rawat Erland untuk memastikan bahwa Pria itu istirahat dengan cukup. Tak peduli ada Nindi, toh niatnya semata memang untuk merawat lelaki yang mulai ia anggap seperti Abang sendiri.
Mampu atau tidaknya, ia tak ingin pesimis, semoga saja perasaan itu segera memudai dengan hadirnya Pria lain yang selama ini dengan tulus mencintainya.
Intan masuk kedalam ruangan itu, netranya mencari keberadaan Nindi, namun tak ia temukan. Kemana wanita itu? Apakah dia sudah pergi lagi? Ah, dasar istri tak berperasaan.
"Eh, Dek, kamu darimana?" tanya Erland menghentikan fokusnya yang tengah melihat dan membaca bermacam pesan di GC kepolisian yang ada di aplikasi hijau itu.
"Dari luar, Abang kok belum tidur?" tanya Intan mendekat.
"Iya, tadi udah tidur sebentar. Kira-kira kapan Abang di izinkan pulang?" tanya Erland yang sudah bosan berada di kamar itu.
"Nanti aku periksa keseluruhan di hari Senin ya, Bang. Jika hasilnya sudah baik keseluruhan, maka hari selasa Abang sudah boleh pulang," jelas Intan.
"Baiklah kalau begitu. Oya, kamu sudah lama tugas di kota ini?" tanya Erland penasaran.
"Belum, kurang lebih satu tahun belakangan."
"Sebelumnya kamu dimana?"
"Aku di Singapore, setelah menyelesaikan strata dua. Hingga aku koas disana," jelasnya dengan jujur.
"Kenapa kamu memutus segala kontak?" tanya Erland yang masih sangat penasaran tentang hal itu.
"Ya, aku hanya tidak ingin mengganggu ketenangan Abang. Seperti keinginan Abang dengan cara tak ada komunikasi lagi, maka sekarang aku sudah mendapatkan lelaki baik yang begitu tulus mencintai aku," jelas Intan membuat hati Erland merasa aneh. Ada rasa sakit, namun tak berbekas.
Bersambung.....
__ADS_1
NB. Jangan lupa dukungannya ya agar Author semangat Update 🙏🤗
Happy reading 🥰