
Malam ini Erland sudah berada di parkiran yang tak jauh dari kantor Polda. Erland sengaja menggunakan mobil pribadinya. Sebelumnya ia mengatakan bahwa mendapat tugas mendadak kembali keluar kota.
Erland masih memantau perkembangan di dalam tahanan itu. Berharap sekali misinya berhasil untuk mengungkap siapa oknum yang sudah berani ingin menodai Airin.
Waktu terus bergulir, hingga pukul sepuluh malam masih belum tampak tanda-tandanya. Namun Erland tetap sabar memonitor melalui ponselnya.
Sekitar jam sepuluh tiga puluh, ia melihat ada dua orang petugas kepolisian masuk kedalam ruang tahanan itu. Ia tetap mengamati dengan seksama.
Terlihat kedua oknum itu mendekati tahanan terpisah tempat Airin berada. Erland segera keluar dari mobilnya dan berjalan mengarah ke lorong tahanan itu.
Dengan langkah pasti ia masuk kedalam ruang tahanan itu, namun langkahnya terhenti oleh petugas lapas yang menjaga malam.
"Maaf, Pak, ada keperluan apa malam-malam datang kesini?" tanya petugas itu dengan raut wajah tegang.
"Apakah jam segini tidak ada jam kunjungan lagi? Saya ingin meminta penjelasan pada tahanan yang bernama Airin," jawab Erland yang masih berusaha tenang. Rasanya ia sudah tak sabar ingin melayangkan kepalan tangannya pada petugas itu.
"Tidak ada, Pak. Tersangka bisa di interogasi besok jam sembilan pagi," jelasnya.
"Benarkah? Lalu siapa kedua oknum yang masuk tadi?" tanya Erland dengan tatapan tajam.
"Tidak ada siapa-siapa yang masuk, Pak. Hanya saya yang bertugas disni," elaknya yang membuat Erland semakin geram.
"Brengsekk!"
BUGH! BUGH!
Erland segera melayangkan kepalan tangannya pada petugas lapas itu. Saat petugas itu hendak mengeluarkan senjatanya, Erland terlebih dahulu mengeluarkan senpinya dan menodongkan kepadanya.
"Angkat tangan! Jangan berani melawan, karena aku akan mengusut kasus yang mencoreng nama baik institusi lembaga tahanan ini!" Pria itu segera mengangkat kedua tangannya. Erland segera mengeluarkan borgol dari saku jaket kulitnya, lalu memasang gelang besi itu padanya.
Ia segera menelepon tim jajarannya untuk segera datang ketahanan. Sementara itu kedua oknum yang berada di dalam masih tak menyadari adanya seorang penyidik yang telah mengamankan penjaga lapas yang ikut bekerja sama dengan mereka.
Erland yang tak sabar menunggu, ia segera masuk kedalam untuk mencari keberadaan kedua orang itu. Ia takut mereka berbuat macam-macam pada Airin.
"Ayolah cantik, jangan sok suci kamu. Jika kamu mau melayani kami, maka kami akan berjanji memberimu kebebasan," ucap salah seorang yang sudah mendekati Airin.
__ADS_1
"Tidak! Sampai matipun saya tidak akan rela melakukan hal itu!" sanggah wanita itu dengan tatapan memuakkan.
"Ternyata kau benar-benar keras kepala. Tak ada waktu lagi untuk memberimu berpikir. Jika kamu masih menolak, maka kami akan melakukan secara paksa!"
Salah seorang dari mereka menarik tangan Airin dan segera menyingkap pakaian tahanan yang sedang dipakai oleh gadis polos itu.
"Tidak! Jangan lakukan itu pada saya!" jerit Airin menangis memohon saat lelaki itu sudah mulai meraba-raba tubuhnya.
BUGH! BUGH!
Kedua oknum itu terjatuh kelantai karena mendapat tendangan. Mereka begitu terkejut melihat siapa yang berdiri dihadapannya.
"Komandan!" Ucap mereka berdua, segera berdiri dan memberi salam hormat.
PLAK! PLAK!
Erland kembali memberi tamparan pada kedua lelaki itu. "Sungguh kalian benar-benar tak mempunyai moral! Beraninya kalian melakukan perbuatan tercela seperti itu!" Erland kembali memberi pukulan pada kedua lelaki yang tak lain adalah bawahannya.
Tak berselang lama tim jajarannya sudah sampai disana, mereka segera mengamankan kedua oknum itu. Sementara itu Erland seketika menghampiri Airin yang masih terdiam membisu dengan tubuh bergetar.
"Iya, s-saya tidak apa-apa, Pak," jawab Airin masih gugup.
"Ayo ikut saya." Erland segera membawa gadis itu untuk keluar dari tahanan.
Kini Airin sudah berada di ruangan Erland. Menunggu pagi Erland mengamankan gadis polos itu disana.
"Istirahatlah. Besok setelah Rusdy datang memberi pengakuan, aku akan mengantarmu pulang," ujar Erland menyuruh Airin istirahat di sofa yang ada diruangan itu.
Airin tak membantah, ia segera menjatuhkan tubuhnya diatas Sofa yang cukup empuk. Jaket Pria itu masih ia gunakan untuk membungkus tubuhnya. Setelah memastikan gadis itu istirahat dengan tenang, Erland kembali keluar untuk mengurus kasus pelecehan yang menimpa tahanan, yang tak lain adalah bagian dari keluarganya.
Tentu saja Erland tak ingin membiarkan kasus itu berdamai begitu saja, ia harus memberi sangsi pada kedua anggotanya itu.
Jam empat dini hari Airin terbangun dari tidurnya, ia mengamati seluruh ruangan itu sembari mencoba mengembalikan kesadaran naik kepermukaan. Ia baru ingat bahwa dirinya sedang berada di ruangan AKBP Erland Aditya.
Airin mengamati ruangan itu begitu sepi, matanya sudah tak lagi mengantuk. Ia duduk dengan menekuk kedua lututnya. Rasa trauma masih ada, ia takut jika ada seseorang masuk kedalam ruangan itu.
__ADS_1
Benar saja, terdengar suara putaran kunci membuatnya terjingkat sembari menyembunyikan wajahnya di kedua tangannya yang bertumpu.
Suara derap langkah membuat tubuhnya semakin takut bahkan tidak berani menatap siapa orang yang datang.
"Airin, kamu tidak tidur?" tanya seseorang yang suaranya sudah familiar.
Dengan perlahan gadis itu mengangkat wajahnya menatap lelaki itu. "Pak, s-saya tidak mengantuk," ucapnya masih dengan nada takut.
"Apakah kamu lapar?" tanya Erland sembari duduk disamping Airin.
"Ah, ti-tidak, Pak."
"Tenanglah, kamu disini aman. Saya yang akan menjaga kamu," ucapnya meyakinkan Pengasuh putrinya.
Airin berusaha untuk tenang. Ia memperbaiki duduknya. Sesaat ia menatap wajah tampan yang ada disampingnya, terlihat wajah itu menyimpan lelah. Tentu saja dia lelah karena tak ada istirahat sama sekali.
"Pak, maafkan saya karena telah membuat Bapak repot," lirihnya merasa sangat sungkan sekali.
"Jangan bicara seperti itu, ini sudah pekerjaan saya. Dan kamu adalah tanggung jawab saya."
"Apakah Bapak lelah? Kenapa Bapak tidak istirahat saja?" tanyanya menatap sekilas pada Pria itu.
"Jika saya tidur, lalu siapa yang akan menjaga kamu?" tanya Erland tersenyum tipis.
"Tapi saya sudah aman disini, Bapak bisa istirahat sejenak."
"Hmm... Baiklah, kalau begitu saya akan tidur sebentar, kamu yang jagain saya ya," ucapnya mengguraui gadis polos itu.
"Iya, saya akan jaga Bapak. Jika ada sesuatu yang aneh akan saya bangunkan," jawabnya begitu polos.
Erland hanya tersenyum mendengar jawaban gadis itu, namun memang tak bisa ditampik bahwa dirinya cukup lelah. Erland menyandarkan tubuhnya di Sofa, lalu memejamkan mata untuk rehat sejenak.
Tak menunggu waktu lama telah terdengar dengkuran halus dari bibirnya. Airin hanya mengamati wajah tampan duda beranak satu itu, sebuah senyuman terukir di bibirnya.
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰