
Intan masih lalu lalang masuk kedalam ruang rawat inap itu demi memastikan bahwa sang pasien baik-baik saja, sedikit tidak nyaman saat para polisi yang ada diruangan itu memperhatikan dirinya. Intan menepi sejenak untuk lari dari tatapan aneh para abdi negara itu.
Intan memilih untuk bergabung dengan staf RS yang sedang pergantian sif. Mereka juga tak kalah heran melihat dokter bedah itu tak kunjung beranjak, biasanya Intan akan segera pulang bila pekerjaannya telah selesai dan akan kembali lagi memeriksa saat visit pagi. Namun berbeda dengan pasiennya yang ini, Intan tak rela meninggalkan walau hanya sesaat. Apakah perasaannya masih seperti yang dulu?
"Tumben Dr Intan belum pulang?" tanya kepala bidan yang baru saja pertukaran sif malam.
"Ah iya, lagi pengen gabung dengan Kak Eka," balasnya dengan candaan.
"Ah, Dokter bisa aja. Kakak jadi ke geeran."
"Hehe... Nggak, aku lagi pengen aja sesekali menghabiskan waktu di RS, Kak," tuturnya tampak serius, dan tentu saja bukan itu alasannya.
Cukup lama mereka berbincang sejak tadi setelah shalat magrib hingga kini waktu sholat isya telah tiba. Intan pamit pada teman-temannya yang lain untuk menunaikan ibadah empat rakaat.
"Ya Allah, aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, apakah ini suatu kebahagiaan? atau pertemuan ini akan kembali membuatku terluka. Tapi aku percaya dalam pertemuan ini engkau pasti telah menentukan yang terbaik, bila aku harus kecewa dan terluka, maka aku mohon tolong hapus dia dalam hatiku," gumam gadis itu didalam do'anya.
Intan kembali menyimpan peralatan ibadahnya. Setelahnya ia kembali menyambangi kamar rawat lelaki itu untuk memastikan bahwa kondisinya semakin membaik. Ia akan segera pulang.
Intan membuka pintu. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang sedang duduk di sofa yang ada diruangan itu. Wanita itu menoleh untuk melihat siapa orang yang masuk kedalam ruangan suaminya.
Intan begitu gugup dan langkahnya terasa sangat berat, rasanya ingin lenyap dari hadapannya, namun sepertinya wanita itu tak menunjukkan ekspresi apapun saat melihat kehadirannya. Intan baru menyadari bahwa dirinya sedang menggunakan masker.
"Selamat malam, Dok," sapa wanita itu sembari menghentikan aktivitas tangannya yang tampak sibuk membalas pesan.
"Ah malam kembali. Apakah Ibu keluarga dari pasien?" balas Intan berusaha untuk tetap tenang dan bersikap profesional.
"Benar, Dok, saya isterinya," jawab wanita itu. Intan merasakan ludahnya tercekat di tenggorokan saat mendengar pengakuan wanita yang sudah ia kenal. Ternyata hubungan mereka berlanjut hingga pernikahan. Apakah dia harus bahagia mendengarnya?
"Baiklah, saya akan memeriksa pasien."
__ADS_1
"Ah ya, silahkan Dok."
Intan berusaha fokus dengan pekerjaannya, meskipun tak bisa ditampik ada perasaan yang tak bisa ia gambarkan untuk saat ini. Setelah selesai memeriksa Intan merasa lega bahwa kondisi pasien semakin membaik. Ia segera beranjak meninggalkan ruangan itu.
Setibanya dirumah gadis itu terdiam sepi duduk sendirian diatas ranjangnya. Harapan yang tadi melambung tinggi kini menguap begitu saja. Sungguh tak ada lagi harapan baginya.
Intan menghela nafas dalam untuk menetralkan hatinya yang sedang gundah gulana. Kembali sosok wanita yang mengaku sebagai istri dari lelaki itu.
"Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku sudah mengikhlaskan dia bersama dengan wanita lain. Ya Allah aku mohon tolong tenangkan perasaanku ini," gumamnya dalam keseorangan.
Intan mencoba untuk merebahkan tubuhnya untuk mencari kenyamanan, berharap akan segera berada di alam mimpi, namun tak jua menemukan kantuk entah di pukul berapa ia terlelap.
Pagi ini Intan sudah bersiap untuk berangkat ke RS. Meskipun lelaki itu sudah menjadi milik orang lain, namun ia tetap menginginkan hal terbaik untuknya.
Setibanya di RS Intan segera melakukan visit pagi ditemani oleh seorang perawat. Kamar yang pertama ia tuju adalah kamar lelaki itu.
"Selamat pagi, apakah Pak Erland sudah sadar?" sapa Intan dengan ramah. Ia melihat Nindi sudah bersiap akan meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah, kalau begitu saya periksa dulu ya," ujar gadis itu meminta izin terlebih dahulu pada istrinya.
"Silahkan, Dok."
Intan segera menghampiri Erland yang masih terbaring lemah. Sesaat tatapan mereka bertemu, jangan ditanya bagaimana jantungnya saat kembali beradu pandang.
"Izin saya periksa ya, Pak," ucap Intan dengan lembut.
"Iya, silahkan, Dok," jawab pria itu dengan suara lemah, ia berusaha tetap tersenyum.
Intan berusaha menekan perasaannya agar tidak baperan. Andai saja lelaki itu tak mempunyai pasangan mungkin saja ia akan segera mendekap tubuh lemah itu dan mencurahkan rasa rindu yang mendalam.
__ADS_1
Intan hanya membalas senyum dari balik masker yang ia kenakan. Dengan teliti dia memeriksa kondisi pria itu.
"Alhamdulillah semua semakin membaik ya, Pak, tapi Bapak belum boleh untuk miring, usahakan posisinya tetap terlentang dan jika merasa pegal Bapak bisa duduk dibantu oleh istri atau keluarga," jelas Intan pada Pria itu.
"Baik, terimakasih, Dok," jawab Erland dengan ramah.
"Sama-sama. Apakah pagi ini Bapak sudah sarapan? usahakan sarapan terlebih dahulu sebelum petugas kami menyuntikkan obat ya, Pak." Entah kenapa tetiba saja bibirnya berucap sedemikian karena ia melihat jatah sarapan dari RS masih utuh diatas nakas. Apakah Nindi tidak menyuapinya makan?
"Baik, Dok. Sekali lagi terimakasih banyak," ucap Erland sembari menatapnya dengan seksama.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, semoga segera pulih, dan jangan lupa sarapannya dimakan ya," pesan Intan sebelum beranjak.
Erland hanya mengangguk, sementara itu Intan menatap wanita yang sedari tadi terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia heran kenapa Nindi tampak begitu cuek dan tak menunjukkan rasa khawatir pada suaminya.
Saat Intan hendak keluar dari ruangan itu tetiba langkahnya kembali terhenti saat mendengar suara Nindi yang berpamitan dengan Erland untuk berangkat keluar kota.
"Mas, aku berangkat sekarang ya, soalnya aku harus tepat waktu sampai di lokasi pemotretan. Kamu tidak apa-apa aku tinggal 'kan? Aku sungguh tidak bisa mangkir dari jadwal yang telah aku tanda tangani," jelasnya dengan sang suami.
"Apakah kamu tidak bisa minta di pending dulu jadwalnya, aku ingin kamu disini temani aku," jawab Erland dengan suara pelan.
"Tidak bisa, Mas, kamu tahu sendiri aku itu sudah terikat kontrak, jadi aku harus bekerja dengan profesional." Nindi masih keukuh untuk pergi meninggalkan suaminya yang sedang lemah tak berdaya.
Intan yang mendengar hatinya terasa ngilu. Kasihan sekali dengan lelaki itu. Namun apalah daya semua atas pilihannya sendiri. Intan menghela nafas panjang dan kembali melangkah keluar dari ruangan itu.
Saat Intan baru saja keluar dari ruang rawat Erland, langkahnya kembali terhenti saat Reza menghadang langkahnya.
"Dokter Reza!" serunya sedikit terkejut.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰