
Intan segera meraih kunci mobil yang ada di nakas, perasaannya semakin tak menentu. Ia yang biasanya tak pernah mengendara dengan kecepatan tinggi, namun saat ini hal itu ia lakukan agar segera tiba di RS.
Rasa cemas masih menyelimuti hatinya, sungguh ia tak ingin kehilangan Pria itu.
"Kenapa kondisi kamu bisa kritis lagi, Bang? Apa yang terjadi?" gumam gadis itu sembari fokus mengendara.
Hanya butuh waktu lima belas menit kendaraan roda empat itu sudah memasuki perkarangan RS. Intan segera turun dan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas keamanan untuk memarkirkan ke bagian khusus dokter.
"Pak, tolong parkirkan mobil saya," ujar Intan sembari melemparkan kunci mobil itu dengan langkah tergesa.
"Baik, Bu dokter."
Intan bergegas masuk menuju kamar rawat yang ada di lantai dua itu. Setibanya disana ia melihat banyak petugas berada di dalam ruangan itu. Kembali jantungnya berdegup kencang, dada terasa sesak. Apa yang terjadi?
Dengan perlahan Intan melangkah masuk kedalam ruangan itu. Netranya mengamati dengan seksama apa yang sedang mereka lakukan. Bahkan ia juga melihat ada Reza disana.
Bukankah Reza seorang ahli jantung? Apa sebenarnya terjadi. Saat Intan sudah berada diantara petugas kesehatan yang sedang menangani, ia melihat Reza menarik kain putih untuk menutupi seluruh tubuh Erland.
Seketika dunia gadis itu berhenti berputar, jantung berhenti berdetak, nyawa bak terlepas dari badan. Intan terpaku bagaikan orang linglung.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Bang Erland bangun...!" Akhirnya gadis itu berteriak histeris.
"Bang, bangun Bang! Aku mohon jangan tinggalkan aku. Hiks... Hiks... Bangunlah aku mohon..." Akhirnya tangis wanita itu pecah sembari memeluk tubuh yang tak berdaya itu.
"Bang Reza, tolong periksa kembali, Bang!" serunya pada dokter jantung itu dengan berurai air mata.
"Tidak, Dek, pasien sudah meninggal dunia," jelas Reza meyakinkan.
__ADS_1
"Tidak, Bang Erland tidak mungkin meninggal. Huuu... Jangan pergi Bang." Gadis itu masih larut dalam tangisnya dengan mendekap tubuh itu dengan erat. Sesaat ia mendengar detak jantung Pria itu masih ada.
Intan hendak melepas dekapannya, namun tak bisa, karena merasa ada tangan yang menahannya. "Jangan lepaskan pelukanmu. Abang masih ingin memelukmu anak nakal," lirihnya dengan suara pelan.
Seketika wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah tampan itu. Apakah ini mimpi? Namun ini nyata adanya. Erland tersenyum padanya.
"B-bang Erland! Abang?" ucapnya masih bingung. Ia menatap semua orang yang ada diruangan itu. Ia juga melihat ada Prof Ali disana.
"Prof Ali! Ini ada apa sebenarnya?" tanya gadis itu masih bingung tak mengerti. Kenapa Prof Ali juga ada disana, yaitu pemilik rumah sakit itu sendiri.
PROKK! PROKK! PROKK!
Dengan serentak mereka bertepuk tangan. Intan semakin bingung sembari menyusut sisa air mata yang tadi masih berada di kedua pipinya.
"Happy birthday to you... Happy birthday to you..."
Beberapa rekan kerjanya masuk kedalam ruangan itu dengan membawa sebuah tart ultah yang telah dinyalakan lilin.
"Kenapa kejutan ini benar-benar membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. Ini benar-benar tidak lucu!" seru gadis itu masih terisak.
Sebuah tangan mengusap kepalanya dengan lembut. "Selamat ulang tahun, Dek, maaf telah membuatmu menangis," ucap Erland sembari mendekap tubuhnya dengan penuh kerinduan. "Kenapa kamu menghilang? Kenapa kamu jahat sekali? Sungguh Abang mensyukuri atas apa yang telah terjadi pada diri Abang saat ini. Karena berkat insiden itu akhirnya Abang bisa bertemu kamu kembali," ujar Erland masih mengusap lembut punggung gadis itu dengan sayang.
Intan melerai pelukannya. Ia menatap wajah lelaki itu dengan dalam. "Ini apa, Bang? Kenapa Abang dan yang lainnya bisa bekerja sama seperti ini?" tanya Intan sembari menatap rekan-rekan sejawatnya yang ada diruangan itu. Bahkan ia tak habis pikir kenapa Prof Ali sebagai pemilik RS itu juga ada disana?
"Selamat ulang tahun cantik. Semoga sehat selalu, dan tetap menjadi dokter yang amanah. Semoga semakin sukses dalam berkarir," ucap Prof Ali mendo'akan yang terbaik.
"Aamiin ya Allah, terimakasih banyak, Prof. Suatu kebanggaan bagi saya karena mendapat ucapan langsung dari, Prof," sahut Intan tersenyum bahagia.
__ADS_1
Satu persatu rekan-rekannya memberi ucapan selamat pada gadis cantik itu. Intan tak dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini yang telah menjadi nano-nano.
"Kalau soal itu nanti kamu tanya sama Pak Pol saja, karena tak ada satupun diantara kami yang berani memberi izin, namun beliau nekat ingin menemui Prof Ali. Dan akhirnya kami mendapat perintah untuk memberi kejutan ekstrim ini," jelas salah seorang petugas yang menjabat sebagai manajer RS.
Akhirnya Prof Ali dan Erland menjelaskan bagaimana kejutan ini bisa terjadi. Tidak sulit bagi Erland meminta waktu Prof Ali, karena lelaki baya itu adalah orang yang pernah dibantu oleh Erland dalam menyelidiki kasus yang melibatkan Rumah sakitnya setahun yang lalu.
Intan masih belum bisa menetralkan perasaannya yang sudah berkecamuk. Sungguh ini adalah kejutan yang menguras air mata. Tak tahu apa yang terjadi bila Erland benar-benar pergi meninggalkannya.
Meskipun mereka tak mungkin bisa bersama. Namun ia tetap menginginkan Pria itu hidup dan bahagia. Biarkan perasaan yang ada akan ia singkirkan dengan perlahan. Tapi apakah ia mampu melakukan hal itu? Bukankah selama dua tahun ini ia sengaja menghilang untuk menghapusnya, namun nyatanya tetap saja perasaan itu masih segar dalam hatinya.
Setelah drama itu usai, satu persatu rekan-rekannya meninggalkan ruangan itu. Prof Ali telah pergi lebih dulu karena beliau masih banyak urusan. Kini hanya tinggal Erland dan Intan, dan Reza masih berdiri disana.
Reza masih belum paham hubungan Intan dan Erland, jika mereka adalah saudara, tapi kenapa ada sisi yang berbeda dari tatapan wanita itu, dan perhatiannya sangat berbeda. Dan kenapa Intan harus pergi menghilang dari Pria yang berprofesi sebagai polisi itu.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Semoga hubungan persaudaraan kalian berjalan dengan baik seperti semula lagi. Apapun masalah kalian dulu, segeralah saling memaafkan," ucap Reza sebelum beranjak.
"Ah, terimakasih, Dok. Maaf sudah merepotkan," balas Erland merasa sungkan.
Reza hanya mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu. Kini hanya tinggal mereka berdua. Erland menatap Intan dengan dalam sehingga membuat gadis itu menjadi gugup.
"Abang kenapa menatapku seperti itu? Ada yang aneh?" tanya Intan heran.
"Kamu sekarang tambah cantik, dan anggun sekali," jawab Erland membuat wajahnya merona.
"Apaan sih, Bang. Nggak usah lebay deh." Intan berusaha untuk bersikap biasa saja, tak bisa ditampik bahwa hatinya sangat melambung saat di puji oleh lelaki yang masih ia cintai sampai saat ini.
"Emang itu kenyataannya. Oya, kenapa kamu sengaja menghindar dari Abang?" tanya Pria itu ingin tahu.
__ADS_1
Bersambung.....
Happy reading 🥰