
Setelah selesai, Intan dan Reza segera menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang memang sudah terasa lapar. Tak lupa gadis kecil itu masih membersamai mereka.
"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Reza sembari mendudukkan Zherin di kursi.
"Aku mau makan pake sup ayam, Om," jawabnya meminta menu kesukaannya.
"Baiklah, Tante cantik mau pesan apa?" Reza beralih pada wanita cantik yang baru saja duduk.
"Aku kayaknya lagi nggak pengen makan nasi deh, Bang."
"Kenapa, Dek? Kamu lagi diet?" tanya Reza heran.
"Bukan, mau diet gimana lagi, orang badan udah ramping begini. Aku lagi nggak selera. Aku pesan salad buah aja, Bang."
"Oh, baiklah. Sesekali nggak pa-pa. Tapi jangan keseringan nggak makan nasi, nanti bisa tinggal tulang," pesan Pria itu tampak perhatian.
Intan hanya mengangguk patuh mendengar pesan lelaki itu yang memang sangat perhatian padanya. Mereka makan bersama, sesekali celoteh Zherin membuat pasangan itu tertawa.
"Zherin suka banget dengan sup ayam ya?" tanya Intan sembari menyuapinya.
"Hmm, suka banget," jawabnya.
"Dirumah siapa yang masak? Mommy?"
"No, Mommy nggak pernah masak, Mommy juga jarang banget dirumah. Kalau Daddy dinas aku cuma sama Mbak dan Bibik dirumah. Kata Daddy Mommy sayang aku, tapi Mommy nggak pernah ada waktu untuk aku," ucap bocah itu seperti sedang menumpahkan isi hatinya.
Reza dan Intan saling pandang. Terlihat dari kelopak mata gadis kecil itu cairan bening telah tergenang disana.
"Hei, kok nangis, Sayang, yang dikatakan Daddy memang benar, sebenarnya Mommy sangat sayang sama kamu, mungkin Mommy sedang sibuk. Percaya sama Tante, nanti Mommy pasti ada waktu untuk kamu." Intan berusaha meyakinkan hati anak kecil yang sedang bersedih itu.
"No, Mommy tidak sayang, teman-teman aku disekolah pada bilang bahwa aku tidak punya Mommy, karena mereka tidak pernah lihat aku diantarkan Mommy ke sekolah, bahkan ada acara Mommy selalu tidak punya waktu," celotehnya masih terisak.
"Shhh... Jangan sedih ya, jangan dengerin omongan mereka, yang penting kenyataannya tidak seperti itu. Tante saja dan Papa tidak punya Mommy, tapi Tante tidak pernah sedih. Kita harus jadi wanita kuat, tidak boleh cengeng," ujar Intan menyemangati Zherin sembari membawanya kedalam dekapan.
Gadis kecil itu tampak mulai tenang berada dalam pelukan sang Tante. Ternyata anak kecil juga bisa menyimpan kesedihan sehingga ia tak mampu lagi menahan.
"Kita keruangan Daddy sekarang yuk," bujuk Intan.
__ADS_1
"Iya, aku kangen Daddy," rengeknya masih dalam dekapan Intan.
"Yasudah, ayo sini, biar Om Reza yang gendong ya, nanti Tante Intan capek," timpal Reza meraih tubuh gadis kecil itu.
"Emang Om Reza tidak capek?" celotehnya.
"Oh, tidak sama sekali. Oom kan kuat dan perkasa," jawab Reza dengan senyuman.
Intan dan Reza menuju kamar rawat Pak Pol itu untuk mengantarkan Zherin, sekalian Intan ingin menerangkan serangkaian pemeriksaan Erland tadi.
Erland yang baru saja selesai makan siang, ia melihat pasangan kekasih itu masuk, dan tampak putrinya di gendong oleh dokter jantung itu.
"Daddy..." Zherin segera menggapai pada sang ayah.
"Ya, Sayang, kamu sudah makan? Nakal nggak sama Tante?" ucap Erland sembari menghadiahi kecupan diwajah putrinya.
"Nggak kok, Bang, dia baik banget, nggak rewel sama sekali," jawab Intan.
"Syukurlah. Oya, Dek, bagaimana hasilnya? soalnya Abang sudah nggak betah disini," ujar Erland ingin secepatnya pulang.
"Alhamdulillah hasilnya sudah membaik, hanya tinggal pemulihan saja. Abang hanya butuh istirahat dirumah, tapi belum boleh melakukan aktivitas yang berat, karena otot dada belum bisa menerima tekanan kuat." Intan menerangkan hasilnya dan menyampaikan apa yang harus dipatuhi oleh Erland saat sudah dirumah.
"Sudah, besok Abang sudah boleh pulang. Tapi Abang harus ingat pesan aku ya."
"Baiklah, Abang akan ikuti semua saran dari kamu. Makasih ya." Erland tersenyum penuh arti, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang selalu memperhatikan gerak geriknya sedari tadi.
"Apakah masih ada yang ingin Abang tanyakan?" tanya Intan sebelum beranjak. Ia berusaha membuat hubungannya dan Erland hanya sebatas pasien dan dokter.
"Untuk sekarang tidak ada, tapi jika nanti ada yang ingin Abang tanyakan, biar lewat pesan saja. Oya, mana nomor kamu?" tuntut Pria itu.
Intan masih ragu, namun ia juga tak sampai hati, takut Erland tersinggung maka ia memberikan nomor ponselnya. Sementara itu Reza menatap sedikit bingung, bukankah mereka saudara, tapi kenapa mereka harus putus kontak. Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan prihal hubungan mereka, namun ia takut akan membuat Intan tak nyaman.
"Yasudah, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, Bang. Zherin, Tante pulang dulu ya, Sayang. Besok kita ketemu lagi," ujar Intan berpamitan.
"Baiklah Tante, apakah Tante tidak ada niat untuk membawa kami mampir kerumah?" sambung Erland yang membuat Intan terdiam sejenak.
"Ah, ya tentu saja. Kalau Abang dan Zherin ingin mampir silahkan," balas Intan yang mencoba menjalin silaturahmi bak kakak dan adik pada umumnya.
__ADS_1
Erland tersenyum lega. Jawaban Intan membuat hatinya sedikit bahagia. Meskipun mereka beda kota, setidaknya ia sudah tahu dimana kediaman gadis itu.
Intan dan Reza segera pamit untuk pulang. Reza dan Erland tampak tak ingin begitu akrab, sepertinya ada yang mengganjal dihati mereka masing-masing. Namun demi menghargai Intan maka mereka hanya bertegur sapa sewajarnya saja.
Diperjalanan pulang pasangan itu sejenak diam, tak tahu harus memulai topik pembahasan darimana. Intan hanya sibuk dengan ponselnya, sementara Reza fokus mengemudi.
"Dek, Abang boleh tanya sesuatu?" tanya Reza membuka pertanyaan.
"Apa, Bang?"
"Sebenarnya hubungan kamu dan Erland seperti apa?" akhirnya Reza tak mampu menyimpan rasa keingintahuannya.
"Ya, hu-hubungan saudara," jawab Intan sedikit gugup.
"Kandung?"
"Hah?" Intan pura-pura tidak paham.
"Iya, kamu dan Erland saudara kandung?" tanya Reza memperjelas.
"Ti-tidak, kami saudara angkat. Dari kecil kami hidup bersama dalam asuhan ibu. Bang Erland menjadi anak angkat ibu sejak umur sebelas tahun," jelas Intan.
"Oh, jadi dugaanku benar ya."
"Dugaan apa, Bang?" tanya Intan tak paham.
"Ya, dari awal aku sudah menduga bahwa hubungan kalian bukanlah saudara kandung. Dan ternyata benar."
Intan tak lagi menyahut, ia berusaha untuk menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hatinya, tak ingin Reza tahu.
"Apakah dulu kalian pernah mempunyai masalah?" tanya Reza penuh selidik.
"Ah, ti-tidak."
"Tapi kenapa kalian harus putus kontak? Dan kenapa kemaren kamu seperti menghindar darinya?" tanya Reza masih mencecar Intan dengan bermacam pertanyaan yang mengganjal dalam hatinya.
"Bu-bukan menghindar, Bang, tapi aku hanya sengaja ingin memberi kejutan," jawab Intan jelas berbohong. Bukan tak ingin jujur, namun ia belum cukup berani mengakui, ia takut akan membuat Reza kecewa dan akan menyimpan curiga berkepanjangan, padahal sekarang ia sedang berusaha untuk membuka hati.
__ADS_1
Bersambung.....
Happy reading 🥰