
"Tumben banget ingat Zherin, emang selama ini kemana saja?" tanya Erland di dalam sambungan itu.
"Nggak usah mulai kamu, Mas. Kamu kan tahu bahwa aku sibuk," balas Nindi tak ingin disalahkan.
"Ya, karena aku tahu maka aku rasa kamu tak perlu lagi menemuinya."
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu tidak bisa melarang aku untuk bertemu dengan putriku! Katakan sekarang kamu dimana?" tanya Nindi.
"Tidak perlu kamu tahu, jika mau bertemu Zherin, tunggu saja lusa."
"Mas, aku tidak punya waktu banyak. Aku ingin bertemu dia malam ini juga. Katakan padaku dimana kamu sekarang?" wanita itu masih mendesak.
Sebenarnya Erland sudah malas untuk bertemu dengan wanita itu lagi. Namun ia sadar tak akan mungkin tega memisahkan ibu dan anaknya. Bagaimanapun Zherin masih membutuhkan sosok seorang Ibu.
"Aku di Bukittinggi," jawabnya memberi tahu.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang." Erland segera memutus sambungan teleponnya.
Pria itu menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada disana. Kembali pikirannya merewang dan sesaat berada di masalalu. Masih terkenang jelas dalam ingatannya bagaimana dulu perasaannya yang begitu besar kepada ibu dari anaknya itu. Harapannya bisa hidup bahagia bersama wanita itu, dan berharap sekali dia bisa menemaninya hingga tua.
Namun kini semua hanya tinggal cerita dan masih di liputi luka. Ternyata cinta tak menjamin orang tetap bahagia, nyatanya seiring berjalan waktu cinta wanita itu mulai memudar dan memilih pelabuhan baru dengan Pria asing yang kini menjadi pasangannya.
Erland masih larut dalam lamunan sehingga ia tak menyadari bahwa ada seorang gadis sedari tadi mengamatinya. Ya, Airin yang hendak menanyakan sesuatu namun urung demi tak ingin mengganggu ketenangan Pria itu.
Airin masih berdiri di depan pintu, namun dia juga tak bisa meninggalkan Zherin sendirian. Dengan terpaksa ia mengeluarkan suara.
"Maaf Pak Erland, saya mau mengatakan bahwa Pampers Zherin sudah habis," ucapnya sedikit ragu. Memang gadis kecil itu belum lepas dari popok instan itu, tapi hanya untuk tidur malam saja, karena terkadang masih suka ngompol.
Erland tak menyahut, sepertinya ia sedang larut dalam lamunan sehingga tak menghiraukan ucapan gadis polos itu.
Airin yang tak mendapatkan jawaban hanya bisa menggelengkan kepala. Dengan perlahan ia mendekati Pria itu.
"Pak Erland!"
"Ah, kamu?" tanyanya sedikit terjingkat.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya ingin mengatakan bahwa Pampers Zherin sudah habis," jelasnya kembali.
"Oh, yasudah kamu beli di Alfa terdekat. Ini kamu simpan untuk membeli semua keperluan Zherin." Erland menyerahkan sebuah kartu ATM padanya.
"Ah, Pak. Kalau bisa uang cash saja," ujar Airin merasa tak pantas diberi kepercayaan sebesar itu.
"Kenapa? Kamu bisa menggunakan bila sewaktu-waktu membutuhkan, jadi tidak perlu lagi meminta sama saya, terkadang saya suka lupa. Pin-nya Tahun dan tanggal lahir Zherin," jelasnya yang membuat Airin masih ragu untuk menerima.
"Tapi, Pak?"
"Ada apa lagi, Airin?"
"Kenapa Bapak begitu percaya dengan saya?" tanyanya tak mengerti.
"Ya, karena saya yakin bahwa kamu itu adalah wanita yang jujur dan sangat dapat dipercaya."
"Apakah Bapak tidak takut bila saya khilaf?" tanyanya kembali yang membuat Erland terkekeh kecil.
"Kamu ini kenapa polos sekali? Mana ada orang khilaf harus bilang dulu," ucapnya masih tersenyum menatap keluguan gadis desa itu.
"Ya, tapi..."
"Zherin mana?" tanya Erland yang tak melihat kehadiran putrinya.
"Dikamar sedang tidur, Pak. Kalau begitu saya pamit untuk ke mini market beli kebutuhan Zherin," ucap Airin pamit undur pada lelaki itu.
"Apakah kamu sudah makan?" tanya Erland
"Sudah tadi sore."
"Mau ikut cari makan dengan saya?" tawarnya membuat Airin merasa ada sesuatu yang membuncah dalam hatinya.
"Tapi Zherin?"
"Kunci saja kamarnya, kita hanya sebentar, dan sekalian ke mini market," jelas Pria itu yang segera mengunci kembali pintu balkon kamarnya.
__ADS_1
"Ah, baiklah." Airin menerima tawaran dari majikannya, dan tak lupa untuk menemui Zherin kembali ke kamarnya. Ternyata gadis kecil itu sedang tertidur pulas. Sesuai perintah Erland maka ia mengunci Zherin di kamar.
Erland membawa Airin berkeliling di sekitaran hotel yang memang dekat dengan jam gadang Bukittinggi. Mereka berkuliner ria dalam waktu yang singkat, Airin juga tidak tenang mengingat Zherin tinggal sendiri.
"Kamu kenapa gelisah seperti itu?" tanya Erland melihat Airin makan tidak tenang.
"Pak, habis ini kita kembali ke hotel ya, saya tidak tenang meninggalkan Zherin sendirian. Saya takut dia terbangun dan menangis mencari kita," ucapnya mengungkapkan kegelisahan hatinya.
"Baiklah, sekarang habiskan makanan kamu," sahut Erland. Dalam diam ia memperhatikan Pengasuh putrinya itu. Kekhawatiran Airin melebihi ibu kandung Zherin sendiri.
Airin hanya mengangguk pelan, dan secepatnya menghabiskan makanannya demi ingin cepat kembali ke kamar hotel.
Selesai makan Erland segera membayar, dan membawa gadis itu kembali menuju hotel. Namun seruan gadis itu membuat langkahnya terhenti.
"Pak Erland, bisa tolong fotoin saya di bawah jam gadang itu sebentar? Biar ada kenang-kenangan datang ketempat ini," ucapnya dengan senyum malu.
"Baiklah, ayo berdiri disana." Erland mengeluarkan ponselnya.
"Ah, pake ponsel saya saja, Pak," ujar Airin merogoh ponsel dalam tas selempangnya.
"Tidak perlu, pake ponsel saya saja, nanti hasilnya saya kirim ke kamu," bantah Erland yang mendapat anggukan dari gadis polos itu.
Erland fokus mengambil gambar wanita itu dengan bermacam pose yang ia ajarkan. Mendadak penyidik itu menjadi fotografer malam ini.
"Sekarang ayo kita foto bareng. Besok kita foto lagi bareng Zherin disini," serunya meminta foto berdua. Tentu saja membuat jantung gadis itu hampir jatuh seketika. Bagaimana jadinya bila ia bisa berfoto dengan Pria yang diam-diam sudah hampir memenuhi pikirannya.
"Hei, kenapa bengong? Kamu tidak mau?" tanya Erland yang membuat darah Airin hampir habis satu liter.
"Ah, bu-bukan. Ya baiklah." Erland mengambil posisi berdiri di belakang Airin, wajahnya begitu dekat dengan pipi gadis itu. Sesaat membuat tubuh Airin menjadi kaku.
"Senyum Airin, kenapa wajah kamu tegang begitu," intrupsi Erland demi ingin melihat senyum gadis itu di Camera.
Dengan susah payah Airin mencoba membuka bibirnya untuk tersenyum manis. Abaikan saja perasaan tak bertuan ini, yang jelas manfaatkan dulu momen langka ini. Airin berusaha untuk menekan segala gejolak hatinya dan menyuguhkan pria itu senyum manisnya.
"Nah gitu dong, kalau senyum begitu kamu terlihat semakin cantik," puji lelaki itu. Ah, rasanya Airin ingin menutup kedua telinganya agar tak terdengar pujian duda yang meresahkan hatinya itu.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰