Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Perubahan sikap Reza


__ADS_3

Intan segera berkemas untuk berangkat menemui calon suaminya, ia harus menyelesaikan masalah ini. Ia tidak ingin selalu berada dalam rasa bersalah.


Sementara itu Erland sudah meninggalkan kediaman gadis itu, namun hatinya tidak tenang membiarkan Intan untuk pergi, apa yang harus ia lakukan sekarang?


Tak perlu lama Intan segera melajukan kendaraannya menuju bandara. Setibanya disana ia menitipkan kendaraannya pada pihak keamanan bandara. Lima belas menit lagi pesawat yang ia tumpangi akan take off.


Empat jam sepuluh menit pesawat yang ditumpanginya sudah landing. Intan segera memesan taksi untuk menuju hotel yang ada di alamatnya. Gadis itu tak membawa persiapan apapun selain pakaian yang ia kenakan, karena Intan sudah yakin akan membawa Reza untuk pulang.


Setibanya di hotel yang di tuju. Intan segera menuju nomor kamar yang tertera, namun seketika langkahnya terhenti saat melihat Pria itu baru saja keluar dari kamar itu dengan menggandeng seorang wanita yang berpakaian seksi.


"Bang Reza!" serunya menatap tak mengerti. Reza hanya menatap biasa saja, tak ada rasa terkejut atau bagaimana saat melihat kehadiran wanita yang sudah menjadi calon istrinya.


"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Reza datar sembari merangkul wanita itu dengan mesra.


Intan segera mendekat dan menarik tangan pria itu. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran dokter jantung itu.


"Intan, apa yang kamu lakukan? Lepas!" Reza menyentak tangan gadis itu dengan kasar.


"Bang, seharusnya aku yang menanyakan hal itu? Apa yang Abang lakukan dengan wanita itu? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" sanggah Intan tak kalah kesal.


"Menikah? Hng! Aku sudah tak berminat untuk menikah dengan wanita sepertimu!" ucap Reza dengan tajam.


Intan terjingkat mendengar ucapan Reza, kenapa Pria itu berubah seketika? Apakah dia masih kecewa dengan apa yang dia dengar kemaren.


"Bang, ayo kita bicara. Aku tahu Abang marah dan kecewa, tapi tolong dengarkan penjelasan aku...."


"Tak ada yang harus kamu jelaskan, Intan. Asal kamu tahu, apa yang aku lakukan sekarang bukan karena aku sakit hati ataupun kecewa tentang perasaan kamu pada polisi itu. Apakah kamu mengira selama ini aku benar-benar tulus mencintaimu, hmm? Tidak. Aku hanya penasaran dengan wanita polos sepertimu."


Seketika hati gadis itu bagaikan teriris. Rasa tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Reza. Intan tak kuasa menahan air matanya agar tak jatuh, rasanya begitu sakit.


"Bang, aku tahu saat ini Abang sedang bercanda dan mengerjai aku 'kan?" tanya Intan masih tak percaya.

__ADS_1


"Apakah aku terlihat sedang bercanda? Hahaha... Kenapa kamu jadi wanita terlalu polos Intan, pantas saja Erland lebih memilih wanita lain, karena kamu benar-benar payah. Tak ada yang bisa di handalkan darimu."


Kembali kata-kata lelaki itu menyakiti perasaannya. Intan kembali menjatuhkan air matanya. Selama hampir dua tahun belakangan ia mengenal Reza, namun baru kali ini ia mendengar Pria itu bicara sejahat itu.


"Tidak, aku masih tidak percaya. Sekarang ayo telpon Tante Eva, aku ingin bicara padanya," ucap Intan ingin kembali meyakinkan.


"Kamu benar-benar wanita keras kepala. Baiklah, jika kamu masih tidak percaya." Reza segera menghubungi nomor sang Mama. Entah sejak kapan pria itu sudah berkomunikasi dengan Tante Eva.


"Ya, Za, ada apa?" tanya Mama diujung sana.


"Ma, ini aku sedang bersama Intan, tolong Mama jelaskan semuanya agar dia segera sadar bahwa aku selama ini memang tidak pernah mencintainya," ucap Reza tampak begitu serius.


"Apa yang ingin Mama jelaskan, kalau dia sudah tahu yang sebenarnya, yasudahlah. Mama tidak ada waktu untuk mengurus hal itu. Mama masih sibuk. Sudahlah, katakan saja yang sebenarnya padanya agar dia tak lagi berharap padamu," jawab Mama yang membuat Intan tak mampu lagi berkata.


Reza tersenyum tipis sembari mematikan sambungan teleponnya. Ia menatap Intan yang masih berurai air mata. Intan menghapus air matanya dengan pelan.


"Baiklah, terimakasih sudah jujur padaku. Terimakasih sudah memberi harapan palsu, terimakasih sudah menjadi lelaki pembohong," ucap Intan yang segera berlalu dari hadapan Pria itu.


Jika dia benar-benar tidak mencintainya, tapi kenapa selama ini dia begitu berjuang untuk meluluhkan hatinya. Apa ini?


Intan mengikuti kemana langkah kakinya, hingga tak ia sadari kini telah berada di pinggiran pantai yang tak begitu jauh dari hotel tadi. Angin laut malam yang menerpa wajahnya membuat sejuk dan sedikit damai.


Intan menatap lurus kedepan. Namun kembali kata-kata Reza terngiang-ngiang di telinganya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah takdir memang tak membiarkan ia untuk hidup bahagia?


Saat Intan masih larut dalam lamunan, terdengar suara beberapa orang lelaki yang sudah berada di belakangnya. Dan tentu saja membuatnya terjingkat dan ketakutan.


"Hai, cantik. Kenapa malam-malam begini sendirian? Apakah lagi butuh teman?" tanya salah seorang dari mereka yang berjumlah tiga orang itu.


"Siapa kalian? Jangan dekat-dekat!" Intan memberi peringatan sembari mundur perlahan.


"Hahaha.... Cantik-cantik kok galak?" Pria itu segera meraih pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Lepas! Kalian jangan macam-macam!" intrupsinya kembali. Intan sudah tampak begitu ketakutan.


"Jangan menjadi wanita munafik kamu!" sentak lelaki itu yang seketika menarik tangan Intan agar menabrak tubuhnya. Intan menjerit dan sangat ketakutan.


"Tolong! Tolong!"


BUG! BUG! BUG!


Hantaman dan pukulan bertubi-tubi mengenai ketiga Pria itu sehingga mereka jatuh terhempas diatas hamparan pasir.


"Bang Erland!" jerit Intan dengan rasa takut masih menyelimuti.


"Beraninya kau mengacaukan rencana kami!" Pria yang bertubuh besar itu mendekat ingin memberi perlawanan pada Erland. Namun bagi Erland tentu tak sulit mengalahkan dengan ilmu beladiri yang pernah ia pelajari.


BUG! BUG!


Erland Kembali menangkis dan memberi dua pukulan pada kepala lelaki itu dengan keras. Saat mereka bertiga ingin bersatu untuk melawannya, namun Erland sudah tak ingin membuang waktu karena ia melihat Intan sudah ketakutan.


"Diam ditempat kalian masing-masing!" sentak Erland sembari mengeluarkan senpinya yang tersisip di pinggang, dan mengarahkan corong pelatuk itu pada mereka.


Seketika mereka terkesiap. Mereka saling pandang dengan satu sama lain. Dengan perlahan mereka menaikan tangan.


"Sekarang pergilah bila kalian tak ingin berurusan dengan polisi." Erland kembali memberi peringatan.


"Apakah kamu polisi?" tanya mereka.


"Saya polisi!" Erland menunjukkan kartu tanda anggotanya.


Seketika mereka membuka langkah dan berlari dengan rasa cemas yang ada. Setelah memastikan bahwa mereka sudah kabur, maka Erland segera menghampiri Intan yang masih terdiam dengan tangis belum reda.


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2