Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Perubahan sikap Airin


__ADS_3

"Airin, ayo bawa Zherin masuk!" titah Erland yang tak mempedulikan ucapan Nindi.


"Mas, aku juga ingin pulang bareng kamu," balas Nindi kembali.


"Tidak! Kamu bisa pulang dengan kendaraan lain!" Sanggah Erland dengan tegas.


"Mas, kenapa kamu tega sekali?"


"Bukan tega, tapi aku harus bisa menjaga perasaan orang yang aku cintai!" tekannya kembali.


Erland segera masuk kedalam mobilnya, dan meninggalkan Nindi yang masih terpaku disana. Sebenarnya bukan ia tega, namun ia sudah tak ingin lagi berhubungan dengan ibu dari anaknya itu.


Entahlah, pengkhianatan yang di lakukan oleh Nindi masih meninggalkan luka yang mendalam. Mungkin jika Nindi tak berbuat sedemikian ia masih bisa memaafkannya.


Erland mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, bibirnya terkunci rapat, seakan ia tak menghiraukan celotehan Zherin dan Mbak pengasuhnya.


Perjalanan cukup jauh, namun hanya kesunyian yang tercipta. Airin juga tak ingin bicara apapun. Ia tahu bahwa majikannya sedang tak enak hati, maka ia lebih memilih diam.


"Daddy, kenapa Mommy tidak boleh ikut bersama kita?" tanya Zherin saat baru terbangun dari tidurnya.


"Mommy ada yang jemput, Sayang, kan Mommy sekarang sudah mempunyai kehidupan baru," jelas Erland pada putrinya.


"Kehidupan baru itu apa, Dadd?" tanya bocah itu begitu polos.


"Kehidupan baru itu sudah mempunyai keluarga baru, teman baru, tempat tinggal baru," jawab Erland yang sulit untuk menjelaskan. Ia menjawab apa yang ada dalam pikirannya saja.


"Kenapa Mommy tidak sayang lagi sama aku dan Daddy?" lagi-lagi gadis kecil itu melontarkan pertanyaan yang Erland bingung harus menjelaskan, karena Zherin terlalu kecil untuk mengetahui yang sebenarnya.


"Mommy bukan tidak sayang, kan sudah Daddy bilang, karena Mommy sudah mempunyai kehidupan baru. Sudah, jangan dibahas lagi ya. Sekarang biarkan Mommy bahagia dengan kehidupan barunya. Yang penting Zherin harus jadi anak pintar dan patuh," jawab lelaki itu tak ingin lagi membahas tentang mantan istrinya.


"Baiklah, Daddy. Tapi Daddy kapan punya kehidupan baru seperti Mommy?" tanya Zherin yang membuat Erland geleng-geleng kepala.


"Nanti, sekarang Daddy hanya ingin fokus dengan kamu dulu," jawabnya memang begitu adanya.


Setelah tak ada jawaban dari putrinya, Erland hanya fokus mengemudi. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul dua siang, itu berarti masih banyak waktu santai untuk sampai di kediamannya yang hanya memakan waktu dua jam tiga puluh menit.


Erland berpikir sejenak, sepertinya ia harus mencari tempat yang cocok untuk menghilangkan beban pikirannya yang sedang kacau karena memikirkan prihal mantan istrinya itu. Ia menepikan kendaraannya di sebuah kebun teh yang ada di daerah Solok.


Sepertinya duduk bersantai sembari menatap hamparan perkebunan teh cukup membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Erland melihat kesamping, ternyata Zherin dan Airin sedang terlelap, pantas saja ia tak mendengar celotehan mereka.

__ADS_1


"Airin, bangun, ayo kita mampir dulu," seru Erland mengguncang bahu Airin dengan pelan.


Airin membuka netranya dan menatap kedepan ia bingung ini berada dimana. "Pak, kita dimana ini?" tanyanya sedikit heran.


"Kita berada di perkebunan teh. Ayo kita mampir sembari melihat-lihat cara petani panen," jawab Erland segera turun dan membukakan pintu untuk Airin, lalu mengambil Zherin dari pelukan gadis itu.


Airin tak lagi bertanya. Ia mengikuti langkah pakpol itu yang membawanya masuk kedalam perkebunan teh, namun sebelum masuk harus membeli tiket terlebih dahulu. Memang perkebunan teh itu di buat untuk ajang wisata bagi pendatang dari luar kota agar bisa berjalan santai dan bisa juga belajar untuk memetik teh.


Mereka mengelilingi perkebunan teh yang luasnya entah beberapa hektar. Cuacanya cukup bersahabat karena mendung tak begitu panas. Erland masih menggendong Zherin, sementara Airin hanya mengekor di belakangnya.


"Daddy, aku mau jalan sendiri!" seru gadis kecil itu pada sang ayah.


"Baiklah. Kamu mau beli sesuatu?" tanya Erland yang melihat beberapa orang yang sengaja berjualan disana.


"Aku haus, Dadd. Aku pengen minum air kelapa," ujar Zherin sembari menunjuk penjual es kelapa muda.


"Baiklah, kalau begitu kita duduk disana dulu sambil minum air kelapa ya." Erland membawa Zherin dan Airin untuk santai sejenak di pondok lesehan menatap pemandangan alam sembari menikmati air kelapa muda untuk menghilangkan dahaga.


Zherin tampak begitu senang, dan tak berhenti bertanya untuk mengembangkan pengetahuannya dari sang Daddy dan Mbak Pengasuhnya.


"Kamu tidak ingin foto disini?" tanya Erland pada Airin. Sedari tadi ini baru terdengar Pria itu mengeluarkan suara untuk membawa Airin bicara. Sedikit membuat hati gadis itu merasa tak nyaman saat di diamkan olehnya.


Airin hanya banyak diam. Mendadak hatinya ngilu karena merasa di manfaatkan oleh majikannya. Erland diam-diam mencuri pandang, ia memperhatikan bahwa gadis itu tampak tak bersemangat dan irit bicara.


"Kamu capek? Apakah kita pulang sekarang?" tanya Erland berusaha membawanya bicara.


"Ah, terserah Bapak saja," jawabnya datar.


"Mbak, aku mau beli jagung bakar," seru Zherin yang tampak begitu manja dan menjatuhkan tubuhnya di dalam pangkuan Airin.


"Oh, baiklah. Ayo kita beli sekarang." Airin segera membimbing bocah kecil itu membawanya ke lapak penjual jagung bakar.


"Ini uangnya," seru Erland mengeluarkan sehelai uang kertas dari dompetnya.


"Tidak perlu, Pak. Uang semalam yang diambil dari ATM itu masih ada," jawab Airin jujur sekali.


"Baiklah, beliin saya juga ya," pintanya. Airin hanya mengangguk.


Airin segera membeli tiga buah jagung bakar, dan membeli tiga botol air mineral. Kini keluarga kecil itu sedang menikmati jagung bakar di pondok lesehan. Zherin yang selalu berceloteh, sementara dua orang dewasa itu hanya saling diam.

__ADS_1


Sudah cukup lama mereka duduk santai disana hingga tak terasa waktu hampir beranjak sore, Erland memutuskan untuk pulang saja, karena perjalanan mereka masih cukup jauh. Takut kemalaman sampai disana.


Disepanjang perjalanan Airin hanya banyak diam sembari memangku Zherin. Yang lebih membuat Erland semakin heran karena gadis itu memilih duduk di bangku belakang.


Hati pakpol bertanya-tanya kenapa sikap Airin berubah seketika, kesannya sedang menjaga jarak darinya. Apakah ini karena ada sangkut pautnya dengan kehadiran Nindi semalam? Ah, entahlah. Erland tak ambil pusing, biarlah senyaman gadis polos itu saja.


Akhirnya pukul setengah enam sore mereka sudah sampai. Airin segera membawa Zherin untuk masuk, sementara Erland meminta sequrity untuk membawa barang bawaan mereka masuk kedalam rumah.


Karena hari sudah sore, Airin segera mengurus gadis kecil itu untuk mandi. Setelah itu bergantian dengannya yang harus segera mandi karena sudah merasa gerah dan sangat lengket.


"Zherin, mau makan apa?" tanya Airin yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Aku mau makan pake naget saja, Mbak," pinta Zherin.


"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar ya." Airin segera menuju dapur.


"Eh, mau ngapain Airin?" tanya Bibik.


"Biasa, Bik, Zherin mau di gorengin naget. Masih ada stok di freezer kan, Bik?" tanya Airin pada Bibik yang masih sibuk dengan aktivitas memasaknya.


"Kayaknya udah habis, tapi cobalah lihat," ujar Bibik kurang pasti.


Airin segera membuka chest freezer dan mencari naget instan, ternyata memang sudah habis. Ia harus ke mini market terlebih dahulu. Airin kembali menghampiri gadis kecil itu yang sedang belajar menggambar di ruang keluarga.


"Zhe, Mbak ke mini market bentar ya, soalnya nagetnya udah habis. Kamu nggak papa nunggu sebentar saja 'kan?" tanya Airin pada bocah itu.


"Baiklah, tapi nanti beliin aku pewarna ya, Mbak. Soalnya ini sudah nggak bagus," celotehnya sembari memperlihatkan alat warnanya.


"Baiklah. Kalau begitu Mbak pergi bentar ya." Airin segera beranjak namun ia berpapasan dengan Erland yang baru saja keluar dari kamarnya. Pria dewasa itu terlihat sangat tampan dengan pakaian santainya.


"Airin, tolong buatkan saya kopi," titahnya.


"Tapi saya mau ke mini market bentar, Pak. Takutnya nanti keburu magrib, biar saya minta tolong Bibik yang buatin," ucap Airin yang memang tak sempat membuatkan minum untuk Pria itu.


"Tidak usah. Nanti saja kalau kamu sudah pulang," sahut Erland yang membuat kening gadis itu berkerut heran.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2