
"Tolong beri aku waktu untuk meyakinkan perasaanku ya, Bang. Aku akan berusaha untuk membuka hati," ucap Intan meminta pengertian Reza.
"Abang akan selalu sabar menanti, Dek. Berharap sekali cinta akan segera tumbuh dalam hatimu."
"Terimakasih ya. Ayo kita masuk." Gadis itu tersenyum laga atas segala pemberian Reza.
"Ah, sepertinya Abang juga ingin pamit, Dek, soalnya nanti jam dua ada jadwal operasi," jelas Reza yang juga ingin pamit pulang.
"Oh, yasudah."
Rezapun pamit undur dari kediaman gadis cantik itu. Pria itu pergi dengan hati lega karena masalahnya dengan gadis yang dicintai telah selesai.
Begitulah hari-hari yang dilalui oleh mereka. Reza yang masih selalu sabar menunggu cinta dari Intan, sementara Erland berusaha menanam kesabaran, berharap sang istri akan berubah suatu saat nanti.
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa sudah hampir satu tahun Reza dan Intan menjalin hubungan. Namun Intan masih sulit untuk memberikan hati.
Malam ini Reza ada janji dengan gadis itu. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan soal hubungan mereka. Tak ingin menjalin hubungan yang masih bertepuk sebelah tangan. Meskipun kesempatan diberikan oleh Intan, namun ia belum juga merasakan adanya benih-benih cinta hadir dihatinya.
"Mau bicara apa, Bang? Kok sepertinya serius banget," ucap Intan menatap heran.
"Dek, Abang ingin melamar kamu," ujar Reza yang membuat Intan terkesiap.
"Ma-maksud, Abang?" tanya Intan masih tak paham.
"Abang ingin kita menikah," jawab Reza tegas.
"Ta-tapi aku belum siap, Bang."
"Kenapa, Dek? Apakah karena belum ada cinta dihatimu? Abang percaya setelah kita menikah kamu pasti bisa mencintai Abang."
"Bagaimana Abang bisa seyakin itu?"
"Apakah selama ini hatimu juga tak yakin untuk menerimaku?"
"Tapi ini masalah hati, Bang, aku tidak bisa memaksakan hati. Biarkan aku belajar untuk mencintai kamu."
__ADS_1
"Tapi mau sampai kapan? Sudah hampir satu tahun kita menjalani hubungan seperti ini. Hanya aku yang berperan, bukankah suatu hubungan dilandasi dengan saling mencintai," jelas Reza menumpahkan isi hatinya.
"Apakah Abang sudah mulai jenuh?" tanya Intan menatap dengan dalam.
"Dek, aku manusia biasa, terkadang memang rasa jenuh itu ada, aku merasa berjuang sendiri dalam hubungan ini. Aku mohon tolong buka hatimu untuk mencintai aku. Terimalah pinanganku. Mari kita menikah," lirih Pria itu memohon.
Intan tak tahu harus bagaimana. Apakah ia harus mencoba lagi untuk hal ini. Kenapa ia masih saja belum bisa terlepas dari belenggu cinta sang Abang angkatnya itu.
Bermacam cara telah ia coba untuk menepi dari perasaannya pada Erland, namun tak jua membuatnya lupa. Bahkan ia sengaja kembali memutus komunikasi dengan Erland. Namun tetap saja lelaki itu masih segar dalam ingatan.
Sepertinya ia harus mecoba untuk hal ini. Mungkin bila dirinya sudah seutuhnya milik Reza akan lebih mudah melupakan Erland.
"Baiklah, aku akan menerima lamaran Abang. Mari kita menikah," jawab Intan dengan mantap.
"Kamu serius, Dek?" tanya Reza dengan senyum sumringah.
"Ya, aku serius, Bang."
"Alhamdulillah... Terimakasih banyak, Sayang, aku sangat bahagia." Reza memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Mbak, ada tamu diluar," ucap Bibik menghampiri Intan yang sedang fitting baju pengantin bersama desainer langganannya.
"Siapa, Bik? Suruh tunggu sebentar," jawab Intan masih fokus dengan aktivitasnya.
"Sepertinya seorang polisi, Mbak," jawab Bibik.
Intan terkesiap, seorang polisi? Siapakah dia? Apakah Bang Erland? Ah, entahlah, Intan meminta untuk break sejenak. Ia segera menemui tamu itu.
"Bang Erland!" serunya menghampiri.
"Dek, apa kabar? Kenapa kamu kembali memutus kontak dariku?" tanya Erland langsung pada pokok bahasannya. Sebenarnya sudah lama ia ingin menyambangi gadis itu untuk menanyakan langsung, tapi karena waktu kesibukan yang memang belum longgar maka ia menundanya.
"Ah, i-itu..."
"Kamu tidak ingin mempersilahkan Abang untuk masuk?" tanya Erland menatap heran dengan gelagat Intan.
__ADS_1
"Ah, ya, si-silahkan masuk, Bang." Intan masih saja gugup.
Erland membuka sepatu boot dinasnya. Sepertinya Pria itu sedang ada tugas di kota itu, maka ia mempunyai kesempatan untuk singgah kekediaman sang adik angkat.
"Kak Sinta, kita fitting bajunya lanjut besok saja ya, soalnya aku lagi ada tamu," ujar Intan pada pemilik butik tempat ia dan Reza fitting baju pengantin.
"Oh, baiklah. Besok kamu tinggal call kakak, tentukan saja tempatnya. Kakak yang kesini lagi juga tidak apa-apa," ujar wanita itu merasa tak keberatan sama sekali.
"Baik, Kak. Terimakasih."
Intan mengantar tamu desainernya itu hingga luar, setelah itu ia kembali menemui Erland yang ada di ruang tamu.
"Zherin apa kabar, Bang?" tanya Intan sembari duduk berhadapan dengan pria itu.
"Baik, kamu sendiri? Tadi tak sengaja aku dengar, kamu ingin menikah sama Reza?" tanya Erland.
"Ah, ya. Dua minggu kedepan," jawab Intan dengan jujur.
"Berarti jika aku tidak datang, maka kamu tidak akan mengundangku 'kan?" tanya Erland membuat Intan susah untuk bicara.
"Kenapa diam, benar, bukan? aku tidak tahu apa sebenarnya salah aku padamu, Dek, untuk kedua kalinya kamu menghindari aku. Katakan dimana salah aku? Bahkan kamu ingin menikah tak memberiku kabar. Dosa apa yang aku lakukan sehingga kamu sampai membenciku seperti ini?" tanya Erland yang membuat Intan semakin bungkam.
"Dek, kenapa kamu diam saja? Katakan pada Abang! sebesar apakah salah Abang padamu!" Erland masih berusaha meminta penjelasan gadis itu.
Intan hanya tertunduk tak berani menatap wajah lelaki itu. Kenapa sulit sekali untuk menjelaskan. Andai saja orang lain tahu bagaimana sulitnya ia berjuang melawan perasaannya sendiri agar bisa membuang nama lelaki itu dalam hatinya.
"Dek, kenapa diam saja? Ayo jawab!" Erland mengguncang bahu wanita itu. "Kamu tahu? sekarang hidup Abang merasa sendiri di dunia ini. Abang hanya punya kamu dan Zherin, tapi kini kamu juga ingin membuangku. Aku tidak tahu dimana salahku," lirih Erland menahan air mata agar tak jatuh.
Walaupun ia seorang aparat, dan mempunyai karir yang bagus di kepolisian, namun tidak dengan kebahagiaan. Selama satu tahun belakangan ia mencoba untuk tetap tegar menjalani kehidupannya.
Terlahir dengan status anak yatim-piatu, namun tak menyurutkan niatnya untuk menjadi orang sukses, jika masa kecilnya tak bahagia, ia sangat berharap disaat sudah dewasa bisa mendapatkan pasangan yang bisa menjadikan dirinya merasa tak sendirian di dunia ini. Namun semua itu hanyalah harapan belaka.
Ternyata ekspektasi tak sesuai realita. Mungkin ia telah salah memilih pasangan hingga pada akhirnya rumah tangga yang selama ini ia coba pertahankan pada akhirnya kandas tak bersisa.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰