
Erland mengikuti prosesi pemakaman mantan istrinya. Sementara itu ia menghubungi Art untuk memintanya menjaga Airin di RS. Erland mencoba untuk tetap tenang dalam masalah yang datang silih berganti dalam kehidupannya.
Setelah selesai pemakaman, ia segera pamit pada Mami untuk kembali ke RS. Ia tak bisa terlalu lama meninggalkan Airin. Bagaimanapun juga wanita itu sedang membutuhkan perhatian darinya. Ia mengingat pesan dokter bahwa Airin tak boleh banyak pikiran.
Erland memasuki ruang rawat istrinya. Terlihat wanita itu sedang duduk bermenung seorang diri. Erland meminta Bibik untuk pulang diantarkan oleh driver.
Erland yang baru pulang menyambangi pemakaman, maka ia tak lantas menghampiri Airin. Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu. Selesai mandi ia segera mendekat pada istrinya.
"Mas, Zherin mana?" tanya Airin yang merisaukan gadis kecilnya. Sudah dua malam ia tak bertemu dengannya.
"Zherin masih ingin bersama Omanya," jawab Erland jujur apa adanya. Karena itu memang kemauan bocah itu. Mungkin karena Omanya yang tinggal di luar negeri sehingga membuat Zherin rindu bila sesekali bertemu.
Airin hanya mengangguk paham. Erland duduk di sampingnya. "Bagaimana keadaan kamu?" tanya Erland menatap lembut.
"Alhamdulillah sudah mulai membaik, sudah tak ada nyeri lagi," jawab Airin menunduk. Ia tak berani menatap wajah suaminya. Ada rasa bersalah dihatinya.
"Anak Daddy baik-baik ya, jangan risau ya, sayang, Daddy sangat menyayangi kamu," ucap Erland mengusap perut Airin dengan lembut, dan mengecup berulang kali.
"Sekarang istirahat ya, ini sudah malam. Tak baik untuk kesehatan kamu dan anak kita. Kamu tidak perlu risau. Aku akan menemani kamu selalu," ujar Erland membantu memperbaiki bantal Airin untuk istirahat.
Wanita itu hanya mengangguk, ia segera merebahkan tubuhnya. Erland menyelimuti hingga setengah badan.
"Tidur ya, jika kamu butuh sesuatu beritahu aku," ucap Erland mengusap rambut Airin sembari mengecup kening dan pipinya dengan lembut.
Seketika air mata wanita itu menetes karena merasa haru dengan sikap dewasa suaminya. Ia mengira bahwa Erland akan marah padanya.
"Mas..." Airin meraih tubuh Pria itu memeluknya dengan erat. "Mas, maafkan aku, maaf bila aku tak bisa mengerti dirimu. Maaf bahwa aku tak seperti yang kamu inginkan," ucapnya dengan isakan.
"Ssshh... Sudah sudah, aku sama sekali tidak menyalahkan kamu. Kamu jangan menangis lagi ya. Aku tidak marah," ujar Pria itu begitu memahami.
Airin masih terisak dalam dekapan suaminya. Ia merasa sangat bersalah karena membuat masalah semakin besar. dan bahkan dari ke egoisannya kini Nindi sudah meninggal dunia.
"Mas, kamu pasti marah padaku. Andai aku bisa memahami kamu, mungkin Nindi tidak akan meninggal dunia. Zherin pasti sangat marah padaku. Hiks..." Airin masih menyesali segalanya.
"Hei, apa yang kamu katakan Dek? Kematian Nindi tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Karena sebelum itu dia sudah sering melakukan tindakan bunuhh dirii."
__ADS_1
Erland masih berusaha untuk menenangkan hati istrinya yang sedang merasa bersalah atas kematian Nindi. Erland tak ingin jika Airin menjadi stress memikirkan hal itu.
"Sudah ya, kamu jangan pikirkan hal itu. Sekarang kamu harus fokus dengan kandungan kamu. Jangan mikir yang aneh-aneh. Zherin sama sekali tak membencimu. Dia hanya masih ingin bersama Omanya. Kamu kan tahu bahwa Omanya tinggal di luar negeri, jadi bocah itu masih ingin temu kangen," jelas Erland menghilangkan pikiran buruk dalam benak wanita hamil itu.
Setelah mendengar segala penjelasan suaminya, Airin baru bisa bernafas lega. Ia sudah mulai tenang. Erland masih mengusap punggungnya dengan lembut untuk memberi ketenangan.
Cup! Cup!
Erland mengecup wajah Airin berulang kali. "Sekarang kamu tidur ya, jangan mikir yang tidak-tidak lagi," ucap Erland mengusap rambutnya.
"Mas?" panggil Airin dengan manja.
"Ya Sayang? Ada apa?" tanya Erland.
"Kamu tidur disini temani aku ya," pintanya dengan manja.
"Baiklah, tapi kamu tidak merasa sempit?" tanya Erland sedikit khawatir.
"Enggak, Mas, ini masih ada ruang. Cukup kok untuk kita berdua," jawabnya tak ingin dibantah. Erland menuruti keinginan istrinya.
"Baiklah, ayo kita tidur sekarang." Erland naik keatas bad pasien ikut merebah disamping istrinya, lalu memeluk dengan mesra.
Pasangan halal itu tidur saling berpelukan. Mereka saling memberi kehangatan. Mereka tidur begitu nyaman hingga pagi menjelang.
Pagi-pagi sekali pasangan itu di kejutkan oleh suara perawat yang ingin memeriksa kondisi Airin dan mengganti tabung infus.
"Maaf, Pak, kami ingin memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu sebelum kami pergantian sif dengan perawat siang," jelas mereka yang membuat Erland segera beranjak memberi ruang untuk mereka.
"Ah silahkan, Sus," ucap Erland tersenyum ramah. Pria itu segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi.
Ia kembali keluar saat sudah merasa nyaman. Ia kembali mendekati Istrinya yang sedang di periksa oleh suster.
"Bagaimana kondisi istri saya, Sus?" tanya Erland ingin tahu perkembangan kesehatan janin dan istrinya.
"Alhamdulillah sudah mulai stabil ya, Pak. Detak jantung bayi juga sudah normal. Tapi Bu Airin memang harus bedrest," jelas perawat itu.
__ADS_1
"Baiklah, Sus. Terimakasih."
"Sama-sama Pak." Perawat itu segera keluar dari ruangan.
"Mas, aku sudah baik-baik saja. Jadi kapan aku bisa pulang?" tanya Airin yang sudah tak betah berlama-lama disana.
"Sabar ya, nanti kita tanya sama Dokter," jawab Erland tetap tenang menghadapi istrinya.
"Kamu mau makan sesuatu?" tanyanya kembali.
"Aku pengen makan yang manis-manis saja, Mas," pintanya.
"Kalau begitu kamu tinggal lihat saja wajahku. Kan aku sudah manis ngalahin madu," seloroh Pria itu dengan kekehan kecil.
"Mas, aku serius..." Rengeknya dengan senyum malu.
"Baiklah baiklah, kamu mau apa Sayang?" tanya Erland begitu manis sembari memberi kecupan di bibir wanita itu.
"Roti saja, Mas, tapi selainnya yang coklat ya," pintanya.
"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya. Aku carikan sebentar," ucap Erland kembali meninggalkan jejak sayang.
"Jangan lama ya Mas," serunya yang tak ingin di tinggalkan.
"Oke." Erland segera keluar dari ruang rawat istrinya untuk mencarikan keinginannya dan sekalian sarapan untuk dirinya sendiri.
Hanya tiga puluh menit Pria itu sudah kembali dengan menenteng beberapa kantong plastik dan Tote bag. Erland menyerahkan makanan permintaan wanitanya.
"Ayo sarapan dulu, Ay. Kamu mau sarapan makanan dari RS atau roti dulu?" tawar Erland karena sudah melihat hidangan dari RS diatas nakas.
"Aku mau makan roti itu dulu, Mas," jawabnya sudah tak sabar.
"Baiklah." Erland segera membuka kemasan roti tawar dan mengoleskan selai coklat sesuai keinginan wanita hamil itu.
Setelah selesai mengurusi istrinya, kini giliran dirinya yang akan mengisi perutnya sedari semalam tak makan apapun.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰