Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Kedatangan Nindi


__ADS_3

Setelah mendapatkan gambar yang cukup bagus dan bersih, mereka segera memutuskan untuk kembali ke hotel. Di perjalanan Airin masih mencuri-curi pandang pada duda anak satu itu.


Pria itu sulit untuk di tebak hatinya, terkadang kesannya seperti memberi harapan, dan terkadang bersikap cuek dan dingin. Airin berusaha untuk tak larut dengan perasaannya. Dia harus sadar bahwa gadis seperti dirinya bukanlah tipe lelaki itu.


Setibanya di lobby hotel, mereka berpapasan dengan Nindi yang baru saja turun dari taksi. Seketika wanita itu menatap Erland dan Airin dengan tatapan curiga.


"Kalian darimana?" tanyanya sembari menatap mereka berdua.


"Bukan urusanmu!" jawab Erland ketus sembari mendahului wanita modis itu.


"Airin, mana Zherin?" tanyanya pada sang pengasuh.


"Zherin sedang tidur dikamar, Bu," jawab Airin jujur.


"Jadi kalian sengaja meninggalkan Zherin sendiri, sementara itu kalian enak-enakan jalan berdua," tuding Nindi tak terima.


Mendengar tuduhan Nindi membuat langkah Erland berhenti. Ia kembali memutar tubuhnya menghadap padanya dengan tatapan kesal.


"Jika benar kenapa? Apakah ada masalah denganmu?" tanya Erland membuat wajah Nindi berubah seketika. Begitu juga dengan Airin yang tak kalah terkejut mendengar pernyataan Pria itu.


"Jadi, kalian benar menjalin hubungan?" tanya Nindi masih tak percaya.


"Ya, aku dan Airin sedang menjalin hubungan. Dan sebentar lagi kami akan menikah." Lagi-lagi polisi itu membuat Airin maupun Nindi syok.


Nindi menatap Erland dan Airin secara bergantian. Seketika senyum senjang terukir di bibirnya. "Nggak nyangka ya, ternyata selera kamu begitu rendah sekali," balasnya dengan senyum mengejek.


Erland segera meraih tangan Airin dan menggandengnya dengan mesra. Ia kembali menghadap pada Nindi.


"Jika kamu berpikir Airin adalah rendah dimatamu, tetapi bagiku dia jauh lebih dari segalanya. Mungkin segi penampilan dia memang tak menandingimu, tapi jiwa keibuannya sangat membuatku kagum, dan dia juga sangat menyayangi Zherin melebihi sayang ibu kandungnya sendiri," tandas Erland dengan tegas. Dia segera membawa Airin berlalu dari hadapan mantan istrinya.


"Mas, tunggu!" panggil Nindi mengejar langkah mereka.


"Pak Erland, lepaskan saya," lirih Airin merasa tidak enak dilihat orang.


"Diamlah Airin! Jangan hiraukan mereka!" sentak Erland meminta gadis itu agar mengerti.

__ADS_1


Airin hanya terdiam sepi sembari mengikuti langkah Pria itu untuk menuju ke kamar Zherin. Saat Airin hendak masuk kedalam kamar Zherin, namun Erland meraih tangannya membawa masuk kedalam kamarnya.


"Ayo masuklah dulu, Sayang," ucap Erland berakting di depan Nindi.


"T-tapi, Pak?" tanya Airin gugup.


"Airin, please bantu saya!" bisik Erland.


"Mana Zherin?" tanya Nindi dengan nada tidak suka.


"Di kamar sebelah, ini kuncinya." Erland menyerahkan kunci kamar itu pada Nindi.


"Jadi kalian tidur berdua dalam satu kamar?" tanya Nindi tak habis pikir.


"Tadinya tidak, tapi karena kamu sudah disini, maka Zherin bisa tidur denganmu. Dan kami bisa mempunyai waktu berdua," jawab Erland yang membuat wajah Nindi memerah seketika.


Dengan hati kesal Nindi menerima kunci kamar itu dan segera masuk kedalam kamar putrinya. Sementara itu Erland hanya tersenyum tipis. Rasa senang dapat membalas rasa sakit hatinya pada wanita yang dulu begitu ia cintai.


Erland masuk kedalam kamarnya, ia mendapati Airin yang begitu gelisah dengan berjalan hilir mudik. Saat pintu kamar itu terbuka, Airin segera menghampiri Erland.


"Pak, saya bagaimana?" tanyanya yang tidak tahu harus tidur dimana.


"Saya tidur disini? Dengan Bapak?" tanyanya membuat Erland ingin kembali terkekeh.


"Kamu mau tidur dengan saya?" godanya membuat wajah gadis polos itu merah merona.


"M-maksud Bapak bagaimana?"


"Airin Airin, kenapa kamu itu polos sekali. Kamu bisa tidur dikamar ini. Tapi kita tidak akan seranjang. Kamu tidur diranjang saya akan tidur di Sofa," jelasnya yang membuat Airin sedikit lega. Tapi apakah polisi ini bisa di percaya?


Airin masih diam di tempat, ia bingung harus berbuat apa, hatinya masih diliputi rasa takut.


"Hei, kenapa masih diam disana? Ayo tidurlah!" titah Erland yang bersiap untuk istirahat. Dia membuka jaket kulitnya, lalu merebahkan diri diatas Sofa.


"Airin, kamu kenapa masih berdiri disana? Ayo tidurlah diatas tempat tidur itu!" Kembali pria itu memerintah.

__ADS_1


Airin berjalan pelan, segera menduduki tempat tidur majikannya. Namun tetiba ia kepikiran Zherin. Bagaimana jika gadis kecil itu terbangun menanyakan kehadirannya.


"Pak, saya tidur di kamar Zherin saja ya, biar kami tidur bertiga dengan Bu Nindi," ucapnya yang membuat Erland kembali duduk dari baring.


"Mau ngapain kamu tidur disana? Kamu mau Nindi bicara yang bukan-bukan padamu? Sudahlah, biarkan saja malam ini dia yang menjaga putrinya," ucap Erland yang tak mengizinkan.


"Tapi bagaimana jika nanti Zherin mencari saya?"


"Nanti kalau dia mencari kamu, biar saya bawa dia kesini. Kamu dan Zherin bisa tidur disini."


Airin tak bisa bicara lagi, ia hanya mengangguk tipis dan segera merebah di ranjang yang terasa begitu nyaman. Airin mengambil ponselnya dari dalam tasnya, lalu membuka beberapa pesan dari ibu dan saudaranya di kampung.


Saat gadis itu sedang berbalas pesan, ia melihat ada pesan masuk dari Pak Pol. Seketika ia melihat pesan gambar darinya.


Airin melihat foto-foto mereka tadi di bawah jam gadang. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat melihat fotonya dengan Pria duda itu. Terlihat mereka begitu dekat sekali.


[Jangan dilihat terus. Ayo tidurlah] Pak Erland.


Seketika wajahnya terasa panas saat membaca pesan Pria itu. Demi apa, duda anak satu ini benar-benar meresahkan hati dan pikirannya.


Airin segera menutup aplikasi pesannya. Sebenarnya masih belum puasa untuk melihat semua gambar yang dikirimnya. Namun pesannya membuat ia malu.


Airin tak berani menoleh kebelakang hanya untuk sekedar melihat kegiatan lelaki itu disofa. Kenapa dia bisa tahu bahwa dirinya belum tidur. Ah, entahlah. Ia tak ingin terlalu larut dalam perasaan. Ditambah lagi apa maksud lelaki itu mengaku pada Nindi bahwa mereka ada hubungan. Airin benar-benar sulit untuk berpikir dan mencerna segala sikap dan perkataan majikannya itu.


Airin segera memejamkan mata agar pagi segera menjelang. Namun saat ia baru saja terlelap, terdengar suara ketukan pintu kamar itu.


"Daddy! Daddy, buka pintu!" seru gadis kecil itu.


Airin maupun Erland segera duduk. Namun saat Airin ingin membukakan pintu, Erland melarangnya.


"Kamu duduklah. Biar aku yang buka." Airin hanya mengangguk.


"Sayang, kamu kok bangun?" ucap Erland segera menggendong gadis kecilnya.


"Aku mau bobok sama Mbak Airin, Dadd, kata Mommy Mbak bobok bareng Daddy," celoteh Zherin dalam gendongan sang Daddy.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2