
Erland segera menuju alamat yang diberikan oleh Nindi, sebagai seorang penyidik tak sulit baginya untuk mengatasi wanita seperti Nindi. Mana mungkin ia mau kembali lagi pada wanita yang telah begitu dalam melukai perasaannya.
Sebuah kamar hotel yang tak jauh dari gedung perkuliahan. Disanalah Nindi membawa Zherin, Erland menuju kamar hotel berbintang itu demi ingin membawa putri kecilnya.
"Hei, kamu beneran datang?" ucap Nindi membukakan pintu dengan senyum sumringah. Hatinya benar-benar bahagia melihat kehadiran lelaki tampan itu.
"Hmm, tentu saja aku datang. Mana Zherin?" tanya Erland sembari menilik kedalam ruangan itu.
"Ada, didalam. Ayo masuklah!" Nindi membawa mantan suaminya untuk masuk.
Erland melangkahkan kakinya masuk kedalam, terlihat putri kecilnya sedang tertidur pulas. Dengan perlahan ia duduk di pinggir ranjang sembari mengusap kepalanya dengan lembut, dan memberi kecupan.
Tanpa diduga Nindi duduk di pangkuan lelaki itu dengan senyum menggoda, dan tentu saja membuatnya terjingkat tak percaya atas prilaku mantan istrinya.
Dengan perlahan tangannya mengusap wajah Erland, tangan lembutnya begitu aktif hingga meraba dada bidangnya. Nindi mendekatkan wajahnya dengan wajah Erland sehingga mengikis jarak. Hampir saja bibir seksinya menyentuh bibir Erland.
Tak bisa ditampik bahwa hasrat lelaki itu mulai terpancing, namun seketika wajah Airin melintas di benaknya maka dengan spontan Erland mendorong tubuh Nindi sehingga jatuh kelantai.
"Mas, kamu apa-apaan sih!" kesalnya pada ayah dari anaknya itu.
"Kamu yang apa-apaan, kamu tahu bahwa kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu bukan lagi istriku!" sentak Erland tak kalah kesal.
Nindi segera berdiri dan duduk disamping Pria itu dengan tatapan tajam. "Mas, aku mohon tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku berjanji akan menjadi istrimu yang baik, aku akan meninggalkan dunia modeling, dan hanya fokus dengan kamu dan Zherin saja," ucap wanita itu dengan wajah berharap.
"Erland hanya diam, otaknya berpikir bagaimana caranya untuk terlepas dari wanita itu. Dengan pelan ia membangunkan Zherin.
"Zhe, bangun Nak, ini Daddy," ucapnya sembari mengguncang tubuh bocah itu dengan pelan.
"Daddy!" serunya segera memeluk sang Daddy seakan tak ingin ditinggalkan.
"Mas, kenapa kamu bangunkan? Biarkan dia tidur," timpal Nindi tak senang.
"Aku sangat merindukannya. Ayo sini gendongan sama Daddy," ucap Erland pada putrinya.
Zherin mendekap ayahnya dengan erat. Gadis kecil itu seperti takut menatap Nindi sehingga selalu menyembunyikan wajahnya pada ayahnya.
__ADS_1
"Dadd, jangan tinggalkan aku, aku tidak mau tinggal bersama Mommy," lirihnya di telinga Erland.
"Iya, sayang, kamu jangan takut ya," jawab Erland dengan bisikan.
Erland masih membuai bocah itu agar Nindi tak curiga, netranya masih mengamati gerak-gerik Nindi yang tampak sedang memainkan ponselnya.
"Daddy, aku lapar," ucap Zherin dengan wajah melas.
"Benarkah? Apakah Mommy kamu tidak memberimu makan?" tanya Erland sembari menatap Nindi dengan kesal.
"No, Mommy tadi marah-marah sama aku," adunya dengan rengekkan.
"Nggak, tadi Mommy bukan marah, Sayang, itu karena kamu tidak nurut sama Mommy," ucap Nindi membela diri.
"Seharusnya kamu tidak memperlakukannya seperti itu, bagaimana mungkin kamu ingin hak asuh sedangkan sikapmu tidak mencerminkan sebagai ibu yang baik," sanggah Erland.
"Mas, kamu hanya salah paham. Kamu harus percaya padaku karena..."
"Cukup! Aku tidak percaya lagi dengan semua kata-katamu!" tekannya dengan tegas, ia segera berjalan keluar dari kamar hotel itu.
"Menyingkir dariku, Nindi!" bentak Erland saat wanita itu menghalangi langkahnya.
"Tidak! Aku tidak mau! Kamu sengaja membohongi aku!" ujar Nindi tak terima.
"Tak ada yang harus dibicarakan, karena aku tak percaya kamu bisa menyayangi Zherin seperti Airin menyayanginya."
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja aku bisa melebihi wanita itu, karena aku adalah ibu kandungnya!"
"Jika kamu menyayanginya dengan tulus, tak mungkin Zherin takut denganmu. Kenapa dia lebih menyayangi Airin. Seharusnya kamu menyadari hal itu!"
"Tidak! Kamu tidak boleh membawa Zherin!" wanita itu masih berusaha untuk menghalangi langkah Erland.
"Menyingkirlah Nindi! Jika kamu ingin hak asuh Zherin maka aku tunggu kamu di pengadilan!" tegas Erland sembari menyingkirkan tangan wanita itu.
Erland segera menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, ia mendudukkan Zherin disampingnya. Tampak gadis kecil itu duduk dengan tenang.
__ADS_1
"Mas, berhenti! Berikan Zherin padaku!!" pekik wanita itu dengan lantang sembari mengejar kendaraan yang telah melaju keluar dari perkarangan hotel.
"Brengsekk!! Awas kamu, Mas, aku akan membalasmu!" makinya dengan kesal tak berkesudahan.
"Apakah kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Erland menepikan mobilnya sesaat.
"Aku baik-baik saja, Dadd, tapi kenapa Mommy sangat pemarah? Aku kangen sama Mama Airin," ucapnya dengan wajah sedih.
"Baiklah, kalau begitu kita telpon Mama ya." Erland segera menghubungi Airin. Tak perlu lama wanita itu sudah terlihat di layar ponselnya.
"Mama..." Panggil Zherin dengan senyuman
"Sayang, kamu baik-baik saja, Nak? Mama kangen banget sama kamu," ucap Airin tersenyum lega.
"Aku baik-baik saja, besok lusa aku dan Daddy akan kesana," balasnya dengan diajarkan oleh Erland bicara pada calon ibu sambungnya.
"Baiklah, kamu jaga diri ya, Sayang. Mama kangen banget."
"Cuma sama Zherin kamu kangen? Sama aku nggak?" sambung Erland tersenyum menunjukkan giginya yang putih bersih.
"Ish, apaan sih kamu, Mas."
Setelah menghubungi Airin, Erland kembali melajukan kendaraannya menuju kediamannya. Ia harus lebih hati-hati dalam menjaga Zherin, ia tahu bahwa Nindi akan melakukan sesuatu diluar nalar. Ia tak ingin kecolongan lagi.
"Bik, jika aku sedang bertugas tolong jaga Zherin dengan baik. Jangan buka pintu bila Nindi datang!" pesan Erland pada sang Bibik.
"Baik, Pak," jawab Bibik mematuhi.
Pagi ini Erland sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, namun kembali Nindi mendatangi kediamannya membuat keributan dengan sequrity yang tak mengizinkannya untuk masuk.
Erland benar-benar sudah malas berurusan dengan wanita itu maka ia menghubungi rekannya yang bertugas sesama di Polda.
Bersambung...
Happy reading 🥰
__ADS_1