
Sebelum berangkat kembali ke kotanya, Erland terlebih dahulu mampir kekediaman Intan. Ia hanya ingin tahu dimana gadis itu tinggal.
Dengan menggunakan google map yang dikirim oleh Intan, akhirnya Erland dan Zherin sampai juga di kediaman Dr bedah itu.
"Tante...." Zherin keluar dari mobil segera berlari menghampiri Intan yang telah menunggu di teras rumahnya.
"Hai, akhirnya sampai juga kamu disini. Kok udah dandan cantik, mau kemana?" tanya Intan pada anak kecil itu.
"Kan kata Daddy hari ini kita mau langsung balik, Tan."
"Oh begitu, yaudah, ayo masuk dulu. Mari, Bang, ajak Mbak dan Pak supir sekalian. Aku udah siapin makan siang. Ayo kita makan bareng," ajak Intan sembari menggendong Zherin.
"Erland membawa Mbak pengasuh dan juga driver untuk masuk sesuai permintaan gadis itu. Intan memang tidak pernah berubah dari dulu, ia tak pernah membeda-bedakan, mungkin karena mereka sudah terbiasa hidup susah sedari kecil.
Dalam hati Erland membandingkan sikap Intan dan Nindi memang jauh bertolak belakang. Nindi yang telah terbiasa hidup senang sedari kecil, maka jiwa pedulinya sangat minim. Dia selalu minta dihargai oleh orang lain, namun dia sendiri tak pandai menghargai.
"Ayo, duduk, Bang." Intan menarik sebuah kursi untuk diduduki oleh Erland.
"Ah, terimakasih, Dek." Pria itu kembali terharu atas perlakuan Intan padanya yang tak pernah berubah.
"Zherin mau makan pakek apa? Tante sengaja buatin kamu sup ayam, dan menu yang lainnya juga ada," ucap Intan pada gadis kecil itu.
"Ayo, Mbak, Pak, dimakan. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri," ujar Intan pada Mbak dan Pak supir.
"Baik, Bu Dokter, terimakasih," sahut Pak supir tersenyum ramah.
Saat Intan baru hendak mengisi piring Erland, terdengar suara seseorang membuat pergerakan tangannya terhenti.
"Maaf, apakah aku mengganggu?" tanya Reza yang sudah berada disana.
Seketika Erland dan Intan menoleh. Dua Pria itu saling pandang dengan ekspresi yang tak bisa terbaca. Intan segera menghampiri Reza, meskipun mereka ada masalah kemaren, namun ia ingin tampak baik-baik saja di depan Erland.
"Bang Reza, kenapa datang tidak beri kabar? Ayo duduk, sekalian kita makan," ujar Intan memegang tangan Pria itu dengan lembut.
Reza sedikit aneh dengan sikap gadis itu, ia mengira Intan masih marah padanya. Tentu saja sikapnya saat ini membuat pertanyaan dalam hati.
__ADS_1
"Duduklah." Intan melakukan hal yang sama pada Reza, Erland hanya terdiam melihat perlakuan Intan tampak begitu mesra pada kekasihnya.
Intan mengisi piring Reza terlebih dahulu, setelah itu baru ia selesaikan mengisi piring Erland yang tadi terbengkalai. Gadis itu tampak sibuk sendiri mengurus kedua lelaki itu di meja makan.
Dan kedua lelaki itu hanya terdiam melihat perlakuan Intan. Mereka sama-sama masih bingung.
"Hei, ayo dimakan. Kenapa pada bengong," tegur Intan yang duduk di tengah-tengah lelaki itu.
"Ah, ya. Terimakasih, Sayang," sahut Reza dengan senyuman.
"Ya, sama-sama. Abang cobain ini sup buatan aku," ujar Intan menunjuk mangkuk sup yang ada diatas meja makan itu.
"Ini kamu yang masak?" tanya Reza berusaha untuk bersikap manis seperti semula, ia melupakan masalah semalam.
"Iya, aku sengaja masak sepulang dari RS, karena mengingat secantik mau kesini," jawabnya sembari menatap Zherin yang sedang fokus dengan makanannya.
Erland hanya diam dengan makanannya. Tak ada yang harus ia lakukan. Meskipun perasaannya telah berubah tak seperti dulu lagi terhadap Intan, namun ia tak ingin merusak kebahagiaannya. Bukankah dulu ia sendiri yang meminta agar Intan membuka hati untuk Pria lain.
Kini gadis itu telah menemukan kebahagiaannya bersama lelaki lain, ia tak ingin egois, biarkan Intan bahagia. Ia akan berusaha untuk kembali menganggapnya sebagai seorang adik.
"Kalau begitu Abang jalan sekarang ya, Dek," ujar Erland yang ingin menyudahi pertemuan itu.
"Kok buru-buru sekali?" timpal Reza yang sudah mulai akrab padanya.
"Iya, soalnya perjalanan cukup memakan waktu. Takut kemalaman nyampe disana," jawab Erland berusaha bersikap legowo.
"Tapi sekarang sudah ada jalan tol, kan cuma sebentar, Bang," balas Intan.
"Iya sih, tapi Abang masih ada keperluan yang lain. Nanti deh, kalau ada waktu luang kami main lagi kesini," ucap Erland yang sudah tak ingin berlama-lama.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan ya. Zherin sini dulu sayang Ante." Intan membawa gadis kecil itu dalam gendongannya. Dan memberikan gadis itu amplop Idul Fitri.
"Kok aku dikasih THR, Tante, kan udah nggak lebaran lagi," celoteh gadis kecil itu.
"Nggak pa-pa, Sayang, kan masih dibulan Syawal. Jadi THR nya masih berlaku kok. Sayangnya kita baru jumpa sekarang, coba aja kalau dari kemaren, malahan Ante yang minta THR sama Daddy kamu," seloroh gadis itu sembari mengulang memberi kecupan diwajah Zherin dengan gemas.
__ADS_1
"Bilang apa sama Ante?" ujar Erland mengingatkan sang putri.
"Terimakasih Tante cantik. Aku pulang dulu. Kalau Tante ada waktu main juga ketempat aku," ujar Zherin yang tampak sedih dengan perpisahan itu.
"Ah, Sayang, tentu saja. Nanti kalau Ante ada waktu pasti kita bertemu lagi. Kamu baik-baik disana ya, harus semangat sekolahnya," pesan Intan kembali memeluk.
Intan dan Reza mengantarkan mereka keluar. Ada rasa entah saat perpisahan itu kembali terjadi. Dulu mereka yang pernah hidup bersama dalam satu atap, namun kini harus tinggal berbeda kota.
"Abang pergi dulu ya, kamu jaga diri baik-baik." Erland membawa Intan dalam dekapannya.
"Iya, Abang juga begitu. Jaga diri dan selalu hati-hati dalam bertugas." Intan melerai pelukannya.
"Bye, Tante..." Seru Zherin saat mobil sudah bergerak meninggalkannya.
"Bye... Hati-hati!" Intan melambaikan tangannya hingga kendaraan itu menghilang dari pandangannya.
Kini tinggal mereka berdua yang masih berdiri disana. Reza menatap ada rasa tak enak, kembali masalah kemaren jadi pemicunya.
"Dek, Abang minta maaf. Kamu boleh marah, tapi jangan diamkan Abang," ujar Reza memohon maaf.
"Mendiamkan? Perasaan nggak ada," jelas Intan yang memang tak merasa begitu.
"Tapi tadi saat di RS. Kamu tak menghiraukan panggilan Abang," jelasnya.
"Dimana? Benaran aku nggak denger, Bang."
"Oh, berarti Abang yang salah sangka. Abang pikir kamu marah, dan tak ingin memaafkan Abang lagi."
"Ya Allah, kenapa Abang mikir begitu? Aku sudah memaafkan, aku juga salah karena sudah bicara dengan nada tidak baik. Aku juga minta maaf ya, Bang," ucap Intan dengan tulus.
"Iya, Sayang, maaf bila Abang sudah bersikap posesif, katahuilah, Dek, karena Abang memang benar-benar mencintai kamu, Abang takut kehilanganmu."
Bersambung.....
Happy reading 🥰
__ADS_1