
Reza tak lagi bertanya, ia berusaha untuk percaya dengan ucapan gadis itu, bukankah sebuah hubungan harus didasari kejujuran dan saling percaya.
Setibanya dirumah Intan segera turun dan di ikuti oleh Reza, karena tak ada kegiatan lain, maka ia memutuskan untuk bertandang di rumah kekasihnya.
"Abang nggak pulang?" tanya Intan saat melihat Pria itu mengikuti langkahnya.
"Abang ingin main disini dulu, boleh 'kan?"
"Ya, tentu saja. Ayo masuk." gadis itu membawa sang kekasih untuk masuk.
"Bentar ya, Bang, aku ke kamar dulu," ucap Intan sembari mempersilahkan Reza untuk duduk.
"Mau Abang temani?" seloroh Reza nyengir kuda.
"Nggak, terimakasih." Intan segera beranjak meninggalkan pria itu yang masih tertawa.
Setelah Intan berlalu, Reza duduk sendiri diruang tamu, sembari menunggu ia menatap sekeliling dinding yang ada di ruang tamu. Tak sengaja tatapannya terbentur pada sebuah pigura yang terpajang disana.
Reza berdiri mendekati foto yang berukuran 10R itu. Ia melihat Intan dan Erland saling berpelukan. Sepertinya foto itu diambil saat penyidik itu mengakhiri studinya. Terlihat Erland masih menggunakan pakaian wisuda.
Seketika hati lelaki itu merasa entah saat melihat Intan begitu mesra memeluknya. Bahkan sampai saat ini gadis itu masih memajang foto mesra mereka.
"Bang, minum dulu kopinya," panggil Intan sembari menaruh gelas kopi diatas meja.
"Ah, ya." Reza kembali duduk.
"Itu foto kapan?" tanya Reza setelah menyesap kopi hitam kesukaannya.
"Yang mana?"
__ADS_1
"Itu foto kamu sama Erland," jawab Reza.
"Oh, tiga tahun yang lalu saat Bang Reza wisuda," jawab Intan dengan jujur.
"Sepertinya kalian saling menyayangi ya," balas Reza.
"Hmm, karena kami sedari kecil hidup bersama. Dan Bang Erland juga begitu baik, dialah yang selalu menjagaku."
"Apakah kalian pernah mempunyai hubungan spesial?" tanya Reza yang tak tahan lagi untuk tak menanyakan agar hatinya lebih tenang.
"Ti-tidak," jawab Intan jujur, karena memang tak pernah ada hubungan spesial, namun dirinyalah yang berharap cinta dari kakak angkatnya itu.
"Tapi kenapa kalian terlihat begitu dekat sekali, ya, rasanya aneh saja bila hubungan angkat sampai seintim itu," timpal Reza.
"Kenapa Abang bisa berpikir seperti itu? Aku sudah katakan yang sebenarnya bahwa kami sedari dulu memang dekat. Dan Bang Erland selalu menganggapku tak ubahnya sebagai adik kandung. Jadi dimana salahnya? Aku rasa Abang tidak perlu sampai segitunya menilai aku dan Bang Erland. Karena aku lebih tahu bagaimana Abangku itu!" pungkas Intan dengan nada sinis.
Reza terperangah saat mendengar jawaban gadis itu dengan nada tak bersahabat, ia tak menyangka Intan akan semarah itu bila menyinggung tentang Erland.
"Sudah, lupakan saja," jawab Intan masih dingin.
"Kalau begitu Abang pulang dulu ya. Sekali lagi Abang minta maaf telah membuatmu tidak nyaman."
Intan hanya diam, tak tahu harus berbuat apa. Ia tahu Reza sedang kecewa karena ucapannya. Namun ia hanya tidak ingin Reza terlalu berlebihan dalam menilainya.
Intan hanya duduk memandangi kepergian Reza. Ada rasa bersalah karena bicara dengan nada sinis pada lelaki itu. Entahlah, ia hanya ingin menepi sesaat untuk menangkan pikiran.
Setelah memastikan mobil Reza meninggalkan kediamannya, Intan masuk kedalam kamar dan segera menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang ternyamannya. Ia mencoba memejamkan mata untuk mencari kedamaian di alam mimpi hingga sore menjelang.
Pagi ini Erland sudah bersiap untuk pulang, perawat telah membuka jarum infus, dan mengganti perban sebelum pulang.
__ADS_1
"Daddy sudah boleh pulang?" tanya Zherin pada ayahnya.
"Sudah, Sayang, tapi nanti kita tunggu Tante Intan dulu ya," ujar Erland.
Tak berselang lama orang yang disebut telah masuk kedalam ruangan itu. Zherin segera berhambur kedalam pelukan intan.
"Tante, kata suster Daddy sudah boleh pulang ya?" tanya Zherin masih dalam gendongan sang dokter.
"Benar, Sayang, nanti dirumah kamu harus jagain Daddy ya, bilang sama Daddy nggak boleh terlalu banyak beraktivitas. Daddy harus banyak istirahat," ucap Intan berpesan pada gadis kecil itu.
"Siap, laksanakan komandan!" jawab Zherin menirukan gaya sang Daddy saat menghadap pada komandan.
"Hahaha... Kamu lucu banget sih." Intan menoel pipi Zherin dengan gemas.
Intan kembali memeriksa untuk terakhir kalinya sebelum Erland pulang.
"Semua sudah membaik ya, Bang. Jangan lupa istirahat yang cukup, obat tidak boleh telat diminum," pesan Intan.
"Baiklah, Abang tidak akan mengabaikan pesan darimu. Oya, sebelum pulang, Abang boleh mampir ke rumah kamu 'kan?" tanya Erland.
"Iya, tapi aku masih tugas. Terus, gimana dong?" tanya Intan bingung.
"Udah, nggak usah bingung. Abang istirahat di hotel dulu, nanti setelah kamu pulang baru Abang mampir," ujarnya memberi solusi.
"Hmm, baiklah kalau begitu."
Erland segera diantar oleh driver menuju sebuah hotel tempat mereka menginap. Ia memesan sebuah kamar untuknya istirahat sembari menunggu Intan selesai tugas.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰