Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Membantu pekerjaan Intan


__ADS_3

Keluarga itu makan siang bersama dengan khusuk, Mama Eva banyak membahas tentang persiapan pernikahan mereka yang hanya tinggal satu minggu lagi. Rencananya akad nikah akan diadakan di kediaman Intan, dan pesta pernikahan baru mereka adakan di kediaman Reza.


"Apakah persiapan di kediaman kamu sudah rampung, Nak?" tanya Mama di sela-sela makan mereka.


"Ah, ada beberapa lagi yang belum selesai, Ma. Tapi tidak terlalu sulit, bisa santai saja," jawab Intan beralasan. Sebenarnya belum ada persiapan di kediamannya, karena dirinya akhir-akhir ini sibuk dengan pasien-pasienya yang memerlukan pertolongannya.


Mempunyai profesi yang sama maka membuat pasangan itu sama-sama sibuk, apalagi mereka adalah Dokter spesialis maka tugas penting itu tak bisa mereka abaikan begitu saja.


"Oh, apakah kamu butuh bantuan dari Mama? Biar Mama carikan WO agar kamu tidak terlalu pusing memikirkan hal itu," tawar Mama pada calon mantunya itu.


"Ah, nanti saja, Ma, biar saat ini aku saja yang mengerjakan apa yang bisa," jawab Intan yang tidak juga menolak tawaran sang Mama, sepertinya ia memang harus menggunakan wedding organizer untuk membantu dirinya dalam mengurus persiapan hari- H.


"Baiklah, jika kamu butuh bantuan, kamu jangan sungkan beritahu Mama."


"Baik, Ma."


Selesai makan, Intan pamit untuk pulang, karena masih banyak yang harus ia kerjakan. Yaitu ada beberapa undangan yang harus ia perbaiki, karena contoh undangan yang kemarin kurang srek dihatinya.


"Ma, aku pamit dulu ya."


"Iya, kalian hati-hati. Kamu masih mau balik ke RS, Za?" tanya Mama pada putranya.


"Nggak, Ma, aku mau bantuin Intan dulu," jawab Reza jujur sekali.


"Oh, yasudah. Jika kalian butuh bantuan Mama segera beritahu."


"Baik, Ma. Kalau begitu kami jalan dulu." Pasangan itu segera menyalami tangan sang Mama dengan takzim.


Diperjalanan masih terlibat saling diam. Intan yang memang sedang enggan bicara. Ia hanya memejamkan mata untuk meredam perasaan yang sedang tak menentu.


"Dek, ada yang ingin kamu beli?" tanya Reza di tengah perjalanan.


"Nggak, tapi kita mampir di percetakan untuk memberikan contoh undangan yang kemarin mereka minta ya, Bang," jawab Intan dengan tenang.


"Baiklah. Kamu sudah punya contoh undangannya?"


"Sudah, aku dapat dari teman aku yang baru nikah dua bulan yang lalu," jawabnya apa adanya.

__ADS_1


"Loh, kenapa kita tidak membuat undangan itu tempat teman kamu buat kemarin?" tanya Reza memberi solusi.


"Janganlah Mas, nggak enak, lagian aku sudah kadung janji sama mereka," ucap Intan sembari memperbaiki duduknya.


"Yaudah, kalau begitu kita kesana sekarang." Reza tak lagi banyak bertanya ia mengikuti saja apa keinginan calon istrinya.


Pasangan itu menyambangi percetakan tempat mereka membuat undangan pernikahan mereka. Setelah cocok dengan model dan disepakati, maka pasangan itu kembali meninggalkan tempat itu, mereka akan datang lagi empat hari kedepan untuk mengambil hasil jadinya.


Ada lagi, Dek?" tanya Reza tak ingin melewati waktunya untuk membantu Intan dalam mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan mereka.


"Nggak ada, Mas. Hanya dirumah yang masih banyak pekerjaan," jawabnya jujur sekali.


"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang."


Setibanya dirumah. Reza tak menyia-nyiakan waktunya. Ia segera meminta arahan dari Intan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pasangan itu mengerjakan dengan senang hati, dari mulai menata ruangan, mana yang rasanya tidak penting mereka meminta bantuan jasa pengangkat barang untuk memindahkan perabotan yang harus di singkirkan untuk sementara waktu.


"Bang, nanti kalau kita sudah menikah, kita tinggal disini saja ya," ucap Intan yang memberi gambaran bahwa dirinya tak ingin meninggalkan kediamannya yang sudah membuatnya nyaman selama ini.


"Kamu yakin kita mau tinggal disini?" tanya Reza meyakinkan sekali lagi.


"Yakin banget, Bang. Aku hanya ingin tinggal disini."


"Ya nggak apa-apa, Bang. Yang penting dasarnya tetap ini."


"Oke, Sayang, senyaman kamu saja. Aku akan ikut keinginan kamu," jawab Reza yang begitu penuh dengan rasa sabar dan pengertian.


"Terimakasih ya, Bang." Intan tersenyum bahagia.


Reza hanya mengangguk sembari mengusap rambut wanita itu dengan lembut. Mereka kembali menyudahi pekerjaan yang menggantung.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga," seru Reza dengan senyum puas. Meskipun mereka harus menyewa jasa untuk membantu pekerjaan mereka hingga kelar.


"Terimakasih ya, Bang," ucap Intan yang tak kalah senang. Akhirnya apa yang membuat pikirannya tadi sumpek, kini moodnya sudah kembali normal.


"Iya sama-sama, Sayang. Oya, udah gerah banget, aku boleh numpang mandi nggak?" tanya Reza yang sudah merasa tubuhnya lengket semua dengan keringat.


"Yaudah Abang mandi sana." Intan segera mengambil handuk bersih di dalam lemarinya, lalu menyerahkan pada pria tampan itu.

__ADS_1


"Mandi dimana, Dek?" tanya Reza bingung.


"Ya di kamar mandi tamulah, Bang," jawab Intan yang mengarahkan ke kamar tamu.


"Oh, aku kira mandi dikamar kamu," sambung Pria itu dengan senyum nakal.


"Nanti kalau kita sudah halal."


"Hehe... Ya deh, paham." Reza segera melesat masuk kedalam kamar tamu untuk segera mandi.


Intan segera menuju dapur untuk menyediakan kopi dan cemilan sore untuk calon suaminya.


"Bik, nanti masak udang saus tiram aja ya untuk makan malam. Soalnya Bang Reza masih disini, mungkin nanti habis makan malam baru pulang," ucap Intan pada Artnya memberi perintah.


"Baik, Mbak." Bibik mematuhi perintah wanita yang sudah seperti anak sendiri.


"Dek!" panggil Reza yang membuat Intan menghentikan pekerjaannya sesaat, lalu segera menuju kamar tamu dimana calon suaminya berada.


"Ya, ada apa Bang?"


Reza membuka pintu kamar itu dan menampakkan setengah badannya demi melihat sang kekasih.


"Kenapa, Bang?" tanya Intan yang sudah berada didepan pintu. Pria itu tersenyum jahil, lalu menarik tangan Intan segera masuk kedalam kamar.


"Abang!!" Pekik Intan spontan yang membuat Reza dengan cepat menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Sssshhtt! Jangan jejeritan, Dek, nanti kedengaran Bibik," bisik Reza.


"Iya kamu mau ngapain, Bang? Kenapa narik aku kekamar seperti ini?" tanya Intan dengan tatapan tajam.


"Hehe... Aku cuma mau minta tolong ambilin pakaian ganti aku di mobil," ujarnya dengan senyum kikuk.


"Ih, apaan sih kamu, ngapain harus narik-narik aku begini." Intan mendorong tubuh Reza yang masih menggunakan handuk hingga pinggang.


Saat Intan ingin keluar dari kungkungan calon suaminya, namun Pria itu menahan tubuhnya agar tetap bersandar di dinding. Dengan secepat kilat Reza mengecup bibir ranum gadis perawan itu.


Seketika wajah Intan berubah menjadi merah merona, dan sangat terasa panas hingga kepalanya. Ini adalah kecupan pertama baginya. Merasa aneh, namun membuat adrenalinnya terpacu ingin mencoba sekali lagi. Tetapi ia segera sadar bahwa mereka belum halal. Intan segera mendorong tubuh Reza agar menjauh darinya, dan segera berlalu keluar dari kamar untuk mengambilkan pakaian ganti Pria itu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2