Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Erland bersikap aneh


__ADS_3

Airin tak menyahut ia segera beranjak menuju mini market terdekat untuk membeli semua kebutuhan Zherin. Sementara itu Erland yang sedang menemani putrinya mendadak risau karena sudah cukup lama Airin tak juga pulang.


Erland meninggalkan Zherin sebentar, lalu menitipkan pada Bibik. Ia bergegas menuju mini market yang tak berapa jauh dari kediamannya. Ternyata kejadian yang beberapa minggu menimpa Airin membuatnya ikut dilanda trauma.


Erland tak menggunakan kendaraan, karena jarak tempuhnya cukup dekat maka ia hanya berjalan kaki sembari menikmati suasana sore di sekitaran rumahnya.


Saat Pria itu hendak sampai ditempat perbelanjaan itu, ia melihat Airin duduk di depan mini market sembari menikmati minuman yang ada dihadapannya. Namun yang menarik perhatiannya ialah ada seorang lelaki yang menemani gadis itu. Dan Pria itu tampak sudah begitu akrab.


Erland tak meneruskan langkahnya, namun ia mengamati kedua orang itu dari kejauhan. Sedikit kesal karena wanita itu sedang asyik ngobrol dan tertawa lepas, sementara dirinya sudah dilanda rasa cemas.


Erland masih memantau sembari melihat senyum gadis itu begitu manis. Merasa gusar karena hatinya mendadak tak nyaman melihat Airin tersenyum lepas bersama lelaki yang tak ia kenal.


Erland kembali meneruskan langkahnya untuk menyongsong kedua insan yang sedang bersenda gurau. Siapa lelaki itu? sepertinya dia mampu membuat Airin nyaman bersamanya.


Khemm!


Erland mendehem berdiri disamping Airin, sontak membuat kedua insan itu terjingkat.


"Pak Erland!" seru Airin terkejut melihat kehadiran majikannya.


"Kamu sedang apa disini? Apakah kamu melupakan pekerjaanmu?" tanya Erland sedikit sensi.


"Ah, maaf ya, Pak. Soalnya saya tak sengaja bertemu dengan teman SMA waktu di kampung," jelasnya jujur.


Erland bergeming sembari menatap lelaki yang duduk berseberangan dengan sang pengasuh putrinya.


"Maaf, Pak. Saya Ridho, teman Airin," ujar Pria itu sembari mengulurkan tangannya dengan senyum ramah. Tak mengurangi kesopanan dan adab yang baik, maka Erland menerima uluran tangan pria yang berseragam coklat dengan lambang JPU.


"Erland," jawabnya singkat berusaha membalas senyuman lelaki yang bernama Ridho itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Erland segera beranjak meninggalkan mereka disana. Airin yang merasa tak enak hati karena terlalu lama mengabaikan tugasnya, maka ia juga berpamitan pada Ridho.


"Dho, aku pamit dulu ya. Lain kali kita ngobrol lagi. Tapi itupun jika kamu punya waktu, hehe... Soalnya sekarang kamu pasti sibuk banget ya, 'kan?" ucap Airin yang ingin mengakhiri pertemuan mereka.

__ADS_1


"Ah, kamu tenang saja. Aku pasti punya waktu untuk ngobrol dan bertandang ketempat kamu. Yang jelas sekarang aku sudah mempunyai nomor ponsel kamu," jawab Ridho dengan senyum khasnya.


"Ah, baiklah kalau begitu. Aku pasti seneng bila kamu punya waktu untuk datang ke tempat aku. Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya," ucap Airin segera beranjak meninggalkan teman SMA-nya dulu.


Setibanya dirumah, Airin segera menghampiri Zherin yang masih sibuk dengan buku gambar dan peralatan belajarnya yang lain.


"Zhe, Mbak minta maaf agak lama ya, ini pewarna yang kamu minta tadi," ucap Airin pada gadis kecil yang tampak masih anteng.


"Tidak apa-apa, Mbak," jawab Zherin tak menampakkan rasa kesalnya. Namun berbeda dengan lelaki yang duduk disampingnya. Erland menatap Airin dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Apakah Bapak masih ingin saya buatkan minum?" tanyanya sedikit sungkan karena harus di susul oleh lelaki itu.


"Tidak usah," jawabnya datar.


Airin tak menyahut, ia segera beranjak meninggalkan anak dan ayah itu. Ia segera menunaikan pekerjaan untuk mengurusi gadis kecil itu.


Saat Airin sedang menyediakan makan untuk Zherin, ia di kagetkan dengan kehadiran Erland yang sudah berdiri di sampingnya, lelaki itu tampak sedang mencari sesuatu.


"Bapak butuh sesuatu?" tanya Airin ingin membantu.


"Gula dan kopi ada di lemari atas, Pak," jelasnya sembari menatap wajah tampan pakpol yang tampak semrawut karena moodnya yang tiba-tiba rusak di sore hari ceria.


Erland tak menanggapi, ia segera membuka pintu kitchen set, lalu mengambil kedua bahan yang ia butuhkan untuk menyeduh kopi.


Airin merasa heran kenapa Pria itu mendadak irit bicara dan bersikap dingin. Apakah masih ada sangkut pautnya dengan kehadiran mantan istrinya? Ah, entahlah. Airin tam ambil pusing ia segera membawa makanan Zherin.


Erland menyeduh kopinya sendiri, dalam hati merasa aneh pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus bersikap sedemikian? Erland hanya menghela nafas dalam, dan segera menyudahi pekerjaannya.


Jika Erland dan Airin masih belum jelas dengan hati masing-masing, namun berbeda dengan pasangan pengantin yang kini usia pernikahan mereka sudah memasuki hari ke empat setelah mengikrarkan janji suci di depan penghulu.


Pagi ini Reza sedikit murung, pasalnya sudah hari ke empat, namun dirinya masih puasa batin. Demi menjaga kenyamanan sang istri maka ia mencoba untuk tetap bersabar.


"Kopinya, Bang," ucap Intan menyuguhkan secangkir kopi di hadapan lelaki itu.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Dek," jawabnya mencoba untuk selalu tersenyum dihadapan wanita itu.


"Hari ini banyak jadwal operasi?" tanya Intan sembari menyendok makanan kedalam piring suaminya.


"Ada dua orang. Kamu sendiri?" tanyanya pada Intan yang masih fokus melayaninya.


"Aku hari ini banyak jadwal operasi, Bang. Mungkin pulang agak telat," jelasnya.


"Oh, nanti gimana? Apakah aku tungguin kamu sampai selesai, atau gimana?" tanya Reza sembari menikmati masakan wanitanya.


"Tidak usah, Abang pulang saja. Aku bawa mobil sendiri," jawabnya tak ingin sang suami lama menunggu hingga tugasnya selesai.


"Baiklah." Reza masih fokus dengan sarapannya.


Selesai sarapan, pasangan halal itu segera menuju RS yang sama tempat mereka bertugas. Mereka menggunakan kendaraan masing-masing, karena bentrok dengan waktu sehingga mengharuskan mereka pulang sendiri-sendiri.


Seperti biasanya sebelum jam praktek dimulai, mereka harus visit pagi untuk memeriksa kondisi pasien mereka yang menjalani rawat inap. Setelah itu baru mereka memasuki ruangan praktek untuk memulai memeriksa pasien yang menjalani rawat jalan.


Waktu begitu cepat berlalu sehingga Reza sudah terlebih dahulu menyudahi tugasnya, sedangkan Intan masih bergelut dengan peralatan bedahnya di kamar operasi.


Reza sedang menuju parkiran untuk segera pulang, namun sebuah panggilan dari manajer hotelnya yang ada di Bali menghubunginya, bahwa ada masalah terjadi yang harus ditangani olehnya.


Reza yang mendengar kabar tak mengenakan mengenai usaha perhotelannya, maka ia segera menuju bandara untuk menuju pulau Dewata itu. Ia ingin segera membereskan sebelum masalah semakin besar.


Sementara itu pukul empat sore Intan baru saja sampai di rumah, namun ia tak melihat kendaraan suaminya. Mungkin lelaki itu sedang keluar atau kerumah Mamanya.


Intan segera masuk kamar, dan membersihkan diri sebelum melakukan aktivitas yang lain, selesai mandi dan berpakaian rumahan, ia keluar menuju ruang makan, kebetulan ia tadi tak sempat makan, karena mengejar waktu.


"Bik, Bang Reza kemana ya?" tanya Intan pada sang Bibik.


"Mas Reza belum pulang sedari pergi bersama Mbak Intan," jawab Bibik membuat Intan menghentikan pergerakan tangannya yang hendak membuka piring dihadapannya.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2