
Setelah bersiap sebentar, Airin kembali keluar dari kamarnya. Ia pamit pada para saudara yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Sudah?" tanya Erland tersenyum menatap penampilan calon istrinya. Wanita itu mengikuti keinginannya, yaitu hanya memoles bibirnya dengan lipgloos pinkflash sedikit saja agar tampak lebih segar.
Airin hanya mengangguk membalas senyuman calon suaminya. Mereka segera meninggalkan kediaman itu untuk makan malam diluar.
Diperjalanan Zherin tampak begitu bersemangat dalam bercerita pada Airin tentang dirinya yang dibawa kabur oleh Mommy Nindi.
"Terus, kamu di jemput Daddy dimana?" tanya Airin penasaran.
"Di kamar hotel," jawab bocah kecil itu dengan polos.
"Benarkah? Jadi Mommy bawa kamu ke hotel, terus Daddy datang kesana?" tanya ucap Airin semakin penasaran mendengar kamar hotel.
"Iya, Mommy bilang sama aku kalau Mama dan Daddy tidak boleh menikah, emang kenapa harus menikah sih, Ma?" tanya Zherin membuat Airin maupun Erland saling pandang.
"Ah, menikah itu harus bagi orang dewasa untuk membina hubungan agar menjadi sebuah keluarga, Sayang," terang Erland pada putrinya.
"Oh, seperti Daddy dan Mommy ya, tapi kenapa sekarang Daddy tidak mau lagi tinggal bersama Mommy? Apakah Mommy nakal?" tanyanya kembali yang membuat Erland bingung untuk memberi jawaban.
"Sayang, kamu masih kecil. Jadi kamu belum mengerti yang sebenarnya, nanti kalau kamu sudah besar, maka kamu akan tahu jawabannya," ujar Erland memberi pengertian.
Gadis kecil itu hanya mengangguk paham sembari memeluk Airin dengan manja.
"Jam berapa kamu menemui Bu Nindi, Mas?' tanya Airin masih penasaran.
"Setelah kita telponan kemaren," jawab Erland jujur.
"Berarti kamu menemuinya di kamar hotel? Kata Zhe saat kamu datang dia sedang tidur?"
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Erland acuh.
"Nggak, nggak kenapa-napa," jawab Airin datar.
"Kamu cemburu?" tanya Erland yang membuat wajah Airin merah Seketika.
"Hah! Nggaklah!" elaknya memalingkan muka.
Erland hanya tersenyum menatap wajah calon istrinya itu. Ia tak menanggapi lagi, sengaja biar Airin semakin penasaran apa yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
"Ay, tadi kamu sudah catat pesanan mereka yang di rumah?" tanya Erland sembari menatap deretan orang yang jual makanan di pasar lambung yang ada di kota Padang panjang.
"Sudah," jawab Airin singkat
"Yuk turun." Erland membuka pintu bagian calon istrinya dan segera mengambil Zhe dari pelukannya.
"Mau beli apa?" tanya Erland sembari mengekor di belakang Airin.
"Ma, aku mau ketan durian," pinta Zherin pada calon ibu sambungnya.
"Baiklah, ayo kita beli." Airin segera berjalan menuju kios orang yang menjual durian dalam kemasan itu.
"Dek, aku juga mau," bisik Erland begitu dekat di telinganya sehingga membuat jantungnya berdegup kencang.
"Baiklah, kalau begitu beli dua saja," ucap wanita itu tak minat membeli untuknya juga.
"Kok cuma dua? Emang kamu tidak mau?" tanya Erland.
"Enggak, nanti ibu pulang dari rumah paman bawa durian, jadi bisa masak sendiri lebih puas," jelasnya.
"Kalau begitu beli buat Zhe saja, aku nggak jadi. Nanti kita makan bareng jadi lebih puas, dan segar lagi," timpal Erland ikut-ikutan.
Erland meminta gulai tunjang, dan lauk yang lainnya, begitu juga dengan Zherin dan Airin memilih keinginan mereka masing-masing. Keluarga kecil itu makan dengan khusuk.
Selesai makan mereka membelikan makanan sesuai request orang dirumah yang sedang kerja bakti dalam mendekorasi dan kegiatan lainnya. Setelah merasa cukup, pasangan itu segera pulang.
Setibanya dirumah Erland dengan di bantu salah seorang saudara Airin untuk menurunkan belanjaan.
"Benaran Nak Erland sudah datang, tadi ibu agak ragu saat mereka bilang Airin pergi dengan calon suaminya. Ibu heran saja kenapa dia tak kasih kabar kami," ucap ibu pada calon anak menantunya itu.
"Hehe... Maaf ya Bu, tadi sedang buru-buru jadi lupa kasih kabar," jelasnya sedikit berbohong.
"Ayah mana, Bu?" tanya Erland karena tak melihat ayah mertuanya.
"Ada di belakang sedang belah duren," jawab Ibu jujur.
"Waduh, mantap banget tu Ayah malam-malam belah duren," balas Erland yang mendapat tatapan tajam dari Airin.
"Iya, kebetulan paman Airin sedang panen duren diladangnya. Jadi ibu dan ayah bawa buat teman ngopi bagi yang sedang Goro hingga malam ini, sekalian ibu juga masak pulut," sambung Ibu. Untung saja wanita baya itu tidak ngeh dengan arah pembicaraan calon menantunya.
__ADS_1
"Benarkah? Wah, aku suka banget itu, Bu," ujar Erland tersenyum gaje.
Memberikan pesanan mereka, Erland dan Airin segera menuju dapur, mereka ingin melihat ayahnya yang sedang membuka beberapa buah durian untuk dimakan bersama dengan nasi ketan yang sedang dimasak oleh ibu.
Ayah sama halnya dengan ibu kaget melihat kehadiran calon mantu yang tak memberi kabar terlebih dahulu.
Airin segera membantu ibu menyediakan ketan durian, dan tak lupa dengan cuci tangannya. Tak lupa pula ibu menghidangkan pada sanak saudara yang sedang sibuk di depan dan petugas pelaminan tak ketinggalan.
Mereka makan ketan durian bersama. Setelah makan Erland ikut bergabung dengan yang lainnya untuk membantu menyelesaikan agar rampung secepatnya hingga hari-H.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, apalagi untuk kedua calon manten itu. Hari ini adalah hari yang mereka tunggu selama satu minggu ini. Airin sedang dirias oleh seorang MUA.
Sementara itu di perjalanan Reza dan Intan sedang terjebak macet karena ada kendaraan yang kecelakaan sehingga membuat akses jalan harus ditutup beberapa menit karena sedang mengevakuasi korban kecelakaan.
"Kok lama banget sih, Bang?" tanya Intan tampak gelisah.
"Sabar, Dek, namanya orang kecelakaan, ya tentu saja harus di selamatkan," ujar Reza memahami.
"Ini gara-gara kamu yang susah banget bangunnya," rutu intan masih mengungkit drama pagi tadi. Yang mana perjanjian mereka berangkat sebelum subuh agar bisa sampai dengan tepat waktu. Namun Reza yang tadi malam begadang karena nonton bola sehingga membuat netranya susah untuk di buka.
Akhirnya pasangan itu berangkat setelah sholat subuh, dan akhirnya terkena macet.
"Jangan diungkit lagi kenapa sih, Dek? Kan Abang sudah minta maaf," balas pria itu sembari fokus mengemudi saat mobil sudah mulai jalan.
Saat melewati tempat kecelakaan itu, Reza dan Intan melihat petugas faskes sedang membawa salah seorang korban yang sedang kritis, ada beberapa orang yang meninggal dunia telah di masukkan kedalam kantong jenazahh.
"Dek, kasihan banget. Kayaknya dia butuh bantuan manual, kasihan. Kita kasih pertolongan sebentar ya," ucap Reza meminta pendapat istrinya.
Intan juga tak sampai hati melihat kondisi korban kecelakaan itu, maka mereka berniat ingin memberikan pertolongan terlebih dahulu, karena kecelakaan itu di pesawangan maka rumah sakit besar jauh, adanya di pusat kota.
Reza dan Intan turun menghampiri petugas yang hendak memasukkan Korban kedalam mobil ambulans yang tertulis dari faskes balai desa maka tak ada perlengkapan seperti oksigen.
"Bang, didalam mobil ada oksigen?" tanya Reza pada supir ambulans.
"Tidak ada, Bang, ada satu tapi di ambulans satu lagi, dan ambulans itu sudah digunakan untuk korban yang lainnya. Ini korban terakhir yang baru di temukan di dasar jurang," jelas mereka.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1