
"Dek, disana kamu butuh supir nggak?" tanya Erland pada istrinya.
"Kayaknya nggak Mas, lagian aku mau kemana disana. Kan kamu bilang aku tenang-tenang saja dirumah," jawab Airin.
"Baiklah kalau begitu." Erland dan Airin menitipkan rumah sama Bibik dan sequrity.
"Bik, aku dan Zhe pulang kampung dulu. Bibik baik-baik dirumah ya," ucap Airin pada Art.
"Baik, Bu Airin. Hati-hati ya. Wah neng Zherin mau liburan ya? Kok Bibik di tinggal?" seloroh wanita baya itu.
"Bibik mau ikut juga? Terus kalau Bibik ikut siapa yang jagain Barbie aku yang lainnya?" jawab Zhe yang membuat mereka tersenyum.
"Hehe... Nggak kok, Neng, Bibik hanya bercanda."
"Yaudah, kalau begitu kami pamit dulu ya, Bik, kalau ada apa-apa jangan lupa beri kabar saya," pesan Erland.
"Baik, Pak."
Pasangan itu segera berangkat setelah menitipkan pesan pada pekerja mereka dirumah. Erland sudah membawa perlengkapan untuk dirinya berangkat besok. Karena kebetulan kota tempatnya bertugas tak begitu jauh dari kampung halaman istrinya.
Kedatangan mereka disambut dengan senang oleh keluarga. Namun, yang membuat pasangan itu terkejut adalah menemui seseorang yang sudah mereka kenal disana.
"Ya ampun, kalian kalau mau pulang kenapa selalu begini, tak memberi ibu kabar terlebih dahulu," ucap Ibu membantu anak menantunya menurunkan barang bawaannya.
"Tidak usah repot-repot, Bu," jawab Erland masih menatap tajam ke arah lelaki yang duduk santai di teras rumah dengan ayah.
Airin hendak masuk menyapa Ayahnya, namun tangannya di tahan oleh Erland.
"Nanti masuknya bareng aku," ucap Erland membuat wanita itu hanya mengangguk patuh.
"Yah," ucap Erland menyalami tangan ayah mertuanya. Ia menatap sekilas pada Pria yang duduk di samping ayahnya.
"Kenapa tidak mengabari kalau mau pulang, Nak," ucap Ayah.
"Ayo kita masuk kedalam, ayo Nak Ridho. Oya, perkenalkan, ini menantu Bapak, suami Airin," ucap Ayah membuat hati pemuda itu menjadi
Jleb!
Rasanya sakit sekali, terluka tapi tak berdarah. Ia baru menyadari bahwa penyidik itu adalah suami wanita yang sudah lama ia taksir, tetapi ia kalah cepat dengan pakpol alias duda anak satu.
Niat hati Ridho memang ingin mencari tahu tentang Airin, dan akhirnya Tuhan memberitahu dengan sejelas dan senyata itu di depan matanya.
"Ridho, kamu kapan datang?" sapa Airin pada temannya.
__ADS_1
"Belum lama," jawab Pria itu mencoba untuk tersenyum dihadapannya.
"Ayo masuklah," ujar Airin bersikap ramah.
Ayah membawa kedua lelaki itu untuk masuk kedalam rumah. Erland hanya menatap datar pada Ridho.
"Oya, Nak Erland, Ridho ini seorang jaksa, dan dia juga tugas di kota yang sama dengan kamu. Mungkin saja pernah bertemu," ucap Ayah membuat Erland tersenyum tipis.
"Iya Pak, saya dan Pak Erland pernah bertemu. Bahkan kami pernah bekerja sama dalam menangani sebuah kasus," jawab Ridho membenarkan.
"Wah benar toh. Bapak Do'akan semoga kalian selalu menjadi penegak hukum yang amanah dalam mengemban tugas," ucap lelaki baya itu. Dan diaminkan oleh kedua lelaki itu.
Tak berselang lama Ibu datang membawa minuman dan cemilan ringan. Suasana masih tampak kaku. Hanya Ayah yang banyak berceloteh.
Airin ikut bergabung dengan mereka karena merasa tidak enak oleh Ridho. Dan tentu saja membuat Erland tak setuju.
"Kenapa duduk disini Dek, kamu itu harus istirahat. Apalagi kita baru saja menempuh perjalanan cukup jauh," intrupsi lelaki itu tak setuju melihat kehadiran istrinya disana.
"Tapi aku tidak apa-apa, Mas," jawab Airin, tetapi mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.
"Benar yang dikatakan suami kamu, sekarang kamu istirahat dulu ya. Nak Ridho pasti paham kondisi kamu saat ini. Kan ada ayah dan Nak Erland. Benar kan Nak Ridho?" tanya ayah meminta pengertian lelaki itu. Ia tahu bahwa Airin dan Ridho sudah berteman lama.
"Ah benar sekali. Kamu istirahat saja Ay, aku tidak apa-apa. Masih ada Pak Erland dan Bapak," jawab Ridho memahami.
Airin segera masuk kedalam kamarnya. Sementara itu Zherin sudah sibuk dengan Ami. Adiknya itu begitu senang kedatangan anak keponakannya.
Cukup lama ngobrol, akhirnya Ridho memutuskan untuk pulang. Memang itu yang di tunggu oleh Erland dari tadi. Setelah Ridho pamit, Erland segera masuk kedalam kamar istrinya.
"Nggak tidur kamu?" tanya Erland sembari ikut merebah disampingnya.
"Iya, belum ngantuk. Kamu kok udah disini? Ridho sudah pulang?" tanya Airin penasaran.
"Sudah, besok kalau aku pergi, kamu jangan sesekali ngobrol dengan lelaki itu ya," tekan Erland yang membuat Airin menatap tak percaya.
"Kamu kenapa sih Mas, sensi banget kayaknya hari ini. Kamu cemburu sama Ridho?" tanya Airin yang mendapat tatapan malas oleh Pria dewasa itu.
"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya," jawabnya sembari memeluk dengan erat.
Airin hanya terkekeh kecil menanggapi ucapan suaminya. Ia begitu gemas melihatnya cemburu.
"Jangan cemburu Mas, dia itu teman aku. Kami tidak pernah ada hubungan apa-apa," jelas Airin sembari mengecup puncak kepala suaminya.
Erland tak menyahut, ia masih fokus mengusak wajahnya di dada istrinya. Tangannya jahilnya mulai aktif sehingga membuat Airin terpekik kecil.
__ADS_1
"Mas!" ucap Airin menyorot tajam.
"Hehe... Sorry, Dek, kebablasan," ucapnya tersenyum gaje.
"Mas, udah, nanti kamu khilaf." Airin mengehentikan tangan Pria itu yang masih merusuh di tubuh sensitifnya.
"Kangen, Dek..." Pria itu merengek manja pada istrinya.
"Harus sabar, Sayang," jawab Airin mengusap wajah suaminya dengan lembut.
"Tapi masih bisa dengan cara lain, Dek," ucap Erland sembari membisikkan sesuatu di telinga Airin.
"Tapi, Mas?" tanya Airin tampak ragu.
"Kenapa, kamu tidak mau? Yaudah, sekarang kita istirahat saja ya," Erland tak ingin memaksakan kehendaknya bila wanitanya tidak nyaman.
Airin yang merasa tidak tega, ditambah besok mereka harus berpisah dalam waktu yang cukup lama. Maka ia mengikuti kemauan suaminya untuk menuntaskan hasratnya yang sudah menumpuk.
"Baiklah, ayo aku bantu kamu," ucap Airin yang mendapat senyum sumringah.
"Kamu serius, Sayang?" tanya Erland dengan senyum bahagia. Ia segera membuka celana jeans-nya.
"Eh eh, itu pintunya di kunci dulu, kamu mau ngegantung lagi saat Zherin masuk?" intrupsi Airin yang melihat suaminya begitu semangat.
"Hehe... Baiklah, Sayang." Erland menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia segera mengunci pintu kamar. Setelah itu ia baru menyelesaikan membuka pakaian bagian bawahnya.
Airin hanya tersenyum menunggu diatas ranjang. Dengan hati ikhlas wanita itu membantu suaminya menuntaskan hasratnya. Erland begitu menikmati segala sentuhan yang diberikan oleh istrinya. Hingga sesuatu yang sedari tadi ia tahan keluar juga.
Erland tergolek lemas di samping istrinya dengan senyum puas. "Terimakasih sayangku," ucapnya sembari memberi kecupan hangat di keningnya.
Airin hanya mengangguk tersenyum senang melihat wajah lega suaminya. Ia segera beranjak untuk ke kamar mandi.
"Eh, mau kemana, Sayang?" tanya Erland melihat istrinya ingin keluar kamar.
"Mau kekamar mandi, Mas, nggak nyaman banget, pengen kumur-kumur," jawabnya mendapat senyuman oleh suaminya.
"Barengan ya Dek, mana tahu kamu kembali khilaf," ucap Erland sembari mengenakan pakaiannya bersiap ingin mandi.
"Nggak usah ngarep lagi deh, Mas," ucap Airin menatap malas. Kesal juga pria ngelunjak.
Erland hanya terkekeh sembari mengikuti langkah istrinya. menuju kamar mandi.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰