Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Menemui Airin


__ADS_3

Setibanya di kantor polisi, Erland segera meminta penjelasan pada anggotanya yang datang mengamankan segala barang bukti, dan yang menahan Airin.


Erland segera memeriksa berkas perkara yang sudah ada diatas mejanya. Pria itu mengamati dengan seksama apa sebenarnya perkaranya.


"Dari pengakuan tersangka, bahwa sikorban datang ke kamarnya dengan alih-alih meminta untuk membuatkan kopi. Namun saat tersangka ingin keluar dari kamar, korban segera mendorong tersangka kembali masuk kedalam kamar, lalu mengunci pintu. Dan didalam kamar itu ada putri komandan, yaitu Nona Zherin. Saat korban ingin melakukan pemerkosaan, tersangka segera meraih pis au yang ada di piring buah. Tersangka segera menghujamkan benda tajam itu sebanyak dua kali pada perut korban."


Polisi itu menerangkan kronologi kejadian itu pada Erland. Erland terdiam mendengar sembari mengamati berkas perkara itu. Tentu saja ia menyayangkan sekali perilaku sang supir yang tidak senonoh itu.


"Sekarang dimana Airin?" tanya Erland pada anggotanya itu.


"Ada di tahanan, Komandan," jawab polisi itu.


"Bawa dia ke ruang interogasi sekarang, saya ingin bertemu," titahnya segera beranjak ingin menuju ruang pemeriksaan.


"Siap komandan," dengan hormat polisi itu melaksanakan perintah atasannya.


Sementara itu Airin yang sedang duduk merenung, ia dikejutkan dengan suara petugas yang memintanya untuk masuk keruang pemeriksaan. Ini sudah kali ketiga ia di periksa oleh penyidik. Gadis desa yang selama ini tampak kalem dan sangat polos, kini sudah tampak tegar menjalani proses hukum yang harus ia jalani.


"Mari Bu Airin, atasan kami ingin memeriksa anda," ucap petugas itu.


Airin hanya mengangguk patuh tanpa bantahan. Tak mengapa ia harus menjalani hukuman asalkan ia mampu melindungi marwahnya sebagai seorang wanita.


Airin melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu. Sesaat ia menatap petugas yang sedang duduk di kursi panas itu. Tentu saja membuatnya terkejut.


"Pak Erland!" serunya dengan langkah kaki terhenti.


"Duduklah!" titah Pria itu, lalu menyuruh rekannya untuk keluar.


Airin segera duduk berhadapan dengan pria yang tak lain adalah majikannya sendiri. Ia tak berani menatap wajah tampan polisi itu, dalam pikirannya tentu saja Erland akan merah padanya.


"Apa yang terjadi, Airin?" tanya Erland dengan nada tenang. Ia berusaha agar tak membuat gadis itu ketakutan.

__ADS_1


"Pak Rusdy berusaha untuk menodai saya, Pak," jawab Airin dengan lirih.


"Apakah kamu yakin dia melakukan hal itu dalam keadaan sadar?"


"Saya yakin, Pak. Karena sebelum itu dia datang ke kamar saya, dan dia meminta saya untuk membuatkan kopi," jelasnya.


"Kenapa kamu tidak menyuruhnya untuk minta tolong pada Bibik, kan itu bukan pekerjaan kamu?" tanya Erland mencoba menggali kembali informasi dari gadis itu.


"Saya sebenarnya sangat sungkan menolak, Pak. Karena saya juga seorang pekerja dirumah itu."


"Disanalah letak kesalahanmu, Airin. Seharusnya kamu tidak melakukan hal yang bukan pekerjaanmu. Kamu kan tahu, bahwa pekerjaanmu itu adalah mengurusi Zherin," ujar Erland memberi tahu dimana letak kesalahan gadis itu.


"Jika disana letak kesalahan saya, maka saya terima apapun hukuman untuk saya, Pak. Namun seharusnya saat saya pertama bekerja di rumah, seharusnya Bapak sebagai majikan sudah mewanti-wanti saya untuk tak melakukan apa yang bukan tugas saya," jelas Airin, kata-katanya sedikit menyikut Erland sebagai sang majikan yang tak memperingati sebelumnya.


"Kamu menyalahkan saya?" tanya Erland merasa tak terima mendengar sanggahan Pengasuh putrinya itu.


"Saya tidak menyalahkan Bapak, tapi setiap orang mempunyai hak untuk bicara dan membela dirinya bila dia merasa benar," jawab Airin dengan raut wajah tenang.


Erland menghela nafas dalam. Ia tak menyangka ternyata gadis polos ini begitu berani saat membela haknya. Erland hanya diam sembari menatap Airin dengan lekat.


Dengan perlahan Airin mengangkat wajahnya sehingga tatapan mereka bertemu. Erland mengamati dengan wajah datar.


"Sekarang kembalilah ke tahanan, besok kasus kamu akan saya urus. Pandailah berbaur dengan tahanan lainnya, jangan mudah tersulut emosi, dan jangan pula terlalu takut," pesan Erland sebelum Airin digiring masuk kembali kedalam tahanan.


"Baik, Pak." Airin mengangguk patuh. Sementara itu Erland segera keluar untuk memberitahu pada anggotanya untuk membawa Airin kembali ketahanan.


"Bawa gadis itu kembali ke tahanan, dan berikan dia tahanan terpisah dari yang lainnya," titah Erland yang mendapat anggukan patuh oleh polisi itu.


Entah kenapa ia tak tega untuk menyatukan Airin dengan tahanan yang lain, karena dia adalah pengasuh putrinya yang selama ini sudah bekerja dengan baik. Sebenarnya Erland sama sekali tak menyalahkan Airin yang jatuhnya adalah melindungi kehormatannya sendiri dari kejahatan sang supir.


Erland berharap sang supir segera sadar, maka ia sudah bisa pastikan untuk membebaskan Airin, tapi jika terjadi sesuatu pada supir itu, dan sudah pasti Airin akan mendapatkan hukuman dengan pasal pembunuhan.

__ADS_1


Erland kembali berembuk dengan petugas yang lainnya tentang kasus yang sedang menimpa para pekerja di kediamannya. Setelah selesai dari kantor polisi, Erland segera menyambangi RS dimana Pak Rusdy sedang ditangani.


"Bagaimana dengan keadaan pasien, Dok?" tanyanya pada Dokter yang menangani.


"Pasien sudah melewati masa kritis, namun belum sadar. Pasien mengalami luka robek yang cukup dalam sehingga mengenai organ vital, yaitu kami harus memotong usus halus dua cm." Dokter memberi penjelasan tentang kondisi pasien saat ini.


"Baiklah, jika pasien sudah sadar tolong hubungi saya."


"Baik, Pak."


Karena belum mendapatkan laporan dari Pria itu, Erland kembali pulang. Sepertinya ia perlu istirahat untuk menenangkan pikirannya. Dengan kejadian ini membuatnya melupakan perasaannya mengenai Intan.


Erland pulang dengan raut wajah lelah. Ia segera menuju kamar putrinya.


"Daddy!" panggil Zherin yang sudah terbangun dari tidurnya.


"Hai, kamu kenapa bangun?" tanyanya sembari membawa gadis kecil itu masuk kedalam pelukannya.


"Daddy, Mbak Airin mana?" tanya Zherin pada sang Daddy.


"Mbak Airin masih di tahan, Sayang, karena besok baru kasusnya Daddy tangani."


"Daddy, tolong bebaskan Mbak, karena Mbak tidak salah. Pak Rusdy yang salah, dia nyakitin Mbak." Adu bocah itu pada ayahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Sayang, Daddy tahu. Kamu tenang ya, semoga besok Mbak bisa bebas." Pria itu berusaha untuk menenangkan putrinya.


Zherin hanya mengangguk sembari menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan sang Daddy.


Erland menimang putrinya dengan penuh kasih sayang sehingga gadis kecil itu kembali terlelap dalam pelukannya. Dengan perlahan ia memindahkan diatas ranjang, lalu menyelimuti dengan nyaman.


Erland menatap wajah damai gadis kecil itu saat terlelap, dengan pelan meninggalkan jejak sayang diwajahnya, lalu beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan istirahat.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2