
Erland melepaskan pelukan Nindi. Ia tak ingin membuat wanita itu menjadi salah pengertian. Sekarang dirinya memang hanya hanya akan fokus pada Airin dan Zherin saja. Nindi cukup menjadi masalalu.
Erland hendak keluar dari ruangan itu, namun, Nindi tak membiarkannya. Wanita yang di Vonis depresi oleh dokter itu menahan langkah Erland.
"Kamu tidak boleh keluar Mas, kamu tidak boleh lagi pergi meninggalkan aku. Jika kamu pergi, maka aku akan bunuh diri saat ini juga. Aku lebih baik mati daripada harus kehilangan kamu!" Ancamannya tak main-main.
"Apa yang kamu katakan Nindi? Sadarlah! Aku tidak bisa memenuhi keinginan kamu!" tekan Erland dengan tegas.
Nindi tak peduli, ia segera mencabut jarum infus yang sedang tertanam dalam nadinya sehingga darah segar mengalir di tangannya.
"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan. Dokter! Dok, tolong!" seru Erland pada Dokter yang bertugas.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Dokter jaga menghampiri mereka.
"Jangan mendekat! Aku akan menancapkan jarum ini di bagian tubuhku yang lain!" intrupsi Nindi sembari mengarahkan jarum infus yang baru saja ia cabut dari pergelangan tangannya.
"Nindi, apa yang kamu lakukan Nak? tenanglah Sayang," ucap Maminya yang ikut masuk kedalam ruang rawat anaknya.
"Diam! Diam!" pekik wanita itu dengan amarah menyala.
Dokter dan petugas RS yang lainnya berusaha membujuk, namun wanita itu tak menghiraukan.
"Aku tidak ingin hidup lagi. Aku hanya ingin menjadi istri kamu, Mas. Aku hanya ingin dirimu!" jeritnya dengan uraian air mata.
"Erland, Mama mohon tolong bujuk Nindi sebentar saja," pinta wanita baya itu memohon.
Erland menjadi bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi ancaman wanita itu tak main-main. Ia menatap wajah Zherin yang masih menangis dalam gendongan Omanya.
Erland terpaksa harus memenangkan Nindi. Ia berharap Airin akan memahami kondisi Nindi saat ini.
Sementara itu Airin dan kedua adik iparnya baru saja keluar dari bioskop. Sedari tadi wanita itu tampak gelisah menunggu kabar dari suaminya. Sangat berharap Erland menghubunginya.
Airin masih berpikir positif, mungkin saja suaminya sudah pulang terlebih dahulu. Ia ingin segera pulang, tak berminat lagi untuk belanja apapun.
"Kak Airin benaran tidak mau belanja?" tanya Intan memastikan sekali lagi.
"Tidak, aku ingin pulang saja. Soalnya sudah ngantuk banget," jawab Airin beralasan.
"Oh baiklah, ayo kita pulang sekarang." Intan dan Reza sudah mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Airin.
Di perjalanan pulang Airin banyak diam. Hatinya benar-benar gelisah. Entah kenapa ia begitu takut bila Erland akan kembali luluh di pangkuan mantan istrinya. Ah rasanya sakit sekali harus bersaing dengan mantannya.
Apalagi diantara mereka sudah ada anak. Dan ia juga tahu bahwa Nindi adalah cinta pertama Pria itu. Setibanya dirumah Airin segera menuju kamarnya untuk melihat apakah Erland sudah pulang?
Saat melihat kamar itu tak berpenghuni, hatinya terasa perih. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kemana suaminya? Kenapa dia tak mengabari.
Airin ingin menghubungi, namun ia takut mengganggu. Ia memilih segera tidur saja untuk menghilangkan segala kegundahan hatinya.
__ADS_1
Airin mencoba untuk memejamkan mata, namun tetap saja tak bisa. Entah berapa kali ia mencari posisi yang nyaman agar matanya cepat Lena.
Sedang apakah suaminya saat ini? Apakah dia sudah melupakan dirinya? Airin benar-benar tak bisa menemui mimpinya. Sungguh ini sangat menyiksa batinnya.
Tak terasa waktu berjalan, kini waktu sudah menunjukan pukul empat pagi, wanita itu sama sekali tak menemui kantuknya. Dan bahkan tak ada notif apapun yang ia terima dari Erland.
Airin mencoba untuk bersikap biasa saja di depan Intan dan Reza. Ia tak ingin memperlihatkan kesedihan hatinya pada orang lain.
"Abang tidak pulang, Kak?" tanya Intan di sela sarapan mereka.
"Belum," jawab Intan menjawab singkat. Hatinya terasa perih bila mengingat lelaki itu.
Saat mereka sedang sarapan, terdengar suara salam dari lelaki yang baru saja mereka bahas. Mereka menjawab secara bersamaan.
"Baru pulang Abang?" tanya Intan mewakili pertanyaan yang sama dari Airin.
"Iya, semalam Nindi tidak bisa tenang. Depresinya kumat. Dan dia ingin mencelakai diri sendiri," jelas Erland, ia ingin semua orang memahami.
Airin tak menanggapi apapun. Ia masih makan dengan tenang. Sebenarnya tidak masalah bila Pria itu tidak pulang. Tapi, ia mengharapkan kabar darinya. Apa susahnya memberi kabar.
"Ayo sekalian sarapan, Bang," ajak Reza.
"Tidak, nanti saja. Aku mau mandi dulu," jawab Erland segera menuju kamarnya.
Selesai sarapan, Intan dan Reza sudah bersiap untuk balik ke kota kediaman mereka. Pasangan itu ingin memberikan waktu luang untuk mereka menyelesaikan kesalahpahaman.
"Kalian benaran ingin pulang sekarang?" tanya Airin pada Intan.
"Baiklah, tapi besok-besok main lagi ya."
"Oke, siap! Tapi kalau aku belum melahirkan ya Kak. Kalau aku sudah brojol, kamu dan Bang Erland yang harus datang kesana," timpal Intan.
"Baiklah, yang penting kabari ya."
"Oke, kalau begitu kami berangkat dulu ya."
Erland keluar dari kamar ikut melepaskan kepergian adiknya. "Kalian udah mau pergi?" tanya Erland mengiringi langkah mereka keluar.
"Iya Bang, Masih banyak tugas yang harus kami selesaikan," jawab Reza.
"Yasudah, kalau begitu kalian hati-hati ya."
"Oke, kalau begitu kami jalan sekarang ya."
Pasangan Dokter itu segera masuk kedalam kendaraan mereka. Dan segera meninggalkan kediaman polisi itu.
Kini tinggal Airin dan Erland yang masih berdiri di sana. Sebenarnya wanita itu ingin menanyakan dimana keberadaan Zherin, kenapa dia pulang tak membawanya.
__ADS_1
"Dek," ucap Erland yang segera di tinggalkan oleh Airin.
"Dek, tunggu dulu!" Erland meraih tangannya.
"Apa, Mas? Kamu mau beralasan apa?" Tanya Airin menatap tajam.
"Ya, kamu harus mendengarkan penjelasan aku."
"Bukankah tadi kamu sudah menjelaskan?"
"Iya, seharusnya kamu bisa memahami."
"Aku tidak mempermasalahkan bila kamu tidak pulang. Tapi yang aku harapkan adalah kabar darimu. Apakah sesulit itu memberiku kabar?" tanya Airin dengan kesal.
"Bukan, tapi aku benar-benar lupa. Karena kondisi Nindi sangat memprihatinkan," sanggah Erland tak ingin disalahkan.
"Benarkah? Kalau begitu sekarang kamu urus saja mantanmu itu. Biarkan aku pulang kerumah orangtuaku!" tekan Airin segera masuk kedalam kamar untuk mengemas pakaiannya.
"Ay ay, kamu tidak bisa melakukan hal itu. Kamu hanya salah paham." Erland meraih tangan Airin.
"Lepas, Mas! Aku tidak akan mengganggu dirimu. Kamu akan bebas, bahkan jika kamu ingin kembali dengannya silahkan!" sentak Airin.
Airin masih berkemas. Tak perlu waktu lama ia telah menyeret koper bawaannya. Hatinya terlanjur sakit dengan sikap Erland yang tak jua kunjung memahami.
"Ay, kamu tidak boleh pergi! Tolong hargai aku sebagai seorang suami!" bentak Erland yang membuat Airin terjingkat tak percaya. Seketika air mata wanita itu jatuh berderai.
Erland meraih koper di tangan Airin dan segera membawanya masuk kedalam kamar. Airin membiarkan saja. Ia tetap ingin pergi dari rumah. Namun, Erland segera menggendongnya.
"Mas, lepas! Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu! aku benci kamu!" pekiknya sembari memukuli tubuh lelaki itu.
Erland tak menghiraukan pemberontakan istrinya. Ia membawa masuk Airin kedalam kamar, lalu menguncinya. Wanita itu menjerit kesal menggedor pintu kamar itu.
"Mas, buka pintunya! Buka!" jeritnya dari kamar.
"Aku tidak akan membukakan sebelum kamu mendengarkan penjelasan aku!" Jawab Erland di depan pintu.
Hati lelaki itu semakin kacau. Rasanya ia juga ingin gila menyikapi perangai istri dan mantan istrinya. Sungguh ia berada di dalam dilema.
Erland mengusap wajahnya dengan kasar. Ia bingung harus berbuat apa sekarang. Kenapa tidak ada yang bisa mengerti dirinya. Apakah dia salah bila membantu menyelamatkan nyawa seseorang, apalagi wanita itu adalah ibu dari anaknya.
Erland terduduk di sofa dengan pikiran kacau. Suara tangisan istrinya membuat hatinya tak tega, kenapa hidupnya tak jua menemukan kebahagiaan? apa yang salah? dosa apa yang pernah ia lakukan? Erland berjalan menuju kamar Airin, lalu membuka pintu kamar itu.
Airin berdiri di depan pintu dengan tangisan belum reda. Erland bingung harus berbuat apa. Ia segera meraih tubuh wanita itu untuk masuk kedalam pelukannya.
"Lepas! jangan sentuh aku!" tolak Airin menolakkan tubuh Erland untuk menjauh.
"Dek, aku mohon, tolong sedikit saja mengerti dengan posisiku sekarang," lirih Erland merasa putus asa.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰