
Kini pasangan itu sudah tiba di kota asal. Mereka tak langsung pulang, melainkan mampir kekediaman orangtua Reza. Karena Mama sudah kangen sama anak dan menantunya.
"Kok pagi banget nyampenya?" tanya Mama menggiring pasangan itu ke ruang keluarga.
"Iya, Ma, Bang Reza ambil penerbangan pagi," jawab Intan.
"Bagaimana bulan madu kalian, Apakah menyenangkan? Kenapa kalian tidak ambil cuti saja, kan kalian bisa mempunyai banyak waktu untuk berdua," ucap Mama.
"Iya, nanti kami cari jadwal yang pas dulu, Ma, soalnya sulit untuk mensinkronnya. Kami mempunyai kesibukan masing-masing yang sulit untuk diabaikan," jawab Reza meminta pengertian sang Mama.
"Emang Mama kenapa sih pengen banget kami punya banyak waktu untuk honeymoon, Mama sudah nggak sabar pengen punya cucu ya?" ledek Reza pada Mamanya.
"Nah, itu kamu tahu. Makanya kalian harus punya banyak waktu biar Mama segera punya cucu," timpal Mama dengan senyuman.
"Tenang aja, Ma, walaupun kita sama-sama sibuk, tapi kita akan berusaha memenuhi keinginan Mama untuk menjadi seorang Nenek," balas Reza sembari menaikkan sebelah alisnya pada sang istri.
Intan hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapan suaminya. Apa yang dikatakan Pria itu memang benar, ya kali suaminya itu membiarkan dirinya tidur dengan nyaman sebelum meminta jatah darinya.
Intan dan Reza sedang menikmati menjadi pengantin baru dan berusaha untuk segera menjadi calon ayah dan ibu.
***
Pagi ini seperti janjinya dua hari yang lalu, Erland benar-benar ingin mendatangi kampung halaman Airin untuk bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Airin, ayo bersiap! Kita akan ke kampung halaman kamu," seru Erland di tengah pagi buta. Ia sengaja mengambil cuti dua hari untuk menemui calon mertuanya.
Airin kembali dilanda gelisah mendengar ucapan Erland yang ternyata serius dengan ucapannya. Hatinya merasa entah saat pria itu mendadak ngajak nikah.
"Airin, apakah kamu dengar ucapan aku?" teriaknya kembali di depan pintu kamarnya.
Airin membuka pintu kamarnya dan tatapan mereka bertemu. "Kenapa Bapak semudah itu mengambil keputusan, bahkan Bapak tak memikirkan perasaan saya," ucap gadis itu masih tak terima dengan keputusan Erland kesannya sesuka hati saja.
"Jangan pikirkan perasaan, karena cinta itu bisa tumbuh dengan seiring waktu!" jawabnya sangat enteng.
"Bagaimana jika Bapak tidak bisa mencintai saya? Apa yang akan Bapak perbuat dengan pernikahan ini?" tanya Airin membalikkan fakta.
"Aku akan tetap berusaha membahagiakan kamu, dan yang jelas kamu tidak akan ku sia-siakan!" jawabnya benar-benar membuat Airin sakit kepala. Kenapa dia semudah itu menanggapi, dan apakah kata-katanya bisa dipercaya?
Ah, entahlah. Airin tak lagi menyahut. Ia segera bersiap dan Erland mendadak bersemangat untuk membantu menyiapkan putrinya.
"Mau kemana kamu?" tanya Erland saat Airin ingin menuju kamar Zherin.
"Mau menyiapkan Zherin," jawabnya singkat.
"Biarkan aku yang membantunya. Sekarang kamu pergilah bersiap," titahnya yang membuat Airin menatap tak percaya. Tumben sekali pakpol kerajinan ingin mengurus putrinya.
__ADS_1
"Baiklah." Airin kembali masuk kedalam kamarnya.
Setelah rapi dan wangi, Airin keluar dengan gugup, entah kenapa perasaannya tak karuan saat mengingat Pria itu ingin melamarnya.
"Wah, Buk Airin sudah rapi dan cantik," celetuk Bibik dengan panggilan yang sudah berbeda.
"Eh, Bibik apaan panggil saya Ibuk, emangnya saya Ibuk-ibuk?" protes gadis itu tak nyaman dengan panggilan Bibik tak seperti biasanya.
"Iya, kan sebentar lagi mau jadi Ibuk-ibuk Bayangkari," jawab Bibik membuat Airin melongo.
"Eh, Bibik apaan sih. Emang Bibik dapat cerita darimana?" tanya Airin penasaran.
"Ya dari Pak Erland sendiri, dan Bapak minta Bibik maupun pekerja yang lainya harus panggil Ibuk Airin. Hehe..."
Gadis itu benar-benar tak percaya dengan keseriusan duda anak satu itu. Apakah dia benar-benar tulus dengan segala niatnya? Ah, semoga keputusan ini adalah yang terbaik.
Airin mengucapkan bismillah untuk menerima keputusan Erland yang ingin berniat meminang dirinya kepada kedua orangtuanya.
Zherin keluar dari kamarnya sudah rapi dan cantik di dandani oleh sang Daddy. Terlihat gadis kecil itu sangat ceria.
"Mama, aku cantik nggak?" tanya Zherin dengan panggilan yang sudah berubah pula.
"Ah, Zhe, kenapa panggil Mama?" tanya Airin benar-benar bingung saat seisi rumah telah mempunyai panggilan baru untuknya.
"Iya, kan sebentar lagi Mbak dan Daddy akan menikah, jadi kata Daddy aku harus panggil Mama," celetuk bocah itu dengan mata berbinar.
"Apakah kamu sudah siap, Ay?" ucapnya yang membuat wajah Airi bersemu.
"Nggak usah malu begitu, itu hanya panggilan singkatan dari nama kamu," ucapnya kembali menjatuhkan gadis itu setelah di lambungkan dengan tinggi. Ah dasar duda meresahkan.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajaknya mendahului anak dan calon istrinya.
"Bik, kami berangkat dulu ya. Do'akan semoga acara lamaran saya di terima oleh calon mertua saya," ucap Erland berpamitan pada sang Bibik.
"Aamiin... Bibik Do'akan semoga diberi kelancaran. Buk, ayo semangat, sebentar lagi akan menjadi istri Pak Erland," goda Bibik yang membuat Airin tersenyum malu.
Pasangan itu menuju kampung halaman Airin yang memakan waktu dua jam untuk sampai kekediaman gadis desa itu. Erland mengendarai mobilnya dengan santai, karena ia sudah berniat untuk menginap semalam di kediaman gadis itu.
"Kamu berapa saudara?" tanya Erland yang baru ingin mengetahui tentang keluarga calon istrinya.
"Dua," jawab Airin singkat.
"Ayah dan ibu apa usahanya di kampung?" tanyanya kembali.
"Sawah dan kebun karet."
__ADS_1
"Apakah kamu anak pertama?"
"Ya."
"Irit banget bicaranya. Sengaja ya biar nanti saat acara nikahan bisa nyumbang lagu," seloroh Pria itu.
Airin hanya menatap malas. Apakah dia tidak tahu hatinya masih kesal karena pria itu suka sekali memberi kejutan-kejutan secara mendadak.
Tak terasa waktu berjalan, kini kendaraan roda empat itu sudah hampir sampai di kampung halaman Airin. Namun Erland mampir terlebih dahulu di pusat oleh-oleh membeli buah tangan untuk camer.
"Ay, ayo bangun. Ayo kita beli oleh-oleh untuk kedua orangtuamu. Pilihlah, aku tidak tahu kesukaan mereka," ucap Erland membangunkan calon istrinya.
"Tapi Zherin, Pak?" tanya Airin melihat gadis kecil itu sedang tertidur pulas di kabin belakang.
"Tak apa, tinggal sebentar saja."
Airin hanya mengangguk patuh dan segera keluar dari mobil dan masuk kedalam toko oleh-oleh. Pria itu hanya mengekori kemana langkahnya sembari pilih-pilih yang rasanya enak di seleranya.
Airin mengambil beberapa pak makanan yang biasanya disukai ayah dan ibunya. Tak ingin ngelunjak mentang-mentang di bayarin oleh lelaki itu.
"Cuma segini?" tanya Erland melihat terlalu sedikit.
"Iya, ini sudah cukup, Pak. Lagian dirumah hanya tiga orang," jawabnya dengan jujur.
"Ya, kan ditambah kita bertiga, jadinya enam. Udah kamu ambil lagi. Sekalian dengan minuman kaleng dan jus kotak itu. Dek, tolong dibantu ambilkan ya," titah Erland pada pegawai toko.
Airin hanya bisa bengong, apakah ini bentuk sogokan untuk calon mertua? Ah, rasanya tidak mungkin karena yang sebenarnya pria itu memang baik dan royal.
Setelah cukup dan di kemas dalam beberapa kantong yang ada merek toko oleh-oleh itu sendiri. Cukup banyak sehingga Erland meminta tolong pada pegawai laki-laki itu untuk memasukkan kedalam bagasi mobil.
Kini mereka kembali meneruskan perjalanan yang kira-kira tiga puluh menit lagi sampai dikediaman orangtua Airin. Airin melihat Zhe masih tertidur pulas.
Tak berselang lama mobil mewah itu telah terparkir di depan rumah sederhana yang terletak di perkampungan. Dan letak rumah itu berada di pinggir danau, yaitu danau Singkarak.
"Jadi kamu tinggal disini? Kamu asli orang danau Singkarak?" tanya Erland baru tahu. Karena selama ini ia sama sekali tak berminat menanyakan di mana kampung gadis itu.
Airin hanya mengangguk singkat. Ia segera membangunkan Zherin yang masih saja tertidur pulas.
"Assalamualaikum....," seru mereka berbarengan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam..... Eh, Kak Airin!" ucap adiknya menyalami Kakak dan pria yang ada disampingnya.
"Ibu dan ayah mana, Ami?" tanyanya pada sang adik.
"Ibu dan ayah di sawah, Kak. Lagi panen padi. Kok Kakak pulang nggak kasih kabar? Ayo silahkan duduk Bang," ucap Ami yang belum tahu siapa Pria yang bersama kakaknya.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰