
Jika Intan sedang mencoba membuka hati, lain halnya dengan Erland yang masih saja melamun sendiri di kamar rawat inapnya. Rasanya sangat bosan sendiri, jikapun ada rekan-rekannya yang datang membesuk, namun tak ada yang lama, karena mereka di tuntut oleh tugas masing-masing.
Erland sengaja tak menghubungi Nindi, seharusnya wanita itu berpikir sendiri, karena sejak tadi ia pamit untuk istirahat, namun sampai saat ini belum juga nongol untuk menemani sang suami. Sungguh Pria itu tak habis pikir dengan sikap istrinya.
Erland mencoba untuk menekan rasa sabar dalam hati. Tak ada yang harus di sesali sebab semua ini adalah pilihan hatinya sendiri. Meskipun rasanya ingin menyerah,namun ia masih berharap suatu saat nanti Nindi bisa berubah.
Di tengah kegalauannya, pintu kamar itu terbuka. Erland melihat Nindi dan Zherin datang menghampirinya, tentu saja hatinya sangat bahagia.
"Daddy..." seru gadis kecil itu segera merangkak naik keatas tempat tidur sang Daddy.
"Hei, kamu cantik sekali. Darimana, Sayang?" tanya Erland sembari memberi kecupan di wajah putri kecilnya.
"Aku dan Mommy dari mall," jawabnya jujur sekali. Erland menatap Nindi sesaat. Tak habis pikir, dirinya yang sedang sakit sangat membutuhkan perhatian, namun istrinya lebih memilih shopping.
"Bagaimana keadaan kamu, Mas? Oya, aku mau kasih tahu kalau besok pagi harus berangkat ke luar negeri, karena ada job disana. Sekalian aku ingin bertemu Mama dan Papa, mungkin aku agak lama," ujar wanita itu yang membuat hati Erland kembali dilanda kekecewaan.
"Terserah kamu saja," jawab Erland dingin.
Nindi tak ambil pusing dengan jawaban Erland yang kesannya pasrah tapi tak rela. Wanita itu memang terlalu mementingkan karirnya sehingga tak lagi memikirkan perasaan suami dan anaknya.
"Dadd, Tante dokter cantiknya mana?" tanya Zherin pada sang Daddy.
"Lagi nggak masuk, Sayang, kan ini hari libur," jawab Erland sembari mengecup puncak kepala gadis kecil itu. Hanya Zherinlah yang bisa sedikit mengobati kekecewaan yang selama ini ia rasakan.
Erland dan Zherin masih berbincang-bincang. Erland menghibur diri dengan membawa sang putri ngobrol meskipun sedikit tidak menyambung, namun bisa membuatnya sedikit terhibur.
Nindi membiarkan saja anak dan ayah itu, ia juga tak kalah sibuk berselancar di dunia maya. Sebagai seorang model dan selebgram, tentu saja dibanjiri oleh followers. Wanita tampak asyik sendiri seakan melupakan orang terdekat yang sangat membutuhkan waktu singkatnya.
Terkadang wanita itu tertawa dan bergumam sendiri saat membaca bermacam ragam komentar para netizen. Erland memperhatikan dengan gelengan kepala.
"Daddy, kenapa sekarang Mommy semakin cuek?" bisik Zherin pada ayahnya.
"Nggak kok, Sayang, kan tadi kamu dibawa jalan-jalan sama Mommy," jawab Erland mencoba untuk terus memperlihatkan sisi baik sang istri dihadapan anak mereka.
__ADS_1
"No, Daddy, tadi Mommy suruh Mbak yang temani aku di mall. Setelah itu Mommy pergi katanya sebentar, tau-taunya lama," adu bocah kecil itu pada sang Daddy.
Seketika Erland terdiam mendengar penjelasan Zherin. "Pergi? Kemana dia? Bukankah disini Nindi tidak punya saudara?" Batin Pria itu bertanya-tanya sendiri.
Disebuah pusat kuliner yang ada dikota bertuah itu. Sepasang kekasih sedang menikmati bermacam ragam makanan yang bercirikan khas Melayu.
"Dek, udah pernah cobain Dodol kedondong, belum?" tanya Erland yang membuat Intan sedikit tertarik dengan nama jajanan khas Riau itu.
"Belum, emang gimana rasanya, Bang?" tanya Intan pemasaran.
"Ya, teksturnya hampir sama dengan dodol pada umumnya, Dek, tapi rasanya yang unik, yaitu mengikuti rasa buahnya," jelas Reza.
"Asem gitu?"
"Nano-nano, Dek, manis, legit, asem. Tapi mantep kok, seger."
"Mau dong, Bang, jujur udah hampir satu tahun ada di kota ini, tapi baru tahu dari Abang bahwa ada yang namanya dodol kedondong, biasanya buah itu dibuat manisan dan asinan," celoteh gadis itu.
"Yaudah, nanti kita mampir di pusat oleh-oleh ya, biar kamu tahu bagaimana rasanya yang nano-nano itu, sama dengan perasaanku yang sering nano-nano, karena jatuh bangun mencintaimu," seru Reza menggoda wanita itu.
Setelah berkuliner ria, tanpa terasa waktu sudah cukup larut. Intan yang tadi tidak mood, namun tanpa ia sadari telah larut menikmati suasana malam minggu bersama sang kekasih.
"Masih ingin cobain yang lain?" tawar Reza pada wanita kesayangannya itu.
"Udah, Bang, kenyang banget tahu..."
"Masih ingin duduk disini?" tanyanya pada sang kekasih.
"Nggak, kita pulang sekarang ya. Oya, aku beliin untuk Bibik dulu," jawab Intan sembari beranjak memesan untuk dibungkus.
Reza segera meninggalkan pusat kuliner, dan tak lupa mampir di sebuah toko oleh-oleh untuk membeli makanan unik yang tadi ia ceritakan pada kekasihnya. Setelah mobil terparkir dengan baik, Reza ingin turun.
"Adek, mau ikut? Bisa sekalian lihat-lihat bermacam jenis kue kering yang lainnya untuk cemilan dirumah," tawar lelaki itu.
__ADS_1
"Tidak usah, Bang, lain kali saja. Aku cuma pemasaran dengan dodol kedondong itu."
"Baiklah, tunggu sebentar ya." Reza segera turun untuk membelikan keinginan Intan. Dari dalam mobil Intan menatap tubuh tegap itu yang tampak begitu semangat untuk memenuhi keinginannya.
Sungguh ia tak tega bila harus membuatnya kecewa. Intan kembali berdo'a agar hatinya tak salah mengambil keputusan untuk memilih lelaki itu kelak menjadi imamnya.
"Ada?" tanya Intan sudah tak sabar.
"Ada dong, buat kamu apa sih yang nggak ada. Kamu tahu nggak, Abang tuh merasa sedang memenuhi keinginan istri yang sedang ngidam."
"Uhhuk! Uhuk!" Intan tersedak air liurnya sendiri saat mendengar ucapan random lelaki itu.
"Kenapa, Dek? Baru ngomong gitu aja udah tersedak. Bagaimana jika benaran. Tapi jujur, Abang sangat berharap hal itu bisa terjadi," ucapnya sembari menatap dengan penuh harap.
"Ayo kita pulang sekarang, Bang." Gadis itu sepertinya belum ingin membahas hingga sejauh itu.
"Baiklah." Reza tahu bahwa hati gadis itu belum siap sampai sejauh itu. Namun dalam hatinya tetap berdo'a, berharap harapan itu bisa menjadi nyata, yaitu membina rumah tangga bahagia dengan wanita yang sangat ia cintai dan memiliki buah cinta yang lucu.
Reza kembali menjalankan kendaraan roda empat itu. Intan tampak diam sedari tadi. Apakah ucapannya tadi telah membuatnya tak nyaman?
Mobil telah menepi dihalaman rumah, Intan segera hendak keluar, namun ucapan Reza menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu mobil.
"Dek, Abang minta maaf ya, ucapan Abang yang tadi jangan diambil hati. Abang tahu seharusnya tak perlu mengatakan hal itu, maafkanlah diriku yang jadi ngelunjak ini," ucap Pria itu sembari mengukir senyum manis.
"Iya, tidak apa-apa, Bang. Aku yang minta maaf bila sikapku sudah membuat Abang kecewa," balas Intan.
Reza menggenggam tangan Intan, sedikit membawa tubuh gadis itu lebih dekat padanya. Sebuah kecupan hangat singgah di keningnya.
"Jangan minta maaf, karena dimataku kesalahanmu nyaris tidak ada. Kamu adalah wanita yang sangat aku cintai, maka sebesar apapun kesalahanmu tak akan mengurangi kadar cintaku," bisiknya di telinga gadis itu.
Jangan ditanya bagaimana jantung gadis itu bertalu-talu. Ini adalah kecupan pertama baginya. Wajahnya telah berubah menjadi merah merona.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰