Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Melepaskan


__ADS_3

Erland menghampiri Intan yang masih berdiri dengan tangisan yang belum reda. Wanita itu tampak begitu trauma atas apa yang baru saja menimpanya.


"Dek," ucap Erland


"Abang... Hiks.." Intan segera memeluk lelaki itu dengan erat.


"Ssshhtt... Sudah sudah, sekarang kamu sudah aman. Kamu tenang ya." Erland masih berusaha untuk menenangkan gadis itu.


"Bawa aku dari sini, Bang. Aku takut," lirihnya masih tergugu.


"Ayo kita pergi sekarang." Erland merangkul bahu Intan membawanya ketempat yang aman.


"Ayo minumlah." Erland memberikan sebotol air mineral pada Intan. Setelah merasa cukup tenang Erland duduk dihadapannya.


"Apakah kamu sudah lebih tenang?" tanya Erland dengan lembut.


"Ya, aku ingin pulang sekarang, Bang," ujar Intan masih dengan wajah sedih.


"Ini sudah malam. Tidak ada penerbangan jam segini. Ayo kita cari penginapan dulu. Besok pagi kita baru pulang," ujar Erland memberi solusi.


Intan hanya mengangguk patuh mengikuti langkah Pria itu yang membawanya ke sebuah penginapan yang tak jauh dari pantai. Setibanya disana Erland segera memesan dua kamar, namun Intan yang masih merasa takut, ia tak ingin berpisah dengan Pria itu.


"Bang, aku tidur di kamar Abang saja ya?" pinta wanita itu dengan wajah memohon.


"Tapi, Dek?"


"Kenapa? Apakah Abang sudah tak bisa menjagaku dengan ikhlas?" tanya Intan membuat Erland terkesiap.

__ADS_1


"Ah, bu-bukan begitu maksud Abang. Baiklah, kalau begitu." Akhirnya Pria itu hanya mengambil satu kamar saja.


Setibanya di kamar Intan duduk diranjang sembari melihat ponselnya. Ia membalas ada beberapa pesan penting, setelah itu ia berniat untuk segera istirahat.


Erland baru saja keluar dari kamar mandi untuk melaksanakan ibadah shalat isya. Namun ia melihat Intan sudah terlelap. Erland segera menunaikan kewajibannya. Selesai sholat, ia mendekati dimana gadis itu sedang tidur.


"Dek, kamu sudah sholat?" tanya Erland membangunkan dengan pelan. Rasa tak tega, namun ini kewajiban sebagai seorang umat.


"Dek, ayo sholat dulu, setelah itu baru istirahat." Erland kembali membangunkan.


"Hmmm, baiklah." Intan segera duduk menuju kamar mandi untuk berwudhu. Gadis itu tampak lebih irit bicara.


Selesai melaksanakan ibadah empat rakaat, Intan kembali naik keatas tempat tidur. Hatinya masih merasa entah saat memikirkan sikap Reza yang tetiba berubah seketika. Masih belum percaya, namun kenyataannya begitu.


"Dek, Abang mau pesan makanan. Kamu mau makan apa?' tanya Erland membuyarkan lamunannya.


"Baiklah, kalau begitu tidurlah." Erland duduk di sofa memainkan ponselnya sembari membaca berita terbaru yang ada di grup kepolisian.


Tiga puluh menit duduk sembari memainkan benda pipih itu, ia melihat gadis yang ada diatas ranjang. Erland berdiri dan mendekat. Ia melihat Intan sudah terlelap dengan damai. Perlahan ia menyelimuti, tangannya terulur mengusap kepalanya dengan lembut.


Rasa iba melihat raut wajah gadis yang kini sudah berada dalam hatinya. Jika dulu ia menganggap Intan sebagai seorang adik kecilnya yang manja, namun saat ini perasaan itu telah berubah. Rasa sayang dihatinya lebih kepada untuk memiliki.


Erland menghela nafas dalam. Andai saja dulu ia bisa menerima cinta gadis itu, mungkin saat ini mereka sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Namun kini Intan dihantam oleh ombak dilema. Ia tahu bahwa Intan masih sangat mencintainya, namun Intan telah berjanji tidak akan membuat Reza kecewa sehingga dia rela mengorbankan kebahagiannya.


Lama Erland berdiam diri duduk di bibir ranjang sembari mengamati wajah cantik yang sedang tertidur lelap. Erland kembali mengusap rambut Intan sebelum ia beranjak.


Erland keluar dengan mengunci Intan di kamar hotel. Ia tidak ingin terjadi hal buruk lagi pada wanita kesayangannya. Erland menuju hotel tempat Reza menginap. Ia ingin bicara sekali lagi dengan pria itu.

__ADS_1


"Untuk apalagi kamu datang menemui aku?" tanya Reza dengan datar.


"Reza, aku tahu kamu ingin melepaskan Intan, tapi kenapa kamu tega melakukan hal itu padanya? Apakah kamu tidak memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika aku tidak datang menyusul kesini?" ucap Erland dengan kesal.


"Karena aku tahu kamu tidak mungkin membiarkan dia datang sendiri. Tidak akan ada lelaki yang mau melihat wanita yang dicintainya berada dalam bahaya. Dan begitu pula dengan perasaan cemas kamu, bukan? Sehingga kamu menjaganya dalam diam."


Erland tak mampu bicara apa-apa. Tak bisa ditampik, apa yang dikatakan Reza semuanya memang benar. Ia tidak akan mungkin membiarkan Intan untuk pergi sendirian.


"Sekarang pergilah, aku tahu saat ini Intan hanya membutuhkan kamu. Karena kamulah lelaki yang ada dalam hatinya," ucap Reza yang memang sengaja menyakiti perasaan gadis itu agar dia tak merasa bersalah dan melupakan janji itu.


"Kamu salah, Za, sampai saat ini Intan masih berada dalam rasa bersalah, bahkan sekarang dia berada dalam kebingungan. Bicaralah dengan sejujurnya, seandainya Intan akan tetap memilih untuk menikah denganmu, maka aku akan ikhlas," ujar Erland sudah tampak pasrah. Ia tak ingin melihat Intan sedih.


Reza berdiri dari tempat duduknya. Ia menghela nafas dalam. "Aku sudah memutuskan untuk tidak menikahi Intan. Biarkan saat ini dia membenciku. Aku percaya sebentar lagi dia akan melupakan hal itu. menikahlah dengannya, tolong jangan pernah menyakiti perasaannya walau sedikitpun. Mungkin kita mencintai orang yang sama, namun hati yang memilih, maka akulah yang akan mengalah,"


Reza melepaskan Intan untuk Erland. Meskipun sakit, namun demi melihat kebahagiaan wanita yang dicintainya maka ia harus rela. Mungkin butuh waktu lama untuk bisa terlepas dari bayang-bayang wanita itu, namun ia percaya suatu saat kebahagiaan pasti datang padanya. .


"Apakah kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Erland memastikan sekali lagi.


"Ya, aku sudah yakin. Aku akan ikut bahagia bila kalian bahagia," ucap Reza dengan ikhlas.


Erland menatap lelaki yang ada dihadapannya, ia tahu Reza mencoba untuk tetap tegar, namun sebenarnya sangat sulit melepaskan wanita yang telah bertahun-tahun ia cintai.


Erland tak tahu harus berucap apa dengan lelaki itu. Ada rasa bersalah, namun ia tak bisa menyalahkan keadaan yang telah membuatnya kembali bertemu dengan Intan. Dan bahkan Intan masih mengakui bahwa perasaannya masih tetap sama seperti dulu.


Erland kembali ke tempat penginapan dengan perasaan entah. Tak bisa berbuat apa-apa, biarkan waktu yang akan menjawab semuanya. Apapun keputusan Intan ia sudah siap menerima.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2