Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Mendadak demam


__ADS_3

Selesai makan, Airin segera menuju kamar Zherin untuk mengajari bocah kecil itu menyelesaikan tugas dari sekolah.


Sementara itu didalam kamar, Erland berbaring dengan gelisah, hatinya merasa entah saat melihat ranjang bagian Airin telah kosong. Ah, rasanya begini amad bila tak ada dia.


Entah berapa kali Pria itu membolak-balikkan tubuhnya bagaikan panggang pisang. Sungguh rasanya sangat menyiksa. Apakah benar ia tak mencintai wanita itu? Tapi kenapa ia merasa tak nyaman saat dia tak lagi di sisinya.


Erland kembali duduk sembari menggusal rambutnya dengan kasar. Pria itu seperti orang gila. Ia keluar dari kamar, lalu menuju kamar Airin.


Jantungnya sedikit berdebar saat memasuki kamar pasangan halalnya. Erland mengedarkan pandangannya. Sedikit heran saat tak menemukan wanita itu disana.


Erland sudah hafal sekali dimana istrinya berada. Tentu saja ke kamar Zherin. Pria itu membuka pintu kamar Zhe, terlihat anak dan istrinya sedang terlelap dengan damai.


Pria itu menghela nafas dalam, dengan perlahan ia ikut berbaring disamping Airin. Ternyata kehadiran wanita itu sungguh berpengaruh dalam hidupnya, karena tidur bila tak memeluknya berasa ada yang kurang.


Erland tak mempedulikan regulasi baru yang diberikan oleh istrinya, yang penting sekarang jiwanya nyaman dan sangat tenang bila mendekap tubuh ramping itu. Ia mencium puncak kepalanya berulang kali.


Airin yang merasa tidurnya terganggu maka dengan perlahan membuka matanya. Ia merasakan ada tangan seseorang yang sedang membelenggu pinggangnya. Airin segera melepaskan lilitan tangan Pria itu, lalu menjauhkan darinya. Namu, Erland masih tak peduli, ia kembali memeluk dengan erat.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Lepas!" cicit wanita itu dengan kesal.


"Ayo kita pindah ke kamar, Dek," bisik Erland demi tak ingin Zherin bangun.


"Nggak mau, awas Mas... Aku tidak bisa gerak," kesal wanita itu.


"Aku tidak akan melepaskan sebelum kamu ikut aku tidur di kamar kita," jawab Erland masih tak menghiraukan permintaan istrinya.


Airin yang tak ingin putrinya terbangun, maka ia memilih untuk mengalah dan segera keluar dari kamar. Erland juga tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia segera mengekor di belakang Airin.


Airin menuju kamarnya. Dan tentu saja membuat Pria itu semakin gemas. Ia ikut masuk kedalam kamar istrinya.


"Mas, kamu mau apalagi sih! Nggak usah bertingkah deh!" ucap Airin menatap kesal.


"Aku tidak bertingkah, Dek, aku hanya ingin kamu balik lagi ke kamar kita," jawab Erland santai.


"Aku tidak mau!"


"Kenapa?"


"Karena itu kamar kamu dan Bu Nindi. Jadi, aku tidak mau bila kamu masih saja membayangkan masalalumu bersama mantan istri kamu. Kalau kamu tidak bisa move on, yaudah kamu balik lagi dengannya," ucap Airin yang membuat Erland ternganga.


"Astaghfirullah Dek. Apa yang ada dalam pikiran kamu. Aku tidak pernah membayangkan Nindi saat bersamamu. Kamu itu terlalu buruk menilaiku." Erland mengusap wajahnya dengan lembut.


Airin tak menghiraukan ucapan suaminya. Terserah dia mau berkilah apapun, ia tak peduli. Airin segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan segera memejamkan mata, ia sudah tak peduli dengan kehadiran Pria itu disana.


Erland memasok udara sepenuh dada dan menanamkan rasa sabar tak terkira menghadapi sikap istrinya yang kini berasa telah berubah. Wanita itu sudah tak seperti Airin yang dulu polos dan sangat kalem.

__ADS_1


Erland ikut berbaring disamping Airin. Tangannya kembali mendekap dari belakang. "Dek, udah dong ngambeknya, kan aku sudah minta maaf," ucap Erland sembari mengecup mahkotanya dengan lembut.


Airin masih diam, ia bingung harus bagaimana menyikapi. Dengan perlahan ia membalikkan badannya menghadap pada pria itu.


Tatapan mereka bertemu, Erland ingin mengecup bibir wanita itu, namun segera dielakkan wajahnya. Sepertinya dia masih marah dan kesal.


"Jangan sentuh aku lagi jika hatimu masih gamang dengan hubungan ini," ujar Airin membuat Erland terdiam.


"Dek, maafkan aku. Aku berjanji akan berusaha untuk mencintaimu," ucap Erland dengan serius.


"Sekarang pergilah tidur di kamar kamu, Mas. Aku tidak ingin lagi banyak berharap. Karena aku tidak yakin dengan hatimu bisa mencintai aku. Lebih baik mulai sekarang kita jaga jarak. Bila hatimu benar-benar sudah siap menerima aku menjadi istrimu seutuhnya, maka datanglah segera," tegas wanita itu pada suaminya.


Sepertinya menjaga jarak adalah hal yang paling aman untuk saat ini agar hati dan pikiran nyaman. Ia tak ingin lagi banyak berharap. Dan ia juga akan membiasakan agar nanti tak terlalu sedih jika memang rumah tangganya berakhir dengan Pria itu.


Erland segera duduk dari baring. Ia menatap wajah cantik sang istri. Sepertinya wanita itu memang ingin menepi. Erland tak bicara apapun. Ia mengikuti mau Airin. Biarlah ia merenungi sembari belajar dimana letak kesalahannya.


Pria itu segera keluar dari kamar sang istri setelah gagal membujuknya. Kembali merebah di ranjangnya, sepertinya ia memang harus keluar dari segala kenangan bersama Nindi, seperti kamar ini yang membuat Airin merasa tak nyaman.


Lelaki yang berusia tiga puluh lima tahun itu segera menghubungi seseorang, ia ingin memulainya dari awal, tak ingin lagi ada masalalunya ikut andil disana. Ini hanya tentang kehidupannya dan Airin, cukuplah Zherin sebagai masalalu yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.


Setelah membicarakan dengan orang kepercayaannya, maka pria itu baru bisa memejamkan mata untuk menemui mimpi. Erland tertidur hingga pagi menjelang.


Pagi ini seperti biasanya, Airin sudah menyediakan sarapan pagi, dan mengurus anak sekolah. Kini pasangan itu sarapan bersama dengan suasana hening.


"Daddy dan Mama kok saling diam? Kok nggak kayak biasanya? Aku tidak pernah dengar Daddy dan Mama bicara lagi. Apakah Daddy dan Mama sedang marahan?" tanya bocah itu sembari menatap kedua orang dewasa itu.


Cup!


Erland mengecup pipi Airin dengan spontan. Tentu saja mendapatkan tatapan tajam dari wanita itu. Namun, yang ditatap tampak acuh dan tersenyum gaje.


"Berangkat dulu ya, Sayang," ucap Erland sembari mengulurkan tangannya.


Airin segera menerima tangan suaminya dengan takzim. Hatinya kembali dibuat entah oleh perangai Pria yang suka sekali PHP kepadanya.


Erland kembali mengecup kening Airin. Dan sekali lagi hatinya dibuat melambung tinggi. Setelah mendengar panggilan "Sayang" Kini Pria itu meninggalkan jejak di keningnya. Setelah tiga purnama menunggu momen itu, baru kini ia dapatkan dari suaminya yang sekarang berubah tiba-tiba.


Airin tak tahu dengan perubahan suaminya di pagi ini. Apakah itu hanya sebagai alibi saja untuk memperdayakan dirinya kembali? Ah entahlah, yang jelas ia tak ingin mempercayai begitu saja.


"Oke, aku berangkat ya, Mam," ucap Zhe menyalami tangan sang Mama sembari mengecup pipinya kiri dan kanan.


"Oke, Sayang, belajar yang rajin ya. Nanti siang Mama yang jemput," jawab Airin membalas kecupan dan pelukan.


"Cuma Zhe yang dipeluk? Aku nggak di peluk juga?" goda Erland yang membuat Airin memutar rotasi malasnya.


Airin mengabaikan ucapan Pria itu, ia segera membantu Zherin mengenakan sepatu sekolahnya.

__ADS_1


Erland hanya menghela nafas pelan saat melihat sikap istrinya yang masih saja cuek. Tak apa, ia akan mencoba memperbaikinya. Sadar sekali kesalahan dirinya yang masih belum bisa terlepas dari masalalu.


Sebenarnya sudah tak ada perasaan untuk Nindi, tapi tak semudah itu pula mencintai Airin. Pernikahan yang ia inginkan mungkin hanya untuk menghindari dari gangguan Nindi, tapi, tanpa ia sadari telah menyakiti perasaan wanita itu.


Disepanjang perjalanan Erland masih memikirkan tentang hubungannya dan Airin, benarkah dirinya belum bisa mencintai Airin? Tapi kenapa rasanya tak nyaman sekali bila tak lagi melihat senyum wanita itu? Kenapa rasanya ada yang hilang?


Kepala Pria beranak satu itu mendadak jadi pusing tujuh keliling, saat mengingat keruwetan masalah yang di timbulkan oleh dirinya sendiri.


Erland mengantarkan putrinya hingga gerbang. Saat memastikan Zherin sudah berada dalam pengawasan gurunya, Erland kembali memasuki kendaraannya.


Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi. Rasanya berdenyut kencang. Erland menghentikan kendaraannya sesaat. Ia mencoba memberi pijitin pelan di kepalanya.


Merasa tidak aman untuk bertugas, Erland memutuskan untuk pulang saja, ditambah perutnya terasa mual. Apa yang salah? Apakah dirinya masuk angin, atau salah makan? Tapi tak ada makanan berbeda dari yang bisanya ia makan.


Pria itu kembali berputar arah untuk kembali ke kediamannya. Rasanya tak aman menjalankan tugas bila tubuh tidak fit. Sedikit membuatnya aneh, padahal tadi pagi baik-baik saja. Apakah ini karena efek semalaman tidur tak memeluk sang istri?


Airin baru saja selesai mandi, ia mendengar bel pintu berbunyi, sedikit penasaran siapa tamu yang datang pagi-pagi begini. Ia segera membuka gorden melihat terlebih dahulu siapa tamunya sebelum membukakan pintu.


"Mas Erland," gumamnya sendiri dengan heran.


Airin segera membukakan pintu. Terlihat wajah lelaki itu pucat tak bersemangat. Tentu saja, karena tadi di perjalanan pulang Erland berulang kali memuntahkan makanan dalam perutnya, rasanya sungguh sangat menyiksa.


Erland menatap istrinya dan mencium aroma wangi tubuhnya. Tanpa bicara apapun ia memeluknya dengan erat. Rasanya begitu nyaman.


"Mas, kamu kenapa? Apakah kamu sakit?" tanya Airin, karena ia merasa suhu tubuh pria itu terasa hangat.


"Kepala aku pusing, Dek," rengeknya begitu manja ngalah-ngalahin Zherin.


Airin membiarkan saja Pria itu memeluknya tanpa minat untuk melarangnya. Setelah cukup lama Erland meredam perasaannya yang tadi tak menentu.


"Ayo aku antar kamu istirahat ke kamar, Mas." Airin memapah lelaki itu masuk kedalam kamar.


Erland hanya mengangguk patuh saat tangan istrinya memapah dengan penuh perasaan. Disepanjang perjalanan menuju kamar, ia selalu memandangi wajah cantik wanita.


Airin membantu lelaki itu berbaring, lalu menyelimuti tubuhnya, dan mengatur suhu pendingin ruangan.


"Dek, mau kemana?" tanya Erland menghentikan langkah Airin yang hendak keluar kamar.


"Aku ambil obat. Apakah kamu ingin aku buatkan sesuatu?" tanya Airin.


"Aku tidak mau apa-apa, aku cuma ingin kamu disini menemani aku," pintanya dengan suara parau.


"Nggak usah beralasan. Aku akan mengurus dirimu, tapi tidak untuk menemani," balas Airin ketus, ia segera keluar dari kamar suaminya.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2