Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Reza menghilang


__ADS_3

Erland terduduk lemas saat mendengar keputusan Intan yang akan tetap memilih untuk menikah dengan Pria yang tak dicintainya.


"Dek, cobalah berpikir sekali lagi sebelum mengambil keputusan berat itu. Jangan mengorbankan kebahagiaanmu demi menjaga perasaan orang lain," ujar Erland meminta pengertian gadis itu.


"Aku sudah memikirkan semuanya Bang, aku sudah terbiasa mengorbankan kebahagiaanku demi orang lain, dulupun jika aku mau, maka aku pasti bisa mendapatkan Abang, tapi aku hanya ingin melihat Abang bahagia bersama orang yang Abang cintai," jawab Intan yang kembali membuat Erland tak mampu bicara.


"Abang minta maaf, Abang menyadari telah salah menaruh hati pada seseorang sehingga tak dapat melihat ketulusan yang begitu besar darimu. Jika memang itu sudah keputusanmu, maka Abang juga akan mengalah. Semoga kamu bisa bahagia. Tapi, Dek, jika suatu saat nanti kamu tak bahagia, kembalilah padaku. Mulai saat ini aku berjanji tidak akan pernah ada lagi yang akan menguni hatiku selain dirimu. Jika jodoh kita masih ada, walau sampai tuapun aku rela menunggumu."


Seketika hatinya menjadi semakin haru. Kenapa takdir harus mempermainkan perasaannya? Intan tak kuasa menahan air matanya yang kembali jatuh menetes.


"Abang pamit ya, ini kartu nama Abang, jika kamu tak ingin lagi berhubungan dengan Abang, tapi jika suatu saat kamu membutuhkan bantuan Abang, kamu jangan sungkan, Abang akan lakukan apa saja untuk dirimu." Erland menyerahkan kartu namanya, dan segera beranjak meninggalkan tempat itu.


"Bang?" panggil Intan menghentikan langkahnya.


"Ya?" Erland memutar tubuhnya menghadap pada wanita itu.


"Apakah Abang akan datang di pernikahan aku?" tanyanya dengan suara serak.


Perlahan Erland menghampiri Intan yang masih berdiri. Tangannya terulur lembut mengusap air mata di kedua pipinya. "Abang pasti datang. Meskipun Abang mencintaimu, namun cinta tak seegois itu. Biarkan Abang merasakan apa yang kamu rasakan dulu. Sekarang jangan menangis lagi ya. Abang akan selalu mendo'akan kebahagiaanmu."


"Hiks... Hiks..." Intan tak kuasa menahan tangisnya. Ia kembali memeluk lelaki yang teramat ia cintai. Sungguh ia juga tak sanggup melukai perasaan Reza.


"Ssshh... Jangan menangis lagi. Ini semua sudah menjadi keputusanmu. Cobalah untuk berusaha mencintainya. Semoga cinta segera tumbuh dihatimu. Abang pamit ya." Erland tak kuasa menahan sesak di dadanya. Sakit sekali merelakan orang yang dicintainya untuk lelaki lain.


Intan melepaskan Pria itu. Ia kembali terduduk di sofa yang ada di ruang tamu. Kembali tangisnya pecah. "Ya Allah, beri aku kekuatan untuk menjalani takdir hidupku." Gadis itu bergumam dalam tangisan.


Tak terasa waktu sudah hampir sore, tapi Reza tak kunjung datang. Sedikit cemas dihati Intan. Ia segera melihat ponselnya, namun tak ada pesan apapun. Intan segera menghubungi Reza, namun ponselnya tak dapat dihubungi.


Intan mencoba mengirim pesan, mungkin ponselnya habis daya, namun hingga malam pesan tak juga kunjung terkirim. Kemana perginya lelaki itu. Intan yang masih galau sejak kedatangan Erland, sesaat perasaan itu teralihkan sebab tak adanya kabar dari calon suaminya.


"Bik, aku keluar sebentar ya," pamit Intan pada Art.

__ADS_1


"Baik, Mbak. Apakah Mbak Intan bawa kunci cadangan?" tanya Bibik.


"Bawa, Bik, nanti dicabut saja dari dalam.


"Baik, Mbak."


Intan segera mengendarai mobilnya untuk mencari keberadaan Reza. Tempat utama yang ia kunjungi adalah RS. Mungkin Reza ada urusan, atau banyak jadwal operasi pasienya. Gadis itu masih berpikiran positif.


Setibanya di RS, Intan segera mencari di ruangannya, namun tak ada siapa-siapa, tentu saja jam segini sudah tak ada lagi dokter yang bertugas selain Dokter jaga yang ada di IGD.


Intan menanyakan pada staf RS tentang keberadaan Reza, namun mereka bilang Dr Reza telah pulang setelah jam praktek usai. Seketika hatinya cemas.


Intan segera melajukan kendaraannya menuju kediaman orangtua dokter jantung itu. Mungkin saja Pria itu mendadak tidak enak badan. Setibanya dikediaman orangtuanya, Intan disambut baik oleh Mama Reza.


"Loh, Nak, kok kamu sendiri? Reza mana?" tanya Mama Eva.


"Bang Reza kemana, Tante? Aku kesini mau ketemu dengannya. Karena dari tadi aku hubungi tidak bisa," ucap Intan semakin panik.


"Apa! Bukankah tadi dia ingin kerumah kamu untuk fitting baju? Tadi sepulang praktek dia menghubungi Tante," jawab Tante begitu tampak cemas.


Tante Eva dan keluarganya yang lain juga tak kalah cemas. Mereka segera menghubungi nomor ponsel Putranya, namun sama tak bisa dihubungi.


Intan kembali dilanda derita tak berkesudahan. Ia kembali menangis sesenggukan didalam perjalanan pulang. "Ya Allah, kenapa ujian ini tak berkesudahan? Apa salahku ya Rabb."


Setibanya di rumah Intan segera masuk dengan langkah gontai. Ia selalu mencoba menghubungi dimana keberadaan calon suaminya itu. Sesaat ia terpaku mengingat kedatangan Erland siang tadi. Apakah Reza datang saat mereka sedang bicara?


Intan segera membuka rekaman cctv-nya untuk memastikan bahwa hilangnya Reza bukanlah itu penyebabnya. Namun seketika matanya membelalak saat melihat kebenaran yang ada. Intan melihat dijam berapa Reza datang, bertepatan saat ia dan Erland sedang mengungkapkan isi hati mereka masing-masing.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Bang Reza maafkan aku. Tapi kita akan tetap menikah, Bang, aku berjanji akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku. Aku akan berusaha untuk mencintaimu. Abang dimana sekarang? Hiks..." Kembali air mata wanita itu tumpah ruah.


Malam ini Intan benar-benar tak bisa memejamkan matanya barang sebentar saja. Hatinya gelisah, pikiran tak tenang, sungguh ia berada dalam kegalauan. Kemana ia harus mencari keberadaan Reza.

__ADS_1


Karena larut dalam perasaan hingga waktu subuh telah menjelang. Intan segera melaksanakan ibadah dua rakaat. Ia memohon kemudahan dari Allah atas segala masalah yang sedang menimpanya.


Pagi-pagi sekali intan sudah bersiap untuk segera berangkat ke RS. Ia berharap akan bertemu pria itu untuk menjelaskan segalanya. Namun sudah jam sepuluh pagi dokter jantung itu tak jua menampakkan batang hidungnya.


Intan sampai meninggalkan prakteknya untuk sesaat demi mengunjungi ruang praktek Reza. Reza benar-benar bak di telan bumi. Ia mendapat kabar bahwa Reza tak memberi alasan apapun pada pihak RS kenapa ia tak datang sehingga jadwal prakteknya digantikan oleh Dr lain.


Kembali rasa bersalah bertumpuk dalam hati wanita itu. Begitu hancurkah hatinya hingga ia mengabaikan orang sekelilingnya. Intan terduduk lemas, namun ia masih berusaha untuk bekerja dengan profesional.


Selesai jam praktek usai, Intan segera pulang. Gadis itu menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Kembali air matanya jatuh berderai. Intan kembali menghubungi Tante Eva untuk menanyakan kabar Reza. Namun sama saja. Wanita baya itu menangis terisak karena belum juga mendapatkan kabar tentang putranya.


Sesaat intan melihat kartu nama polisi yang ada dinakasnya. Intan menghubungi Erland untuk meminta bantuannya.


"Halo, Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam.... Bang, ini aku," lirih gadis itu di ujung telepon.


"Dek, ini benaran kamu?" tanya Erland tersenyum bahagia.


"Bang, tolong aku."


"Katakan! Abang akan lakukan apa saja untuk kamu."


"Tolong cari keberadan Bang Reza. Dia menghilang setelah mendengar pembicaraan kita kemaren," ucap Intan dengan tangisan pilu.


"Baiklah, Abang akan mencari dimana keberadaannya sekarang. Apakah dia membawa kendaraan?" tanya Erland memastikan.


"Bawa, Bang."


"Katakan nopol kendaraannya."


Intan segera menyebutkan nopol kendaraan milik Reza. Erland segera menerimanya. Sebagai seorang penyidik yang mempunyai jaringan dimana saja, tentu saja tak sulit baginya untuk menemui keberadaan Dokter jantung itu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2