Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Berjanji ingin memperbaiki


__ADS_3

Erland hanya menatap kepergian istrinya. Tak ingin berdebat saat tubuhnya sedang tak membaik. Pria itu mencoba memejamkan mata untuk meredakan rasa pusing di kepalanya.


Cukup lama Airin menyediakan segalanya untuk mengurusi suaminya itu. Ia masuk membawa nampan yang berisi air kompresan dan bubur buatannya.


Airin meletakkan diatas nakas, ia menatap lelaki itu tidur dengan gelisah. Perlahan ia meletakkan telapak tangan di keningnya, ternyata suhu tubuhnya semakin naik. Airin segera mengompres dengan perlahan.


Rasa tak tega melihat kondisi suaminya. Tak habis pikir kenapa tiba-tiba saja dia demam begini. Airin mengamati wajah tampan yang sedang terlelap.


Erland membuka netranya, seketika tatapan mereka bertemu. Airin mengalihkan pandangannya. "Duduk dulu Mas, ayo minum obat," ucapnya terdengar lebih lembut, tak seperti tadi yang begitu ketus.


Erland mengangguk pelan. Ia duduk dibantu olehnya. Airin mengambil mangkok yang berisi bubur ayam itu, lalu menyuapinya.


Erland tak banyak bicara ataupun membantah. Ia mengikuti segala titah sang istri. Tubuhnya terasa sangat lemah. Setelah makan Erland kembali merasakan mual yang luar biasa. Ia segera berlari masuk kedalam kamar mandi.


Huek! Huek!


Lelaki itu kembali memuntahkan makanan yang tadi masuk kedalam perutnya. Sungguh tubuhnya terasa sangat lemas. Airin juga tak kalah cemas melihat penyakit yang kini sedang di derita oleh suaminya. Airin membantu mengusap tengkuknya dengan pelan.


"Sudah Mas?" tanyanya sembari memberikan tissue untuk mengelap bibir Pria itu.


"Lemas, Dek," lirihnya enggan berdiri dari tempatnya berjongkok.


"Ayo aku bantu," Airin menjadikan tubuhnya untuk penopang tubuh lemah suaminya.


Airin mendudukkan suaminya diatas ranjang, lalu mengatur bantal di belakang tubuhnya agar Pria itu bersandar dengan nyaman.


"Minum dulu obat demamnya ya, Mas." Airin memberikan sebutir pil penurun panas.


"Apakah kita perlu ke dokter?" tanya Airin masih cemas melihat keadaannya.


"Tidak usah Dek, nanti bawa istirahat pasti membaik," jawab Erland kembali ingin berbaring setelah meminum obatnya.


"Baiklah, kalau begitu kamu istirahat ya." Airin memperbaiki selimut Pria itu, lalu ingin beranjak. Namun, kembali gerakannya terhenti saat tangan suaminya menahan.


"Dek, jangan pergi, please..." Erland memohon dengan wajah menghiba.


"Tapi aku harus bersiap mau menjemput Zherin, Mas," ucapnya.

__ADS_1


"Biar supir saja yang jemput untuk hari ini. Tolong temani aku, Dek," lirihnya menarik tangan Airin semakin kuat sehingga ia tak bisa menahannya.


Airin mendudukkan dirinya di sampingnya. Seketika Pria itu memindahkan kepalanya di pangkuan Airin. Kembali perasaan wanita itu menjadi serba salah. Kenapa Pria ini mendadak manja tak ketulungan.


"Mas, sebenarnya kamu sakit apa? Perasaan pagi tadi kamu baik-baik saja," ucap Airin tak mengerti dengan penyakit suaminya.


"Aku tidak tahu, Dek. Rasanya saat dekat denganmu seperti ini membuatku jauh lebih nyaman," jawab Erland menggusal wajahnya di perut datar wanitanya.


Airin tak dapat menahan tangannya, ia mengusap rambut hitam legam suaminya dengan lembut. Tak pernah menyangka bahwa pria ini begitu manja saat sakit.


Sebenarnya masih kesal, tapi tak tega dengan kondisinya saat ini. Airin menyingkirkan egonya terlebih dahulu, rasanya jahat sekali bila mengabaikan sang suami yang sedang membutuhkan perhatian dirinya.


Cukup lama Airin duduk sembari memangku kepala pria itu. Ia segera menghubungi driver untuk menjemput Zherin di sekolah. Cukup pegal pahanya setelah dijadikan bantal oleh sang suami.


"Mas, pindah dulu ya, aku mau sholat zhuhur sebentar," ucapnya sembari mengusap pipi Erland dengan lembut.


"Jangan tinggalkan aku ya, Dek," jawab Erland seperti tak rela melepaskan istrinya. Entah kenapa sikap lelaki itu berubah dua ratus derajat.


"Aku hanya sebentar, Mas, jangan lebay deh," balasnya gemas sendiri melihat tingkah Pria itu.


"Mama!" panggil Zhe dari luar.


"Ya, Sayang....!"


"Loh, Daddy nggak tugas, Ma?" tanya Zherin melihat ayahnya sedang berbaring di atas ranjang.


"Nggak, sayang, Daddy sedang tak enak badan," jawab Airin sembari mengambil tas bocah itu dari gendongannya.


"Daddy demam?" tanya Zherin ikut naik keatas tempat tidur dimana sang Daddy sedang istirahat.


"Hai, kamu sudah pulang, Sayang? Sini peluk Daddy dulu," ucap Erland meraih tubuh putrinya mendekap dengan sayang.


"Kok Daddy demam? Bukankah tadi pagi baik-baik saja?" tanyanya tak mengerti.


"Namanya juga sakit, dia bisa datang kapan saja," jawab Erland tersenyum sembari mencubit hidung gadis kecilnya.


"Yaudah, sekarang Zhe ganti pakaian dulu, habis itu makan ya," ajak Airin.

__ADS_1


"Baiklah, Daddy cepat sembuh ya. Love you Dadd," ucapnya sembari memberi kecupan di kedua pipi ayahnya.


"Terimakasih Sayang, love you more my little girl," balas Erland mengusak rambut lurus anaknya.


Zherin segera beranjak mengikuti langkah Mamanya. Airin mengurusnya terlebih dahulu sebelum kembali menemani suaminya yang super manja itu.


Malam ini Airin terpaksa harus tidur seranjang dengan Erland, pasalnya Pria itu kembali rewel tak ingin ia tinggalkan barang sejenak saja.


Wanita yang berumur dua puluh lima tahun itu dibuat repot oleh perangai suaminya tetiba manja yang luar biasa.


"Dek, sini baring," ucap Erland saat melihat istrinya masih duduk di sofa yang ada di kamar itu.


Airin yang memang tak sanggup menahan kantuk, maka ia memutuskan untuk tidur. Ia merebah disamping suaminya. Kini tatapan mereka bertemu. Erland meraih tangan Airin, dan menggenggamnya dengan lembut.


"Dek, aku minta maaf. Tolong jangan hukum aku dengan mendiamkan, dan membiarkan aku tidur sendiri," lirihnya sembari mengecup tangan wanita itu.


"Apakah kehadiranku hanya untuk menjadi teman tidur kamu saja?" tanya Airin dengan perasaan perih.


"Ay, jangan bicara seperti itu. Sungguh aku tak pernah bermaksud sedemikian. Tolong beri aku waktu untuk memperbaiki semuanya. Aku memang belum bisa memastikan perasaanku padamu, namun yang aku rasakan saat ini adalah tak bisa jauh darimu, dan aku merasa ada yang hilang bila dirimu tak ada disampingku."


Erland mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya terhadap wanita itu. Airin hanya bisa terdiam mendengar ucapannya. Ia tak dapat menyimpulkan perasaan lelaki itu. Apakah dirinya sudah mulai berarti dalam hidupnya?


"Tidur, Mas," balasnya tak ingin lagi membahas tentang itu lagi. Kata-kata Erland tadi cukup membuat hatinya sedikit lebih tenang.


"Peluk aku, Dek," ujar Erland yang tak mampu ia tolak.


Airin memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang. Tak dapat menahan rasa haru. Sebenarnya kehadiran pria itu sudah membuat hatinya nyaman, namun bila cinta hanya tumbuh sebelah pihak, maka ia tak ingin menjadi egois.


"Kamu nangis, Sayang?" tanya Erland melerai pelukannya, dan menatap wajah cantik istrinya. "Jangan menangis Dek, izinkan aku untuk membuktikan bahwa aku tak pernah berniat menjadikan dirimu hanya sebuah pelarian ataupun sebagai teman tidur. Tolong sedikit saja mengerti perasaan aku, Dek. Aku hanya sedang berusaha keluar dari masalaluku. Aku ingin menghabiskan hari-hariku bersama dirimu. Biarkan cinta ini tumbuh dengan sendirinya. Aku yakin perasaan ini sudah tumbuh, meskipun belum terlihat dengan nyata."


Erland berusaha untuk meyakinkan istrinya. Ia kembali membawa wanita itu dalam dekapannya. Rasanya begitu nyaman bila mencium aroma tubuh wanita itu. Sungguh telah menjadi candu baginya.


Pasangan halal itu tidur dengan perasaan nyaman dalam pelukan satu sama lain. Mereka menemui kantuk saat nafas hangat saling berhembus.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2