
Setelah mendapatkan suntikan anastesi, kini dokter Intan sudah tak sadarkan diri. Dokter Sonya segera mengambil tindakan. Reza yang sedari tadi sungguh tak bisa hanya untuk tersenyum saja.
Sungguh bila menyangkut keselamatan istri dan anaknya membuat Dokter jantung itu begitu cemas. Padahal dia juga sudah terbiasa bergelut di meja operasi. Tapi saat menemani isterinya disana sungguh membuat jantungnya ikut bermasalah.
Reza tampak begitu cemas sembari mengamati dr Sonya membuka lapisan kulitt perut istrinya. Reza selalu mengamati hingga bayi merah itu di keluarkan dari rahim sang istri.
Cukup lama bayi tidak menangis, Dokter anak yang sudah menunggu, ia segera mengambilnya dan merangsangg agar sang bayi menangis.
Reza menatap dengan wajah haru. Ia ingin sekali menyentuh buah cintanya, namun, masih terlalu gamang. Dengan sabar Pria itu menemani anak dan istrinya berada di dalam ruangan itu.
Oek! Oek! Oek!
Akhirnya suara tangisan bayi itu menggema juga di ruang operasi. Reza yang semula tampak cemas, ia segera mengucapkan rasa syukur.
"Alhamdulillah ya Allah..." Pria itu tersenyum dengan titikan air mata.
"Ya Allah, aku kok salfok sama Dokter jantung yang satu ini," ucap Dr Sonya menatap Reza.
"Kenapa Dok?" tanya Dr anak.
"Sebegitu cemasnya bila berkaitan dengan istrinya. Lihatlah, aku baru bisa melihat dia tersenyum saat jagoannya sudah bisa mengeluarkan suaranya," jawab Dr Obgyn itu.
"Ho'oh ya, Dok, padahal aku mengira selama ini Dokter Reza adalah orang yang sangat tegar, tapi bila menyangkut orang yang dicintai terkadang memang membuat mental seseorang lemah," sanggah Dr anak itu kembali.
"Sungguh aku tak bisa menganggapnya santai saja. Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan istri dan anakku. Andai saja terjadi sesuatu pada mereka, aku rasa otakku bisa mereng," jawab Reza sudah bisa tersenyum sembari menerima bayi yang belum cukup bulan.
"Ya, kita semua memang mempunyai kelemahan masing-masing. Tak mudah bagi kita menyikapinya."
Kini Dr Sonya sudah selesai menangani Dr Intan. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik, dan kondisi sang bayi juga sehat, meskipun belum cukup bulan, tapi perkembangannya sudah normal dan tak ada masalah. Namun, hanya butuh untuk beberapa hari masuk inkubator.
Intan sudah selesai menjalani operasi, kini sedang masa observasi sebelum di pindahkan ke ruang rawat inap. Sedangkan Reza baru saja selesai mengadzani putranya.
"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Sekarang hanya menunggu Bu dokter bangun," ucap dokter Sonya mengucap syukur setelah menyelesaikan tugasnya.
"Terimakasih banyak, Dok," ucap Reza tersenyum kalem.
"Oke, kalau begitu aku pamit untuk pulang dulu. Kalau ada perlu Dokter Reza bisa hubungi aku," ucap Sonya ingin beranjak pulang.
"Oke, sip!"
Intan baru saja membuka mata, ia menatap sekeliling ruangan. Segera meraba perutnya yang buncit. Ah ternyata sudah datar. Apakah anaknya sudah lahir? Apakah baik-baik saja?
Wanita itu masih bertanya-tanya dalam hati. Ia melihat pintu ruangan terbuka.
"Hai, Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Reza segera mengecup kening istrinya dengan sayang.
"Bang, apakah anak kita sudah lahir?" tanya Intan menatap penuh harap bahwa bayi mereka baik-baik saja.
"Alhamdulillah sudah, Dek, anak kita lahir dengan sehat tak ada kurang suatu apapun. Walaupun belum cukup bulan, tapi semuanya sudah normal. Dan perkembangannya juga bagus," jelas Reza.
"Alhamdulillah ya Allah. Sekarang dia dimana, Bang? aku pengen bertemu," ucap intan sudah tak sabar.
"Sekarang dia masih di inkubator. Dokter bilang dia perlu juga masuk kedalam ruang penghangat agar lebih baik lagi. Kamu sabar ya. Nanti kalau kamu sudah bisa duduk, aku akan bawa kamu ke ruang bayi," ucap Pria itu memberitahu.
"Baiklah, eh tapi, anak kita cowok atau cewek Bang?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Coba kamu tebak?"
"Cewek?" tanya Intan.
"Salah, untuk sekarang aku dulu yang mempunyai teman. Tapi jangan khawatir, nanti kita buat lagi baby perempuan, biar kita sama-sama punya teman," ucap Reza yang mendapat cubitan dari istrinya.
"Apaan sih kamu, Bang. Baru juga brojol udah mikir pengen punya anak lagi," ucapnya gemas sekali melihat perangai suaminya.
"Hehe... Canda, Sayang."
"Eh, Mama udah kamu kasih tahu?" tanya Intan, ia tak melihat kehadiran Mama mertua disana.
"Udah, barusan aku aku telpon. habisnya aku begitu panik hingga lupa ngabarin Mama," ujarnya jujur sekali.
"Pasti kamu diomelin Mama 'kan?"
"Sudah jelas, tapi hanya bisa pasrah."
Pasangan itu sedang berbahagia dengan kehadiran buah cinta mereka. Kini keluarga kecil itu sudah semakin lengkap.
***
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa sudah hampir satu bulan Airin berada di kediaman orangtuanya. Siang ini wanita hamil itu dibuat galau karena mendapat kabar bahwa Erland harus menambah waktu tugas selama satu bulan lagi.
"Kak, kita jalan sore yuk," ajak Ami pada Kakaknya yang sedari tadi nampak melamun.
"Nggak ah, lagi nggak minat Mi, kamu saja pergi sama Zherin," ucapnya tak bersemangat.
"Ayolah Kak, Nggak usah galau-galau. Biarkan saja Mas Erland melaksanakan tugas negara. Lebih baik sekarang kita happy. Nanti aku kenalin Kak Ay dengan cokgan," ucap Ami membuat Airin menatap tajam.
"Bukan selingkuh Kak, hanya untuk sekedar berkenalan saja apa salahnya. Kalau kakak tidak suka nanti bisa kenalin sama aku," ucap Ami masih ngotot membawa Kakaknya.
"Nggak ah, sana kamu saja yang pergi. Aku mau tidur, ngantuk," ujarnya mendorong adiknya keluar dari kamar.
"Ayolah Kak, nanti kalau sudah ketemu Kakak pasti tidak akan menyesal."
"Tidak, aku tidak akan mau. Mau seganteng apapun aku tidak tertarik sama sekali," bantah Airin masih tetap dengan pendiriannya.
"Kak, ayolah, kali ini saja. Aku tidak enak karena terlanjur berjanji dengan Pria itu untuk mengenalkan Kakak dengannya. Tolong dong Kak, please... Bantu aku untuk berkenalan dengannya melalui kakak," ucap Ami memohon pada Kakaknya.
"Ami, aku bukan tidak mau, tapi aku takut Mas Erland jadi salah paham," ujar Airin pada adiknya.
Ami masih memohon dan sangat ngotot sehingga sang Kakak tak bisa menolak. Airin mengikuti kemauan adiknya untuk menemui Pria yang di maksud. Dengan malas ia pergi, mereka menggunakan sepeda motor dengan membawa bocah kecil itu menuju tepian danau Singkarak.
Dengan berboncengan, Airin turun di tempat yang telah di tentukan oleh Ami. Seorang lelaki menggunakan topi dengan pakaian casualnya. Pria itu menghadap ke arah danau menikmati pemandangan sore.
"Kak, itu orangnya," bisik Ami pada Kakaknya.
"Siapa sih? Aku tidak mau. Kamu aja yang nyamperin," tolak Airin sangat enggan.
"Tapi dia hanya ingin berkenalan dengan Kakak," sanggah Ami.
"Tapi kamu tahu sendiri aku sudah punya suami, aku tidak mau dia menjadi salah paham," bisik Airin merasa kesal pada adiknya yang ngeyelan dari tadi.
"Ayolah Kak!"
__ADS_1
"Ami, kamu kenapa tidak minta tolong sama kak Anis, dia kan masih sendiri," ucap Airin menyuruh Ami minta tolong dengan Kakak sepupu mereka, ia sangat takut bila nanti ketahuan dengan suaminya bisa-bisa menjadi salah paham.
"Kakak benaran tidak mau? Benaran nggak nyesel kalau aku minta tolong sama Kak Anis?" tanya Ami sekali lagi.
"Nggak, ngapain juga aku harus nyesel. Udah, aku ingin pulang." Airin segera beranjak ingin meninggalkan tempat itu setelah berdebat cukup lama dengan sang adik.
"Baiklah, kalau begitu." Ami segera mendekati Pria itu.
"Mas, Kak Ay tidak mau dengan kamu. Dia nyuruh kamu cari wanita lain saja," ucap Ami yang membuat Airin menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada orang itu.
Lelaki itu berdiri dari tempat duduknya, ia menghadap pada Ami. Seketika mata Airin terbelalak, bibir ternganga, saat melihat siapa orang itu.
"Mas Erland!"
"Daddy!"
Kedua wanita yang sedang berbimbingan itu menyongsong lelaki itu. Airin segera menabrak tubuh lelaki itu untuk masuk kedalam dekapannya.
"Kata Ami kamu minta aku cari wanita lain, siapa tadi Anis? Boleh dong di kenalkan," goda Erland sembari memeluk istrinya. Sedangkan tangan sebelahnya menggendong Zherin.
Bugh! Bugh!
"Kamu kenapa jahat sekali, tadi pagi kamu bilang nggak jadi pulang. Mana aku tahu bahwa lelaki genit itu adalah kamu," oceh wanita itu sembari memukul dada suaminya dengan gemas.
"Hahaha... Ampun, Sayang. Namanya juga kasih kejutan."
"Daddy kok disini? Kenapa Daddy tidak pulang?" tanya Zherin ikut heran melihat kelakuan orang dewasa itu.
"Daddy sengaja kasih kejutan buat kamu dan Mama. Sekarang gimana? Seneng nggak?" tanya Erland mengecup pipi gembul putrinya.
"Seneng banget," jawab bocah kecil itu.
"Kalau Mama gimana, seneng nggak? Kalau tidak biar Daddy pergi lagi," ucapnya tersenyum gemas melihat wajah cemberut istrinya.
"Seneng banget, tapi ada kesalnya juga," jawab Airin semakin menguatkan pelukannya.
"Ya Allah, gini Amad nasib orang jomblo hanya sebagai obat nyamuk. Udah, sana jalan-jalan sore. Aku pergi dulu," omel Ami pada Kakaknya.
Erland dan Airin hanya terkekeh mendengarnya. Gadis itu segera ingin beranjak meninggalkan mereka.
"Eh, mau kemana?" tanya Erland.
"Mau pulang, Mas."
"Ada uang bensin nggak?" tanya pria itu kembali yang membuat senyum adik iparnya merekah.
"Hehe... Nggak," jawab Ami senyum gaje.
Erland segera mengeluarkan dompetnya, lalu menarik beberapa lembar uang kertas dan memberikan pada adik iparnya.
"Ini buat beli bensin sama makan bakso."
"Yes, makasih Abang ipar yang tampan dan baik hati, plus sangat royal. Hehe.." Gadis itu tersenyum sumringah mendapatkan uang dari Abang iparnya. Tak sia-sia usaha keras mengajak sang kakak keluar rumah.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰