
Erland menyentuh bibir Airin dengan lembut, sehingga membuat wanita itu tak mampu berkutik. Sungguh jantungnya berdebar kencang.
Erland masih bermain di bibir ranum sang istri sembari melatihnya agar malam-malam selanjutnya sudah tak kaku lagi.
"Kita tidur sekarang ya, kamu pasti capek banget 'kan?" ucap lelaki itu sangat pengertian.
"Apakah Mas mengizinkan?" tanya Airin tampak ragu.
"Iya, kan masih ada malam-malam selanjutnya. Lagipula tempatnya tidak memungkinkan, karena ada bocah kecil ini. Nanti kita setting dulu waktunya untuk malam pertama kita agar kita nyaman dan rileks."
Airin tersenyum lega mendengar ucapan suaminya. Setidaknya ia masih bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi saat waktu itu tiba.
Erland mengatur posisi tidur, ia menggeser Zherin kebagian dinding, Airin di tengah, ia di sampingnya sembari memeluk dengan mesra. Erland sengaja memberikan sentuhan-sentuhan kecil agar wanita itu terbiasa dengan kehadirannya.
Malam semakin larut, namun Airin tak dapat memejamkan matanya, karena rasa lapar yang mendera. Ingin duduk, namun tangan lelaki itu membelenggu pinggangnya.
"Kenapa gelisah, Dek?" tanya Erland. Ternyata lelaki itu sedari tadi juga belum bisa memejamkan mata, namun bukan karena perkara lapar, melainkan sesuatu yang yang tak bisa ia jinakkan.
Maklum sudah hampir satu tahun menduda, tentu saja membuat senjatanya minta di asah agar kembali tajam. Namun, keadaan dan tempat yang tak mendukung sehingga membuatnya harus menanamkan rasa sabar lagi.
Airin memutar tubuh menghadap pada sang suami. "Mas, aku lapar," ucapnya dengan jujur.
"Oh, kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Erland segera membantu isterinya untuk duduk.
"Tadi aku mau makan, tapi kamu ngajak tidur," terang wanita itu begitu polos.
"Ya ampun, Dek, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu lapar," balas Erland gemas sekali dengan perangai istri barunya itu yang terlalu polos.
Airin hanya tersenyum malu, bagaimana bisa ia bicara, karena lelaki itu tetiba saja membungkam mulutnya sehingga membuat bibirnya mendadak bisu.
"Aku ambil makan dulu ya, Mas, kamu mau aku ambilkan sekalian?" tanya Airin ingin beranjak.
"Ya, bolehlah. Eh, ambil satu piring saja, tapi buat Doble isinya. Biar kita makan sepiring berdua," ucap Erland yang mendapat tatapan tak percaya oleh istrinya.
"Kamu yakin ingin makan sepiring berdua?" tanya Airin
"Iya, yakin banget malah."
Airin hanya mengangguk patuh dan segera keluar kamar untuk mengambil makanan untuk dirinya dan sang suami. Jantung wanita itu masih saja berdegup kencang membayangkan saat makan berdua dengan lelaki yang kini sudah menjadi suaminya.
__ADS_1
"Lagi ngapain, Airin?" tanya kakak sepupu Airin yang menemui adiknya di dapur.
"Eh, Kak, ini mau makan," jawabnya sembari memperlihatkan makanan yang sudah ia tata dalam piring.
"Wah, kayaknya kehabisan energi nih. Ganas juga tuh Pak Pol," goda sang kakak dengan senyum gaje.
"Ish, apaan sih Kak. Sok tahu banget," jawab Airin malas.
"Alah, nggak usah malu. Lagian udah halal juga!"
"Yaelah masih aja ngeyelan, yaudah terserah Kakak aja mau mikir gimana," jawabnya malas berdebat yang begituan. Bagaimana membenarkan lihat bentuknya saja belum. Airin segera beranjak menuju kamarnya.
Wanita itu meletakkan makan diatas meja rias, lalu membentangkan karpet kecil untuk duduk mereka saat makan. Erland yang sedang fokus dengan ponselnya segera meletakkan benda pipih itu.
"Mas, ayo makan," ajak Airin duduk bersimpuh diatas karpet.
"Wih, enak nih. Duren udah habis, Dek?" tanyanya sembari duduk bersila disamping sang istri.
"Udah, kamu masih pengen duren, Mas?" tanya Airin.
"Iya, tapi kalau udah habis, yaudah nggak pa-pa, tinggal kita yang belum belah duren 'kan?" ucapnya yang kembali membuat wajah Airin bersemu.
"Hehe... Biasa aja wajahnya, Dek, tenang saja, belah duren itu rasanya mantap," ucapnya kembali.
Dirinya yang sangat awam, dan belum perpengalaman apapun maka hanya bisa menanggapi dengan senyum kaku. Masih terdengar saru bagi dirinya yang masih suci.
"Makan, Mas," tegur Airin saat melihat Erland yang masih menatap dirinya dengan lekat.
"Ah, ayo makan, mau aku suapin?" tanya Erland yang masih saja bertingkah aneh. Mungkin efek sesuatu yang sedang menggantung.
"Tidak, terimakasih, aku bisa makan sendiri."
Pasangan halal itu makan dalam satu piring berdua. Masih terasa kaku untuk Airin, dan jantungnya masih saja tidak normal bila suaminya menatap dengan dalam.
Selesai makan, Airin segera membereskan peralatan makan untuk menaruh ke dapur. Sementara itu Erland kembali duduk di pinggir ranjang sembari membuka MacBook untuk memeriksa beberapa laporan dan email yang masuk.
Cukup lama pria itu berkutat di dunia online, namun, sedikit membuat dirinya heran karena istrinya tak juga kunjung masuk kedalam kamar. Ia kembali menutup benda tipis itu, dan beranjak keluar untuk mencari wanitanya.
Ternyata Airin sedang asyik ngobrol dengan para sepupunya yang sesama besar, Erland sedikit kesal dengan wanita itu. Kenapa tidak paham bahwa dirinya yang kini sangat butuh kehadirannya.
__ADS_1
"Khemm!"
"Mas Erland!" ucap Airin sedikit kaget dengan kehadiran suaminya telah berdiri dihadapan mereka.
"Ah, maaf bila aku ganggu. Tapi, cuma mau minta tolong dibuatkan kopi," jelasnya beralasan.
"Oh, baiklah. Aku pamit dulu ya," ucapnya pada para sepupunya.
Mereka hanya mengangguk, dan dibalas oleh senyuman oleh Erland, sehingga membuat mereka malu menatap suami saudaranya yang memang kelewat manis ngalah-ngalahin manisnya gula. Mereka selalu berkata bahwa Airin sangat beruntung mendapatkan pakpol, meskipun duda, tapi sangat sempurna di mata para wanita.
Airin segera menyeduh secangkir kopi hitam kesukaan Pria itu. Erland kembali ke kamar, duduk manis menunggu kedatangan istrinya.
"Kopinya, Mas," ucap Airin sembari menaruh secangkir kopi diatas nakas.
"Makasih ya, kamu mau kemana?" tanya Erland sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Ah, nggak kemana-mana kok, Mas."
"Baguslah, sini duduk," ucapnya sembari menepuk sisi tempat duduknya.
Airin hanya mengangguk patuh. Ia segera duduk disamping suaminya yang tampak tak menyukai bila meninggalkannya. Dengan perasaan tak menentu saat duduk disampingnya.
Erland menyeruput kopi hitam buatan wanita cantik miliknya itu. Sementara tangannya masih berselancar di layar tipis yang berada dalam pangkuan.
Airin merasa bosan saat diacuhkan oleh pria itu, maka ia memilih untuk memejamkan mata dalam posisi duduk, mungkin karena waktu yang sudah menunjukkan pukul satu malam membuat netranya mudah sekali menemui kantuk, ditambah lagi lelah yang belum sempat ia istirahatkan.
"Dek, sepertinya lusa kita harus balik ke kota," ucap Erland tanpa mengalihkan tatapannya.
"Tidak apa-apa 'kan? Soalnya ada pekerjaan yang harus segera aku tangani."
Merasa tak mendapat tanggapan, Erland menoleh kesamping menatap wajah istrinya.
"Masya Allah, udah tidur kamu, Dek," serunya segera menutup MacBook, lalu membantu merebahkan tubuh wanita itu dengan pelan.
Erland menatap wajah cantik itu. Tangannya terulur mengusap wajah Airin dengan lembut, hingga jarinya berhenti di bibir ranum yang telah membuat candu baginya.
Dengan perlahan Erland mengecup bibir itu dengan sangat hati-hati. "Mimpi yang indah, Dek." Erland menarik kain tebal menutup tubuh anak dan istrinya. Ia masih duduk beberapa menit sembari menghabiskan kopinya, setelah itu ia ikut masuk kedalam kain yang sama, memeluk tubuh sang istri untuk mencari kehangatan disana.
Pasangan itu tidur dengan nyaman hingga waktu pagi menjelang.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰