
"Cuma Zherin yang diambilkan?" tanya Erland pada Airin yang sedang sibuk mengambil makanan buat Zherin.
"Ah, apakah Bapak mau saya ambilkan sekalian?" tanya gadis polos itu.
"Boleh," jawab Erland singkat.
"Yasudah, Bapak bawa Zherin duduk dulu," ujarnya segera mengisi piring buat ayah dari bocah yang ia kasuh.
"Baiklah, tapi saya jangan dikasih sayur nangka ya. Soalnya tidak suka. Dan jangan di kasih acar, tidak suka asem juga," ujar pria itu memperingati.
"Ah, baiklah." Airin mengiyakan segala larangan Pria itu. Ternyata banyak juga pantangan lelaki itu.
Tak berselang lama Airin sudah membawa dua piring makanan, lalu menghidangkan pada ayah dan anak itu. Sesaat Erland menatap piring yang disuguhkan oleh Airin.
"Ayo sayang, makan dulu ya. Zhe ingin Mbak suapi?" tanya Airin pada gadis kecil itu.
"Tidak Mbak, aku makan sendiri." Zherin menerima makanan yang diberikan oleh Mbaknya, gadis kecil itu makan dengan lahap, karena makan dengan menu kesukaannya, yaitu ayam semur.
Sementara Erland masih diam tak melakukan apapun. Dan tentu saja membuat sang pengasuh menjadi heran, kenapa Pria itu tak memakan menu yang dia ambilkan.
"Kenapa Bapak tidak makan?"
"Apakah ini makanan untuk saya?" tanya Erland memastikan sekali lagi.
"Iya, apakah Bapak tidak suka? Atau mau diganti menunya dengan yang lain?" tawar gadis itu.
"Ini buat kamu saja ya, soalnya saya tidak bisa makan sayur nangka dan acar," jelasnya yang memahami, mungkin gadis itu lupa.
"Astaghfirullah, maaf, Pak. Saya benar-benar lupa. Kalau begitu Bapak duduklah kembali biar saya saja yang mengambilkan, kali ini tidak akan lupa lagi," ucap Airin dengan senyum malu.
"Hmm. Baiklah."
Airin segera beranjak untuk mengambilkan kembali makanan untuk majikannya. Untung saja dia belum mengambil makanan untuk dirinya sendiri, jadi makanan itu bisa untuk dirinya.
Kini mereka makan dalam satu meja. Dan Zherin tampak menikmati makanannya, berbeda dengan Airin yang merasa gerah saat dekat dengan ayah dari gadis kecil itu. Entah kenapa suhu tubuhnya selalu panas dingin dan nervous bila berhadapan dengan pria itu.
__ADS_1
Jika pakpol sedang menikmati makanannya bersama anak dan pengasuh, berbeda dengan pengantin baru itu yang sedang mengadakan pemotretan di kamar pengantin mereka. Bermacam pose diarahkan oleh fotografer.
Intan benar-benar merasa canggung dan nervous saat di peluk begitu intim oleh suaminya. Pikirannya mulai merewang kemana-mana. Apakah dia sudah siap menghadapi malam pertamanya?
Saat fotografer keluar dari kamar pengantin untuk mengambil keperluan yang lain, kini tinggal mereka berdua disana. Reza menatap sang istri dengan senyum gaje.
"Ssst! Dek, kok bengong? Pasti lagi mikirin malam pertama kita ya?" godanya.
"Apaan sih, Bang. Ngapain mikir yang begituan," elak Intan memalingkan muka.
"Eleh, bilang aja iya. Kamu sudah nggak sabar? Bagaimana jika kita mulai mencicil dari sekarang," serunya yang mendapat pukulan gemas dari istrinya.
Bugh!
"Nggak usah aneh-aneh deh, Bang. Masih banyak tamu juga," kesalnya menatap malas.
"Haha.... Ya nggak apa-apa, kan kita sudah halal, Dek. Ayolah, baru menatap bibir kamu saja dia sudah menantang," ucap Reza masih menjahili istrinya. Ia membawa gadis itu masuk kedalam pelukannya.
"Eh eh, Bang nggak usah Ngadi-ngadi, nanti fotografernya datang." Intan segera beranjak dari pangkuan lelaki itu.
Tak berselang lama fotografer kembali masuk untuk melangsungkan acara pemotretan mereka. Selesai sesi pemotretan, pasangan pengantin itu makan bersama. Mereka ikut bergabung dengan tamu-tamu hadir yang sedang menikmati menu hidangan.
Memang di kediaman Intan hanya acara sederhana, karena resepsi pernikahan mereka akan diadakan di kediaman keluarga Reza. Jadi Intan hanya mengadakan acara sederhana bentuk syukuran atas berjalan lancar akad nikah mereka.
Intan dan Reza ikut bergabung dengan Erland yang sedang fokus makan dengan Zherin juga Airin dalam satu meja. Sesaat terlintas dipikiran Intan melihat mereka sepertinya cocok. Tapi dia belum mengetahui tentang Airin, apakah wanita itu sudah punya pasangan?
"Serius Amad, Bang," tegur Intan ikut bergabung duduk bersama mereka.
"Eh, Dek. Lapar juga kamu?" ledek Erland pada adik angkatnya.
"Ya laparlah, Bang. Masa nggak," jawabnya sembari menyuap makanannya.
"Kirain pengantin baru udah kenyang dengan cara pandang-pandangan," goda Erland tersenyum pada pasangan itu.
"Ish, apaan sih, Bang. Nggak gitu jugalah." Intan meneruskan makannya.
__ADS_1
"Dek, mau Abang suapin nggak?" tawar Reza membuat Intan semakin bersemu.
Sementara itu Airin hanya tersenyum malu melihat tingkah pasangan pengantin yang duduk bersama mereka.
"Kalian jangan begitu, kasihanilah dengan orang yang jomblo," tutur Erland sembari menatap Airin.
"Hahaha... Siapa yang jomblo, Bang Erland?" tanya Reza.
"Bukan, tapi dia," jawab polisi itu sembari menunjuk Airin dengan gerak bibirnya.
"Yee, Bang Erland tahu banget status Mbak Airin. Yaudahlah kalau udah sama-sama jomblo kenapa tidak. Iya, kan Bang?" ucapnya meminta pendapat pada suaminya.
"Ho'oh bener banget. Lagian cocok, serasi banget," jawab Reza membenarkan.
Seketika wajah Airin semakin merah merona saat digoda oleh pasangan pengantin itu. Sementara Erland tak menunjukkan ekspresi yang berbeda diwajahnya. Terlihat hanya santai. Apakah Pria itu memang tak ada perasaan apapun pada Pengasuh putrinya?
Airin beranjak dari meja itu dengan alasan untuk ke kamar mandi. Rasanya dia tidak mampu bila digoda oleh mereka, dia juga merasa tidak nyaman saat melihat wajah Erland biasa saja. Dirinya tak ingin menaruh harapan apapun tentang majikanya itu.
Tak terasa waktu berjalan, kini waktu sudah berlanjut sore, karena acara akad maka Intan dan Reza tak mengundang banyak tamu, hanya orang-orang terdekat saja yang datang menghadiri. Acara sudah mulai sepi. Erland juga pamit untuk mencari penginapan agar mereka bisa istirahat.
Erland masih harus menghadiri acara resepsi yang akan diadakan besok di kediaman orangtua Dokter jantung itu. Erland pamit pada pasangan itu.
Setelah semua tamu pulang, kini tinggal pasangan itu dan keluarga Reza. Mama Eva juga pamit untuk pulang kekediamannya, karena masih banyak urusan untuk persiapan besok di resepsi pernikahan anaknya.
"Za, Intan, Mama pulang dulu ya. Soalnya masih ada urusan. Takutnya nanti Mama lupa," ujar Mama pada kedua anaknya.
"Benaran Mama mau pulang? Kenapa tidak nanti saja, Ma?" tanya Intan was-was.
"Iya, pekerjaan Mama masih banyak. Kamu dan Reza disini saja istirahat. Kalian jangan capek-capek soalnya besok masih ada kegiatan," jelas Mama pada pasangan itu.
"Oke, Mama. Janji nggak akan capek-capek, palingan cuma keluarin keringat dikit aja, Ma. Hehe..." Reza tampak begitu kesenangan, berbeda dengan Intan yang tampak cemas.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1