
Pagi-pagi sekali Erland sudah bersiap untuk berangkat menunaikan tugas selama satu bulan di kota orang. Ia harus meninggalkan anak dan istrinya. Namun, ia merasa cukup tenang karena meninggalkan Airin di rumah orangtuanya. Jadi tidak terlalu khawatir.
"Minum dulu, Mas," ucap Airin menyuguhkan secangkir kopi diatas meja yang ada dikamar.
"Iya, kenapa kamu masih saja ngeyelan Dek, kamu itu tidak boleh banyak gerak. Aku bisa buat minum sendiri," tegur lelaki itu tak suka tingkat ngeyel istrinya.
"Apa sih Mas, ini tuh nggak banyak gerak, cuma bikin minum doang, lebih banyak gerak kemarin saat menyenangkan kamu," jawab wanita itu membuat Erland senyum-senyum gaje.
Cup!
Erland mendekap Airin dari belakang sembari mengecup pipinya dari samping. "Kamu sekarang udah pintar ngomong ya, hmm," ucapnya begitu gemas dengan wanita hamil itu.
"Iyalah, kamu itu terlalu mencemaskan aku. Aku sudah tidak apa-apa, Mas. Aku sudah baik-baik saja. Insya Allah anak kita kuat, seperti Daddynya," balas Airin. Ia meletakkan telapak tangannya di kedua tangan Erland yang masih membelenggu perutnya.
"Baiklah Sayang, tapi kamu harus tetap hati-hati ya," pesan pria itu mencoba memahami keinginannya yang tak mau terlalu di kekang.
Erland menyesap kopi hitam buatan istrinya. Ia mengecup wajah damai putrinya yang masih terlelap. Ia tak sempat berpamitan karena tak tega harus membangunkan.
"Dek, aku berangkat ya. Kamu jaga diri baik-baik, titip anak-anak kita," ucap Erland kembali memeluk istrinya sebelum beranjak.
"Iya, kamu hati-hati dalam bertugas ya, Mas, semoga kamu pulang dengan selamat. Kami akan selalu merindukan kamu," ucap Airin terdengar lirih.
"Aamiin... Aku pergi ya." Erland berangkat pagi-pagi sekali. Dan tak lupa berpamitan pada kedua mertuanya.
"Yah, Bu, aku pamit ya, titip Airin dan Zherin," pamitnya pada mereka.
"Kamu hati-hati dalam bertugas ya, Nak. Jaga kesehatan, kamu jangan pikirkan istri dan anakmu, kami akan menjaga mereka," pesan Ibu dan ayah pada anak menantu pertama mereka.
"Insya Allah, aku akan selalu hati-hati. Kalau begitu aku pamit ya." Erland menyalami tangan ayah dan ibu.
Setibanya di teras rumah, Airin kembali memeluk suaminya. Rasanya berat sekali berpisah. Selama dirinya menjadi istri Pria itu, ini kali pertama mereka dipisahkan oleh tugas.
"Jangan sedih ya, aku akan selalu mengabari kamu." Erland membalas pelukan istrinya dan berulang kali memberi kecupan di wajahnya.
Airin hanya mengangguk dan segera melepaskan pelukannya. Ia masih berdiri disana melepas kepergian suaminya hingga mobil yang dikendarai oleh Erland hilang diujung jalan.
Kini wanita itu kembali masuk kedalam rumah. Ia melihat ibu sudah berkutat di dapur. ia ikut duduk di dapur menemani ibu.
"Sudah, jangan sedih ya. Satu bulan itu tidak akan lama," ucap Ibu menghibur putrinya.
"Tapi merasa canggung, Bu, soalnya baru kali ini ditinggal tugas setelah menjadi istrinya," curhat wanita itu pada sang ibu.
"Nggak pa-pa, itu sudah resiko menjadi istri seorang abdi negara. Nanti lama-lama kamu bakalan terbiasa," jelas wanita baya itu kembali.
Airin hanya mengangguk membenarkan ucapan ibunya. Ia memang harus belajar membiasakan diri untuk berpisah dengan suaminya saat di tugaskan keluar kota.
"Kamu istirahat sana, Nak, ingat pesan suamimu," titah Ibu.
"Tapi aku sudah tak ngantuk lagi, Bu."
"Yasudah, kamu bantuin ibu metik sayuran ini saja." Ibu menyerahkan wadah yang berisi sayuran yang belum di petik. Dengan senang hati Airin mengerjakannya.
Jika Airin sedang menikmati momen perpisahan karena di tinggal tugas, namun berbeda dengan Intan yang siang ini merasakan perutnya kram.
__ADS_1
Intan masih menunggu suaminya yang belum juga tampak menemuinya yang sedari tadi sudah menunggu di kantin. Intan hendak pulang terlebih dahulu, karena ia merasa hari ini sangat lelah, tak seperti biasanya. Perutnya juga sering keram.
Saat ingin beranjak, Intan merasakan perutnya sakit luar biasa. Ia mencari pegangan karena sakitnya semakin jadi.
"Bu Dokter kenapa?" tanya pegawai kantin saat melihat Dokter cantik itu meringis menahan rasa sakit.
"Nggak tahu, Mbak, perut saya rasanya sakit sekali," jawabnya masih dengan ringisan.
"Apakah Bu Dokter ingin melahirkan?" tanya pegawai itu.
"Tapi HPL saya masih lama bulan depan," jawabnya.
"Coba saja periksa dulu, Bu," saran mereka.
"Ah, baiklah. Kalau begitu bisa bantu saya?" tanya Intan minta tolong pada petugas kantin mengantarkannya.
"Baik, Bu Dokter. Ayo saya bantu."
Intan di papah oleh petugas kantin untuk menuju IGD untuk mencari pertolongan pertama terlebih dahulu.
Setibanya di IGD mereka segera memberi penanganan pada Dokter bedah yang pastinya mereka semua sudah mengenali.
"Ayo Dok, baring dulu," ucap Dokter umum yang menangani.
"Dokter Sonya apakah sudah pulang, Dok?" tanya Intan. Ia menanyakan Dokter Obgyn yang menanganinya.
"Kayaknya sudah, tapi sebentar akan saya hubungi. Kita periksa dulu ya, Dok," ucap Dokter umum itu melakukan pemeriksaan pada kehamilan Intan.
Intan sudah sedikit lebih tenang setelah mendapatkan pertolongan. Ia dapat istirahat sejenak setelah tadi menahan rasa kontraksi sangat hebat.
Reza baru saja keluar dari ruang operasi, ia bergegas untuk menuju kantin karena mengingat sang istri sudah lama menunggu. Saat Reza tiba di sana, ia tak melihat sosok wanita itu.
"Dokter Reza mau cari Dokter Intan?" tanya salah seorang pegawai kantin.
"Iya, apakah istri saya tadi disini?" tanya Reza.
"Iya, tapi Dokter Intan sekarang sedang ditangani di IGD," jelas pegawai itu.
"Apa! masuk IGD?" tanya Reza tampak begitu terkejut.
"Benar, Dok, tadi Dokter Intan mengalami kontraksi."
Reza segera bergegas menuju ruang instalasi gawat darurat untuk melihat kondisi istrinya. Perasaan pria itu diliputi ketakutan yang tak terkira. Ia begitu cemas, takut terjadi hal buruk pada istri dan anaknya.
Setibanya di sana, Reza segera menanyakan dimana keberadaan istrinya. Reza segera membuka tirai dimana istrinya sedang terbaring lemah.
"Sayang, kamu kenapa?" ucapnya memeluk dan mengecup seluruh wajah wanita itu. "Apa yang terjadi, Dek?" tanyanya kembali.
"Aku tidak tahu, Bang, tadi perut aku tiba-tiba sakit," jawab Intan jujur.
"Sekarang bagaimana? Apakah masih sakit?" tanya Reza tampak begitu cemas.
"Sudah mulai reda rasa sakitnya, Bang. Masih nunggu Dokter Sonya," jawab Intan dengan suara lemah.
__ADS_1
Reza menarik kursi besi, dan menduduki sembari memegang tangan istrinya, berulang kali ia mengecupnya.
"Anak Papa harus kuat ya, jangan buat Papa dan Mama cemas, Sayang," ucapnya membawa calon anaknya bicara.
Tak berselang lama Dokter Sonya sudah masuk dan segera memeriksa keadaan Intan.
"Bagaimana kondisi Intan dan bayi kami, Dok?" tanya Reza begitu khawatir.
"Sepertinya bayinya harus segera di lahirkan.
"Bagaimana bisa, bukankah belum cukup bulan, Dok?" tanya Reza tidak paham.
"Ya, tapi sepertinya akibat kontraksi tadi mengakibatkan leher rahim terbuka sehingga bayi masuk kedalam jalan lahir. Untuk lebih jelasnya kita akan melakukan USG dulu biar semuanya jelas," terang Dokter Sonya.
"Baiklah, Dok." Reza dan petugas IGD membawa Intan ke ruang Dokter kandungan itu.
Setibanya disana, Intan segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut melalui USG untuk melihat perkembangan bayi dan letak posisi bayi sekarang.
Dokter Sonya tampak serius melihat monitor alat yang sedang bermain di kulit perut Intan.
"Dokter Intan, seperti yang saya katakan tadi. Bayi harus segera di keluarkan, karena kepalanya telah masuk kedalam jalan lahir," jelas Dokter Obgyn itu.
"Apakah akan berdampak buruk pada bayi kami, Dok?" tanya Intan khawatir.
"Insya Allah tidak, jika kita segera menangani. Sekarang bersiaplah untuk melakukan Caesar," jelas wanita itu.
Intan dan Reza saling pandang. Reza mengangguk pelan memberi semangat pada istrinya. Intan hanya mengangguk pelan. Ia tak bisa berbuat apa-apa, ia harus menyelamatkan nyawa bayinya.
Dokter Sonya segera menghubungi Dokter anastesi dan meminta untuk di persiapkan ruang operasi untuk melakukan tindakan pada Dokter bedah yang ingin melahirkan.
Setelah semuanya telah di persiapkan, mereka segera membawa Intan masuk kedalam ruang operasi. Intan menatap sekeliling ruangan itu. Biasanya ia yang melakukan tindakan di meja operasi pada pasiennya. Kini dirinya yang ada diatas meja operasi itu.
"Rileks, Dok, masa ahli bedah harus deg degan," seloroh Dr Sonya.
"Aku baru ngerasain terbaring di meja ini, Dok, beginilah yang dirasakan mereka saat akan melewati operasi," jelas Intan.
"Rasanya pasti sangat luar biasa ya, Dok, Bawa santai saja, bayangin saja yang indah-indah," timpal Dr anastesi. Dokter itu sengaja mengalihkan perhatian Intan untuk menyuntikkan obat bius.
"Tidak perlu mengelabui aku, Dok, aku tahu kamu ingin membuatku segera tidur, bukan?" ucap Intan membuat mereka tertawa.
"Dek, serius," tegur Reza merasa heran melihat istrinya yang sangat santai. Sedangkan dirinya sebagai Dr jantung saja merasa deg-degan.
"Lihatlah wajah Dr Reza sudah mulai cemas," seloroh mereka.
"Habisnya aku geli mendengar kata-kata Dokter Gilang yang menyamakan aku dengan pasien yang lainnya," ucap Intan membuat mereka kembali terkekeh.
"Serius, Dek," ucap Reza kembali. Ia mengusap mahkota istrinya dengan lembut.
"Cemas banget ya, Dok, tenang Dok, semua akan baik-baik saja," ucap Dokter Reza.
Bersambung.....
Happy reading 🥰
__ADS_1