Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Membohongi perasaan sendiri


__ADS_3

"Aku hanya takut Abang tidak nyaman," jawab Intan yang membuat Erland menggeleng tak mengerti.


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu, Dek? Bahkan aku sudah seperti orang gila mencari keberadaanmu. Terakhir aku mendapatkan kabar bahwa kamu mendapat beasiswa ke Singapore," jelas Erland menatap tak mengerti.


Intan hanya diam tak ingin menanggapi lagi, tentu saja bukan itu alasan utamanya. Ia hanya berusaha untuk melepaskan Pria itu dari bilik hatinya. Namun nyatanya selama perpisahan itu hatinya masih saja tak bisa menerima orang baru, seakan nama itu masih terpaut begitu erat.


"Dek, kenapa diam saja? Jangan katakan setelah sekian lama berpisah kamu masih menyimpan perasaan suka pada Abang?" ucap Erland membuat Intan terkesiap.


"Ha! Ya, Eng-enggaklah. Tentu saja aku sudah mendapatkan pria baik seperti yang Abang inginkan," jawab Intan jelas berbohong.


"Ohya! Siapa Pria beruntung itu? Abang ingin sekali berkenalan dengannya," ujar Erland tampak antusias.


"Di-dia adalah, Dokter Reza." Wanita itu sukses membohongi Erland dan juga hatinya sendiri.


"Waow... Ternyata kalian pacaran? Selamat ya, Dek. Abang ikut senang mendengarnya," ucap Erland dengan tulus.


Intan hanya mengangguk tipis. Sakit sekali melawan kebenaran yang ada. Apakah ia harus mencoba untuk menerima Reza? Apa salahnya mencoba.


"Oya, Bang, Anak Abang mana?" tanya Intan mengalihkan topik pembahasan.


"Lagi dibawa pengasuhnya pulang ke hotel."


"Yasudah, kalau begitu ayo Abang istirahat kembali." Intan segera membantu Erland untuk kembali berbaring diatas ranjang, namun Pria itu menolak.


"Nanti saja, Abang masih ingin ngobrol sama kamu. Kenapa kamu sepertinya enggan? Apakah kamu tidak merindukan Abang?" tanya Erland membuat Intan menjadi sulit sendiri untuk menyikapi.


Bagaimana mungkin ia tak merindukan Pria itu, andai saja Erland masih sendiri, mungkin ia tak ingin lagi mengalah dengan keadaan, ia akan kembali berjuang untuk mendapatkan hatinya. Namun sudah tak ada harapan lagi untuk itu, karena status mereka sudah pasangan suami istri. Ia tak ingin menjadi seorang pelakor, apalagi sekarang ada Zherin diantara mereka sebagai pengikat hubungan sakral itu.


Intan tak ingin egois, mungkin memang takdir tak menginginkan mereka merajut hubungan melebihi saudara. Mulai sekarang Intan akan berusaha untuk membuang perasaan itu.


"Hei, kenapa bengong?" Erland menepuk pundak Intan sehingga membuatnya sedikit terjingkat.


"Ih, Abang apaan sih? Kaget tau," omelnya menatap malas.

__ADS_1


"Habisnya ditanyain dari tadi malah bengong."


"Ya, aku harus bagaimana, Bang? Kan Abang masih sakit, Abang itu harus banyak istirahat agar cepat pemilihannya." Intan berusaha menjelaskan agar Pria itu paham dan segera kembali istirahat.


"Tapi sungguh Abang sudah merasa jauh lebih baik, Dek. Biarkan Abang duduk santai seperti ini dulu," pinta Erland pada sang adik.


"Nggak bisa, Bang. Sekarang Abang harus ikut perintah aku, karena disini aku dokter. Jadi sebagai pasien Abang harus manut, jangan membantah."


"Ya, baiklah. Kenapa kamu kejam sekali," rutu Erland sembari berdiri dari duduknya dengan dibantu oleh gadis itu.


Intan memapah Erland untuk kembali naik keatas ranjang. Kembali jantungnya berdegup saat jarak begitu dekat. Ah, kenapa hati ini sangat tak bisa berkompromi.


"Sekarang Abang istirahat. Apakah Abang sudah sarapan?" tanya Intan sembari memperbaiki bantal agar lelaki itu istirahat dengan nyaman.


"Belum, Abang ingin disuapi kamu lagi," jawabnya membuat Intan berdecak sembari mencubit bahunya.


"Nggak usah manja." Perempuan itu mencubit dengan geram.


"Biarin. Udah tunggu disini dulu, aku akan meminta makanan buat Abang, dan mengambil peralatan untuk memasang infus. Berani sekali membuka infus tanpa izin aku." Omel gadis itu sembari melangkah keluar meninggalkan Erland yang masih bengong.


Setibanya diluar, Intan segera menemui koki RS itu memesan menu sarapan untuk Erland. Sebenarnya tadi mereka ingin mengantarkan, namun merasa sungkan karena sedang ada acara di kamar rawat itu.


Setelah itu Intan kembali masuk didampingi oleh seorang perawat dengan membawa peralatan infus. Intan kembali memasang jarum infus di tangan Erland.


"Tapi Abang sudah baikan, Dek, Abang rasa sudah tak perlu lagi diberi infus," ucap Erland menolak.


"Jangan membantah, yang tahu tentang kesembuhan Abang itu aku, jadi diam!" sanggah Intan mematahkan ucapan Pria itu.


Erland tak lagi membantah ia hanya bisa pasrah menerima segala perawatan yang diberikan gadis itu. Erland menatapnya dengan seksama, ada sesuatu yang lain dalam hatinya. Ah, ia segera melenyapkan perasaan aneh itu. Sampai kapanpun perasaannya akan tetap sama seperti dulu. Apalagi sekarang Intan sudah mempunyai kekasih, ia tidak akan pernah coba-coba untuk merusaknya.


Setelah selesai, Intan meminta perawat untuk keluar. Ia segera mengambil makanan yang baru saja diantar oleh petugas dapur. Dengan telaten gadis itu menyuapi pasien spesialnya.


"Udah kenyang, Dek," ucap Erland menahan sendok yang akan masuk kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Satu kali lagi, Bang. Aaa." Intan masih berusaha membujuk Pria itu agar menghabiskan makanannya.


Selesai makan Erland istirahat, mungkin karena pengaruh obat yang disuntikkan kedalam tabung infus sehingga matanya terasa sangat berat.


"Dek, Abang istirahat sebentar ya, kamu jangan pulang dulu. Kamu mau kan temani Abang untuk hari ini?" ucap Erland sebelum memejamkan matanya.


"Baiklah, sekarang Abang istirahat. Aku hanya keluar sebentar untuk..."


"Bertemu Reza?" tanya Erland memotong ucapan gadis itu.


"Ah, Abang tahu saja. Udah tidur," serunya sembari menyelimuti tubuh polisi itu dan mengatur suhu ruangan. Sesaat Erland merasa sangat diperhatikan oleh wanita itu. Ia hanya tersenyum menatapnya.


"Tidur, Bang," intrupsi Intan karena melihat Erland tak kunjung menutup netranya.


"Dek, terimakasih atas segala perhatian kamu sejak Abang masuk ke RS ini hingga sekarang," ucap Erland yang membuat Intan sedikit merasa salah tingkah. "Meskipun Abang tidak tahu penyebab kenapa kamu menghindari Abang, tapi Abang dapat rasakan segala perhatian yang kamu curahkan."


"Ish, nggak usah baper. Tentu saja aku perhatian karena kita saudara, bukan?" ucap Intan membuat Erland sedikit berat untuk mengiyakan.


"Sudah, ayo sekarang tidur. Jangan membuatku merasa jenuh, Pak inspektur. Karena urusanku bukan Bapak saja. Hehe..." Gadis itu terkekeh dengan candaannya.


"Bisa aja kamu, Dek, baiklah Abang tidur sekarang, tapi janji tungguin Abang tidur dulu baru kamu boleh keluar, kalau tidak, kamu akan terkena pasal berlapis," sambungnya dengan kekehan juga.


"Ih, enak aja. Emang ada gitu pasalnya?"


"Ada dong. Yaitu PHP dan penipuan."


"Hahaha... Abang bisa aja. Udah ah, ayo tidur sekarang, Bang," titahnya dengan serius. Erland segera memejamkan matanya.


"Sedang apa kamu disini?" tanya seseorang yang membuat Intan dan Erland menoleh bersamaan.


Bersambung.....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2