Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Gagal nonton


__ADS_3

Jam empat pagi, Airin membuka netranya, ia menoleh kesamping tak menemui suaminya. Ia segera duduk untuk mencari keberadaannya. Tak bisa dibayangkan bagaimana rasa sakit di seluruh otot-ototnya karena pertempuran tadi malam.


"Ya Allah, gini amad rasanya tubuhku," gumamnya sendiri sembari memijit bagian yang pegal.


"Eh, udah bangun? Mau mandi sekarang?" tanya Erland sembari mengusak rambutnya yang basah setelah mandi wajib.


"Iya. Awwhh!" pekik Airin saat merasakan ada yang ngilu di bagian intinya.


"Kenapa, Dek? Apakah masih sakit?" tanya Erland segera mendekat. "Masih bisa jalan? Atau aku gendong saja?" tanyanya sedikit cemas.


"Ah, tidak usah, Mas, aku bisa jalan sendiri," tolak Airin berusaha untuk kuat menahan nyeri.


"Yakin bisa sendiri, nggak mau aku bantu?" tanya Erland meyakinkan sekali lagi.


"Iya, aku bisa sendiri, Mas." Dengan tertatih wanita itu masuk kedalam kamar mandi sembari menahan rasa tidak nyaman dibagian sensitifnya.


Airin berendam cukup lama untuk merilekskan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan pegal.


Setelah selesai mandi dan rapi pasangan itu duduk sebentar berbincang sebelum mereka memutuskan untuk pulang.


"Dek, kita pulang sekarang ya, nanti dirumah kamu istirahat saja. Nanti Zherin biar Bibik yang nganterin sekolah," ucapnya pengertian sekali.


Airin hanya mengangguk mengikuti perintah suaminya, meskipun tak mungkin ia bisa tidur nyenyak tanpa melakukan apapun. Walaupun sekarang telah resmi menjadi Nyonya Erland, namun, tak membuat Airin merasa diatas awan. Ia akan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu untuk kedua orang yang sangat ia sayangi.


Kini pasangan itu telah check out. Setibanya dirumah, Erland segera bersiap untuk berangkat tugas. setelah beberapa hari cuti, maka sudah pasti banyak tugas yang menumpuk diagendanya.


Airin menyediakan pakaian dinas suaminya, setelah itu menuju dapur untuk menyeduh secangkir kopi kesukaan Pria dewasa itu.


"Kopinya, Mas," ucap Airin meletakkan diatas meja.


"Terimakasih ya, kamu kok nggak istirahat saja?" tanya Erland sembari merapikan pakaian dinas yang ia kenakan.


"Nanti saja, Mas," jawab Airin sembari membantu mengancingkan baju coklat suaminya.


"Baiklah, Oya, Dek, lusa ada pertemuan Bayangkari sejajaran Polda xxx untuk mengadakan acara penyambutan anggota baru Bayangkari, yaitu kamu. Jadi nanti aku akan mengurus semuanya surat-surat kelengkapan kamu untuk menjadi anggota Bayangkari. Dan nanti nomor kamu akan di gabungkan di GC Bayangkari Polri," jelas Erland pada istrinya.


Airin sejenak terdiam, ia baru menyadari bahwa sekarang dirinya sudah menjadi istri dari seorang polisi, dan tentu saja banyak tugas yang harus ia emban dalam mendukung kegiatan dan tugas suaminya dalam mengayomi masyarakat.


"Kenapa diam, Dek?" tanya Erland mengusak rambut lurus wanita itu.


"Mas, apakah kamu tidak malu bila nanti ada yang mengetahui status aku sebelumnya adalah Pengasuh putrimu?" tanya Airin merasa tidak pantas.

__ADS_1


"Kenapa kamu bicara seperti itu. Jodoh aku tidak di tentukan oleh mereka. Emang kenapa jika mereka tahu?"


"Apakah kamu tidak malu mempunyai istri tak mempunyai titel apapun yang bisa kamu banggakan," ucapnya kembali. Sebagai istri seorang polisi tentu mereka mempunyai titel yang bagus, setidaknya orang kesehatan.


"Tidak, aku tidak akan malu sama sekali. Karena kamu adalah pilihanku," jawab Erland yakin.


Airin hanya mengangguk paham dan tak menanyakan apapun lagi, sudah cukup paham atas jawaban yang diberikan suaminya.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Airin ikut menemani suaminya untuk sarapan pagi. Dan menemui putri mereka di meja makan. Gadis kecil itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Morning, Daddy, Mama," sapa gadis kecil itu tersenyum manis.


"Morning, Sayang, kamu udah rapi. Maaf ya Mama telat bangun," ucap Airin beralasan pada anaknya.


"Nggak pa-pa, Ma. Aku tadi dibantuin Bibik," jawab bocah itu pengertian sekali.


Mereka sarapan bersama dengan menu yang di sajikan oleh Bibik. Selesai sarapan, Erland berangkat sekalian mengantar Zherin ke sekolah.


"Zhe, hari kamu biar Daddy yang anterin ya," ucap Erland sudah bersiap ingin beranjak.


"Baiklah, tapi nanti pulang Mama yang jemput 'kan?" tanya bocah itu berharap.


"Ya, Sayang, nanti Mama yang jemput kamu ya." Zherin menyalami tangan sang Mama.


"Berangkat dulu ya, Dek, kamu istirahat saja," pesan Erland sebelum masuk kedalam mobil.


"Baik, Mas," jawab Airin menyalami tangan suaminya dengan takzim. Berharap lelaki itu akan meninggalkan jejak sayang, namun, hanya hayalan saja. Erland hanya tersenyum dan mengusap rambutnya sesaat, lalu masuk kedalam mobil dan meninggalkan dirinya yang masih berdiri melepaskan kepergian mereka.


Airin menghela nafas pelan, ternyata dirinya masih belum begitu penting bagi Pria itu. Ya, ia tak boleh merasa sedih, karena semua butuh waktu untuk itu.


Airin segera masuk kedalam rumah. Sepertinya ia memang butuh istirahat untuk beberapa jam, menjelang Zherin pulang sekolah.


Jika Airin dan Erland sedang menempuh hidup yang baru, dan juga sedang belajar menerima satu sama lain. Berbeda dengan pasangan Dokter itu yang semakin hari semakin bucin.


Siang ini Intan sudah sudah selesai praktek, tak ada jadwal pasien operasi untuk hari ini, jadi dia bisa sedikit santai.


Intan mengirim pesan pada Reza, namun, tak ada jawaban, maka ia memutuskan untuk menunggu di kantin saja. Tadi pagi ia memang sengaja tak membawa kendaraan sendiri, karena mereka sudah punya janji ingin nonton bareng pulang dari RS.


Sudah cukup lama Intan menunggu, namun tak jua ada tanda-tanda lelaki itu muncul dihadapannya, dan pesan yang ia kirimkan juga belum dibaca.


Rasa tak sabar, maka Intan menyambangi ruang praktek suaminya. Sebenarnya merasa sungkan bila di lihat oleh teman-teman sejawatnya, takut dikatakan terlalu posesif. Tapi, bodoh amatlah, yang penting ia ingin tahu apa kendalanya hingga sang suami mangkir dari waktu yang sudah mereka sepakati.

__ADS_1


Saat Intan sudah berada di depan ruang praktek dr.jantung itu, suster menyapa dengan ramah.


"Eh, Dokter Intan, ada yang bisa kami bantu, Dok?" sapa salah seorang suster pendamping suaminya itu.


"Nggak, Sus, saya mau ketemu Dr Reza, apakah masih ada pasien didalam?" tanya Intan sebelum masuk.


"Oh, iya, Dok. Tadi ada pasien yang sedang konsultasi."


"Oh, sudah lama, Sus?" tanyanya penasaran.


"Sudah lumayan, Dok, kira-kira hampir empat puluh menitan," jawab perawat itu jujur. Tentu saja Intan merasa sedikit heran.


"Kalau boleh tahu, pasiennya cowok apa cewek ya, Sus?" tanyanya kembali. Sangat penasaran, ingin masuk takut mengganggu.


"Cewek, Dok, pasien ada rencana ingin cangkok jantung," jelas sang perawat.


Intan mengangguk paham. Sepertinya ini adalah pasien penting. Tentu saja suaminya sedang fokus menerangkan segalanya tentang proses operasi besar yang beresiko tinggi itu.


Dengan sabar wanita itu menunggu di bangku panjang. Para perawat juga sudah mulai bersiap untuk pulang, karena sudah tak ada lagi pasien yang harus mereka layani.


Cukup lama menunggu, terdengar suara pintu ruang praktek Reza terbuka. Terdengar suara obrolan yang bersamaan dengan seorang wanita.


"Za, aku sangat berharap operasi ini bisa berjalan dengan baik," ucap wanita itu yang tampak sudah akrab dengan Reza.


"Insya Allah, kita sama-sama berdo'a ya. Yang penting kamu harus berpikiran positif. Harus yakin pasti bisa," jawab Reza berdiri di depan pintu ruangannya untuk melepaskan kepergian pasien pentingnya itu.


Sepertinya Pria itu terlalu fokus dengan pasiennya hingga tak menyadari kehadiran istrinya disana. Setelah wanita itu pergi, Reza hendak masuk kembali kedalam ruangannya untuk bersiap pulang.


Intan membiarkan saja tanpa minat untuk menyapanya. Ia masih duduk disana hingga Pria itu kembali keluar.


"Eh, Sayang, kamu kok disini?" tanya Reza mendekati istri, lalu duduk disampingnya.


"Baru selesai?" tanya Intan datar.


"Iya, maaf banget ya, Dek, soalnya tadi ada pasien yang konsultasi," jawabnya minta maaf.


"Yaudah, ayo sekarang pulang," ajak Intan segera berdiri.


"Kita jadi nonton kan, Sayang?" tanya Reza mengayun langkahnya sedikit lebih lebar mensejajarkan dengan istrinya mendadak mempunyai langkah lebar.


"Nggak usahlah, Bang, lagian filmnya sudah mulai dari tadi," jawab Intan tak berminat lagi.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2