
"Dek, tolong ambil tabung oksigen portabel yang ada di mobil, dan sekalian infus. Bawa saja perlengkapan medis itu kesini," ucap Reza pada istrinya.
Intan segera mengambil peralatan medis yang biasa mereka sediakan di mobil untuk jaga-jaga. Seperti saat ini mereka harus membantu seseorang dalam keadaan kritis.
"Sebelumnya saya memberitahu dulu bahwa kami adalah Dokter, saya Sp. jantung, dan istri saya, Sp. bedah. Maka izinkan kami memberi pertolongan pertama untuk korban ini," jelas Reza sembari menunjukkan kartu (IDI) Ikatan Dokter Indonesia. Agar mereka tidak berpikir macam-macam.
"Aduh, terimakasih banyak, Dok. silahkan, Dok," ucap mereka membiarkan kedua Dokter itu memberikan pertolongan.
Reza memeriksa detak jantung dan denyut nadi, sementara Intan segera memasang infus dan memberikan oksigen darurat.
Intan sebagai seorang Dr bedah, maka dialah yang memberi obat dan membalut luka-luka yang ternganga agar darahh berhenti mengalir. Reza terus memantau perkembangan denyut nadi dan membantu sang istri dalam membalut luka-luka besar yang cukup mengerikan bila dilihat bagi orang awam, namun mereka yang sudah biasa maka tak ada rasa ngeri dan jijik.
Setelah selesai memberi pertolongan pertama, dan memastikan detak jantung dan denyut nadi mulai stabil, maka mereka meminta supir ambulans segera membawa ke RS besar yang mempunyai peralatan lengkap.
"Kalau begitu kami permisi dulu, semoga pasien cepat pulih dan sembuh," ujar Reza dan Intan pada warga disana yang ikut menyelamatkan.
"Terimakasih banyak, Dok, atas pertolongannya. Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian," ucap salah seorang sanak keluarga dari pasien.
"Sama-sama, Bu, kalau begitu kami permisi dulu." Reza dan Intan segera beranjak meninggalkan tempat itu. Meskipun terlambat menghadiri pernikahan Abangnya, namun mereka merasa bersyukur bisa membantu sesama yang sedang membutuhkan pertolongan mereka.
"Dek, pakaian kamu terkena noda darahh sedikit," ucap Reza sebelum menjalankan mobilnya kembali.
"Iya, nggak pa-palah, Bang, hanya sedikit kok. Nanti aku tutup pake switer saja," jelasnya.
"Kamu nggak marah sama Abang 'kan?" tanya Reza menatap ragu.
"Marah kenapa Bang?" tanya Intan tak paham.
"Ya, karena ide Abang kita harus telat begini," jawabnya.
"Astaghfirullahl, kenapa aku harus marah, Bang? Aku sangat bangga karena mempunyai suami yang jiwa kemanusiaannya sangat tinggi untuk membantu sesama. Jadi ilmu dan titel yang kita miliki bisa di rasakan manfaatnya oleh orang lain," jawab wanita itu tersenyum lembut pada suaminya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu adalah Istriku yang terbaik. Jadi makin cinta deh," goda lelaki itu tersenyum bahagia sembari melabuhkan sebuah kecupan di wajah istrinya.
"Alah gombal. Udah yuk, kita telat banyak nih," keluhnya pada sang suami.
"Siap, BuDok!" Reza kembali menjalankan mobilnya menuju alamat yang dikirim oleh Erland.
Setibanya di kediaman Airin, terlihat tamu sudah memadati. Pasangan itu segera turun dan memasuki ruang tamu. Saat mereka masuk, saksi nikah sudah mengucapkan kalimat "Sah" Dan pak hakim menyambung dengan bacaan Do'a untuk kedua mempelai.
Erland menyerahkan mahar yang telah ia sediakan. Airin menerima mahar dari suaminya yang berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan lengkap sebatang badan. Wanita itu mengecup punggung tangan suaminya dan di balas dengan kecupan hangat di keningnya oleh Erland.
Jangan ditanya bagaimana perasaan wanita itu saat ini. Sungguh ini adalah pengalaman pertama mendapatkan sebuah kecupan. Masih tak percaya bahwa sekarang dirinya telah menjadi istri dari seorang polisi, dan tak lain adalah majikannya sendiri.
Jodoh itu memang rahasia Allah. Mungkin pernah ada rasa dihatinya untuk lelaki itu, namun ia tak pernah berani berharap atau membayangkan untuk menjadi istrinya. Tapi lihatlah sekarang dirinya duduk bersanding di pelaminan dengan Pria itu.
Setelah selesai prosesi akad, kini pasangan itu naik ke pelaminan. Tentunya terlebih dahulu menukar pakaian mereka dengan pakaian adat untuk menyambut kedatangan para tamu undangan yang datang memberikan Do'a restu untuk mereka berdua. Dan tak lupa Zherin selalu duduk di tengah-tengah ayah dan ibunya. Gadis kecil itu tampak begitu bahagia seperti hati kedua orangtuanya saat ini tengah berbunga-bunga.
"Zherin!" panggil Intan pada bocah kecil yang selalu duduk di tengah-tengah Ayah dan ibunya.
"Tante Intan!" seru Zherin segera menyongsong sang Tante dan berhambur kedalam pelukannya.
"Seneng banget, Tan, sekarang aku punya Mama dan Mommy, tapi Mommy pemarah, nggak seperti Mama Airin baik banget nggak pernah marahin aku," celoteh gadis kecil itu menatap sendu saat mengingat bagaimana sikap ibu kandungnya.
"Oh, Sayang... Nggak pa-pa, kan sekarang kamu ada Mama Airin, jangan sedih ya. Tante percaya suatu saat Mommy kamu pasti bisa baik seperti Mama." Intan meyakinkan anak ponakannya.
"Sini gendong sama Oom, nggak boleh sedih, kan sekarang hari bahagia Daddy dan Mama Airin. Oom dan Tante juga sangat menyayangi kamu. Sekarang senyum dong bocah cantik," ucap Reza pada Zhe. Dan segera dibalas anggukan dan senyum menggemaskan.
"Nah, gitu dong. Sekarang ayo kita naik ke pelaminan." Reza dan Intan segera menghampiri pasangan itu yang tampak begitu serasi.
"Selamat ya, Bang, semoga samawa till Jannah," ucap Intan mendo'akan yang terbaik untuk Abang angkatnya.
"Aamiin... Terimakasih ya, Dek, tadi Abang kira kalian tidak datang. Hampir saja Abang marah," jawab Erland sembari menerima uluran tangan sang adik.
__ADS_1
"Hehe.... Maaf ya Bang, tadi kami kejebak macet di jalan," jelas Intan jujur.
"Selamat ya, Bang. Semoga samawa dan bahagia selalu," ucap Reza pada Abang iparnya.
"Aamiin, terimakasih ya, Za. Semoga kalian juga selalu bahagia."
"Aamiin, gimana? Apakah kami harus membawa bocah kecil ini sementara, agar kalian mempunyai banyak waktu untuk bulan madu?" tanya Reza yang membuat mereka tertawa, lain dengan Airin yang tak bisa menyembunyikan wajah merah meronanya.
"Selamat ya Kak Airin, semoga kalian selalu bahagia. Aku yakin kamulah wanita terbaik untuk Bang Erland dan Zherin," ucap Intan pada Kakak iparnya.
"Aamiin, terimakasih ya. Aku akan selalu belajar untuk menjadi yang terbaik untuk mereka," jawab Airin sembari menerima pelukan dari adik suaminya itu.
Acara demi acara mereka lalui hingga waktu beranjak sore. Intan dan Reza berpamitan untuk pulang, karena mengingat perjalanan mereka cukup jauh maka tak bisa berlama-lama.
Setelah Reza dan Intan pulang, begitu juga tamu undangan yang tadi begitu memadati acara mereka, banyak rekan-rekan Erland yang sesama polisi menyempatkan diri untuk datang memberikan Do'a restu untuk rekannya. Namun mereka juga tak bisa berlama-lama.
Malam ini Erland dan Airin kembali menduduki pelaminan setelah tadi sempat rehat sejenak untuk sholat magrib. Ini gaun pengantin terakhir mereka gunakan. Rasanya cukup lelah duduk begitu lama dan bergonta-ganti pakaian yang jumlahnya sebanyak lima stel, mulai dari pakaian adat hingga gaun Selayar.
Erland maupun Airin harus sabar, karena begitulah adat istiadat kampung halamannya.
"Capek, Dek?" tanya Erland menatap wajah istrinya walaupun menggunakan makeup, namun wajah lelahnya tak dapat di sembunyikan.
"Capek banget, Mas. Tapi harus bagaimana lagi," jawab Airin tetap tersenyum.
"Nggak pa-pa, nanti biar aku pijitin ya," balas Erland dengan senyum gaje.
Airin hanya diam, seketika otaknya membayangkan bagaimana nanti dirinya tidur berdua dalam satu ranjang. Ah, entahlah. Membayangkan saja jantungnya sudah tak karuan.
"Kok bengong, lagi mikirin malam pertama kita ya?" tanya Erland yang membuat Airin terjingkat dan memalingkan wajahnya.
"Apaan sih, Mas."
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰