
Hari ketiga setelah Erland menjalankan tugas, di kediaman Airin sudah terpasang tenda dan pelaminan karena tiga hari kedepan akan dilaksanakan prosesi akad dan resepsi sekaligus.
Karena Airin adalah anak pertama maka kedua orangtuanya ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya maka mereka memilih tenda dan pelaminan yang bagus.
Sore ini Airin baru saja selesai memandikan Zherin, gadis kecil itu sudah tampak cantik dan rapi. Seperti biasanya setelah mandi dia akan minta makan pada calon ibu sambungnya.
"Ma, aku mau makan," ucapnya sembari mengekor dibelakang Airin.
"Baiklah, kamu mau makan pake apa, Sayang?" tanya Airin menggendong dan mengecup pipi gembulnya.
"Pake telur asin seperti yang nenek beri tadi pagi," jawabnya.
"Oh, baiklah. Kalau begitu kamu tunggu dirumah sebentar sama Nenek ya, Mama beli di warung sebelah," ucap Airin membawa bocah itu dan menitipkan pada ibunya.
"Sini sama Nenek, ayo bantuin Nenek buat ketupat," ucap Ibu membawa Zherin duduk bersamanya sembari menganyam ketupat dari daun kelapa untuk persiapan di acara beberapa hari lagi.
Airin segera beranjak menuju warung yang tak begitu jauh dari rumahnya untuk membelikan permintaan putrinya. Cukup lama Airin diwarung, maklum saja orang kampung bila ada hajatan pasti banyak pertanyaan, dengan sabar gadis itu menjawab pertanyaan tetangganya.
Saat Airin sudah sampai dirumahnya. Terdengar suara pertikaian antara ibu dan seseorang. Sepertinya ia mengenali suara itu.
"Tapi kamu tidak bisa membawa Zherin pergi begitu saja. Kamu harus tunggu dulu Airin!" ucap Ibu masih memegangi tangan Zherin.
"Heh! Saya tidak ada urusan dengan Airin, karena Zherin adalah putri saya. Jadi saya berhak membawanya kapan saja!" sanggah wanita itu.
"Bu Nindi!" seru Airin terkejut melihat kehadiran mantan istrinya Erland.
"Ya saya! kenapa? Kamu kaget karena saya bisa ada di sini?" tuturnya dengan raut wajah tak suka.
"Bu Nindi, apa yang ingin anda lakukan?"
"Saya ingin menjemput Zherin, sepertinya hak asuh Zherin harus jatuh pada saya. Karena sebentar lagi kalian akan menikah maka tak menjamin Zherin akan bahagia dengan ibu tirinya!" ucap wanita itu yang membuat Airin menatap tak percaya.
"Sepertinya tuduhan anda salah, saya tidak akan mungkin seperti itu. Karena saya benar-benar menyayangi Zherin setulus hati saya," timpal Airin.
"Hng! Bagaimana mungkin saya mempercayai semua itu. Bisa jadi selama ini sayang kamu itu hanya sekedar mengambil perhatian Daddynya," tuding wanita itu dengan senyum senjang.
"Ayo Zhe, ikut Mommy!" ucap Nindi sembari meraih tangan putrinya.
"No, Mommy, aku tidak mau ikut. Aku mau disini saja sama Mama," tolak bocah kecil itu dengan lantang.
"Zherin, Mommy adalah ibu kandung kamu. Mommy yang melahirkan kamu, jadi sekarang ayo ikut Mommy!" sentaknya meraih tubuh gadis kecil itu untuk masuk dalam gendongannya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau!" pekik Zherin menangis. "Mama, tolong aku..." Tangisnya pecah sembari meronta-ronta dalam gendongan Nindi.
"Bu Nindi! Lepaskan Zherin! Saya akan telpon Pak Erland!" ancam Airin.
"Silahkan! Silahkan kamu telpon, suruh dia datang mengambil Zherin!" tantangnya tak gentar.
"Mama... Hiks hiks... Aku takut, Ma!" pekiknya kembali saat Nindi telah membawanya masuk kedalam mobil.
"Zherin, kamu jangan takut ya, Sayang, Mama akan telpon Daddy ya," seru Airin menenangkan putri kecilnya. Hatinya benar-benar kacau saat mobil Nindi telah hilang dari pandangannya.
Gadis itu segera berlari masuk kedalam kamar untuk mengambil ponselnya, ia segera memanggil nomor calon suaminya. Namun tak mendapat jawaban. Entah sudah berapa kali panggilan terus ia lakukan, namun tetap sama. Mungkin saja Erland sedang ada tugas penting maka tak sempat menerima panggilan.
Airin masih menangis, ia segera mengirim pesan dan mengatakan bahwa Zherin dibawa oleh Nindi. Berharap lelaki itu segera membaca pesan darinya.
"Airin, tenanglah, Nak," ucap ibu memeluk putrinya.
"Bu, aku takut bila Nindi tak memperlakukan Zherin dengan baik. Hiks..." Airin menangis dalam pelukan ibunya.
"Tenanglah, Nak. Apakah kamu sudah menghubungi Nak Erland?" tanya Ayah yang ikut masuk kedalam kamar putrinya.
"Sudah, tapi tak dijawab. Mungkin dia lagi sibuk," jawabnya masih dengan isakan.
"Sabar ya, semoga segera ada jawaban darinya," ucap ayah membesarkan hati Airin.
Pria tiga puluh lima tahun itu segera menuju mobilnya, sebelum menghidupkan mesin mobil, ia memeriksa ponsel terlebih dahulu. Seketika ia tak percaya ada puluhan panggilan tak terjawab dari calon istrinya. Tak biasanya gadis itu sebegitu gencar menghubunginya.
Erland segera membaca pesan yang masuk. Hatinya merasa kesal saat mengetahui bahwa Nindi telah membawa Zherin. Erland menghubungi Airin, ia tahu gadis itu pasti takut dan cemas.
"Assalamualaikum, Mas," ucap Airin yang tetiba merubah panggilan dengan suara serak.
"Wa'alaikumsalam... Kamu kenapa menangis?" tanya Erland dengan tenang.
"Zherin, Hiks..." kembali tangisnya pecah.
"Tenanglah, aku akan membawanya pulang," ucap Erland seketika membuat hati wanita itu merasa lega.
"Mas, kamu benaran akan membawanya pulang 'kan? Aku takut Bu Nindi akan memarahinya. Kamu tidak akan membiarkan Zherin dalam pengasuhan Bu Nindi 'kan?" tanyanya penuh harap.
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan hak asuh jatuh di tangannya. Sekarang tenanglah, jangan banyak pikiran, karena aku tidak ingin melihatmu jelek saat jadi pengantin nanti," ucap Erland masih saja menggodanya.
"Mas!" seru gadis itu dengan gemas.
__ADS_1
"Ya, Sayang?" jawab Erland semakin membuat wajah Airin memerah.
"Aku serius, Mas, kenapa kamu tidak bisa memahami kecemasanku saat ini! Hiks... Aku kesal banget sama kamu," lirihnya dengan manja yang membuat Erland tersenyum gemas mendengarnya.
"Ay, dengarkan aku ya, aku janji besok atau lusa aku akan pulang membawa Zherin. Sekarang kamu percaya sama aku dan tetap tenang, dan kamu juga harus janji padaku."
"Janji, janji apa?" tanya Airin tak paham.
"Setelah ini panggilan kamu ke aku tak boleh berubah ya," ucap Erland yang membuat Airin sontak merasa malu. Ia baru menyadari telah mengubah panggilan pada calon suaminya.
"Kenapa diam?" tanya Erland di ujung sambungan.
"Ah, ya baiklah. Tapi kamu harus janji membawa Zherin pulang, kalau tidak aku akan tetap dengan panggilan semula, yaitu Pak Pol," balas Airin yang membuat Erland terkekeh.
"Baiklah calon bini. Kalau begitu aku tutup dulu telponnya ya, kamu jaga diri baik-baik, tunggu aku datang," ucapnya dan mengakhiri dengan salam.
Setelah berbicara dengan Airin, kini Erland segera menghubungi Nindi, sepertinya wanita itu sengaja membuat masalah untuk menggagalkan pernikahannya dan Airin.
"Ada apa, Mas?" tanya Nindi datar.
"Mana Zherin?" tanya Erland
"Ada bersamaku, dia sedang tidur," jawabnya masih mode tak bersahabat.
"Kenapa kamu mengambilnya tanpa izinku?"
"Untuk apa aku harus izin, karena dia putriku juga."
"Kalau begitu katakan padaku apa maumu?" tanya Erland tanpa basa-basi lagi.
"Aku hanya ingin kamu batalkan pernikahan kamu dan Pengasuh itu," jawabnya yang telah diduga oleh Erland sebelumnya.
"Baiklah, tapi kita harus bicara dan bersepakat terlebih dahulu," jawab Erland yang membuat mata nindi terbelalak tak percaya.
"Apakah kamu serius?" tanya Nindi dengan senyum sumringah.
"Ya, sejak kapan aku tak serius?"
"Baiklah, kapan kita bicara?"
"Sekarang saja, serlok alamat kamu," ucap Erland yang mendapat anggukan oleh Nindi.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰