
Setelah Tia puas mengeluarkan segala jenis kedongkolan dalam hatinya. Jurus pamungkas pertama pun Igo keluarkan.
"Maaf yah sayang." Ucap lah kata maaf tanpa perlu ada embel-embel membela diri sendiri, karena jika ada embel-embel membela diri, itu sama saja menyulutkan bensin ke api.
"Sebagai bentuk permintaan maaf ku, kamu boleh minta apa aja dari ku." Jurus ke dua, wanita paling suka mendengar kata-kata ini, tapi jangan hanya di ucapkan melainkan juga di realisasikan.
Meski hampir semua laki-laki sering mengatakan ini pada pasangannya tapi tak semua laki-laki bisa merealisasikan ucapannya. Misalnya saja saat istrinya minta di belikan tas branded yang harganya ratusan juta, tidak semua laki-laki bisa memenuhi permintaan pasangannya itu. Jadi ada baiknya jika mengatakan kalimat pamungkas kedua ini, harus ada embel-embel di belakangnya seperti, "kamu boleh minta apa saja dari ku, asal sesuai dompet ku." Tapi kalau kalian laki-laki yang merasa mapan secara finansial, jangan coba-coba mengatakan itu karena pasangan kalian akan menganggap kalian laki-laki perhitungan dan ujung-ujungnya memperlebar masalah.
Dan berhubung Igo adalah golongan pejantan tangguh dalam segala aspek dan dia adalah suami serba guna, jadi tidak perlu di ragukan lagi kalau Igo pasti bisa memenuhi permintaan Tia.
Dan benar saja, jurus kedua Igo ampuh membuat Tia mengeluarkan senyum. Sayangnya bukan senyum sumringah melainkan senyum devil.
"Kok perasaan gue gak enak yah." Gumam Igo dalam hati saat istrinya mengeluarkan senyum devilnya.
"Beneran aku boleh minta apa aja sama kakak?" Tanya Tia sambil memicingkan matanya.
"I-ya sayang." Jawab Igo, meski perasaannya tidak enak tapi sebagai laki-laki ia harus konsisten dengan kata-katanya, karena laki-laki yang gantleman itu adalah laki-laki yang bisa memegang kata-katanya.
"Kalau aku minta dibukain tempat praktek boleh?" Tanya Tia.
Mendengar permintaan istrinya, Igo menghela nafasnya lega. Igo pikir tadi Tia akan meminta di belikan benua, dibelikan lautan atau di belikan pegunungan.
"Cuma itu aja? Itu mah perkara mudah sayang, jangan kan satu, sepuluh pun bisa aku buka kan tempat praktek untuk mu." Jawab Igo dengan songongnya.
"Ide bagus tuh, itu kan sama aja buka lowongan pekerjaan buat perawat-perawat yang susah dapat kerja." Gumam Tia dalam hati.
Maklum saja, sekarang banyak lulusan akademi keperawatan dan kebidanan yang menganggur, padahal biaya yang di gelontorkan oleh orangtua mereka saat mereka mengenyam pendidikan bukan lah sedikit.
__ADS_1
"Bener, kakak bisa bukain aku sepuluh tempat praktek?" Tanya Tia mengulang ucapan Igo.
"Hah..?" Igo ternganga sendiri mendengar pertanyaan Tia.
"Kok hah heh hoh sih, kakak gak sanggup? Berarti kakak cuma mau php in aku yah tadi?"
"Eh..bukan gitu sayang, aku sanggup kok. Oke aku bukain kamu sepuluh tempat praktek. Nanti aku konsul sama papi, tempat-tempat yang cocok untuk tempat praktek kamu." Ucap Igo.
"Beneran?" Tanya Tia dengan wajah yang senang.
"Beneran sayang. Udah sini pindah kedepan. Aku pengen cium susah tau gak."
Dengan senang hati Tia pun pindah ke kursi depan, tanpa keluar mobil. Namun belum juga Tia mendaratkan bokongnya di kursi depan, Igo sudah menarik pinggang istrinya dan langsung mengunyah bibir istrinya rakus.
"Ke hotel yuk sayang." Ucap Igo setelah melepaskan bibirnya dari bibir sang istri.
"Kakak kan harus puasa." Jawab Tia mengingatkan.
Melihat wajah sayu suaminya yang memohon, Tia pun tak sampai hati membiarkan sang suami menahan hasratnya.
Tia menganggukkan kepalanya tanda ia setuju memberi bekal pada sang suami.
"Tapi besok beneran udah puasa yah?"
"Iya sayang, tapi habis puasa lima hari, aku boleh nambah sepuasnya kan?"
Tia menganggukkan kepalanya. Ternyata pasangan ini bukan hanya Igo yang senggol nancep melainkan Tia juga, yang senggol minta di tancep.
__ADS_1
Setelah itu, Tia pun mendudukkan dirinya dengan baik dan benar dikursi penumpang dan tak lupa memakai seatbelt nya, setelah istrinya memakai seatbelt baru lah Igo menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya keluar dari parkiran tempat praktek Irna menuju hotel. Sepertinya malam ini mereka tidak akan pulang ke apartemen mereka.
🎀 🎀 🎀
Lima hari pun berlalu, Igo dan Tia kembali datang ke tempat praktek Irna.
Begitu tiba di tempat praktek, Irna langsung mengantar Igo ke ruang khusus tempat Igo akan mengeluarkan racun Dragon. Kali ini Igo tidak ditemani Tia, karena sebelum berangkat ke tempat Irna, mereka sudah bersepakat kalau Igo akan mengeluarkan sendiri racun Dragon tanpa bantuan Tia. Hanya saja sebelum berangkat, Igo meminta Tia untuk merekam video istrinya itu dalam keadaan polos dengan tujuan sebagai pancingan Dragon keluar dari semak belukar.
Setelah hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya Igo keluar juga dengan cup yang berisi cairan racun Dragon.
Igo pun memberikan cairan itu pada Irna dan Irna pun memberikan cairan itu pada asistennya untuk di bawa ke laboraturium untuk di periksa kualitas dan kuantitas racun sang Dragon.
Setelah asisten Irna pergi ke laboraturium, Irna pun mengajak Tia dan Igo kembali ke ruangannya untuk melakukan serangkaian tes lagi pada Igo, seperti tes pemeriksaan fisik, tes pemeriksaan hormon, tes pemeriksaan genetik, tes anti- sperm antibody, dan yang terakhir tes pemeriksaan urine.
Setelah melakukan serangkaian tes, Tia dan Igo sudah di perbolehkan pulang, karena hasil tes baru akan keluar besok. Jadi Irna meminta mereka untuk kembali lagi besok.
Kini Igo dan Tia sudah berada di dalam mobil, sambil menyetir Igo terus menggertakkan giginya. Tak bisa di pungkiri rasa takut, cemas, grogi, semua berkecamuk dalam dada Igo. Ia takut apa yang takutkan terjadi, takut kalau dirinya lah yang bermasalah.
Mendengar suara gertakan gigi suaminya, Tia tau apa yang sedang suaminya itu rasakan. Di tambah lagi sejak keluar dari tempat praktek Irna, suaminya itu irit mengeluarkan suara.
"Kakak gak pa-pa?" Tanya Tia sambil memegang lengan suaminya yang sedang mengendarai.
Igo menoleh sebentar sambil mengulas senyum pada Tia, kemudian kembali melihat ke depan, fokus mengendarai.
Tia menghela nafasnya karena suaminya hanya menjawab dengan senyuman, sebenarnya masih banyak yang ingin Tia katakan, namun karena suaminya itu sedang menyetir, Tia pun memilih untuk menyimpan segudang kata-kata yang ia pendam dalam hatinya, nanti saat mereka sudah tiba di rumah baru lah Tia keluarkan semua.
Suasana dalam mobil pun kembali hening seperti suasana kuburan di malam jumat.
__ADS_1
Kini mobil yang Igo kendarai dalam kecepatan sedang itu pun sudah terparkir mulus di parkiran gedung apartemen.
Mereka pun keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung apartemen. Berjalan beriringan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai unit apartemen mereka berada.