Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 96


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Igo pun kembali ke unit kamarnya. Bukan hanya membawa pembalut, tapi juga membawa cemilan dan roti bakar untuk istrinya. Walaupun Tia tidak meminta, tapi mengingat kebiasaan istrinya kalau sedang datang bulan yang sangat doyan ngemil, jadi Igo berinisiatif membeli semua itu.


Ceklek. Igo membuka pintu ruang tidur.


Sambil menenteng dua kantong plastik, Igo berjalan mendekati istrinya yang ternyata sudah tertidur. Igo meletakkan kantong plastik itu di atas meja rias kemudian berjalan mendekati istrinya.


Igo menatap intens wajah istrinya.


Bulu mata yang terlihat basah dan sisa air mata di sekitar bawah mata, menyiratkan jelas kalau istrinya pasti baru menangis dan Igo tau istrinya itu sedang pura-pura tidur.


"Sayang, bangun, ini pembalutnya. Aku juga udah beli cemilan sama roti bakar juga loh, kamu gak laper?" Tanya Igo sambil mengelus pipi istrinya.


Tanpa membuka matanya, Tia malah membalikkan tubuhnya. Dan aksi Tia itu semakin membuat Igo yakin kalau istrinya itu hanya pura-pura tidur.


Igo menghela nafasnya, ia tau kalau saat ini istrinya sedang butuh waktu sendiri, mungkin istrinya itu belum puas menangis.


Cup. Kecupan hangat Igo berikan di kening Tia.


"Aku keluar dulu yah sayang, ada kerjaan bentar sama Yordan." Pamit Igo berbisik di telinga istrinya. Ia pura-pura tidak tahu kalau istrinya itu hanya pura-pura tidur.


Igo pun melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruang tidur.


Sesampainya di luar ruang tidur, Igo menghela nafasnya mencoba menata kesedihannya. Sedih karena melihat istrinya seperti ini. Bagi Igo, lebih baik ia melihat istrinya ngomel-ngomel daripada ia melihat istrinya seperti saat ini.


Setelah berhasil menata hatinya, Igo pun berjalan keluar dari dalam unit kamarnya, sepertinya ia harus mencurahkan semua kegalauan yang sudah ia pendam satu tahun lebih itu pada Yordan agar rasa sesak, galau, rasa bersalah sedikit berkurang dari dalam dadanya.


Igo turun ke lantai paling bawah dan berjalan menuju bar yang ada di hotel itu.


Setelah masuk di dalam bar, Igo langsung berjalan menuju bar counter dan mendaratkan bokongnya di kursi.


"Malam pak Igo." Sapa seorang bartender yang bekerja di bar.


"Malam."


"Mau minum apa pak?" Tanya bartender.


"Mocktail aja." Jawab Igo.


Bartender itu mulai membuatkan mocktail pesanan Igo.


Sambil menunggu mocktailnya datang, Igo merogoh ponselnya untuk menghubungi Yordan.

__ADS_1


Tuuut...tuuut...tuuut.


"Halo." Jawab Yordan di seberang telepon.


"Gue tunggu loe di bar." Ucap Igo tanpa basa-basi.


"Bar mana nyet?"


"Yah bar di hotel lah jing!!"


"Oh..ya udah gue kesana."


Setelah mendengar kesediaan Yordan untuk datang, Igo pun mengakhiri sambungan teleponnya.


Setelah menunggu hampir lima belas menit, Yordan pun datang. Sama seperti Igo, Yordan hanya menggunakan kaos oblong dan celana joger hitam serta sendal jepit Suweloe.


Glek. Baru saja sampai dan mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Igo, Yordan langsung menenggak mocktail milik Igo.


"Anjir loe yah, dateng-dateng langsung main nenggak aja!" Protes Igo.


"Heleh baru gini doang, tinggal pesen lagi susah amat." Balas Yordan.


"Pak Yordan gak minum?" Tanya bartender.


"Minum lah. Bikinin aja yang sama kayak dia." Jawab Yordan sambil menunjuk Igo.


"Jadi loe mau cerita apa nih sama gue?" Todong Yordan.


"Masalah Tia."


"Kenapa bini loe?"


"Loe kan tau gue sama dia udah setahun lebih nikah, malah beberapa bulan lagi udah dua tahun."


Yordan mengangguk-anggukkan kepala merespon kata-kata pembuka Igo.


"Selama setahun pernikahan gue sama Tia, gue sama dia kan belum di kasih anak."


Yordan mengangguk lagi.


"Dan selama gue belum di kasih anak, kan gue tetap usaha."

__ADS_1


"Anjriiit loe!!! Loe mau cerita apaan sih sebenarnya? Intinya aja monyong!!!" Omel Yordan karena Igo terlalu bertele-tele.


"Ya sabar dong, namanya juga orang cerita, harus ada kata pembukaan dulu baru ke cerita inti, nanti udah selesai inti baru kata penutup."


"Loe mau pidato apa mau curhat be•go!!!" Geram Yordan sambil menoyor kepala sahabatnya itu.


Perdebatan keduanya pun harus terjeda sebentar karena bartender datang mengantar minuman untuk Igo dan Yordan. Setelah minuman sudah di letakkan di hadapan mereka, Igo dan Yordan kembali ke topik pembicaraan.


"Jadi intinya apaan?" Tanya Yordan tidak sabaran.


"Intinya Tia sedih karena kita nikah udah lama belum di kasih anak, padahal usaha mah tiap hari."


"Kalau usaha sih gue gak ragu." Jawab Yordan sambil menyesap mocktail miliknya.


"Loe berdua udah periksa? Tia kan dokter, emangnya Tia gak ngusulin buat periksa apa? Atau ikut program hamil gitu?" Tanya Yordan setelah menyesap mocktailnya.


"Pernah. Tapi gue yang gak mau."


"Kenapa?"


"Gue takut Dan. Takut kalau gue yang bermasalah, apalagi gue kan punya riwayat mengkonsumsi obat kuat super. Gue takut ngecewain Tia karena gak bisa bikin dia jadi wanita seutuhnya yang bisa hamil dan melahirkan."


"Kalau loe mau Tia ngerasain jadi wanita seutuhnya mah gampang, tinggal loe suruh aja Tia poliandri, nanti kalau Tia udah hamil anak dari suami ke duanya, suruh deh cerein suami keduanya, gampang kan?!" Kata Yordan memberikan ide konyol.


"Anjiiir loe!! Enak aja loe nyuruh Tia poliandri!!! Gak ada itu!!! Mana rela gue berbagi gunung sama pertambangan sama laki-laki lain." Omel Igo merespon ide konyol Yordan.


"Terus apa bedanya kalau Tia yang bermasalah? Pasti juga loe kawin lagi kan, supaya bisa punya keturunan." Tanya Yordan menyelidik.


"Itu mah loe nyet!!! Secara loe kan anak tunggal, jadi pasti keluarga loe bakalan nuntut keturunan dari loe!!!" Jawab Igo sambil menoyor kepala Yordan.


"Enak aja, ogah gue nikah lagi. Mending gue adopsi anak daripada nikah lagi. Punya bini satu aja ribet, apalagi bini dua." Ucap Yordan tak terima dengan tuduhan Igo.


"Ya udah sama, apalagi gue, keturunan bukan beban buat gue, kan anak itu pemberian Tuhan bukan karena usaha gue sama Tia. Sekeras apapun gue berusaha, sebanyak apapun gaya yang udah gue coba, tetap saja kalau Tuhan belum ngasih yah gak bakalan ada tuh anak."


"Tumben otak loe pinter?" Ejek Yordan merespon kata-kata bijak Igo.


"Gini aja, mendingan loe berdua periksa dulu. Kalau memang salah satu dari kalian bermasalah kan bisa di cari jalan keluarnya, tapi kalau kalian berdua sama-sama sehat berarti emang Tuhan masih mau loe berdua pacaran halal. Yang penting bikin bini loe lega dulu, karena gue yakin kalau sekarang pasti bini loe lagi nyalahin dirinya sendiri karena belum hamil-hamil. Kalau udah di periksa kan lega jadinya. Inget kata si bule bar-bar ora et labora, berkerja sambil berdoa. Sambil loe berdua usaha nyetak anak, loe berdua juga harus berdoa sama yang maha pemberi." Gantian, kini Yordan lah yang mengeluarkan kata-kata bijaknya.


Igo mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia setuju dengan kata-kata bijak sahabatnya itu.


Setelah satu jam Igo dan Yordan di bar, mereka pun kembali ke unit kamar masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2