
Mata Tia membulat saat membuka pesan itu, ternyata sebuah video yang Ica kirim.
"Ugh..hemh...au..ah..uh..faster baby.." begitulah bunyi racauan yang ada di dalam video yang di kirimkan Ica. Apalagi kalau bukan film bo•ep.
Nia : Astaga Ica...dapet dari mana tuh film?!
Ica : Koleksinya kak Yordan banyak. Mau gue kirimin lagi gak?
Tia : Sinting loe!! Gak, jangan coba-coba loe kirim beginian lagi ke group!!
Ica : Oke. Tapi nanti gue kirim japri ke loe.😂😜
Tia tak lagi membalas pesan di grup itu.
"Sinting nih anak!!!" Umpat Tia sambil meletakkan kembali ponselnya. Tapi sayangnya otaknya terus terngiang-ngiang dengan sedikit adegan ah uh ah uh yang sempat ia tonton.
Karena bisikan setan mesum lebih kencang masuk ketelinganya di banding bisikan malaikat jaim, jadi Tia kembali mengambil ponselnya dan menonton kembali video yang Ica kirim.
Tia menggigit bibir bawahnya saat melihat adegan tiap adegan. Nafasnya menderu, nampaknya ia terbawa suasana karena menonton film dewasa yang Ica kirim.
"Huh...gak bener nih!!!" Ucap Tia sambil meletakkan ponselnya di atas meja rias.
Cepat-cepat Tia membuka pakaiannya dan hanya menyisakan penutup pegunungan Tialaya dan terpal Tiaport. Tia pun berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi.
Ceklek. Tia membuka pintu kamar mandi dengan kasar.
Igo yang sedang membilas tubuhnya di bawah pancuran shower, sontak menoleh ke arah pintu.
"Kamu kenapa? Mau bo•ker?" Tanya Igo saat melihat istrinya hanya berdiri di depan pintu.
Padahal Tia berdiri di depan pintu karena melihat penampakan suaminya yang sangat seksi apalagi sekarang Tia sedang di rasuki setan mesum, jelas saja penampakan suaminya itu makin membuat Tia menggila.
Tia berjalan perlahan mendekati Igo yang sedang asyik membersihkan tubuhnya.
Tanpa ba bi bu be bo, Tia langsung memeluk tubuh sang suami dari belakang dan menjalarkan tangannya menuju semak belukar dimana habitat Dragon berada.
"Uh.." desau Igo sambil memejamkan matanya menikmati jalaran tangan istrinya itu.
Kini jalaran tangan Tia sudah berhasil membuat sang Dragon keluar dari dalam semak belukar, tubuh Dragon yang gagah perkasa, panjang dan berotot langsung menyambut tangan Tia yang sudah tak sabar ingin mengelus dan memijat sang Dragon.
"Oh..sayang.." desau Igo saat jemari lentik istrinya itu memijat dan mengelus mulai dari kepala sampai tubuh sang Dragon.
Sedangkan Tia di balik punggung Igo sedang menikmati asahan tangannya pada pedang suaminya sambil memberi kecupan-kecupan di punggung sang suami.
Tak puas hanya merasakan elusan dan pijatan, Igo memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Tia. Dengan rakusnya Igo langsung melahap bibir istrinya, mengunyahnya seperti mengunyah permen karet, dan dengan senang hati Tia pun membalas kunyahan bibir suaminya. Bibir mereka pun saling mengunyah dengan sangat rakus, sesekali lidah mereka saling membelit di dalam sana.
Tangan Igo juga tak tinggal diam, tangan mahir itu ikut menjalar dari pinggang sampai ke punggung istrinya dan dengan mudahnya membuka pengait penutup gunung Tialaya.
Setelah berhasil membuka penutup gunung favoritenya, Igo membuang sembarang penutup itu. Kemudian tangannya mulai mengunyel-unyel pegunungan kembar yang di tumbuhi buah karsen pada puncaknya.
Tak puas hanya tangan suaminya yang bermain dengan si kembar, Tia melepaskan kunyahan bibirnya dengan bibir suaminya, dan menarik kepala sang suami menuju pegunungan miliknya.
"Ouh..ah...." desau Tia sambil menekan kepala sang suami agar memperdalam permainan bibir dan lidah nya pada pegunungan dan buah karsen miliknya.
Permainan semakin panas, dengan bibir yang kembali mengunyah, Igo menggendong Tia seperti anak koala menuju wastafel dan mendudukkan istrinya disana.
Igo kembali menurunkan bibirnya ke pegunungan dan tangannya juga mulai berputar-putar di depan pintu lubang tambang yang masih di tutup terpal.
__ADS_1
"Ah..uh..kak...engkol dong kak." Racau Tia meminta permainan di naikkan levelnya.
"Oke honey, sesuai permintaan mu." Ucap Igo.
Perlahan ia pun membuka terpal penutup lubang tambang.
"Honey..." panggil Igo.
"Iya."
"Kamu datang bulan sayang." Ucap Igo saat melihat bercak merah menempel di terpal penutup lubang tambang.
"Serius?" Tanya Tia tidak percaya. Ia pun mengambil terpal itu dan melihat sendiri bercak merah yang menempel disana.
Raut wajah kecewa terlihat jelas dari wajah Tia saat tau si Sailormoon datang tanpa di undang. Bukan karena gagal di engkol, tapi karena Tia sudah berharap dirinya berbadan dua karena si Sailormoon telat datang dua minggu. Padahal rencananya minggu depan Tia akan memeriksakan dirinya untuk memastikan apa dirinya sedang berbadan dua atau tidak.
Melihat wajah kecewa istrinya, Igo tau kalau wajah kecewa istrinya itu karena istrinya itu datang bulan bukan karena gagal melakukan pengeboran, karena ini bukan pertama kalinya istrinya itu seperti itu.
Mesin Dragon yang tadinya sudah bertegangan tinggi, langsung drop seketika melihat raut wajah kecewa campur sedih istrinya.
"Gak pa-pa sayang, nanti habis selesai datang bulan kita kan bisa usaha lagi." Ucap Igo sambil memeluk istrinya sambil mengelus punggung istrinya.
"Udah jangan sedih yah. Mending kita mandi sekarang. Sini aku mandiin." Ucap Igo lagi.
Igo pun menggendong istrinya seperti anak koala kemudian menurunkan istrinya di bawah shower. Menyalakan shower dan mulai memandikan istrinya itu.
Setelah selesai, Igo juga memakaikan Tia bathrobe. Lalu kembali menggendong istrinya yang masih terlihat sedih namun enggan mengeluarkan air matanya.
Igo menggendong istrinya sampai di ruang ganti.
"Yang hitam aja." Jawab Tia.
Igo pun mengambil lingerie hitam beserta pakaian dalam untuk istrinya.
"Sini aku pakein." Tawar Igo.
"Gak usah kak, aku bisa pake sendiri. Kakak beliin aku pembalut aja." Jawab Tia.
"Oke."
Igo pun mulai mengeringkan tubuhnya kemudian memakai kaos oblong dan celana pendek.
"Aku pergi beli pembalut dulu yah. Kamu mau pesan apalagi selain pembalut?" Tanya Igo.
Tia menggeleng.
"Gak usah kak, itu aja." Jawab Tia.
"Aku pergi yah." Pamit Igo
Cup. Igo mengecup kening istrinya sebelum keluar dari unit kamar hotelnya.
Setelah suaminya keluar, Tia pun mulai menumpahkan airmatanya dalam diam.
Hati perempuan mana yang tidak resah saat usia pernikahannya sudah menginjak setahun lebih tapi belum juga di karuniai anak. Walaupun suami dan mertuanya tidak menuntut, malah mereka selalu memberi dukungan pada Tia, tapi tetap saja ia berharap agar bisa segera mengandung buah cintanya dengan sang suami.
Tia pernah mengajak Igo untuk memeriksakan kondisi mereka, tapi Igo menolak dan melarang Tia untuk memeriksa rahimnya. Igo melakukan itu untuk mecegah hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya saja, manatau istrinya yang bermasalah, takutnya nanti Tia jadi drop dan meminta Igo menikahi wanita lain, ataupun Igo yang bermasalah dan membuat Tia kecewa karena tidak bisa menjadi wanita seutuhnya karena tidak bisa merasakan hamil dan melahirkan.
__ADS_1
Ting. Pintu lift yang membawa Igo ke lobi pun terbuka.
Igo pun melangkahkan kakinya menuju parkiran.
"Go..." teriak Yordan saat melihat Igo hendak menuju mobil Igo.
Igo pun menoleh dan menghentikan langkah kakinya saat melihat Yordan berjalan mendekat.
"Mau kemana loe?" Tanya Yordan.
"Mau ke supermarket. Loe sendiri dari mana?"
"Habis nganter ASI buat si Millie, gue pikir supir masih ada, eh..gak taunya udah pada pulang."
"Emang si Millie dimana?" Tanya Igo.
"Biasalah, ikut aki nya." Jawab Yordan.
"Si Irlan pulang?" Tanya Igo.
Yordan mengangguk.
"Om Dirgantara kagak ngasih mereka nginap disini, kan bininya udah hamil gede." Jawab Yordan.
"Loe ngapain ke supermarket?" Tanya Yordan.
"Mau beli pembalut." Jawab Igo.
Jelas saja jawaban Igo membuat Yordan tertawa terbahak-bahak. Yordan bisa membayangkan bagaimana wajah Igo saat tau istrinya sedang datang bulan, padahal lagi tegangan tinggi. Karena ia juga pernah merasakan apa yang Igo rasakan.
Tapi raut wajah Yordan berubah seketika melihat wajah Igo yang tak seperti biasanya. Tawa Yordan pun langsung berhenti mendadak.
"Loe kenapa? Ada masalah?" Tanya Yordan, wajah mengejeknya pun berubah menjadi wajah prihatin.
Igo menghela nafasnya.
"Nanti aja lah gue cerita, gue mau beli pembalut dulu." Jawab Igo.
"Oke. Nanti kalau loe udah selesai beli pembalut dan loe mau curhat masalah loe, loe telpon aja gue, gue pasti langsung dateng kok."
"Heleh...kayak bener aja omongan loe, nanti pas gue telpon loe lagi jungkat-jungkit paling juga telpon gue loe reject." Sindir Igo.
"Ya loe nelpon juga tau jadwal lah. Jangan lah loe nelpon pas jam nya Jeki ngapelin neng Juliet." Jawab Yordan.
"Cih...mana gue tau jam-jam nya si Jeki ngapel!!! Loe pikir gue satpam terowongan Icablanca apa!!" Balas Igo tak kalah nyolot.
Yordan memutar bola matanya malas.
"Udah akh gue pergi dulu, debat sama loe gak bakal selesai-selesai. Yang ada nanti gue kena cakar macan tutul yang lagi dateng bulan lagi." Ucap Igo mengakhiri perdebatan unfaedahnya dengan Yordan.
"Gue pergi dulu." Pamit Igo sambil berjalan menuju mobilnya.
"Hati-hati loe, jangan ngelamun, nanti bukannya pulang bawa pembalut, eh...nanti loe nya malah yang di balut kain kafan." Ucap Yordan memberi peringatan sekaligus mengejek sahabatnya yang sedang galau itu.
Igo tak menjawab, ia hanya mengacungkan jari tengah ke arah Yordan kemudian masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya keluar dari parkiran.
Sedangkan Yordan setelah mobil sahabatnya itu keluar dari parkiran, barulah Yordan berjalan menuju lobi dan masuk ke dalam lift khusus yang akan membawanya ke lantai paling atas, dimana hanya ada tiga unit kamar disana. Kamar Irlan, kamar Igo dan kamarnya.
__ADS_1