Pelabuhan Hati Sang Casanova

Pelabuhan Hati Sang Casanova
PHSC 108


__ADS_3

Seperti yang sudah Igo dan Tia sepakati kemaren malam, bahwa Igo mengizinkan Tia dinas malam walau hanya satu malam dan Igo tidak boleh ikut mengintili istrinya dinas malam ini, malam ini Tia pun dengan wajah ceria berangkat ke rumah sakit.


"Seneng banget mukanya, kayak anak monyet di kasih pisang. Perasaan waktu aku kasih kamu satu set berlian gak sesenang ini muka kamu." Dumel Igo saat melihat wajah istrinya yang terus memancarkan keceriaan.


"Ya senang lah kak, akhirnya bisa dinas malam lagi."


"Bener seneng karena bisa dinas malam atau seneng ninggalin suami kamu yang unyu-unyu ini di apartemen sendirian?"


"Seneng dinas malam dong sayang. Lagian kamu gak sendirian kok di sini, kan ada si glowing kunti dan si seksi wewe gombel yang nemenin kamu disini." Mode iseng Tia on.


Mendengar kata-kata Tia, jelas saja bulu kuduk dan bulu belukar Igo berdiri semua.


"Kamu ikh, nakut-nakutin!! Udah tau nanti malam aku tidur sendiri, malah di takut-takutin begitu!!!" Omel Igo dengan ekspresi wajah ketakutan. Bukan hanya wajah Igo yang berubah, wajah Dragon yang sangar pun ikut berubah, dari naga menjadi cacing gelang.


Bukannya prihatin melihat suaminya, Tia malah tertawa terbahak-bahak. Ia baru tau kalau suaminya penakut dengan hal-hal mistis.


"Udah yuk, berangkat." Ajak Tia sambil menarik tangan suaminya.


Mereka pun keluar dari dalam unit apartemen.


Dengan menggunakan si Cheetah, tak sampai lima belas menit, kini Igo dan Tia sudah sampai di pelataran rumah sakit.


Tia pun turun dari atas si Cheetah dan memberikan helm pada suaminya.


"Inget yah, kalau gak ada pasien darurat, kamu harus tidur, jangan gak tidur. Awas kalau kamu tumbang lagi kayak waktu itu, bukan cuma dinas malam aja yang gak aku izinin. Aku gak bakal izinin kamu kerja di rumah sakit lagi." Ancam Igo.


"Iya sayang." Jawab Tia manis sekali.


Cup. Tia mengecup pipi suaminya agar suaminya itu tidak terus-terusan ngedumel.


"Kok di pipi? Disini dong." Igo pun memanyunkan bibirnya tanda ia meminta istrinya mencium di bibirnya.


Tia pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan sekitar. Merasa tidak ada yang melihat, Tia pun langsung mencium bibir Igo dan mengunyahnya sebentar.


"Aku masuk yah." Ucap Tia setelah melepaskan bibirnya dari bibir suaminya sambil menyeka sisa saliva di bibir suaminya.


Igo menganggukkan kepalanya.


"Inget pesan aku Ti!! Jangan jelalatan juga matanya!!" Teriak Igo setelah istrinya sudah jauh.


Setelah Tia masuk ke dalam UGD, Igo pun kembali menyalakan mesin si Cheetah dan keluar dari area rumah sakit. Tujuannya sekarang, kemana lagi kalau bukan pulang ke apartemen.


Kini Igo sudah berada di dalam unit apartemennya. Ia kembali teringat dengan kata-kata Tia sebelum mereka pergi ke rumah sakit.


Cepat-cepat Igo masuk ke dalam basecamp dan mengunci pintu basecamp.


"Be•go!! Ngapain gue takut yah!! Gue kan wakil kepala suku nya mereka!!" Gumam Igo. Ia menyatakan dirinya wakil kepala suku makhluk ghoib, karena kepala suku saat ini masih di pegang oleh Yordan.


Kepercayaan diri dan keberanian Igo pun kembali, ia pun kembali berjalan dengan gagahnya menuju ranjang. Melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya dan hanya menyisakan bedongan sang Dragon. Lalu naik ke atas tempat tidur sambil menggenggam ponsel. Ia berniat ingin melakukan panggilan video dengan istrinya.


Sayangnya dua kali ia melakukan panggilan, Tia tak kunjung menjawab panggilannya. Igo pun berhenti melakukan panggilan, Igo yakin kalau saat ini istrinya sedang memeriksa data-data pasien yang ada di bangsal itu.


Igo pun mengirim pesan pada Tia untuk menghubunginya jika sudah tidak sibuk.


Untuk menghilangkan kebosanannya, sambil menunggu istrinya menghubunginya, Igo pun memilih bermain game online.


Dua jam kemudian, Tia pun menghubungi Igo.

__ADS_1


"Kakak belum tidur?" Tanya Tia.


"Gimana bisa tidur sayang, orang kamu gak ada disamping aku. Lain aja rasanya."


"Ambil aja baju ku yang masih bau keringat ku, pasti kakak langsung tidur." Saran Tia.


"Kamu pikir aku anak bayi apa. Kalau aku nyium-nyium baju kamu, bukannya tidur malah makin melek mata ku." Jawab Igo.


Tia memutar bola matanya malas, karena tau apa maksud perkataan suaminya.


"Ti.."


"Hemh.."


"Kamu lagi di ruang istirahat?"


"Iya. Kenapa?"


"Sendiri gak?"


"Sendiri. Kenapa sih?" Tanya Tia penasaran.


"Ekhem." Igo berdehem sebelum mengatakan ide mesum yang terlintas di otaknya. Ini pertama kalinya ia melakukan ini.


"Phone s•x yuk." Ajak Igo.


Jelas saja ajakan suaminya membuat Tia terkaget-kaget.


"Kakak gi•la yah!!! Aku tuh di rumah sakit kak, kamar ini bukan kamar pribadi ku, kalau tiba-tiba ada yang masuk gimana?" Protes Tia.


"Ya di kunci dulu lah Ti. Ayo lah, sebentar aja. Biar aku bisa tidur nyenyak." Mohon Igo.


"Sekarang kamu pilih mana, mau phone s•x atau aku yang langsung dateng kesana?" Ancam Igo.


"Kok kakak jadi ngancem sih!! Kan kita udah sepakat kalau kakak gak boleh ngintilin aku ke rumah sakit."


"Tapi aku kan gak janji. Blweee." Jawab Igo sambil menjulurkan lidahnya.


"Ish..curang!!"


"Ayo lah, sebentar aja. Kamu cukup arahin kamera ke seluruh tubuh kamu, nanti aku yang kasih instruksi. Yah..yah..mau yah." Mohon Igo.


Tia melihat jam dinding di kamar itu, masih jam setengah sebelas.


"Tunggu, aku lihat situasi dulu." Jawab Tia.


Tanpa mengakhiri panggilan video mereka, Tia keluar dari dalam kamar itu untuk melihat situasi.


Tapi sayang, begitu Tia membuka pintu, ternyata ada perawat yang hendak masuk ke kamar dan ingin memanggil Tia kerena ada ibu hamil yang sudah pembukaan lengkap, tapi anak nya sudah dua jam tidak mau turun. Pasien ini rujukan dari Pustu ( puskesmas pembantu di sebuah desa.). Tia yakin, kalau si anak terlilit tali pusar dan si ibu tidak pernah melakukan usg untuk melihat kondisi anak yang ada dalam kandungannya.


Tia pun berlari dan menyuruh perawat menyiapkan alat usg untuk melihat kondisi si anak dalam kandungan. Dan juga menyuruh menyiapkan ruang operasi, karena dari keterangan yang di berikan perawat, tidak mungkin lagi untuk melahirkan secara normal. Nyawa ibu dan anak terancam, jika di paksa melahirkan normal. Itu lah guna nya tindakan operasi sesar, mengurangi tingkat kematian ibu dan anak saat melahirkan.


Sangking terburu-burunya, Tia sampai lupa kalau ada suaminya yang sedang menunggu dirinya untuk melakukan phone s•x.


Lima belas menit sudah Igo menunggu.


"Nih orang kemana sih." Gerutu Igo karena istrinya lama sekali muncul di layar ponsel.

__ADS_1


"Tia..Sayang..Honey.." panggil Igo.


Tapi percuma saja Igo berteriak memanggil-manggil Tia, istrinya itu tak akan menjawab karena Tia tak ada di kamar itu.


"Huh..pasti dia kabur!!!" Gerutu Igo.


"Kamu pikir aku gak berani realisasikan kata-kata aku!! Kamu gak mau phone s•x, mending aku tancepin langsung!" Dumel Igo lagi.


Igo pun mengakhiri panggilan videonya kemudian berjalan ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Dengan memakai celana joger panjang dan kaos oblong serta jaket kulit hitam, Igo keluar dari dalam unit apartemennya. Ia berniat mendatangi Tia di rumah sakit.


Jika tadi saat mengantar istrinya, Igo menggunakan tenaga si Cheetah, kalau sekarang, Igo pergi ke rumah sakit menggunakan Jaguarnya.


Karena jalanan yang sudah sangat sepi, tak sampai lima belas menit, mobil yang Igo kendarai pun sampai di parkiran rumah sakit.


Setelah Jaguar terparkir mulus, Igo pun turun dari dalam mobilnya. Dengan tangan yang ia masukkan di dalam kantong joger, Igo berjalan bak anak lajang berumur dua puluh tahunan. Apalagi wajah Igo memang lah baby face, jadi bagi orang yang tidak mengenal Igo, akan mengira Igo masih berstatus mahasiswa.


"Sus, istri saya mana?" Tanya Igo tanpa basa-basi.


"Heh..istri bapak? Memang siapa istri bapak?" Tanya suster yang berjaga di pos UGD.


Ternyata suster yang berjaga itu adalah mahasiswi keperawatan yang sedang praktek.


"Eh..pak Igo." Sapa perawat yang mengenal Igo.


"Maaf pak, adek ini mahasiswi praktek." Ucap perawat itu memperkenalkan si mahasiswi praktek yang tak mengenal Igo.


"Oh. Pantes. Istri saya mana?" Tanya Igo lagi.


"Dokter Tia sedang ada operasi darurat pak."


"Cih..bilang kek kalau ada operasi darurat!" Gerutu Igo dalam hati.


"Ya udah, saya tunggu di ruang tidur istri saya aja. Jangan bilang istri saya kalau saya nunggu di ruang tidurnya." Ucap Igo.


Igo pun melangkahkan kakinya menuju ruang tidur khusus dokter wanita yang berjaga malam.


Tapi baru beberapa langkah, Igo memutar langkah kakinya dan kembali berjalan ke pos.


Igo punya ide cemerlang agar Dragon bisa melakukan pengeboran tanpa ada gangguan.


"Sus." Panggil Igo pada perawat yang berjaga di pos itu.


"Iya pak.


"Saya pesan kamar VVIP, dan nanti kalau istri saya sudah selesai operasi, bilang sama istri saya kalau ada pasien VVIP yang minta di periksa. Tapi inget, jangan bilang kalau itu saya. Paham kan?"


"Baik pak. Akan saya suruh perawat yang berjaga di lantai VVIP menyiapkan kamar untuk bapak." Jawab perawat.


Igo pun berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai kamar rawat VVIP berada.


"Sus, memangnya laki-laki itu siapa sih? Kok bisa suka-sukanya pesan kamar rawat VVIP?" Tanya si mahasiswi praktek yang sedari tadi penasaran dengan sosok Igo.


"Emang kamu gak tau siapa dia? Dia itu pak Igo, suaminya dokter Tia. Kamu tau kan dokter Tia? Anak salah satu pemilik rumah sakit ini. Sedangkan pak Igo itu anak bungsunya Oscar Mandala. Kamu tau kan siapa itu Oscar Mandala?! Jadi suka-suka mereka lah mau pesan kamar VVIP walaupun gak sakit." Jawab si perawat.


"Oh.." si mahasiswi praktek pun ber Oh ria sambil manggut-manggut.

__ADS_1


Setelah memberitahu siapa Igo dan Tia pada si mahasiswi praktek, si perawat pun melakukan panggilan ke pos yang ada di lantai kamar rawat VVIP berada.


__ADS_2